
Rara sedang memandikan Rayn yang kini sudah lincah menendang nendang jika sudah akan dipakaikan pakaian oleh mamahnya.
"Kenapa putra mamah pintar sekali ya selalu menggoda mamanya kaya papamu aja," ucap Rara.
Rendi menghampiri istrinya yang sedang sibuk memakaiakan pakaian untuk putra putrinya.
"Biar Amira aku yang pakaikan ya," ucap Rendi.
"Cobalah kalo bisa," ucap Rara tersenyum.
Rendi mencoba memakaikan popok untuk Amira,tiap kali mau memasangkanya Amira menendangnya juga merengek kencang.
Rendi kebingungan ia takut salah kalau harus memaksa memakaikanya.
Rara yang melihat Rendi yang kesusahan ia tersenyum.
"Kamu sangat manis sayang mau membantuku," ucap Rara.
Rendi yang mendengar ucapan istrinya ia merangkul pinggang istrinya dan terduduk di pangkuannya.
"Apa istriku menggodaku lagi?" Tanya Rendi tersenyum.
"Kita sedang di liatin Sayang," bisik Rara.
"Siapa yang berani melihat kita disini?" Ucap Rendi menyodorkan bibirnya tapi di tahan tangan Rara.
"Lihat tuh," bisik Rara
Rara mengisyaratkan matanya pada Rayn dan Amira yang melihat ke arah mereka juga menendang senang.
"Mereka setuju kok," ucap Rendi.
"Apanya yang setuju tuh kausnya Amira aja baru sebelah masuknya, cepetan selesaikan"ucap Rara.
"Aku ambil Rayn saja aku gak bisa pakai dia gak mau diam," ucap Rendi memegang tangan Rayn dan mengajak bicara bayinya.
"Huh, kalo gak bisa harusnya dari tadi Sayang,," ucap Rara.
Rendi dan Rara keluar dari kamar menggendong Rayn dan Amira menuruni tangga.
Sudah ada tuan dan nyonya besar yang sedang duduk di ruang tamu.
Rendi dan Rara menghampirinya. Menyapa dan berbincang dengan mereka beserta Rayn dan Amira yang sudah lima bulan.
Saat sedang asik berbincang dengan mertuanya melihat ke arah pintu .
Ternyata ada tamu di sore hari.
Dilla menyapa dan tersenyum memeluk Rara yang berdiri menyambutnya.
Rara terkejut dengan saudaranya yang tiba-tiba memeluknya dan menangis. Mata Rara bertanya pada Ken. Ia malah mengangkat bahunya dan tersenyum.
"Ken apa yang kau lakukan pada sodariku ini hah?" Tanya Rara.
Dilla melepas pelukanya dan mulai berbicara.
"Aku minta maaf padamu selama ini aku sudah menyakitimu aku merebut paman dan bibi darimu juga selalu marah padamu padahal kamu selalu ada untuku. Aku juga tidak pernah peduli padamu saat kamu membutuhkanku,saat perjodohan dulu yang membuatmu bimbang aku malah mendukungnya dan mempercepat pernikahanmu maafkan aku." Dilla menangis dengan tangan memegang tangan Rara.
Rara tersenyum dengan tingkah sodarinya kali ini,ia bahkan memegang tangan Dilla dengan erat.
"Dasar Dilla bodoh! Aku sudah tahu kamu yang mengusulkan perjodohan itu juga, aku juga tahu kamu yang mempercepat pernikahan itu,aku tahu kamu menyayangi orang tuaku dengan sangat tulus,makanya aku selalu mempercayai kalian keluargaku. Lagipula kalau perjodohan itu tidak terjadi mungkin akhirnya tidak akan seperti ini,aku yang berpisah dengan Radit ,bertemu Rendi suami yang mencintaiku bertemu ibu mertuaku kamu yang sama Ken. Aku yang punya Rayn dan Amira itu semua adalah hadiah terindahku dari semua yang terjadi Dilla,itu tidak ada sangkutannya denganmu," ucap Rara.
"Maafkan aku yang sempat iri padamu,aku minta maaf aku pernah jahat padamu," lirih Dilla.
"Haha, sepertinya setelah menikah kamu jadi gila beneran ya Dilla," tawa Rara.
