
Setelah menempuh perjalanan yang cukup memakan waktu. Akhirnya rombongan kendaraan Rendi memasuki pedesaan dengan banyaknya tanaman teh yang siap petik. Ada banyak pemetik teh di sekitaran kebun teh. Mereka berdiri dan melihat ke arah dua kendaraan yang lewat di jalanan kebun teh di hadapan mereka.
"Eleuh-eleuh ni sae pisan eta mobil teh nya, mobil saha tea eta tehnya?
(Ya ampun bagus banget mobilnya punya siapa ya?") Ucap salah satu penetik Teh.
"Enya meni sae pisan eta mah, jigana mah ti kota eta mah ceu," (Iya bagus sekali sepertinya dari kota, Mba)" jawab seorang pemetik satunya.
Para pemetik teh saling berbisik membicarakan dua kendaraan yang lewat di hadapan mereka yang terlihat asing bagi mereka. Kendaraan yang teramat mewah memasuki pedesaan mereka.
Rendi memeluk Rara yang tersenyum bahagia karena akhirnya mereka sampai di tempat tujuan dan akan segera sampai di rumah kedua orang tuanya.
Kendaraan mereka kini sudah mendekati desa halaman rumah kedua orang tua Rara.
Kedua orang tua Rara yang sedang meminum kopi bersama melihat sebuah mobil memasuki halaman rumah mereka. Ada senyum di wajah mereka menduga bahwa itu adalah kendaraan anak menantunya dan mereka bahkan keluar bersama kedua cucu mereka.
Rara tersenyum dan berjalan berhambur menghampiri ibunya dan memeluknya. Rasa rindu yang menumpuk di hati Rara teramat dalam hingga ia menangis dalam pelukan ibunya. Ibu Rara mengerutkan dahinya negitupun semua orang yang melihat Rara yang menangis memeluk ibunya.
"Sayang, kok kamu malah menangis, ibu disini sangat bahagia kamu datang berkunjung kesini sayang," ucap ibu Rara.
"Rara sangat rindu ibu, rindu ibu yang selalu memarahi Rara juga sangat bawel," ucap Rara menangis.
"Ini ... ibu harus bahagia atau marah sih Sayang kau terdengar bukan pujian buat ibu," ucao ibu Rara tersnyum.
"Aaaah... ibu aku serius," rengek Rara manja.
Semua yang melihat tingkah Rara tertawa karena rengekan Rara yang masih bermanja pada ibunya.
Rara bukan sedih karena manja tapi ia bersedih karena mengingat aka hari yang harus ia lewati jika berada jauh dari keluarganya untuk kedepannya.
"Ayo Sayang, kita masuk ke dalam luhat tuh cucu-cucu mamah tuh liatin kamu nangis begitu," ucap ibu Rara.
Rara melepas pelukannya. Ia merangkul lengan ibunya beserta Amira yang di gendong olehnya dan Rayn di pangku oleh kakeknya.
Kini keluarga Rara berkumpul di ruang tamu dan bercengkrama bersama berbincang.
__ADS_1
Rara pergi ke dapur mengikuti ibunya yang sedang membuat kopi dan menyiapkan camilan.
Rara mencoba memberanikan diri untuk menutupi hal yang hampir ia katakan. Ia berpikir akan lebih baik jika berbicara nanti bersama ayahnya juga berkumpul dan berdiskusi tentang rencananya untuk ikut tinggal di Jerman.
Di ruang tamu Rayn dan Amira berlari kesana kemari di hadapan keluarga bersama kakeknya yang memperhatikannya.
Rendi duduk di samping ayah mertuanya sambil menikmati kopi bersamanya beserta istrinya yang kini sudah duduk di sampingnya.
Mereka berbincang melepas kerinduannya.
Setelah sudah merasa lama berbincang dan paman juga tante Rara sudah kembali ke rumahnya masing-masing.
Di ruang tamu kini hanya ada Rara, Rendi dan kedua orang tuanya berbincang.
Rara melihat ke arah suaminya dan mencoba untuk berbicara pada kedua orang tua Rara.
"Pak ... Bu, sebenarnya kami kemari ini ingin memberitahukan bahwa kami berencana untuk tinggal di Jerman, merutut ayah dan ibu bagaimana apakah bisa mengijinkan Rara dan kami untuk tinggal di sana?" Tanya Rendi dengan nada sedikit ragu juga.
Ayah dan ibu Rara terkejut mendengar penuturan menantunya yang mengatakan akan tinggal lebih jauh dari Jakarta. Ibu Rara tertegun dan memandangi putri semata wayangnya yang baru saja memeluknya bercanda dengannya seperti biasanya dan saat ini ia mendengar bahwa putrinya akan pergi dan berada jauh dari mereka.
