
Prolog Dilla.
Setelah membiarkan suaminya tertidur Dilla mencoba menghampiri sebuah pintu yang di tunjuk Ken padanya tadi.
Dilla berjalan dan membuka pintu tersebut.
"Astagfirullooh, ini tempat apaan kenapa ada toko di dekat kamarku?" Ucap Dilla membulatkan kedua matanya.
Dilla berjalan melihat pakaian wanita dan pria terpajang dengan berbagai model bermerek. Dilla berjalan dan mengelilingi ruangan ganti tersebut.
Ia juga melihat ada banyak sepatu wanita berjejeran dengan rapih disana.
"Kenapa Ken tidak bilang bahwa dia usaha jualan pakaian,sepertinya dia menyembunyikan keuangannya yang ini dariku Ken bener-bener deh," ucap Dilla geram.
Saat Dilla berbalik mau keluar,ia melihat sebuah dres warna peach selutut dengan tangan renda, yang sering ia lihat di sebuah toko terkenal dengan limitid edition nya.
"Aaaah, ini apa sebuah mimpi di pagi hari kenapa aku bisa lihat kamu,apa aku boleh menyentuhmu?" Ucap Dilla.
Dilla mencoba menyentuhnya tapi ia urungkan.
"Tunggu dulu apa ini asli,kalo Rara tahu dia pasti memukul kepalaku,dia kan paling ilfil kalo melihat aku ngiler lihat yang bening-bening begini,tapi tidak ada siapa-siapa disini aku pegang juga gak bakalan ada yang tahu ini pemilik tokonya juga sepertinya tidak ada,demi bayiku aku rela memegangmu ya gaun terindahku," gumam Dilla tersenyum menyentuk bahkan menciuminya.
"Aaaaah, hatiku berbunga-bunga begini,semoga suamiku tidak melihat saat aku jadi gila begini." gumam Dilla.
"Aku selalu menyaksikannya," ucap Ken mengagetkan Dilla yang terkejut dan bangun dari berjongkoknya.
"Duuh Ken, bukannya kamu tidur, kenapa kamu kesini membuatku jantungan saja," teriak Dilla.
"Kamu tenang saja, semua dokter akan aku bawakan untuk mengobati jantungmu," ucap Ken datar.
"Aaaah kamu ini bicara romantis tapi sekejam dan dingin begitu tidak bisakah kamu agak lebay, dengan ekspresimu itu aku merasa kamu mendoakanku sakit jantung," cetus Dilla.
"Sedang apa kamu?" Tanya Ken datar.
"Tidak ada,aku hanya mau memergokimu yang menyembunyikan usahamu ini hah,bagaimana bisa kamu punya toko tapi tidak memberitahuku?" Bentak Dilla.
"Kenapa aku harus membuka toko kalo pekerjaanku jauh lebih menjamin kehidupanku," jawab Ken.
"Maksudmu?" Dilla kebingungan.
"Cepat ganti pakaian,aku harus menghadap Tuanku," Ucap Ken ia membuka pakaiannya di depan Dilla dan mengambil stelan baju yang terpajang di depannya.
"Hei, kamu serius memakai pakaian itu, memang ini punyamu?" Tanya Dilla.
"Ini di rumahku semuanya tentu saja milikku,kamu juga milikku," jawab Ken.
"Haha, lalu pakaian wanita ini untuk siapa,punya siapa apa kamu pernah punya wanita disini,bagaimana bisa ada pakaian wanita di rumah pria?" Ucap Dilla.
"Tentu saja,wanita itu kamu,karena hanya untuk kamu," ucap Ken mendekati pipi Dilla yang memerah.
Ken tersenyum ia meninggalkan istrinya yang terdiam.
__ADS_1
"Hah, ini semua untukku. Hei Ken ! apa aku boleh mengenakan semuanya," Teriak Dilla.
Tidak ada jawaban di luar ruang ganti karena Ken duduk di sofa dan membuka laptopnya.
Dilla yang di tinggalkan oleh suaminya ia tersenyum melihat-lihat pakaian yang bergantungan di depannya ia mencoba dres yang tadi ia pegang.
Tiga puluh menit Dilla masih belum keluar, membuat Ken tersadar akan istrinya.
Ia membuka kacamatanya dan bangun dari duduknya.
"Kenapa dia masih belum keluar?" Gumam Ken.
Ken menghampiri pintu ruang ganti ia mebuka pintu dan mendapati pakaian yang berserakan di bawah.
Ken mencari ke arah istrinya yang sedang berdiri di depan cermin dengan dres peach yang tadi ia cium.
Ken tersenyum mendapati istrinya dengan pakaian dres selutut rambut sebahu wajah berseri berlenggak lenggok di depan cermin.
Ken menghampiri istrinya,bahkan Dilla tidak menyadari suaminya membuka pintu,ia masih asik dengan kesenangannya.