Rendi dan semuanya melihat Rara yang dengan polosnya masih menganggap tidak terjadi apa-apa. Padahal karena perjodohan itu Rara hampir mati karena prustasi,menangis hingga tak sadarkan diri.
Tapi dengan lapang dada ia tulus menyayangi orang yang sudah membawanya ke jurang kesedihan.
Rendi tersenyum dan melihat ke arah Ken.
"Sepertinya kamu sangat buas membuatnya tersadar kesalahanya," bisik Rendi.
"Saya juga tidak tahu tuan dia hanya minta kesini saja setelah." Ken tidak menyelesaikan perkataanya.
"Setelah apa?" Tanya Rendi.
"Saya tidak mungkin bilang kalau istri saya memaki anda tuan bisa gawat semuanya," batin Ken.
"Tidak ada Tuan," ucap Ken.
"Huh, kamu sudah berani menyembunyikan sesuatu hah," ucap Rendi.
"Sesuatu apa sayang?" Tanya Rara.
"Tidak ada sayang aku hanya bertanya apa yang Ken lakukan pada Istrinya"ucap Rendi.
"Apa dia memukulmu hingga jadi bodoh Sayang?" Tanya Rara pada Dilla.
"Dia tidak memukulku tapi aku yang membenturkan diri tadi," lirih Dilla.
"Apaa,kenapa dan dimana yang luka sakit tidak?" Teriak Rara panik.
__ADS_1
"Aku terbentur dadanya makanya aku jadi sadar kesalahanku selama ini," jelas Dilla melihat ke arah Ken.
Rara terkejut begitupula semua yang mendengarnya tentu saja semua menertawakannya dengan perkataan Dilla.
"Haha asal kamu tahu sayang karena kamu selalu lucu di hadapanku makanya aku tidak mungkin dan tidak akan bisa membencimu,kamu tetap sahabat dan sodari gilaku yang tersayang," ucap Rara memeluk Dilla.
"Ini yang membuatku iri padamu kenapa kamu tidak pernah marah padaku kamu bahkan malah selalu baik padaku," rengek Dilla.
Rara tersenyum dan menepuk punggung Dilla.
"Sudah kamu ini tadi pagi pulang dengan marah-marah dan sorenya kesini lagi dengan menangis dan mengatakan hal konyol,aku kira Ken melakukan kekerasan rumah tangga padamu huh," ucap Rara.
Rendi Rara Dilla dan keluarganya tertawa dan berbincang bersama Rayn dan Amira yang aktip menendang-nendang kakinya.
"Ingsyaallaah aku akan selalu ada untukmu Raraku tercinta aku tidak akan menyakitimu lagi," batin Dilla
Dilla tersenyum bersama keluarga dan mertua Rara yang ramah dan baik,lain dari rumor yang beredar bahwa keluarga Anggara sangat dingin dan terkenal dengan ketegasanya.
Malam hari setelah semua kembali begitu pula Ken Dilla yang berpamitan pulang.
Rara yang sudah mmendapati Rayn dan Amira tertidur.
Rara duduk di ranjang dengan membuka handponenya ia memeriksa pendapatan Cafenya juga besok ia akan mengunjunginya.
"Kamu sama sekali tidak marah sayang sama Dilla?" Tanya Rendi menghampirinya duduk di samping Rara.
"Dulu pernah tapi sudah lama hilang di telan waktu dia selalu ada untuku saja itu udah cukup," ucap Rara.
"Apa saat kamu berlari mengunjunginya waktu itu kamu berharap dia membatalkanya?" Tanya Rendi.
"Hmmm begitu tapi setelah di pikirkan dan di jalani aku malah tidak bisa marah padanya," ucap Rara.
"Kamu benar-benar wanita tercintaku Sayang," ucap Rendi memeluk dan mengecup pucuk kepala Rara.
"Apa kamu ingin sesuatu Sayang?Tanya Rara.
"Untuk malam ini aku akan membiarkan istri tercintaku ini istirahat,terkecuali memang ada yang tak terduga," ucap Rendi tersenyum.
"Dan pastinya sudah ada yang tak terduga itu ya kan?" Tanya Rara tersenyum.
Rendi tersenyum dan melihat wajah istrinya ia mengecup bibir istrinya dan menariknya untuk tidur.
"Untuk malam ini saja aku membiarkanmu tidur nyenyak sayang atas apa yang kamu katakan tadi aku sangat bersyukur denganmu," batin Rendi.
