Istri Kedua Tercinta

Istri Kedua Tercinta
Pusat Perbelanjaan Lagi


__ADS_3

Prolog Rara.


Di sebuah kamar yang bernuansa elegan,Rara sedang membangunkan suaminya yang memeluknya erat.


"Anak-anakku bagaimana ini,Sayang bangun," ajak Rara.


Rendi malah menyusupkan kepalanya ke dada istrinya,memeluk semakin erat.


"Sayang ayo! Aku mau lihat anak- anak kita,nanti mereka minta minum susu," ucap Rara menggoyangkan tubuh Rendi.


"Aku juga mau minum susu," ucap Rendi dengan suara serak basah.


"Apanya yang minum susu,ayo kalau kamu tidak bangun aku akan ke kamar si kembar dan gak tidur di sini," ancam Rara.


Mendengar ucapan istrinya,Rendi bergegas bangun duduk dan memeluk istrinya erat,ia menyusupkan kepalanya di bahu istrinya.


"Sayang,jangan tinggalkan aku,aku mau sama kamu tidurnya," rengek Rendi.


Rara yang mendapati suaminya bermanja- manja,ia mencium kening suaminya gemas.


"Sayang,aku gak akan tinggalin kamu, kalau kamu bangun, mandi juga, kita temui anak-anak kita mereka pasti laper," jelas Rara.


Rendi mendongakan kepalanya, melihat istrinya yang sedang menunduk melihatnya yang sedang tersenyum padanya.


Rara mengecup bibir suaminya tersenyum lagi.


"Ayo Sayang,kita temui anak-anak kita,bukankah kamu mau ada bisnis siang ini?" Ucap Rara tersenyum.


Rendi tersenyum dan mengangguk,atas perlakuan istrinya yang memanjakannya,hati Rendi bahagia.


"Mandi bareng !" Ajak Rendi tersenyum.


Rara tersenyum mengangguk,mereka bangkit dari kasur dan pergi ke kamar mandi.


Di dalam kamar mandi Rendi dan Rara bahkan mandi dengan waktu yang lama.


Mereka melakukan aktivitas suami istri di kamar mandi dengan hati keduanya yang penuh cinta kasih saling mengisi satu sama lain.


Satu jam lama mereka di kamar mandi,Rara keluar duluan dari kamar mandi,ia mengenakan pakaiannya mengenakan dres blue panjang dengan lengan seprempat, hijab segi empatnya di pakai asal.


Rara melihat suaminya keluar dengan tubuh setengah basah,Rara tersenyum menghampiri suaminya.


"Aku keluar duluan ya,menemui anak kita," ucap Rara.


Rara tersenyum mengusap air yang menetes di rambut Rendi.


Rendi merangkul pinggang istrinya, tersenyum dan hendak mencium istrinya.


Rara menutup mulut suaminya yang hendak menciumnya.


"Nanti malam kita lanjutkan lagi, kalau kamu masih mau," ucap Rara.


"Benarkah?" Tanya Rendi sumringah.


"Tentu saja, jika kamu sesegera mungkin keluar menemui anak kita" jawab Rara tersenyum.


"Ayo sayang,aku pakai baju dulu ya," ucap Rendi.


Rendi melepas rangkulannya pada istrinya,dan ia bergegas memakai pakaiannya.


Rara yang melihat tingkah suaminya yang manja,ia tersenyum bahagia.


"Dulu jangankah bermanja seperti ini,aku membayangkan di cintai saja tidak berani,apalagi di cintai pria tampan seperti suamiku ini," batin Rara.


Rara berjalan keluar duluan meninggalkan suaminya yang sedang mengenakan pakaiannya.


Di luar kamar Saat Rara membuka pintu,sudah ada dua pelayan yang menyambutnya.


"Ada apa?" Tanya Rara.


"Kami di tugaskan untuk menunggu di sini Nyonya,takutnya ada yang Nyonya butuhkan," ucap salah satu pelayan.


"Memang? Apa yang akan aku butuhkan, kan aku bisa lakukan sendiri," batin Rara.


Rara terdiam dan mencerna ucapan para pelayan di depannya.


"Baiklah,bisa kamu antarkan aku ke kamar anak-anakku?" Tanya Rara.


Pelayan itu mengangguk pada Rara menjawab dan menunjukan jalan pada Rara.


"Mari Nyonya, tuan dan nona muda sedang di dalam kamarnya,juga ada pengasuhnya," ucap pelayan.


