
Di dalam sebuah kamar, Ken berjalan menghampiri kamar milik istri dan juga putrinya yang kini berada di dekapan istrinya. Ken tersenyum melihat anak dan istrinya yang sudah tertidur lelap. Ia berbaring dan juga ikut tertidur di samping putri dan juga istrinya. Ia memandangi istrinya dan memcium putrinya yang masih bayi. Ia tertidur dengan kedua tangan di atas kepalanya terlentang. Ken tertidur memejamkan kedua matanya dengan senyum di wajahnya mengingat istrinya yang begitu cerewet setiap kali kesal padanya. Baginya itu adalah kebahagiaan dari istrinya dan juga kehidupannya yang menjadi berwarna setelah bergelut dalam perkelhian dan dunia mafia yang teramat kejam baginya. Apalagi setelah kejadian itu tkdak ada hal yang Ken dapatkan. Kedua orang tuanya bahkan tidak ada dimana-mana. Ken sempat kesal, tapi ia lebih mementingkan tuannya di bandingkan keegoisannya yang telah melukai Rendi yang sudah sangat jauh kebih baik dari kedua orang tuanya. Untuk kali ini, Ken tidak akan memikirkan tentang kedua orang tuanya kembali. Apalagi jika harus melibatkan Rendi dengan luka yang akan sembuh dengan jarak begitu lama. Rendi bahkan belum sembuh total. Karena luka di perutnya terlalu banyak dan membutuhkan waktu lama ajlgar kembali seperti semula. Ia tertidur dengan pikiran yang sudah mulai tenang karena berada di dekat anak istrinyadan juga Rendi yang kini sudah kembali pada keluarganya. Ken tersenyum tipis dengan hati bahagia akan apapun yang terjadi hari ini.
Di pagi hari, Rara terbangun dengan segala keterkejutannya karena ia terlambat untuk beribadah subuh. Rara terbangun dan turin dari ranjangnya. Ia juga berjalan dengan kecepatan yang sebisa mungkin baginya. Tapi setelah ia merasakan ada yang berbeda dari sebelumnya. Ia berhenti dari jalannya dan menoleh ke arah tempat tidurnya dan melihat sosok yang sangat ia rindukan tertidur dengan putrinya di pelukannya. Rara menyadarkan dirinya dan menggosok kedua matanya.
"apa ini sebuah mimpi? Kenapa aku merasa ada suamiku setelah kemarin menelponenya," gumam Rara berjalan mendekati ranjang tidurnya dan juga menyentuh kaki suaminya. Ia memastikan keaslian tentang seseorang yang ia lihat pagi ini setelah ia bermimpi indah dengan suaminya sepanjang malam. Dalam dekapan suaminya Rara tampak bahagia dalam mimpinya. Untuk pagi ini saat ia terbangun ada suaminya yang benar-benar ia rindukan.
"Sayaaaaaang?"
Teriakan Rara membuat Rendi terkejut dan terbangun mengingat istrinya selalu teriak jika ada hal yang mengkhawatirkan. Rendi duduk dari tidurnya dan menarik pinggang istrinya juga mendekapnya dengan srnyuman di wajahnya teramat bahagia. Begitupun Rara yang masih tidak percaya jika suaminya berada di hadapannya untuk saat ini.
"Kamu siapa? Kenapa ada di kamarku?" teriak Rara dengan hati tersenyum bahagia ternyata suaminya yang sesungguhnya berada di hadapannya denga wajah yang sangat ia rindukan.
"Kamu berharap yang mendekapmu ini siapa Sayang?" ucap Rendi tersenyum menatap istrinya yang kini juga tersenyum menatap suaminya dengan rindu yang sangat dalam di hati mereka.
"Tentu saja suamiku tercinta! Kau siapa main masuk saja ke kamar orang dan juga meniduriku?" cetus Rara yang kini duduk di pangkuan suaminya dengan segala pelukan erat Rara bahagia.
"Kau beratanya aku siapa tapi memelukku dengan begitu erat Sayang!" ucap Rendi tersenyum dengan istrinya yang memeluknya dengan segala kerinduannya pada istrinya yang teramat ia rindukan.
"Kau jahat! Kenapa pergi begitu lam? Kau jahat tidak pernah memberiku kabar, pada Adam kau selalu memberi kabar tapi pada istrimu sama sekali tidak, kau jahat ...."
