Istri Kedua Tercinta

Istri Kedua Tercinta
Saudara?


__ADS_3

NTR:Hai Kak, kasih bintang 5 kak, jangan lupa like, komen, favoritkan dan vote yach... Selamat membaca kak.


Aris yang kini tengah duduk di alas tikar yang ia gerai di depan tendanya. Bahkan kini ada ada Amira, Rayn dan Naura yang juga ikut duduk berhadapan dengan mereka. Saat Amira melihat kearah Aris, dia tersenyum tipis lalu menepuk pundak sahabatnya itu. Sembari memakan buah strawberry yang memang sedari tadi ia makan meski mereka sedang memasang.


"Nah sekarang apa yang mau kamu tanyakan biar aku jawab?" tanya Amira kepada Aris.


Aris tertegun ketika mendengar pertanyaan sahabatnya itu, namun ia menarik napas dalam-dalam. Lalu ia bertanya dan mulai berbicara kepada Amira.


"Jelaskan padaku apa yang terjadi ini? Kenapa kamu berada di rumah Anggara? Kenapa ada Rayn disini bersama denganmu? Kenapa kita berkemah di sini? dan kenapa Rayn memanggilmu Adik?" tanya Aris yang tanpa jeda.


"Hahaha, sesuai dugaanku pertanyaanmu itu sangat banyak," jawab Amira tertawa.


Tawa Amira juga diikuti oleh Naura yang tersenyum tertahan. Aris tidak menghiraukan sahabatnya itu yang mengejeknya, namun dia tetap menatap tajam ke arah Amira.


Amira yang bahkan masih tertawa, ia berhenti tertawa lalu memakan kembali strawberry yang ada di tangannya.


"Baiklah, aku akan menjawabnya sesuai yang kamu lihat dan dengar. Ini adalah rumah nenekku jadi kita berkemah di sini dan juga Rayn adalah kakak kembaranku. Apa masih ada lagi pertanyaan yang mau kamu tanyakan kepadaku?" jawab Amira dengan tegas.


Meski Aris tidak mempercayai apa yang ia dengar tentang pernyataan Amira. Bahwa dirinya adalah saudara kembar Rayn. Namun memang diantara keduanya sama-sama memiliki wajah yang hampir mirip dan sangat tidak disangka jika keduanya adalah saudara kembar. Walaupun memang Amira yang sangat cantik begitupun dengan Rayn yang tampan.


Namun akan sangat jarang orang-orang bisa mengetahui bahwa keduanya adalah saudara kembar. Rayn tidak menghiraukan ataupun tidak dak ikut berbicara menjelaskan tentang pertanyaan Aris kepada adik perempuanya itu. Ia tetap makan cemilan yang ada dihadapannya sembari ia menggoda Naura, terkadang sesekali ia memainkan tangan Naura dengan lembut. Meski Naura merasa risih tapi ia sangat menyukai ketika tingkah manja Rayn terhadap dirinya.


"Kenapa kamu tidak jelaskan sedari dulu? Mungkin aku tidak akan berusaha menyatukanmu dengan Rayn," ucap Aris.


Amira tersenyum begitupun dengan Naura yang ikut tersenyum, namun tidak dengan Rayn, ia menatap tajam kearah Aris yang sedari tadi bersikap manja kepada adik perempuannya itu. Ia sangat tidak suka jika ada seseorang yang melebihi dari dirinya apalagi kepada adik perempuannya itu.


"Jangan sok manja kepada adikku!" cetus Rayn.


"Hahaha, kamu masih saja begitu sayang?" ucap Naura.


"Iya bertingkah manja kepada adik kesayanganku," jawab Rayn dengan lembut kepada Naura.


Amira dan Aris tersenyum tertahan ketika melihat tingkah Rayn yang sangat manja kepada Naura. Aris masih terdiam ia menduga-duga jika sikap Rayn kepada Naura sikapnya jauh lebih berbeda dari biasanya Rayn yang selalu menatap tajam dan acuh dan dingin. Namun lain dari biasanya Rayn yang ada dihadapannya itu bersikap sangat manja apalagi kepada perempuan yang ada di sampingnya itu.


"Dia adalah kakak iparku namanya Naura," ucap Amira kepada Aris.


"Kakak ipar?" jawab Aris.