Rara tersenyum mengangguk,ia berjalan ke arah yang di tunjukan pelayan itu,Rara jalan di depan dan satu pelayan mengikutinya.


"Berasa syuting sinetron ya,ada pelayanannya juga," batin Rara.


Pelayan yang mengikuti Rara, membuka sebuah pintu kamar yang tingginya melebihi tinggi Rara.


"Sampai setinggi ini,gak pegal apa membuatnya," gumam Rara.


Rara melihat ke arah Rayn dan Amira yang sedang bermain di keranjang bayinya.


Rara menghampiri mereka dan menciumi mereka satu persatu.


"Sayang, apa kalian haus? Ucap Rara.


Rara menggendong Amira yang menghampirinya,Rara duduk di sofa memberi minum susu putrinya.


Rara melihat ke sekeliling setiap sudut kamar anak-anaknya,yang bernuansa penuh ketenangan,terdapat jendela kaca yang berjejeran di pinggir ranjang mereka.


Di luar sana terlihat pemandangan yang hijau,juga terdapat kolam renang di bawah sana.


"Apa dia menyiapkan ini semua untuk si kembar?" Gumam Rara.


"Ini semua untukmu Sayang,untuk keluarga kita," ucap Rendi.


Rendi menghampiri Rara yang melihat ke arahnya yang dari pintu.


"Kapan kamu membuatnya Sayang?" Tanya Rara heran.


"Sebenarnya rumah ini ada dari dulu, tapi aku menambah beberapa setelah menikah denganmu," jelas Rendi.


"Beberapa,rumah segede ini kamu bilang beberapa?" Ucap Rara.

__ADS_1


"Hmmm," jawab Rendi.


Rara menyusui putrinya berjalan mendekati jendela kaca di depannya.


Rendi mengisyaratkan para pelayan dan pengasuh untuk menunggu di luar.


Rendi menghampiri istrinya yang sedang berdiri di depan jendela,


Rendi memeluk Rara dari belakang dan menyusupkan kepalanya di leher istrinya.


"Yang pasti semua ini milikmu,aku juga milikmu seutuhnya," ucap Rendi.


"Kamu manis sekali sih Sayang,"ucap Rara tersenyum.


"Bibirmu juga manis aku mau memakannya," ucap Rendi tersenyum.


"Hmmm, kamu tuh ya gak ada puasnya, nanti ya sekarang malu sama anak-anak kita," ucap Rara mengadukan hidungnya dengan kepala suaminya.


Rendi melonggarkan pelukannya tersenyum,ia mencium pucuk kepala istrinya.


"Aku ke bawah yah,Ken pasti sudah di bawah,atau kamu mau turun juga?" Ucap Rendi.


"Kamu gendong Amiramu ini,dia sudah kenyang,aku mau memberi minum Rayn,nanti aku ke bawah," ucap Rara


Rara memberikan Amira pada Rendi.


Rendi pergi ke bawah dengan menggendong Amira yang sudah tidak mau diam.


"Kamu ini lincah sekali sayang,ayo cepat besar nanti papa ajarkan kamu berkelahi," ucap Rendi.


"Ko berkelahi sih !" Tanya Rara mengerutkan keningnya.


Rendi berbalik melihat Rara berjalan menghampirinya dari belakang.


"Hehe untuk menjaga kebaikannya sayang,"jelas Rendi.


"Kan ada kakaknya,adenya gak perlu bisa berkelahi kamu ini," gerutu Rara.


"Iya iya biar Rayn saja yang jagain, kalo Amira biar nanti suaminya saja yang jaga," ucap Rendi.


"Dia masih kecil kenapa juga harus cepat-cepat punya suami," tambah Rara.


Rendi terdiam saat istrinya selalu membantah ucapannya,selama ini tidak ada yang berani membantah setiap aturannya, tapi lain dengan istrinya ia selalu membuat Rendi berhenti berbicara.


"Baiklah aku serahkan semuanya pada anak -anakku saja gimana mau mereka saja," ucap Rendi mengalah.


"Tetap saja kita yang harus mengatur dan mengajarinya kebenaran,tapi harus sesuai kodratnya," jelas Rara.


"Siap,istriku tercinta,muach," ucap Rendi mencium kening istrinya.


Ken dan Dilla yang melihat tingkah Rendi dan Rara menggelengkan kepalanya.


"Huh,sepertinya dunia tuh cuman milik mereka berdua saja,bermesraan dimana aja," gumam Dilla.