Ucapan Rara terhenti ketika ciuman Rendi mendarat di bibir ranumnya. Rara membulatkan kedua matanya dengan serangan suaminya yang bertubi-tubi ciuman di mulutnya dengan lembut. Rara bahkan menikmati ciuman lembut dan hangat dari suaminya yang teramat ia rindukan.
Setiap sentuhan bibir Rendi menelusuri bibir ranum istrinya. Dengan lembut Rendi menekan kepala istrinya untuk memperdalam ciumannya yang teramat dalam dan sangat ia rindukan dari kemarin. Apalagi mengingat istrinya yang selalu berbicara dengan tingkah manjanya. Rara membalas ciuman suaminya dengan melum**t setiap inci bibir suaminya juga sebagai balasan kerinduannya pada suaminya. Pagi hari mereka sambut dengan ciuman hangat dalam rindu yang teramat dalam bagi keduanya. Rendi bahkan tidak berhenti apalagi melepas bibirnya di bibir istrinya yang kini berada di pangkuannya.
Dengan ciuman yang mereka lakukan di pagi hari. Rendi menarik istrinya semakin dalam dan jari jemari mereka saling bergenggaman dalam kelembutan bibir Rara dan juga ciuman lembut Rendi yang masih tidak melepas tautannya. Mereka berciuman cukup lama di pagi hari. Hingga sesuatu mengingatkan Rara dan melepas ciuman suaminya. Ia memandangi suaminya yang tersenyum menatapnya.
"Sayang, aku belum sholat! Aku mandi dulu ya dan sholat. Kamu jangan tidur lagi kamu juga harus sholat. Aku mandi dahulu ya sayang," ucap Rara turun dari pangkuan suaminya dan bergegas berjalan ke kamar mandi.
Saat sampai di dekat pintu kamar mandi. Rara berbalik dan melihat suaminya ygang masih duduk di atas ranjang menatapnya yang juga tersenyum padanya.
"Sayang ... aku sangat mencintaimu!" ucap Rara tersenyum dan menutup pintu kamar mandi dengan wajah merah padamnya.
Rara tersenyum bahagia mengatakan hal itu pada auaminya yang juga tersenyum menatapnya dengan segala rasa sayangnya dengan kesungguhan Rendi merindukan istrinya.
__ADS_1
Rara sesegera mungkin membersihkan dirinya dengan hati yang sangat bahagia dan juga sesegera mungkin untuk beribadah sebelum matahari menampakan dirinya mendahului siapapun. Rara keluar dari kamar mandinya dan masih ada suaminya yang masih duduk di tempat semula melihat istrinya yang berjalan dan tersenyum memandanginya dan melakukan sembahyang subuhnya.
Rendi tersenyum bahagia mendengar ungkapan cinta istrinya yang sangat ia rindukan.
Rendi berdiri dan berjalan memasuki kamar mandi dan membersihkan dirinya juga untuk bersembahyang sama seperti istrinya lakukan.
Setelah Rara selesai sholat, Rendi keluar dari kamar mandinya dan juga melakukan sholat subuh seperti yang istrinya lakukan.
Rara tersenyum bahagia melihat suaminya yang sedang sembahyang dengan wajah segar tampannya melakukan ibadah dengan wajah bersih berseri seperti itu tampak sempurna bagi siapapun yang melihatnya.
"Imam yang sangat tampan dan menggemaskan," gumam Rara dengan senyum di wajahnya.
Rara merapihkan rambutnya dan mengenakan pakaian dan juga penutup kepalanya. Ia tersenyum ketika melihat suaminya sudah selesai bersembahyang dan menghampirinya dengan senyum di wajahnya.
Rendi berjalan menghampiri istrinya yang duduk di meja rias. Rendi juga membungkukan sedikit tubuhnya dan menyentuh dagu istrinya dengan lembut. Rara ikut mendongakan kepalanya dan sentuhan bibir dingin di pagi hari mereka kini semakin hangat dan segar di rasakan mereka berdua. Mengingat pagi ini mereka sudah mandi di pagi hari. Bibir yang dalam keadaan dingin jika bersentuhan akan terasa nikmat dan akan menjadi hangat bagi siapapun yang melakukannya
Rendi mencium lembut bibir istrinya yang segar dan ranum manis di bibir Rendi yang juga sangat ia rindukan. Setelah melepas ciuman mereka. Rara tersenyum dan merangkul pundak suaminya dengan kepala sedikit kesamping dan tersenyum pada suaminya. Rendi tersenyum dan menggendong istrinya dan kini berada di pangkuannya. Rendi tersenyum dan membawa istrinya dan duduk di sofa. Rara tersenyum bahagia dan menempelkan dahinya dengan dahi suaminya juga hidung mereka bahkan saling beradu tatap dengan senyum di wajah mereka yang teramat saling merindukan.