"Hai aku Naura," sapa Naura tersenyum ramah.


"Jangan senyum padanya!" tegur Rayn menarik wajah Naura untuk melihat ke arahnya.


'Astaga tingkahnya seperti anak kecil di depan kekasihnya ini, lain dari biasanya,' batin Aris tertawa dalam hati.


Amira mengangguk membenarkan ucapan Naura untuk berbicara kepada Aris. Kini dari kejauhan tuan dan nyonya Anggara duduk di halaman rumah memperhatikan cucu-cucunya, yang kini tengah duduk menikmati makanannya. Setelah mereka memasang tenda sendiri meski anak buah tuan Anggara mencoba untuk membantu mereka.


Namun tidak ada diantara cucu-cucunya yang mau untuk dibantu. Mereka ingin merasakan sendiri momen atau suasana berkemping, seperti memasang tenda ataupun membuat makanan sendiri. Saat ini Amira tengah menyiapkan sebuah tugu untuk persiapan nanti malam bersama. Dengan Aris yang juga membantunya mengambil ranting-ranting yang ada di belakang rumah Anggara, yang lebih tepatnya perkebunan buah-buahan yang memungut ranting yang berjatuhan.


"Memangnya Rayn itu sudah menikah?" tanya aris.


"Secara hukum sih mereka sudah menikah!Karena mereka sudah terdaftar di catatan sipil. Namun karena belum ada akad nikah ataupun sebuah resepsi dari keluarga. Karena usia mereka yang belum cukup umur bisa jadi ... secepatnya mereka akan melaksanakan pernikahan," jawab Amira.


"Maksud kamu apa? Jadi mereka itu sudah menikah atau belum?" tanya Aris lagi.


Amira mengerutkan dahinya, lalu ia memukul kepala Aris dengan ranting yang ada di tangannya.


"Kamu itu bodoh apa **** sih? Aku sudah menjelaskannya sama kamu tadi! Kalau mereka itu sudah terdaftar di catatan sipil. Cuman belum melakukan akad nikah," tegas Amira.


Aris masih terdiam ketika, ia masih belum memahami apa yang diucapkan oleh sahabatnya itu.


"Maksudmu Jadi mereka itu dijodohkan atau bagaimana?" tanya Aris.


"Iya, mereka itu dijodohkan sejak usia 5 tahun kakakku 7 tahun, nah seperti itulah," jawab Amira.

__ADS_1


Meski belum memahami apa yang dikatakan oleh sahabatnya itu, Aris mengangguk, ia sedikit paham tentang apa yang diucapkan oleh Amira. Kini keduanya saling membantu mengambil ranting satu sama lain dengan kompaknya. Aris dan Amira mengumpulkan ranting-ranting tersebut dan kini mereka sudah berada di depan tenda.


Melihat Rayn yang merebahkan tubuhnya di alas tikar dengan tangan menutup kedua matanya. Saat Aris melihat pria yang sempat ia ingin jodohkan kepada Amira yang kini berubah menjadi kakak kandung, bahkan kembarannya Amira jadi Aris tersenyum tipis, ia merasa bahagia ketika mendapati kenyataan dan diluar dugaannya.


Saat ia masih berdiri dalam lamunan tiba-tiba sebuah tangan menepuk pundaknya mengagetkannya, hingga membuyarkan lamunannya dan beralih melihat kepada yang sudah menegurnya.


"Lebih baik kamu coba nyalakan ini! Jangan hanya terdiam saja!" tegur Amira.


Aris tersenyum dan mengangguk saat mendengar ucapan sahabatnya itu, meski ia tidak tahu apa yang dia rasakanny. Namun saat ini ia sangat bahagia bahkan, apa yang diucapkan oleh batinya dia sangat bahagia sekali ketika mengetahui kenyataannya bahwa Amira tidak ada hubungan, dan hal yang tidak mungkin jika Amira dan Rayn dapat bersama seperti apa yang pernah diucapkan oleh Amira.


