
NTR:Hai Kak, kasih bintang 5 kak, jangan lupa like, komen, favoritkan dan vote yach... Selamat membaca kak.
10 tahun kemudian suasana di kediaman Anggara. Di pagi hari terlihat seorang wanita berkerudung putih dengan pakaian rapihnya sedang menata meja makan dengan telaten.
"Momi ...."
Suara seorang anak perempuan dengan riang mengenakan gaun warna biru muda berlari menghampiri Rara yang sedang menata piring di atas meja makan. Gadis itu memeluk Rara dengan manja. Di ikuti oleh seorang anak muda yang tak lain adalah Rayn di belkangnya. Yang kini sudah berusia 17tahun di usianya yang cukup muda namun tingginya 170cm.
"Jangan manja pada mamahku!" cetus Rayn.
"Nggak," jawab Raisa.
"Kalau begitu tidak ada bantuan tugas rumahmu," ancam Rayn.
"Baiklah, Mom. Aku sangat mencintaimu, tapi tugas rumahku lebih berbahaya Mom, muach," ucap Raisa kepada ibunya sembari ia mengecup pipi Rara.
Rara tersenyum dan mengangguk pada anak ketiganya itu. Raisa putri bungsu yang baru menginjak usia 9 tahun. Ia tumbuh menjadi seorang gadis cantik yang anggun dan manis. Lain dengan seorang gadis yang bernama Amira kakak perempuannya.
"Dimana kakakmu?" tanya Rara kepada Raisa.
"Yang pasti tidak mungkin dia sedang dandan Mom," jawab Raisa duduk di samping Rayn dan memakan sarapannya.
"Hmmm," tambah Rayn.
Rara tersenyum mendengar ucapan kedua anaknya dan ia melihat ke arah tangga. Seorang pria yang tampan berjas warna hitam dengan kemeja warna abu berjalan menuruni tangga. melihat suaminya ini sudah rapi bergegas untuk pergi ke kantornya. tersenyum dengan gaya dibawahnya berjalan menghampiri istri dan juga anak-anaknya.
__ADS_1
"Pagi sayang," sapa Rendi menghampiri istrinya memeluk dan menciumnya.
"Cih, manja," cetus Rayn.
"Kau minta Naura, paling kau lebih manja dariku," balas Rendi.
"Aku gak akan sepertimu," jawab Rayn.
"Sudah, ayo makan! Kalian ini sama saja kesayangan mamah," potong Rara menyiapkan sarapan untuk suaminya.
Rendi tersenyum penuh kemenangan melihat ke arah Rayn yang sedang mengunyah selai roti yang di buatkan ibunya. Menatap ayahnya yang sedang sombong kepadanya.
"Hmm, Amira masih belum bangun? Bukannya dia ada tugas turnamen hari ini?" tanya Rara berjalan menInggalkan meja makan dan menaiki tangga menuju kamar anak gadisnya Amira.
Sementara Rara pergi ke atas untuk membangunkan putrinya Amira, yang masih belum bangun juga mengingat pagi ini sudah jam 7 pagi. Namun tidak ada tanda-tanda anak gadisnya itu turun atau keluar dari kamarnya. Rendy makan di meja makan berhadapan dengan anaknya Rayn dan Raisa.
Ia turun dari kursinya dan berpindah tempat menghampiri ayahnya Rendy dan duduk di pangkuan Rendy. Rendy yang mendapatkan putri kesayangannya itu duduk di pangkuannya, ia tidak lagi memperhatikan Rayn yang juga dengan tatapan dinginnya, ia kembali memakan sarapannya hingga habis.
"Raisa ingin diantar oleh Kakak Rayn, jadi Raisa tidak perlu diantar oleh Papa boleh kan?" tanya Raisa kepada ayahnya.
"Sepertinya kamu sudah tidak sayang sama Papa ya?" rengek Rendi kepada putri kecilnya Raisa.
"Masih saja berlaga manja," cetus Rayn.
"Memangnya kamu bisa apa? Jika kau bisa memenangkan Project yang sedang dikerjakan oleh Adam! Aku pastikan akan mengabulkan satu permintaanmu, " ucap Rendy kepada putranya.
__ADS_1
Rayn yang kini mengangkat alis mengangguk menyetujui persyaratan dari ayahnya. Mereka makan bersama setelah berargumen antara ayah dan anak. Dengan Raisa di pangkuan Rendy dan menyuapi Putri kesayangannya yang paling kecil.