Rendi tidak mengurangi senyum di wajahnya. menyentuh dagu istrinya dan mengecupnya lembut. Membuat Rara kemajukan bibirnya merajuk padanya. Rendi tersenyum melihat tingkah istrinya yang kini berubah setelah ciukan pagi yang mereka lakukan. Kini istrinya marah padanya.
"Kemana saja kamu ini Sayang? Aku sangat merindukanmu!" ucap Rara memajukan bibirnya kedepan dan memasang wajah rajukan pada suaminya.
"Jika tidak ada alasan, itu semua tidak akan terjadi Sayang, juga aku tidak akan tahu jika istriku ini sangat merindukan sumainya," goda Rendi menekan hidung istrinya dengan senyum di wajahnya.
"Memang ada yang lebih penting dari istrimu ini Sayang?" tanya Rara acuh.
"Jika aku menceritakannya! Apa kamu akan siap untuk tidak terlalu ikut campur? Karena jika seorang wanita cantik ikut campur hanya akan membuat kami salah bertindak seperti yang aku lakukan hampir satu bulan lalu," jelas Rendi mersa kesal pada dirinya sendiri yang terlalu percaya diri untuk selalu menutupi identitas istrinya.
"Jika kau melarangku untuk berbicara, kau bisa mempercayai istrimu ini Sayang," ucap Rara merangkul pundak suaminya di pangkuan Rendi dan tersenyum menatap mata suaminya yang kini juga tersenyum bahagia melihat istrinya yang sangat cantik di pandangannya.
"Baiklah, jika itu bisa membuatmu tenang dan tidak merasa kesal lagi padaku Sayang, tapi aku masih perlu asupan gizi darimu apa kau akan melakukannya?" ucap Rendi sedikit menggoda istrinya yang kini tersenyum dan juga mengerutkan dahinya mendengar ucapan suaminya.
"Asupan gizi? Sayang apa kamu baik-baik saja? Apa kamu tiidak pernah makan? Hingga kekurangan gizi begitu?" tanya Rara khawatir akan keadaan suaminya yang kini malah tersenyum padanya.
__ADS_1
"Yaa ... aku tidak pernah memakanmu, makanya aku butuh asupan gizi yang sangat efektip membuat tubuhku berenergi," goda Rendi tersenyum melihat wajah merah padam Rara menahan malu karena suaminya mengatakan hal yang Rara tidak maksudkan.
Rendi tersenyum melihat wajah istrinya yang merah padam karena malu mendengar godaannya. Rendi mendekap dan menarik pinggang istrinya semakin mendekati tubuhnya. Hingga tidak ada lagi jarak di antara mereka berdua. Rendi sedikit mengaduh ketika tubuh istrinya menyentuh bagian perutnya yang masih ada luka jahitan di perutnya. Rara mengerutkan dahinya ketika mendengar gaduhan suaminya yang terlihat kesakitan. Rara melonggarkan pelukannya dan merenggang jarak antara dirinya dan suaminya.
"Ada apa Sayang? Apa kamu terluka? Mana aku lihat bagian mana yang sakit?" tanya Rara khawatir pada suaminya yang malah tersenyum melihatnya.
"Tidak apa, hanya luka kecil," jawab Rendi tersenyum melihat wajah khawatir istrinya yang membuatnya sangat ingin mencium bibir istrinya kembali.
Tapi Rara berpindah posisi duduknya dan kini berada di samping Rendi yang melihatnya berpindah tempat duduk.
"Sayang, Bagian mana yang luka? Sini aku lihat? Kamu terlalu meremehkan tubuhmu ini aku akan...."
Rara berhenti berbicara ketika tangannya membuka pakaian yang Rendi kenakan DCan melihat balutan perban yang melilit di bagian perut suaminya. Ia mengerutkan dahinya dan juga membulatkan kedua matanya.