*****
Prolog Ken Dilla
Ken dan Dilla melajukan kendaraannya dengan kecepatan sedang,Ken melihat ke arah istrinya yang kini tersenyum bahagia.
"Aku bahagia karena saat ini aku sudah sadar dan merasakan betapa berharganya orang-orang sekitarku," jawab Dilla.
"Apa termasuk aku?" Tanya Ken.
"Tentu saja setelah Rara kamu juga penting dan berharga untuku," ucap Dilla.
"Tidak apa walau setelah sodarimu itu baru aku,aku tetap senang," ucap Ken.
"Hahaha, Kamu sangat berarti bagiku Ken karena kamu suamiku yang aku cintai," ucap Dilla tersenyum.
"Sepertinya kita harus tuntaskan sesuatu," ucap Ken menggoda.
"Sesuatu apa?"Tanya Dilla.
"Apa kamu lupa?" Goda Ken.
"Uuuuh kamu buat aku tegang saja," cetus Dilla.
Ken tersenyum dengan melihat wajah Dilla yang merah,ada hal yang selalu ingin.Ken lihat dari istrinya yaitu wajah tersipu malu istrinya saat bersamanya di matanya itu sangat manis dan lucu.
Sesampai di Apartement Ken menggendong Dilla dengan Dilla yang menutup wajahnya oleh kedua tanganya. Ken tersenyum melihat tingkah istrinya bahkan ia tidak risih dengan orang-orang yang melihatnya.
Ken membaringkan istrinya di atas ranjang mereka. Ken menatap lekat wajah istrinya dan mencium istrinya hingga mendalam.
Ken membuka penutup kepala istrinya.
membuka seluruh pakaianya juga istrinya. Kini mereka berdua tanpa helaian benang di tubuh mereka.
Ken melihat istrinya yang tersenyum padanya,ia mendekatkan tubuhnya.
"Apa tidak apa-apa,apa tuanmu tidak akan menelponmu?" Bisik Dilla serak.
"Hmm."Ken menggelengkan kepalanya ia tersenyum pada istrinya yang waspada.
Padahal tadi siang tuannya sudah bilang tidak akan mengganggunya.
"Tuntas kan tugasmu yang belum selesai bersamaan," ucap Rendi.
Itu yang Ken pahami dari maksud tuannya hingga ia bisa leluasa sepuasnya bersama istrinya untuk kali ini.
"Apa itu sakit kita akhiri saja?" Ucap Ken tapi Dilla menggelengkan kepalanya.
Ken memeluknya dengan erat dan mencium Dilla. Untuk mengurangi rasa sakitnya hingga akhirnya ia ulangi,Saat Ken mencoba kembali terdengar suara handponenya berbunyi.
__ADS_1
"Tuan ini katanya tidak akan menggangguku," batin Ken kesal.
Dilla mengambil handpone Ken yang ada di atas kepalanya dan memberikanya pada Ken.
Ia mengangkatnya tapi tidak melepas pautanya pada Dilla.
"Bro ada tempat yang bagus dan tepat ku temukan dan jaraknya tidak jauh," teriak yang menelpon adalah Iyas.
"Akan aku bunuh detik ini juga kamu!" Bentak Ken membuang handponenya.
Ken melanjutkan kembali aktivitasnya walau kesakitan yang Dilla rasakan Ken rasakan. Ken tidak tahu bahwa handpoenya tidak ia matikan hingga yang di sebrang telponya terkejut mendengar desahan dan jeritan seorang wanita di sebrang teleponya.
"Gila kesucianku di nodai oleh kamu Ken.Kenapa kamu tidak menutup telponku dulu sialan,ternyata kamu buas juga ya hingga membuat wanitamu menikmatinya hahaaha," ucap Iyas menutup telponya.
"Kesucianku oh aku yang jomblo ini selalu ternodai oleh mereka yang gila kemarin mataku sekarang pendengaranku nanti apa lagi," teriak Iyas berguling di kasurnya.
Bagi Dilla dan Ken malam ini malam yang sangat panjang,hingga mengakhirinya dengan tidur berpelukan.
Di pagi hari Dilla terbangun dengan meringis kesakitan,ia melihat suaminya sudah tidak ada.
Dilla berdiri hingga meringis di setiap langkahnya,ia melihat ke arah sprei yang bernoda.