Karena mereka adalah sepasang saudara kembar yang bahkan kedekatan dan ke eratan keduanya memang sangat seperti sepasang kekasih. Namun sangat membuat iri orang-orang yang melihat kedekatan dua saudara itu. Meski Amira tidak tahu apa yang dipikirkan oleh sahabatnya Aris itu. Namun ia tersenyum tipis ketika melihat Aris yang mulai bersemangat dalam berkemah. Tidak seperti sejak pertama Ia datang. Aris lebih banyak terdiam bahkan menggerutu pada Amira pertanyaan yang ada di benak Aris begitu banyak, tidak bisa berbicara ataupun mengungkapkan banyaknya pertanyanya hingga Aris memilih untuk terdiam saja.


Namun setelah Amira jelaskan tentang sedikit Amira yang jujur kepada Aris. Kini Aris mulai bersemangat meski Amira tidak meminta untuk melakukan sesuatu. Saat selesai menyalakan api, Aris duduk bersama dengan Amira di depan api unggun. Mereka membiarkan Rayn dan Naura yang tengah berbincang berdua saja di depan tenda. Rayn yang merebahkan tubuhnya sembari menutup kedua matanya dengan tangan kanannya.


"Lalu kenapa kamu menutup identitas mu kenapa kamu tidak mengatakan dari awal bahwa kamu adalah adiknya Rayn dan kenapa setiap kali aku mau mengantar kamu pulang kamu selalu tidak mau?" tanya Aris melihat ke arah Amira.


"Ternyata pertanyaanmu sangat banyak sekali ya Atau memang kamu tidak berniat untuk menghabiskan pertanyaan kamu itu! "jawaban Mira dengan aries tersenyum dan mengangguk saat mendengar ucapan sahabatnya itu.


"Jawab saja pertanyaanku Nek?" ucap Aris.


"Hahaha, ternyata kamu masih Aris sahabatku ya! Yang selalu banyak dengan pertanyaan anehmu itu!" ucap Amira tertawa.


"Eeh," Aris tertegun.


Aris tertegun ketika melihat tawa lepas Amira sembari sesekali gadis itu menepuk pundak Aris. Dengan lepasnya gadis itu tertawa menertawakan dirinya yang memang selalu terlihat konyol di mata Amira. Namun Aris sangat menyukainya ketika melihat Amira yang memang menyukai dirinya yang apa adanya. Tanpa mengharapkan Aris yang jauh lebih baik seperti pria pria lainnya atau kebanyakan pria dan sahabat yang memang selalu menunjukkan kesan kebaikan di mata para wanita.


Namun lain dengan Amira. Dia menerima Aris dengan tulus. Bahkan dia bersahabat dengan Aris tanpa memandang Aris sebagai seorang laki-laki yang cukup keren. rayon terbangun dari posisi tidurnya ia melihat ke arah Amira dan Aris namun ia tersenyum tipis ketika melihat adik perempuannya itu tertawa dengan sangat lepas persis seperti ibunya yang kini masih di Bandung dan belum juga pulang. Naura memperhatikan kekasihnya itu selalu menyenggol bahu Rayn oleh bahunya saat Rayn melihat kearah Naura. Naura tersenyum tipis dan mengangkat sebelah alisnya tanda ia bertanya ada apa.


"Aku hanya melihat sosok mama di dalam diri Amira, dia tertawa seperti wanita tercintaku," ucap Rayn.


"Hmmm, iya dia sangat cantik seperti tante," balas Naura tersenyum.


"Yah, aku cukup merindukan mama, tapi dia lebih merindukan nenek dan kakek jadi aku akan menunggu kepulangannya," ucap Rayn tersenyum mengingat wajah ibunya.


Rayn tersenyum ketika melihat Naura yang bersikap manja padanya.


"Hmmm, apa kamu cemburu?" balas Rayn tersenyum.


"Tidak!" jawab Naura.


"Benarkah?" goda Rayn mencolek pipi Naura.


"Iish, apaan sih? Colek-colek emang aku apaan!" cetus Naura.


"Heh, kamu gemesin deh," ucap Rayn tersenyum.


"Huh!" seru Naura memalingkan wajahnya.


Ryan tersenyum ketika melihat Naura yang marah kepadanya.


"Meski keluargaku apalagi ibuku mereka adalah orang-orang tercintaku, tapi aku adalah milikmu yang akan selamanya menjadi milikmu!" ucap Rayn tersenyum.


"Jadi kamu tidak cinta sama aku?" tanya Naura.


"Jika tubuhku saja punyamu, apalagi cintaku!" jawab Rayn.