"Kamu kenapa Sayang? Kenapa sampai seperti ini? Aa itu sakit? Bagaimana kamu bisa sebiasa ini padahal kamu sedang terluka! Ayo kita harus ke rumah sakit dan kamu harus istirahat juga kamu tidak boleh terluka." Rara behenti berbicara ketika tangan suaminya menyentuh dagunya dan mendongakan kepalnya dengan lembut. Rendi tersenyum dan mendekati wajah istrinya dengan senyuman lembutnya. Rendi mencium bibir istrinya dengan dan semakin lembut. Setelah di rasa hati istrinya yang tenang kembali. Rendi tersenyum dan melepas ciumannya pada bibir istrinya. Ia melepas sentuhan tangannya pada tangn istrinya.
"Sayang, jika aku perlu menjelaskan semuanya apa kamu akan mendengarkannya dengan baik? Juga tidak sampai berteriak khawatir seperti saat ini?" ucap Rendi tersenyum dan berbicara pada istrinya yang masih tertegun karena ciuman dan ucapan suaminya yang sangat lembut. Rara tersadar dan menekan tubuh suaminya yang kini bersender di sofa. Ia tidak berbicara OKagi tapi membuka pakaian suaminya juga berdiri dan berjalan kesana kemari. Kini Rara membawa kotak obat di pangkuannya dan duduk kembali di samping suaminya.
Rendi tertegun melihat reaksi istrinya yang tadinya terlihat manja dan kini tampak seperti seorang wanita yang tangguh tanpa terlihat kemanjaannya pada suaminya seperti saat ia melihat wajah suaminya berada di dalam kamarnya. Rara tidak melirik ke arah suaminya. Ia membuka pakaian sumainya dan juga perban yang basah karena suaminya yang terlalu sesuka hati membiarkannya.
Rara membukanya tanpa suara ataupun protes pada suaminya. Ia sedikit sakit di hatinya ketika melihat ada beberapa jahitan di bagian perut suaminya. Hati yang sangat khawatir selama ini benar adanya. Jika suaminya dalam suatu alasan jika tidak memberitahunya apalagi memberi kabar padanya.
"Jika luka seperti ini seharusnya jangan di biarkan basah seperti tadi, itu akan memperlambat kesembuhannya."
Rara berbicara dengan serius dan juga tangannya melilit perban baru dan kering di bagian luka suaminya. Ia merasakan sakit sangat dalam melihat suaminya yang terluka sedalam itu.
Rendi tersenyum, melihat istrinya yang sangat khawatir padanya. Rara bahkan tidak berbicara lagi ketika sudah memasang perban di lilitan luka suaminya saat ini. Rara hendak berdiri, tapi Rendi menarik tangan istrinya hingga duduk di pangkuannya.
Rara terkejut dan terjatuh di pangkuan suaminya. Kini ia mengerutkan dahinya melihat suaminya yang masih menggodanya.
"Sayang, kamu sedang terluka! Tidak boleh terlalu banyak bergerak," ucap Rara menundukan kepalanya tanpa meluhat wajah suaminya.
Rendi tersenyum melihat istrinya yang malah tidak berani menatapnya. Rendi menyentuh dagu istrinya dan mendongakan pandangan istrinya agar terlihat wajahnya. Rara melihat wajah suaminya dan kini air matanya keluar begitu saja tanpa ia tahan kembali. Rendi tersenyum dan Rara menangis berhambur memeluk suaminya.
__ADS_1
"Kamu jahat! Kenapa terluka seperti ini tidak berbicar dan malah membuatku tidak tahu apa-apa, kamu anggap aku ini apa sampai tidak bisa mengobatimu! Kamu jahat, huaa" teriak Rara menangis dalam pelukan suaminya yang kini memeluknya erat dan juga mengusap punggungnya dengan lembut. Mengingat perasaan lembut istrinya yang sangat sensitif. Rendi tersenyum bahagia mendengar istrinya yang mengkhawatirkannya. Rara menangis menjadi-jadi di dalam pelukan suaminya yang kini masih tersenyum tipis padanya. Rara menangis dengan sendu dan histeris mengingat saat suaminya yang terluka dan tidak ada dirinya yang mengobatinya apalagi menemaninya. Bahkan Rara semakin sakit ketika melihat beberapa jahitan di perut suaminya yang tampak luka dalamnya.