Sementara Rendy dan Rayn beserta putrinya Raisa, sedang sarapan di bawah. Rara kini berada di sebuah kamar yang berwarna abu dengan nuansa klasik sangat rapih dan bersih. Namun di sana terdapat seorang gadis tertidur pulas, dengan kaki berada di kepala ranjang dan kepalanya menggantung di tepi ranjang.
Rara tersenyum dan menggelengkan kepalanya, ketika melihat anak gadisnya tertidur dengan cara seperti itu. Ia berjalan mendekati ranjang milik putrinya Amira, lalu duduk di samping Amira. Dengan cekatan dan lembut Rara merangkul kepala Amira yang menggantung di bagian pinggir ranjang dan kini kepalanya tidur di pangkuan ibunya. Saat Amira bergumam, ia Justru malah mempererat pelukannya kepada ibunya itu.
"Hmm, ternyata putri tercantik Mamah ini sangat cantik ketika tertidur, bahkan Mama ingin mengabadikannya di sebuah ponsel Mamah," ucap Rara sembari ia memotret dirinya dan putrinya yang sedang tertidur.
Namun tiba-tiba Amira terbangun memasang bibir yang cemberut, melihat ibunya yang sedang tersenyum melihat ke arah Amira.
"Mama ini selalu saja seperti itu, memotret Amira tanpa izin ku," ucap Amira kepada ibunya.
"Anak gadis harus tetap cantik ketika tidur dan juga akan semakin cantik ketika dia bangun tidur. Apalagi lebih cantik lagi ketika gadis itu sudah rapih bersih dan bersiap untuk pergi kuliah pertamamu," ucap Rara membujuk putrinya.
Amira tersenyum ketika mendapati sikap dari ibunya yang sangat lembut, bahkan menyayanginya. Meski Rara tahu, Amira hanya satu-satunya putrinya yang malas, bahkan selalu tertidur, bangun pun siang. Namun, Rara tidak pernah sekalipun memarahinya. Apalagi sampai memukulnya.
Jangankan memukul, berkata kasar dan membentaknya pun Rara tidak pernah menunjukkan hal itu kepada putrinya. Ataupun kepada yang lain. Amira memeluk ibunya dan mencium pipi Rara.
"Ciuman ini akan lebih manis dan sangat enak ketika putri Mama ini sudah cantik dan bersih, Ayo mandi sayang!" ajak Rara dengan lembut.
Amira tersenyum dan mengangguk, lalu ia mencium kembali sebelah pipi ibunya. Setelah ia mencium pipi yang sebelahnya tadi. Lalu Amira bergegas ke kamar mandi dan sekali lagi, dia melihat kearah Ibunya dan mengacungkan tangannya mencium ibunya dari kejauhan. Lalu Amira masuk ke dalam kamar mandi.
Rara yang melihat tingkah putrinya itu, ia tersenyum penuh kebahagiaan dan bangga memiliki seorang putri yang selalu menuruti perkataannya. Bahkan Amira sangat bertalenta di bidang olahraga ataupun pelajaran lainnya. Meski saat ini putra-putrinya termasuk Raisa, Rayn dan Amira. Kini mereka berdua sudah akan kuliah dan Raisa sekolah dasar. Rara merapikan kamar putrinya.
Ia melihat buku Dairy yang masih kosong bahkan tidak ada satu coretan tinta pun di sana, mengingat buku Dairy itu adalah pemberian dari Rara. Tapi jangankan menulisnya Amira tidak pernah membuat buku Dairy itu kotor sedikitpun.
__ADS_1
"Ternyata gadis ini masih saja menyimpan buku Dairy ini, tanpa membuatnya tergores sedikitpun oleh tinta," ucap Rara.
Ia lalu menyimpan buku Dairy itu, di meja samping ranjang dan ia berjalan kembali keluar dari kamar putrinya. Rara menuruni tangga bergabung dengan suami dan putra-putrinya yang telah lebih dulu sarapan. Ada kehangatan di keluarga Rendy dan Rara ketika di pagi hari. Mengingat rumah ini sama sekali tidak ada pelayan sesuai keinginan Rara. Yang akan melakukan semua pekerjaan oleh dirinya termasuk memasak. Hanya saja untuk membersihkan rumah yang cukup besar ini, Rara memerintahkan pelayan dari rumah orang tuanya untuk datang sehari sekali.