"Memang kita tinggal dimana kalauhanya milik tuan dan nona muda?" Tanya Ken datar.


"Pindah ke bulan," cetus Dilla.


"Aku bisa beli roket untuk pergi ke sana," jawab Ken datar.


"Kamu baik-baik saja apa perlu ke rumah sakit?" Tanya Ken cemas.


"Kamu saja yang ke rumah sakit Ken, untuk di bedah isi kepalamu itu yang isinya hanya kata formal saja," cetus Dilla.


Rendi dan Rara tersenyum melihat perdebatan Ken dan Dilla.


"Kalian itu seperti kucing dan tikus saja,di luar berantem di kamar saling menikmati memakan satu sama lain," cetus Rara.


Rara duduk di ruang tamu dengan Rayn yang masih minum susu padanya.


Ken dan Dilla yang mendengar omelan Rara terdiam,mereka ikut duduk di ruang tamu.


"Kamu tuh selalu saja tidak sependapat denganku jadinya kita di bilang kucing dan tikus kan?" Bisik Dilla.


"Kalau begitu kamu mau jadi kucing atau tikus?" Ledek Ken.


"Aku kucingnya," cetus Dilla.


"Pantas selalu aku yang kenyang memakanmu,kucingkan selalu gagal menangkap tikus," ledek Ken.


"Eheeemmm." Rendi berdehem.


"Kamu." Ucap Dilla terhenti.


Dilla dan Ken berhenti setelah Rendi berdehem pada mereka.


Ken dan Dilla melihat ke arah Rendin dan Rara di depannya.


"Sayang aku punya sesuatu untuk di tunjukan padamu," ucap Dilla tersenyum.


"Apa?" Tanya Rara.


"Ini,di dalam sini adalah impianku dari dulu," jawab Dilla menunjukan paperbag yang ia bawa.


"Apa itu?" Tanya Rara.


"Ini impianku itu sayang,masa kamu gak ingat?" Ucap Dilla.


"Mimpimu ituh banyak gila," cetus Rara.


"Iiiiih kamu ini,ini tuh pakaian yang selama ini aku mau,lihat nih," jelas Dilla.


Dilla mengeluarkan isi paperbag nya dan menunjukan dres yang ia bawa pada Rara.


"Oh." Ucap Rara malas.


"Di kamarku ada banyak yang lebih bagus dari itu Dilla tapi tidak pernah aku pakai saja,kalau bukan pakaian formal ya baju tidur yang aku pakai yang lain hanya pajangan," batin Rara.


"Ko gitu sih jawabnya,inikan limitid edition Ra,yang waktu itu kita lihat dan suka," ucap Dilla sumringah.


"Kamu saja yang mau aku tidak," jawab Rara malas.


"Tapi," ucapan Dilla terhenti setelah mendengar ucapan Rendi.

__ADS_1


"Ada banyak di lemari istriku yang jauh lebih bagus dari itu," tangkis Rendi.


"Apa?"Dilla terdiam.


"Kamu tidak percaya pergilah kesana ada banyak yang jauh lebih bagus dari itu," ucap Rendi malas.


Rara dan Dilla terdiam mereka beradu tatap tak mengerti.


"Maksudmu apa sayang?" Tanya Rara.


"Berikan Rayn nya pada pengasuh kalau sudah selesai,kamu boleh berkeliling di sana,nanti pelayan akan menunjukan kesukaanmu," jawab Rendi.


Rendi menggendong Amira sambil membuka laptopnya di atas mejanya.


Ada Ken di sampingnya.


"Kemarikan saja tuan muda Rayn nya nona biar saya yang gendong," ucap Ken.


"Kalian kenapa sih tidak langsung menjelaskannya saja,nih aku titip anak-anak aku ingin tahu apa sih yang di miliki suamiku ini yang di sebut kesukaanku," gerutu Rara


Rendi hanya tersenyum mendapati gerutuan istrinya,ia memfokuskan pada laptopnya dengan Amira di pangkuannya.


Rara memberikan Rayn pada Ken,ia pergi mengajak Dilla yang sedang melongo tidak memahaminya.


Sementara Rara dan Dilla pergi dengan pelayan yang menunjukan jalan pada mereka.


Lain dengan Rendi,ia melakukan rapat dengan menggunakan laptopnya meeting video dengan Amira di pangkuannya yang menendang-nendang Rendi.


Rendi tampak tidak masalah dengan tingkah putrinya yang sesekali menyentuh wajahnya.


