Istri Kedua Tercinta

Istri Kedua Tercinta
Secepat mungkin


__ADS_3

Adam masih dalam duduknya di atas ranjang. Ia mengerutkan dahinya ketika setelah setengah jam lebih. Nesa masih belum keluar dari kamar mandinya. Ia berdiri menghampiri pintu kamar mandi dan mengetuk pintunya. Setelah tidak ada jawaban dari dalam Adam mulai teringat sesuatu dan membuka paksa pintu kamar mandinya. Saat pintu terbuka, Adam terkejut ketika melihat Nesa sedang tertidur pulas di dalam bak mandi.


"Gadis bodoh! Kebiasaan buruknya tidak berubah," gerutu Adam menggelengkan kepalanya. Ia mengangkat Nesa dengan menutup tubuh Nesa mengenakan handuk.


Adam menggendong Nesa yang masih tertidur pulas. Ia tersenyum licik mengingat istrinya terlalu ceroboh dengan dirinya yang pandai berkelahi. Adam membaringkan tubuh istrinya di atas ranjang dan menyelimutinya dengan selimut tebal. Adam tersenyum menyeringai, ketika mengingat istrinya yang tertidur pulas.


"Sepertinya kau benar-benar kelelahan ya," ucap Adam. Ia berbalik dan memasuki kamar mandinya.


Setelah membersihkan tubuhnya, Adam mengenakan pakaian santainya dan tidur di samping istrinya yang terlihat tenang dalam tudurnya.


Adam tersenyum licik dan mendekati tubuh istrinya yang hanya di tutupi balutan selimut tebal. Ia mendekati istrinya terasa harum di penciumannya karena ia mencium pipi istrinya. Tapi Nesa masih tidak bergeming dalam tidurnya. Adam tersenyum licik dan melakukan aksinya dengan sigap tanpa aba-aba dari istrinya yang tertidur dan hanya desahan halus yang terdengar dari istrinya yang masih tertidur. Adam tersenyum tipis setelah melakukan apa yang ia inginkan untuk membuat istrinya tidak kasar padanya seperti yang ia lakukan tadi menendangnya hingga tersungkur. Ia menyelimuti tubuh istrinya kembali dan tertidur di samping istrinya kembali dengan senyum penuh kemenangan.


Di pagi hari bagi semua orang masih dalam tidurnya. Nesa terbangun dari tidurnya. Ia merasakan berat di bagian dadanya, saat membuka kedua matanya, Nesa melihat ke samping tempat tidurnya dan membulatkan kedua matanya, ketika melihat Adam yang tertidur dibsampingnya. Ia terkejut dan melempar tangan yang melingkar di dadanya dengan hentakan yang kasar olehnya. Hentakannya membuat Adam terbangun karena istrinya yang berteriak juga.


"Hei, idiot! Kenapa kau...."


Nesa terdiam ketika mendapati tubuhnya tak mengenakan helaian pakaianpun. Ia juga semakin membulatkan kedua matanya, saat melihat sekujur tubuhnya yang tidak nampak lagi. Semua penuh dengan bercak merah tanda yang semalam Adam lakukan pada tubuhnya. Kini nampak jelas di bagian atas tubuh Nesa tanpa ruang.


Adam tersenyum tipis ketika melihat ekspresi istrinya yang menurutnya lucu.


"Adaam! Apa yang kau lakukan padaku?" teriak Nesa dengan wajah kesalnya memelototi Adam dan menarik selimut untuk menutup tubuhnya.


"Heh, kenapa kau tutup? Aku bahkan sudah menikmati semuanya dan tidak ada yang ku lewatkan," tutur Adam tersenyum dan mendekati istrinya yang kini mundur ke belakang menghindari Adam yang semakin mendekati dirinya.


"Jangan mendekat!" teriak Nesa kesal.


"Heh, kenapa kau begitu galak? Kau lupa jika saat ini kau ini istriku?" goda Adam semakin mendekati wajah Nesa yang semakin mengeratkan selimut yang menutupi tubuhnya.


Adam menarik tubuh istrinya hingga kini wajah keduanya sudah berdekatan tanpa jarak. Nesa menutup kedua matanya ketika wajah suaminya semakin mendekatinya.


Adam tersenyum, ketika melihat wajah istrinya yang berubah semakin merah. Ia mendekati semakin mendekatinya. Setelah, didapati tidak terjadi apa-apa, Nesa mencoba membuka kedua matanya perlahan, ia juga mencoba mendongakan kepalanya perlahan. Tapi lain dari dugaannya. Bibir Nesa kini di bungkam okeh bibir Adam yang sudah mendarat di bibirnya. Nesa membulatkan kedua matanya. Ketika bibir suaminya semakin menelusuri mulutnya tanpa ijinnya.


