
NTR:Hai Kak, kasih bintang 5 kak, jangan lupa like, komen dan vote yach... Selamat membaca kak.
Lina semakin merasa tidak nyaman, ketika dirinya masih berada di dalam mobil bersama dengan seorang pria. Meski Lina tahu, Iyas bukanlah pria yang jahat. Namun, baginya sangat tidak nyaman ketika mengingat dirinya hanya berdua saja bersama seorang pria. Lina lalu melirik kembali kearah Iyas yang masih menutup wajahnya dengan sweater.
Saat Lina mencoba untuk berbicara kepada Iyas. Lina mengingat akan satu hal yang menimpa kepada kekasih Iyas. Ia lalu mengurungkan niatnya untuk protes kepada Iyas. Ia memberikan waktu itu untuk pria di sampingnya itu agar menenangkan dirinya sendiri.
Mengingat Iyas sangat terlihat sekali, kebesaran cintanya kepada Ines saat di dalam rumah sakit tadi. Kebesaran cinta Iyas terhadap gadis tadi, membuat Lina mengurungkan niatnya untuk protes kepada Iyas dan memilih untuk tetap berdiam diri tanpa berbicara kepadanya. Setelah itu, Lina melihat sorotan lampu dari sebuah mobil yang baru datang. Kini berada di hadapan mobil mereka berdua.
Lina tersenyum dengan sangat bahagia, ketika mendapati mobil tersebut adalah sebuah taksi yang mungkin Iyas telepon tadi. Lina dengan riangnya, ia mencoba untuk membangunkan Iyas. Namun saat tangannya mencoba untuk menyentuh bahu Iyas. Kini Lina berhenti, ia menggantungkan tangannya.
Ia tidak berani untuk membangunkan pria yang di hadapannya itu. Akan tetapi sebuah ketukan di jendela kaca mobil, membangunkan Iyas dan mengejutkan Lina. Tangan Lina bersentuhan dengan bahu Iyas yang melihat kearah Lina dan mengerutkan daIyas yang melihat kearah Lina dan mengerutkan dahinya.
"Ada apa?" tanya Iyas ketika tangan Lina bersentuhan dengan bahunya.
Lina menggelengkan tangan kepalanya nya bentuk menjawab pertanyaan Iyas. Iyas mengangkat sebelah alisnya, tidak mengerti akan maksud gadis di sampingnya itu. Lalu ia mengabaikan Lina dan menurunkan kaca mobil perlahan, mengingat ada seorang pria paruh baya berdiri di depan di samping kaca mobil hias. Iyas tersenyumlah ramah, melihat pria paruh baya itu dan bertanya kepada Iyas.
"Apa Tuan yang memesan taksi?" tanya pria paruh baya itu.
__ADS_1
"Iya Pak terima kasih, apa tidak ada yang lebih muda dari Bapak?" tanya Iyas.
Iyas sangat heran akan sopir taksi yang kini berada di hadapannya itu. Pria paruh baya sekitar 50 tahun masih mengemudi dan taksi di malam hari seperti ini.
"Kebetulan saya yang bertugas Tuan," jawab pria paruh baya itu.
Iyas mengangguk mendengar jawaban sopir itu. Ia tersenyum ramah, mengagumi pria paruh baya yang ada di hadapannya itu. Masih dengan semangat dan senyum ramahnya bekerja mencari nafkah bahkan untuk keluarganya. Setelah berbicara kepada sopir. Iyas menoleh ke arah Lina dan berbicara untuk keluar, kepada Lina dan memasuki taksi. Lina mengangguk lalu mengerutkan dahinya ketika melihat mereka berdua meninggalkan mobil milik Iyas.
"Hmmm ... mobilmu nanti bagaimana?" tanya Lina sedikit ragu.
Lina mengangguk memahami jawaban Iyas. Namun ia tidak mengerti kehidupan tentang orang kaya, yang membiarkan mobil yang sangat bagus dan mahal itu dibiarkan begitu saja. Tanpa khawatir akan ada orang yang menghancurkan mobil tersebut. Apalagi sampai mencurinya. Pemikiran antara orang tidak berada dengan orang kaya sangat jauh berbeda.
Namun tujuan mereka sama yaitu untuk menggapai segala keinginan dirinya sendiri.
Lina tetap berjalan mengikuti Iyas. Namun saat Lina melihat Iyas duduk di kursi penumpang. Lina tidak langsung masuk ke dalam mobil. Ia masih terdiam dengan segala keraguannya untuk masuk ke dalam mobil taksi tersebut. Mobil yang ada dihadapannya itu.
Saat tahu Lina masih belum masuk juga Iyas mengerutkan dahinya dan melihat ke arah Lina.
__ADS_1
"Apa yang sedang kau lakukan? Ayo masuk!" panggil Iyas kepada Lina yang masih berdiam diri saja.
Lina memberanikan dirinya untuk menjawab pertanyaan Iyas dan juga ajakannya. Lalu Lina berbicara dengan sangat ragu-ragu, meski ia tahu akan jawaban pria yang ada di hadapannya itu.
"Bisakah aku tidak duduk di kursi penumpang?" tanya Lina dengan ragu-ragu .
Iyas mengerutkan dahinya ketika mendengar pertanyaan Lina, yang sangat tidak masuk akal baginya. Bahkan membuatnya sangat kebingungan untuk menjawab pertanyaan Lina yang terbilang aneh.
"Kau mau duduk di kursi depan? Ya sudah sana!" jawab Iyas dengan tentangnya.
"Aku ... aku..." ucapan Lina sedikit ragu dan ia tidak melanjutkan ucapannya.
"Ada apa?" tanya Iyas kembali.
"Aku ingin duduk sendiri, bisakah Anda duduk di depan saja," pinta Lina pelan.
Iyas membuang nafas kasar tidak memahami gadis yang ia hadapi saat ini. Begitu sangat tidak mengerti sifat gadis yang saat ini bersamanya. Iyas keluar dari kursi belakang dan mempersilahkan Lina untuk masuk dan ia beralih ke kursi depan dekat supir.
__ADS_1