Istri Kedua Tercinta

Istri Kedua Tercinta
Hangat


__ADS_3

NTR:Hai Kak, kasih bintang 5 kak, jangan lupa like, komen, favoritkan dan vote yach... Selamat membaca kak.


Amira, Naura dan Rayn tertegun melihat ke arah Zain yang tiba-tiba tertawa dengan terpingkal-pingkal. Mereka bertiga saling melihat satu sama lain.


"Apa mama mengatakan kalo tante gila itu menurun pada putrinya yah?" tanya Amira.


"Eeeh, mana ada!" balas Zain tersenyum tertahan.


"Atau kamu gila sendiri Zain?" tanya Amira.


"Hahaha, Ra, kamu tiap bicara malah buat aku ketawa," jawab Zain.


Amira mengerutkan dahinya menatap Zain yang terus tertawa padanya. Ia kini melihat Rayn kembali dan hanya fokus membantu kakaknya mengerjakan pekerjaannya.


"Lusa kita akan Camping!" ucap Amira.


"Eeh, camping?" tanya Zain.


"Hah?" tanya Rayn dan Naura bersama.


"Hmm," jawab Amira.


"Tapi kenapa seperti itu?" tanya Rayn.


"Gak kenapa-kenapa," jawab Amura.

__ADS_1


"Kakak tidak bisa Dek, ada banyak yang belum kakak kerjakan," protes Rayn.


"Tidak akan jauh ini!" ucap Amira.


"Tapi kenapa Camping?" tanya Naura.


"Aku sedang mau camping," jawab Amira.


"Tapi ini kan perjanjiannya kita jalan-jalan Ra," protes Naura.


"Hmmm, kita camping di halaman rumah nenek," ucap Amira.


"Hah!?" teriak Rayn, Naura dan Zain bersamaan.


"Hmm," ucap Amira acuh.


"Kenapa di rumah nenek?" tambah Rayn.


"Kenapa aku gak di dengarkan disini?" ikut Zain bertanya pada Amira.


"Hah, pertama, kita tidak perlu ke publik hanya untuk jalan-jalan. Kedua, karena aku dan Kak, Rayn di luar tidak saling mengenal masa tiba-tiba barengan? Ketiga, karena aku kangen nenek dan kakek!" jelas Amira tersenyum.


"Astaga senyummu itu Ra, terlalu manis hingga aku gak bisa menjawab ucapanmu," ucap Zain.


"Hmmm, maksudmu ke Bandung?" tanya Rayn.

__ADS_1


"Ke rumah Anggara Kak," jawab Amira.


"Hmm, kakak kira kamu mau ke Bandung, ya audah gak apa-apa nanti kita kesana," balas Rayn.


Rayn kembali fokus pada dokumennya, ia tidak lagi mempertanyakan tentang rencana Amira yang cukup di luar dugaan. Pasalnya hal aneh jika Amira berlibur ke taman bermain yang belum pernah ia sukai. Walaupun pernah di ajak oleh keluarganya pergi. Tanggapan Amira hanya berujung tidur saja. Ia tidak pernah mau ikut bergabung dalam setiap permainan. Untuk kali ini ia menuruti ke gemaran adiknya itu yang selalu menyukai alam.


"Disini gak adakah yang mau dengar protesku," ucap Zain.


"Gak!!" jawab mereka bertiga bersamaan.


"Astaga ... kalian kompak sekali ya menyiksa aku?" balas Zain.


Naura tersenyum mendengar ucapan Zain yang merajuk kepada kedua adik kakak itu. Namun ada kehangatan diantara mereka berempat di dalam satu rumah itu. Pasalnya di Singapura, Naura tidak pernah merasakan kebersamaan.


Dia tidak pernah sekalipun berada jauh dari ayah dan pamannya, selama ia belum berusia seperti sekarang ini. Ia mendapatkan izin dari ayah dan pamannya untuk mengenali dunia luar seperti saat ini, karena Naura mengajukan permintaan untuk pergi ke Indonesia menemui kekasih hatinya dan juga temennya Amira.


Naura kini berada ada di sebuah balkon kamarnya, menatap langit-langit di kamarnya meski langit bahkan tidak berbintang. Ia mengingat kembali, saat ia berusia 5 tahun di acara ulang tahunnya di tengah malam, Naura mengajukan suatu permintaan kepada ayahnya, yang berujung ia ditinggalkan oleh ayahnya hanya karena permintaan dirinya.


*Flashback on*


Di tengah malam, Naura yang mengenakan gaun tidurnya. Ia berjalan menelusuri rumahnya dan menghampiri sebuah kamar yang cukup besar dan menghampiri ayahnya yang tertidur di atas sofa. Ia berjalan perlahan menghampirinya. Lalu ia semakin dekat kepada ayahnya, Naura merapatkan bibirnya, melihat ayahnya yang tidur sembari memeluk sebuah pas foto.


Naura penasaran dengan apa yang membuat ayahnya hingga meneteskan air mata setetes di pelipis matanya. Ia mengerutkan dahinya, lalu mengusap air mata itu. Naura penasaran dengan pas foto itu, lalu ia mencoba mengambil bingkaian foto itu yang ada di pelukan Ayahnya.


Dengan perlahan ia mengambil foto itu dengan sangat hati-hati, hingga ia dapat mengambil foto itu dan dia sangat terkejut, ketika melihat foto seorang gadis yang cantik tertawa lepas ke arah kamera. Namun ia terkejut ketika memperhatikan foto itu. Mendengar ucapan ayahnya.

__ADS_1


"Kenapa sepertinya kamu sudah berani ya masuk ke kamar Daddy tanpa sebuah izin!" ucap Ayah Naura dengan tatapan wajah dinginnya.


__ADS_2