Adam hentakan tubuh istrinya ke belakang hingga kini Adam berada di atas tubuh istrinya. Ia menciumi setiap inci bibir istrinya menikmatinya dan menciuminya dengan lembut. Kedua tangan Nesa di tarik ke atas kepalanya. Adam mencium bibir Nesa denganbsetiap decak menikmati bibir istrinya yang ranum. Ciuman yang semakin mendalam, dengan tangannya sudah mulai turun ke area sensitip, Adam meremas sesuatu di dada Nesa. Nesa spontan dan mendorong suaminya dengan tenaga kuatnya. Hingga Adam terdorong ke belakang dengan senyum di wajahnya.

__ADS_1


"Kau terlalu percaya diri Adam! Harusnya kau ijin padaku jika ingin melakukannya, ini apa yang kau lakukan? Malah melakukannya dengan sendirinya. Aku juga perlu di hargai." Nesa bangun dari tidurnya dengan wajah kesalnya, ia tarik selimut untuk menutup tubuhnya dan berjalan memasuki kamar mandi.


Adam terbangun dan turun dari ranjangnya, ia berlari memasuki kamar mandi juga. Karena pintu kamar mandi sudah tidak seperti semula tidak bisa di kunci.


Nesa terkejut, ketika Adam malah ikut masuk ke kamar mandi.


"Apa yang sedang kau lakukan? Sana! aku mau mandi," cetus Nesa kesal dengan wajah semu merahnya.


"Aku juga harus mandi, apa yang kau pikirkan?" ujar Adam melewati istrinya yang masih berdiri.


Nesa melihat ke arah suaminya yang sedang membuka pakaiannya, ia menutup matanya menahan malu karena melihat tubuh sixpack suaminya.


"Kau ini sembarangan, masa mandi di saat...."


Nesa di tarik oleh Adam kedalam dekapan Adam yang kini sudah telanjang bulat di hadapan istrinya. Dagu Nesa di angkat hingga wajah mereka saling bertatapan. Nesa tersenyum bahagia ketika di bawah kucuran air shower Adam menampakain senyum manisnya pada Nesa. Ada deggbaran jantung yang terdengar nyaring di antara mereka berdua. Adam mendekati wajah Nesa perlahan.


"Itu hukuman buatmu jika masih tidur di kamar mandi! Aku akan melakukan hal lebih padamu jika itu terulang lagi," bisik Adam tersenyum melihat wajah istrinya yang bersemu merah mendengar ucapan suaminya.


"Apa? Dia tidak melakukannya! Pantas saja aku merasa tidak ada yang berubah dari tubuhku," batin Nesa bahagia mengetahui akan hal itu. Karena baginya Adam keterlaluan jika melakukannya tanpa saling menginginkan.


Saat Nesa masih terdiam, Adam menarik tubuh istrinya semakin menempel dan ciuman di antara mereka berdua memanas di bawah kucuran air. Adam melum*t bibir istrinya dengan rakus. Tapi lain dari sebelumnya. Nesa menyambut ciuman suaminya dengan penuh kenikmatan.


Ciuman yang begitu panas di pagi hari, membuat sesuatu di bawah sana meronta dengan kecepatan kilat. Adam menarik selimut yang masih Nesa pegang erat. Karena ciuman yang Adam lakukan pada istrinya begitu memabukan bagi Nesa untuk kali ini. Nesa tidak melakukan perlawanan akan hal yang Adam lakukan tangannya di bagian dadanya. Bahkan selimut yang Nesa kenakanpun terjatuh, ia membiarkannya.


Adam menekan bagian dada istrinya dengan gerakan lembut. Nesa masih menikmati ciuman suaminya dan sedikit mendesash pelan, Ketika suaminya meremas sesuatu di dadanya. Cukup memabukan bagi dua sejoli melakukan ciuman panas di pagi hari di bawah kucuran air yang di ngin di pagi hari.


Adam menggendong tubuh istrinya yang tanpa helaian benang menutupinya. Adam tersenyum ketika istrinya menundukan wajahnya ke dada bidangnya. Ia membaringkan pelan tubuh istrinya dengan senyum mengembang.


"Sekarang, apa aku sudah mendapatkan ijin?" tanya Adam lembut mengecup bibir ranum istrinya yang semakin memerah karena ciumanya yang lembut.


Nesa mengangguk, sebagai tanda persetujuannya. Merangkul pundak suaminya. Hingga kini. Adam bearada di atas tubuh Nesa dengan senyum mengembangnya.


"Aku akan melakukannya dengan lembut, tidak perlu menendangku!" seru Adam mengecup bibir Nesa kembali.

__ADS_1


Nesa mengangguk dan sedikit mengerang, ketika sesuatu menusuk bagian intimnya. Denga mata tertutup, Nesa menahan setiap hentakan suaminya. Karena Adam melakukan sesuai ucapannya. Nesa bahkan hanya menikmatinya untuk pertama kalinya, meski sedikit terasa sakit baginya. Tapi suaminya melakukannya dengan kelembutan. Hingga tidak bisa membuat Nesa terkejut sama sekali ketika Adam melakukan sesuai apa yang mereka nikmati saat ini.