Naura tersenyum, ia merangkul lengan kekasihnya itu, lalu mencium pipi Rayn sekilas. Meski itu di luar dari kendalinya, namun Naura merasa jantungnya berdetak sangat cepat ketika melakukan hal seperti itu kepada kekasihnya di ruang terbuka seperti saat ini. Namun ia merasa jauh lebih bahagia ketika mendengar ucapan Rayn.


"Aku akan memiliki keduanya tubuhmu juga cintamu," ucap Naura tersenyum.


Rayn tersenyum ketika mendengar ucapan Naura yang sangat membuatnya merasa begitu jangan dan dihargai juga diakui oleh kekasihnya Naura. Saat melihat adegan di mana Rayn yang sangat manja kepada Naura. Aris melihat dengan sangat merasa geli melihat adegan di mana pria yang super dingin dan cuek itu, kini bersikap seolah-olah ia sangat manja dan lembut terhadap kekasihnya itu.


Mereka kini makan bersama di luar tenda dengan api unggun yang tengah menyala di atasnya tungkunya terdapat sebuah tungkuan air untuk mereka minum kopi.

__ADS_1


"Kenapa kamu malah mau bersusah-susah buat ini semua? Kan ada banyak pelayan disini?" tanya Aris.


"Kamu mau di layani pelayan?" balas Amira.


"Ah, tidak," jawab Aris.


"Lalu?" ucap Amira.


"Mereka berjejeran tau tuh disana menunggu perintah tuannya," ucap Aris.


"Mana ada! Mereka justru sedang mengagumi kita yang sedang berkemah disini," balas Amira.


"Masa sih?" tanya Aris.


"Iyah, sana tanya mereka beneran nunggu kita suruh atau mau ikutan?" seru Amira.


"Baik, aku yakin mereka maunya sebuah pekerjaan," jawab Aris.


"Sana!" ucap Amira.


"Kalo aku benar aku dapat apa?" tanya Aris.


"Kamu boleh milih mau tidur dimana! Di tenda atau di rumah sana!" jawab Amira.


"Huh, tidak menarik tantangannya," sela Rayn.


"Aku gak suka apa yang aku dapat nantinya," ucap Aris.


"Lalu kamu mau apa?" tanya Amira.


"Aku akan kasih tau sama kamu nanti jika aku benar," balas Aris.


"Hmmm, kalo kamu kalah, nanti malam kamu tidur di luar ya," ucap Amira.


"Tidak masalah, aku yakin menang," balas Aris.


"Hmm, lakukanlah," ucap Amira.


"Aku yakin menang!" balas Aris.


"Buktikan dulu sana," seru Amira.


Amira tersenyum ketika melihat Aris yang kini berjalan menghampiri para pelayan yang sedang berdiri di kejauhan berjejeran dan menghampirinya.


Amira, Naura dan Rayn melihat dimana Aris yang kini sudah berjalan menghampiri para pelayan itu. Amira tersenyum dan memperhatikan Aris. Tidak dengan Rayn yang kini masih bersandar di bahu Naura yang juga tersenyum memperhatikan Aris yang tengah berjalan dan berbicara dengan para pelayan itu.


Meski sedikit ragu, Aris kini berdiri tepat menghadap ke arah para pelayan yang tengah memberi hormat pada dirinya.


"Apa aku boleh bertanya pada kalian?" tanya Aris.


"Silahkan Tuan," jawab salah seorang pelayan itu.


"Apa yang sedang kalian lakukan disini?" tanya Aris.


"Hah, Tuan. Kami hanya sedang berharap bisa seperti nona Amira dan tuan muda Rayn bisa berkemping di halaman rumah tuan Anggara besar tuan, memangnya ada apa tuan?" jawab pelayan itu.


Aris terkejut ketika mendengar penuturan para pelayan itu yang justru malah saling menjawab satu sama lain. Mereka memang sedang mengagumi kedua tuan dan nona mudanya yang sedari tadi tampak bahagia menikmati momen berkemahnya hingga mereka lebih memilih untuk memperhatikan mereka dari kejauhan.


'Bisa seperti itu ya?' batin Aris.


"Memang ada apa ya Tuan?" tanya salah satu pelayan itu.


"Tidak ada terimakasih!" jawab Aris.

__ADS_1


__ADS_2