"Hah apa itu di saat seperti ini sampai berdarah kasihan sekali kamu kesayanganku," gumam Dilla.
"Kamu sudah bangun,apa perlu aku bantu?" Tanya Ken dari arah balkonya.
"Kenapa tubuhku rasanya remuk ya, aku tidak ada tenaga untuk berjalan," ringis Dilla.
Ken tersenyum penuh kemenangan.
"Itu karena kamu cantik," ucap Ken.
"Kenapa kamu memujiku?" Tanya Dilla curiga.
"Hahaha kamu manis," ucap Ken.
Ken menggendong istrinya memasuki kamar mandi dan mereka mandi bersama.
****
Prolog Rara.
Rendi yang sudah ada di kantornya.
Karena ada rapat dari klien dari singapore yang sedang hangatnya di perusahaan. Rendi pergi pagi sekali hingga tak sempat membantu istrinya mengurus anak-anaknya. Ken sudah berdiri di hadapan Rendi saat ini.
"Apa berkasnya sudah siap,kapan mereka sampai?" Tanya Rendi.
"Semua sudah siap tuan juga rencana B sudah siap sepenuhnya,mereka akan sampai tiga puluh menit lagi Tuan," jawab Ken.
"Huh, kenapa sampai selama itu?"
Ucap Rendi dingi.
"Mereka sarapan dulu tuan,dan mungkin karena ia membawa seorang gadis juga Tuan," ucap Ken.
Terdengar ketukan di balik pintu ruangan Rendi. Sekertaris Nina masuk.
"Klien dari Singapore sudah dekat Tuan," ucap Nina.
"Bawa mereka ke ruang rapat," tegas Rendi.
"Apa kamu kelelahan Ken hingga prediksimu meleset kali ini?" Tanya Rendi tersenyum.
"Tidak Tuan, saya sudah memastikanya bisa jadi itu adalah taktik mereka Tuan,takutnya dia mengirim orang yang tidak kita duga Tuan," ucap Ken.
"Maksudmu Adi Surya putra dari Bima Surya?" Tanya Rendi.
"Iya Tuan," jawab Ken.
"Itu akan jauh lebih baik aku ingin tau kemampuan Adi Surya yang terkenal manis itu tapi aku tau kemunafikan yang ada disana," ucap Rendi tersenyum.
Rendi berjalan dengan Ken menuju ruang rapat yang di dalamnya sudah ada tiga orang pria dan satu wanita.
Mereka memberi salam pda Rendi begitupun Rendi menyambutnya.
"Hallo tuan Anggara senang bisa bertemu dengan Anda pengusaha termuda di Asia yang sukses,Saya Adi Surya," ucap salah satu pria yang berjas abu bernama Adi Surya.
Seperti dugaan Rendi . Ia tersenyum dan juga memberi salam perkenalan pada klienya.
"Sepertinya Anda senggang sekali ya pak Adi sehingga sangat pagi sekali anda sudah datang ke perusahaan saya," ucap Rendi.
"Aku kesini hanya untuk menyapa Anda juga untuk mengajukan kerjasama yang dulu pernah terhenti oleh Pamanku karena hal itu Aku harap anda tidak mempersulit perusahaan baruku," ucap Adi.
"Anda sudah sukses di Singapore kenapa masih ingin bekerja sama di perusaahaan kecil ini?" Tanya Rendi.
"Aku tahu perusahaan Anda tidak sebesar perusahaanku tapi dengan bekerja sama denganku perusahaanmu yang ada di singapore akan aku jamin segala keamananya" ucap Adi tersenyum.
"Aku akan melihat seperti apa usahamu yang akan di tunjukan padaku jika hatiku baik aku akan pastikan jawaban memuaskan untukmu," tegas Rendi dingin
"Ternyata dia tak semudah yang aku bayangkan benar kata Ayah anaknya jauh lebih menyulitkan di banding ayahnya,aku ingin tahu apa kah sesulit itu mendapatkan daerahmu," batin Adi.
Ken tersenyum melihat isyarat dari tuanya.Hingga mereka melakukan presentase pada rapat yang berlangsung dua jam ini.
__ADS_1
"Anda terlalu Naif tuan Adi Surya tuan bukan hanya punya perusahaan kecil di Singapura tapi sistim keamanan disana terkendali oleh Tuanku," batin Ken.