"Nak Rendi ... jika memang semua sudah keputusan dan itu hal yang baik untuk kalian dan kelangsungan kebahagiaan anak Bapak Rara. Kami akan mendukungmu di manapun kaliann berada ," ucap Ayah Rara.
"Sebenarnya perusahaan Papa Rendi sedang membutuhkan Rendi Pak, itu mengharuskan Rendi untuk tinggal di sana dan menjalankan perusahaan agar kembali bangkit dan tidak terancam kembali Pak," jelas Rendi.
"Hmmm ... sebenarnya Bapak berat jika harus berada jauh darj putri semata wayang Bapak, tapi demi kebahagiaan putri Bapak. Akan Bapak restui kalian dimanapun kalian berada," ucap Ayah Rara.
Rendi mengangguk mengerti dan berbincang bersama mertuanya sampai larut.
Mereka bercengkrama melepas kerinduan beserta hal yang memungkinkan mereka untuk bisa bertemu kembali.
Di luar rumah Rara terdapat tempat duduk tempat berteduh. Adam duduk bermain game dengan khusunya tanpa menghiraukan seseorang di sampingnya di sana bersama Nesa yang sedang berdiri memperhatikan rumah sederhana tapi indah baginya dan juga berasa nyaman bagi siapapun yang tinggal di sana.
"Aku tidak tahu jika di dunia ini masih ada rumah yang khas sederhana tapi berasa nyaman di tempati, aku yang tinggal di rumah yang luasnya tak terhingga saja tidak pernah merasa senyaman ini," ucap Nesa.
Adam hanya mendengarnya dan tidak menanggapi ucapan Nesa yang sedang berbicara memperhatikan setiap sudut halaman rumah orang tua Rara.
__ADS_1
Nesa menoleh ke arah Adam yang masih dengan permainannya ia tampak merasa kesal saat mendapati pria di sampingnya teramat sangat menyebalkan baginya.
"Hmmn pria menyebalkan mana ada pria yang mengabaikanku saat aku berbicara,sepertinya dia bukan pria yang akan baik jika berdekatan dengan wanita," decak batin Nesa.
Nesa berpindah dari duduknya dan bergeser dengan jarak sekitar dua meter dari Adam yang masih asik dengan permainannya.
Mereka berjaga di luar rumah dengan minuman dan camilan yang di sediakan tuan rumah untuk mereka.
Adam mengerutkan dahinya saat menyadari bahwa seseorang yang ada di hadapannya kini berada jarak di antara mereka. Ia melirik dan memberhentikan permainannya melempar handponenya di depannya.
"Apa kau wanita ?" Tanya Adam.
Nesa menoleh ke arah Adam dan tertegun mendengar perkataan pertama dan pertanyaan yang konyol bagi Nesa jika seorang pria bertanya hal seperti itu.
"Apa kau bodoh? Atau idiot?" Cetus Nesa.
Adam tidak menjawabnya. Ia tersenyum tipis saat mendengar jawaban wanita di hadapannya. Setelah ia mencoba bertanya padanya.
"Heh, apa kau masih wanita?" Ucap Adam kembali.
"Sebaiknya kau diam saja jangan bertanya," tegas Nesa memalingkan pandangannya.
"Pria bodoh yang tidak bisa melihat mana wanita dan pria," batin Nesa kesal.
"Jika kau wanita tidak mungkin jam segini masih terjaga dan tidak tidur," ucap Adam tersenyum tipis.
Nesa tidak menjawabnya. Ia berpaling dan meminum teh hangat yang ia buat untuk menemaninya beserta camilan yang di sediakan.
Adam tersenyjm tipis mendapati wanita di hadapannya yang teramat dingin terhadapnya. Biasanya akan ada banyak wanita yang berhamburan mendekatinya walau sikap dan perkataannya dingin. Tapi alin dengan wanita penjaga di hadapannya ini. Ia bisa membuat Adam mengalihkan handponenya dan bertanya pada Nesa.
Adam bertanya karena ia berpikir bahwa tidak baik jika ia berjaga bersama seorang wanita dan ingin menyuruhnya untuk tidur saja dan biarkan dia yang berjaga sendiri.
Tapi ia urungkan karena sudah terlanjur di jawab dingin oleh Nesa. Kini mereka berjaga di depan rumah hanya di temani hening dan tidak ada percakapan di antara mereka berdua.
Nesa dengan sikapnya meminum teh hangatnya walau sesekali ia melirik ke arah Adam yang menurutnya pria idiot menanyakan tentang ia wanita bukannya dan Adam masih dengan gamenya tanpa memperhatikan sekitarnya.
__ADS_1