Desahan mereka berdua mengiringi kamar mereka di pagi hari. Adam tersenyum penuh kemenangan ketika ia menyalirkan hasratnya yang selama ini tertunda. Mengingat Nesa yang tidak pernah mau melakukannya. Karena di negaranya hal bebas jika hanya ingin bercinta. Tapi lain dengan Nesa yang dewasa dan matang di rumah Rendi Anggara yang penuh dengan aturan hidup. Yang mengutamakan menghargai tubuh sendiri.


Adam tersenyum melihat istrinya yang terkulai lelah setelah melakukan adegan panas di pagi hari. Nesa tertidur kembali, Adam terbangun dan melihat bercakan merah di bawah istrinya yang membuatnya puas dan bahagia tak terhingga. Ia berjalan ke kamar mandi meninggalkan istrinya yang tertidur dengan balutan selimut yang di kenakan suaminya untuknya. Adam membersihkan tubuhnya, mengingat matahari sudah mendahuluinya. Apalagi ada hal penting yang harus ia lakukan, mengingat Rendi sudah menghubunginya tadi malam. Perihal gerakan yang akan Rendi lakukan secepat mungkin. Karena Dirga yang sudah kelewat batas.


Tapi Adam lebih paham akan Rendi. Bahwa bukan Dirga yang membuatnya secepat itu bertindak. Tapi karena istrinya yang kini berstatus istri Mark yang membuat Rendi geram dan ingin secepatnya menemui istrinya. Adam tersenyum mengingat kekesalan dari Rendi yang menelponnya dengan nada kesalnya.


Setelah siap, Adam keluar dari kamarnya. Ia meninggalkan istrinya yang kelelahan karena ulahnya. Ia berjalan menghampiri ruang tamu yang kini sudah ramai. Ada Rara dan anak-anaknya, Mark, Iyas dan juga Dilla yang menggendong bayinya duduk di ruang tamu melihat ke arah Adam yang baru datang menghampiri mereka.


"Waaah! Pengantin baru sampai terbangun sesiang ini, sepertinya sebuah kemenangan kau dapatkan, Bro?" goda Iyas tertawa ketika melihat Adam yang dengan datarnya tanpa menjawab ucapan Iyas yang membuat yang lain mendengarnya tersenyum tertahan.


"Sebaiknya, kita ke taman belakang saja yuk Sayang! Biarkan ayah dan paman berbincang saja," seru Rara menggendong Naura yang berada di pangkuan Mark yang masih terdiam melihat Rara berjalan menggendong putrinya di ikuti kedua anaknya berjalan di belakangnya. Juga Dilla yang ikut bangun dari duduknya mengikuti Rara ke taman belakang.


Mark masih terdiam, ketika mendapati putrinya yang di ambil Rara yang membuatnya tertegun. Karena Rara selama ini masih cetus padanya. Tapi kali ini ia dengan lembut berbicara dan memperlakukan putrinya dengan lembut.


"Mark?!" teriak Iyas membuyarkan diam Mark.


Mark terkejut ketika mendengar teriakan Iyas yang membuatnya kesal. Ia mengambil cangkir kopinya dan meminumnya perlahan. Ia menyimpannya dan melihat ke arah Iyas dengan wajah kesalnya.


"Apa yang terjadi, aku yakin saat ini Rendi tidak sedang diam, malah sudah mulai bergerak. Aku sudah tahu jika dia pasti akan menunda selama yang mereka inginkan. Tapi mereka terpaksa bergerak karena berita yang aku sebar kemarin," ujar Mark dengan wajah acuhnya berbicara pada Iyas dan Adam.


"Dugaanmu benar, apa kita akan ikut turun juga untuk membantu?" balas Adam dengan wajah cerahnya.


Mark mengangguk dan akan memastikan semua rencana Rendi berjalan lancar. Secepatnya selesai. Mereka berbicara di ruang tamu dengan rencana untuk membantu Rendi dan Ken yang pasti akan kembali ke tempat lelang.


Di tempat lain, sudah sekitar satu minggu Rendi dan Ken sedang berdiskusi dan berencana melancarkan aksinya menghancurkan Dirga. Mengingat Dirga yang masih di Singapore. Ken dan Rendi merencanakannya dengan matang. Karena berkat Mark yang mempublikan pernikahannya. Dirga jadi ikut hadir karena penasaran.


Setelah tahu jika Dirga meninggalkan mansionnya, Rendi dan Ken bergerak lebih cepat dan memasang boom waktu yang alat pematiknya hanya Ken yang memegangnya di kediaman Dirga. Karena setelah menelusuri seluruh mansion. Tidak ada jejak keluarga Ken dimanapun. Rendi dan Ken bahkan tak mengetahui dimana mereka berada. Hingga membuat Ken geram.Karena Dirga selicik itu padanya.


NTR: Hehe kakak2ku... likenya tinggalkan ya.


Rate bintang juga ya. Kayanya yang buat aku senang itu deh. Hehe koment kalian membantu kesehatanku ternyata. Terimakasih ya kakak sebelumnya, Love you all.

__ADS_1


__ADS_2