Ken juga tampak serius menghadiri rapatnya dengan Rayn di pangkuannya.


Tapi para hadirin rapat yang di layar laptop tampak terkagum-kagum, Dengan tuan mereka yang sangat hangat,dan tidak mengurangi wibawanya walau di tengah pertemuan kali ini tuannya mengajak putra putrinya untuk mengikuti rapat penting kali ini.


Rendi tampak mengerutkan dahinya saat seorang pria menuturkan presentasenya,ia mendekati laptop dan memperjelas melihat karyawannya itu.


"Kenapa aku baru melihatmu?" Tanya Rendi.


"Dia baru satu bulan di perusahaan tuan,tapi dia sudah mendapatkan banyak tender dalam sebulan ini," jelas seorang di layar laptopnya.


"Oh,suruh dia datang ke ruanganku besok," ucap Rendi.


"Baik Tuan," ucap yang di sebrang.


"Sudah,besok aku ingin semua siap dan aku ingin ada yang bisa mewakili perusahaan untuk mendapatkan tender kali ini," ucap Rendi.


Rendi menyandarkan tubuhnya ke sofa dengan Amira masih di pangkuannya.


Ken menutup Rapatnya dan menggeser laptopnya menjauh dari Rendi.


"Kamu tahu Ken dia siapa?" Tanya Rendi.


"Dia tangan kananya Jason Tuan," jawab Ken.


"Heh,ternyata ingatanmu masih tajam,dia sudah sejauh itu ya," ucap rendi.


"Apa kita perlu bertindak sekarang Tuan?" Tanya Ken memperhatikan tuannya.


"Ken kau tahu jika ada Kanan pasti ada kiri?" Ucap Rendi.


"Iya Tuan,saya tahu dimana dia berada," jawab Ken.


"Kita tetap ikuti permainannya,mau sampai tahap mana dia berani mengusikku," ucap Rendi.


Dengan Amira yang kesana kemari di pangkuan Rendi.


"Baik Tuan,akan saya pastikan dia berada di pihak kita," ucap Ken.


"Lakukan dengan baik Ken,aku tidak berharap kegagalan," tegas Rendi.


Di lorong rumah Rara dan Dilla berjalan mengikuti pelayannya.


"Sebenarnya ini mau kemana Sayang?" Tanya Dilla.


"Aku tidak tahu,ikuti saja aku malas bertanya," jawab Rara.


Rara dan Dilla berjalan hingga sampai di sebuah pintu yang tingginya dua kali lipat dari tinggi Rara.


Rara dan Dilla melihat pelayan itu membuka pintu dengan cermat.


Saat pintu terbuka ada sebuah keramaian yang tidak pernah terbayang oleh Mereka.


"Astagfirullooh Ra, apa ini?" Tanya Dilla melongo.


Rara memasuki dan melewati pintu itu.


Ia tidak bersuara sama sekali,lain dengan Dilla ada banyak pertanyaan di benaknya yang di lontarkan pada Rara.


"Ini namanya kita masuk ke dunia lima Dimensi La,yang dimana terdapat pusat perbelanjaan di dalam rumah," ucap Rara.


Rara tidak memalingkan pandangannya dari pusat perbelanjaan pribadi yang berada di hadapannya.


Ada banyak pekerja disana tapi tidak ada pembeli.


Saat Rara dan Dilla masuk,semua pelayan membungkukan kepalanya memberi hormat pada Rara dan Dilla.


"Ini apa, memang tidak ada orang lain lagi?" Tanya Rara.


"Ini di siapkan khusus untuk Anda nyonya besar," jawab pelayan yang mengantrnya.


"Jadi maksud suamiku ini kesukaanku yang dia maksud?" Tanya Rara.


"Waaaash suamimu keren sekali Ra ini tuh kita bisa berjualan Ra," teriak Dilla menghampiri pakaian yang terpajang di setiap toko.


Stiap toko khusus tertulis di pintu tokonya.


Ada toko khusus bayi,khusus krudung, khusus pakaian tidur,toko sepatu.


"Kenapa suamiku harus melakukan ini semua?" Gumam Rara.


Rara hanya berdiri melihat luasnya pakaian yang terpajang dengan setiap model ternamanya.


Lain dengan Dilla ia malah senang bahagia melihat-lihat setiap yang terpajang di sana.

__ADS_1


"Ini namanya pusat perbelanjaan pribadi Ra," teriak Dilla sumringah bahagia.


__ADS_2