"Sangat manis ," batin Ken.
"kalau yang kamu pakai masih dres yang ini,kenapa banyak pakaian yang berserakan?" Tanya Ken mendekati leher istrinya ia mencium dan memeluk erat dari arah belakang istrinya.
"Sebenarnya waktu pertama aku mencoba dres ini Ken,tapi aku mencoba semua pakaian ini dan ttp saja mau dres yang ini,hihihi," jelas Dilla tersenyumm.
"Memang kenapa dengan dres ini?" Tanya Ken.
"Semua ini bahkan milikmu sekarang, bahkan apapun yang kamu mau semua akan ada," ucap Ken dengan nada datarnya masih membuat Dilla antara bahagia ataupun biasa saja.
"Apa aku boleh pakai dres ini,ke rumah utama?"Tanya Dilla.
"Bukankah kamu pakai penutup kenapa mau pakai pakaian seperti ini?" Ucap Ken dingin.
"Aku kan hanya bertemu Rara saja,bukan orang lain aku mau menunjukannya padanya," rengek Dilla.
"Banyak pelayan dan penjaga," jawab Ken dingin.
"Hmmm, kalo begitu apa Rara boleh kesini?"Tanya Dilla.
"Miliknya bahkan jauh lebih bagus dari tempat in,kenapa harus melihat punyamu?" Ucap Ken datar.
"Hah,serius,lalu semua ini tidak boleh aku sombongkan padanya,Ken pliss aku mau nunjukin ini padanya," rengek Dilla memohon.
"Cepat bersiap kita harus kesana, juga pakai pakaian yang biasa," tegas Ken.
"Ken !" Teriak Dilla kesal.
Dila kesal menepiskan pakaian yang ada di hadapannya.
Ia bersiap untuk ke luar ruangan ganti.
__ADS_1
Dilla keluar dengan pakaian rapihnya dengan penutup kepalanya.
Ken tersenyum melihat ekspresi kesal istrinya.
"Apa kamu membawanya?" Tanya Ken.
"Bawa apa?" Cetus Dilla.
"Pakaian yang mau di tunjukan pada Saudarimu?" Tanya Ken.
"Apa boleh?" Tanya Dilla tersenyum.
"Memang aku melarangmu?" Tanya Ken.
"Tadi kamu melarangku," ucap Dilla kesal.
"Dasar bodoh.. ! Aku melarangmu memakainya keluar, bukan melarangmu membawanya dan menunjukan pada nona muda," ucap Ken.
"Aaah, kamu jahat kenapa tidak menjelaskannya padaku tadi! " Teriak Dilla.
Ia berlari ke ruang ganti dan mengambil dres yang akan ia tunjukan pada Rara ia tersenyum bahagia, mau nmenunjukan apa yang ia miliki.
Ken melihat tingkah istrinya ia tersenyum bahagia melihat istrinya yang kesal dengannya.
"Ken, kenapa kamu punya semua ini, Rendi juga kenapa bisa punya rumah segede itu,kenapa di Indonesia dia hanya menjadi pengusaha di bawah rata saja?" Tanya Dilla.
"Apanya yang di bawah,memangnya kamu pikir seperti apa Tuanku,miskin?" Tanya Ken.
"Hmmm ya, sepenglihatanku hanya kalangan Elit sama aja di sana,tidak seperti yang tadi aku lihat dia memasuki rumah yang seperti istana itu,aku pikir rumah yang paling besar seperti rumah besar Anggara ada banyak di indonesia,tapi yang seperti ini,bermimpi melihatnyapun aku tidak," ucap Dilla hera.
"Ini tempat dimana Tuan tinggal saat kecil bertemu denganku juga Mark Iyas. Dia paling kuat dan bersemangat di antara kami,selalu mengutamakan kepentingan yang lain di banding dirinya,sebelum ke Indonesia dia lebih awal disini," jelas Ken.
"Lalu, semua ini dan para penjaga itu?" Tanya Dilla.
"Kalau tentang rumah dan penjagaan memang kamu tidak akan membuat keamanan bagi rumah yang kamu miliki?" Tanya Ken.
"Iya sih, tapi kenapa harus sebanyak itu?" Ucap Dilla polos.
"Sudah! bisa tambah bodoh jika kamu banyak mendengarnya,jangan sampai berpengaruh pada bayi kita nantinya," ajak Ken pada istrinya.
"Kalau bukan karena menghindar dari seseorang, Rendi tidak akan membiarkan rumah yang ia bangun di tinggalkannya,sudah sekian lama ia baru mau kesini lagi," batin Ken.
***
prolog Rara.
"Sayang, anak-anakku gimana,ayo kesana! " Ajak Rara.
Rendi malah menggelayut di tubuh istrinya yang masih bertelanjang.
Menyusupkan kepalanya di dada istrinya.
__ADS_1