
Rendi yang sedang memeriksa dokumenya seharian ini banyak sekali. Karena Ken yang sedang bertugas menghandel klien di luar kota .
Rendi tidak ingin meninggalkan Rara yang sedang hamil besar. Ia tidak ingin meninggalkan Rara kalau harus ke luar kota.
Saat ini Rendi sering merasa sakit kepala,akhir-akhir ini sakit itu terus terasa di saat Rendi di periksa oleh temanya Dana.
Ia mengatakan tidak ada hal serius terkecuali ada sesuatu yang tidak dapat Rendi salurkan.
Ya Rendi memang tidak ingin menyentuh Rara akhir-akhir ini. Karena Rendi kasihan pada istrinya yang seperti nya semakin membesar perutnya. Makanya Rendi tidak pernah mau menyentuh Rara karna takut menyakiti istrinya juga bayinya.
Rendi yang masih sibuk dengan pekerjaanya. Tiba-tiba saja pintu di ruanganya terbuka dan ada seorang wanita sexsi yang berpakaian dres belah di pahanya berwarna merah ia tampak tersenyum saat melihat Rendi .
"Kau datang sejak kapan? Tanya Rendi.
"Yaaaah dari dua jam yang lalu aku datang dan langsung kesini," ucap Sisi.
"Kamu tidak perlu langsung kesini biar aku yang datang kesana," ucap Rendi dingin ia masih memeriksa pekerjaanya.
"Kamu bahkan tidak suka ya aku kesini?" Rengek Sisi.
"Mana ada ayo apa kamu mau minum?" Tanya Rendi.
"Aku mau makan yang enak di keluar,"
ucap Sisi.
"Baiklah," jawab Rendi.
Rendi dan Sisi keluar dari ruanganya, Rendi menghampiri Nina sekertarisnya. Ia mengatakan agar membereskan ruanganya dan dia akan pergi menemui klien perusahaan.
Rendi menuju lift khusus direktur, yang di ikuti Sisi yang menggandeng lengan Rendi.
Rendi yang sudah berada di depan kantor yang Sisi masih menggandeng tanganya tiba-tiba saja Sisi mengaduh.
"Duh Kak, mataku kemasukan sakit," ucap Sisi.
Rendi yang mendengar itu melihat ke arah mata Sisi yang sedang menutup sebelah matanya dan mengaduh.
"Yang mana apa sakit?" Tanya Rendi.
Ia melihat mata Sisi dengan posisi sedang mencium Sisi dari arah dimana Rara duduk melihat mereka saat ini.
Rendi memegang kepala Sisi dan meniup matanya Sisi,saat itu juga tangan Sisi memegang pinggang Rendi seperti sedang berciuman yang mendalam.
Rendi meniup mata Sisi dengan lembut.
"Apa sudah tidak apa-apa?"tanya Rendi.
"Iya Kak," ucap Sisi.
"Apa kita harus ke Dokter?" Tanya Rendi.
"Tidak usah Kak," jawab Sisi.
Siapapun yang melihat adegan tersebut pasti mengira mereka sedang berciuman dengan dalam.
Apalagi di posisi Rara yang ada di sebrang yang tidak tahu apa yang terjadi.
Terdengar dering handpone Rendi dan ia mengangkat telponya.
"Ada apa?" Tanya Rendi.
"Baiklah," ucap Rendi mengakhiri telponya.
"Kita ke Hotel XX saja aku harus bertemu klien," ucap Rendi.
"Hmmm, yang bertemu di hotel itu yaaa pasti mereka itu kan?" Ucap Sisi.
"Hmmm, apa kamu tidak mau ?" Tanya Rendi.
"Iya aku ikut," ucap Sisi.
Rendi dan Sisi melangkah kembali, dan kali ini Rendi menuntun Sisi dengan berjalan yang cepat. Mereka menuju mobil yang ada di tempat parkir dan melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Tidak ada pembicaraan di antara mereka berdua hingga Sisi berbicara dahulu.
"Apa dia cantik?" Tanya Sisi.
"Sangat cantik"jawab Rendi tersenyum.
"Bukankah kamu bilang aku yang paling cantik," ucap Sisi cemberut.
"Haha, kamu cantik tapi dia cantik luar dalam,"jawab Rendi tersenyum.
"Kenapa seperti itu?" Tanya Sisi.
"Karena dia memang cantik," jawab Rendi
Rendi melihat ke sebuah toko dan ia memarkirkan mobilnya dan berhenti, disana ia keluar dan berbicara pada Sisi.
"Kau diamlah disini," ucap Rendi.
"Kau mau kemana Kak?" Tanya Sisi.
"Kau tidak perlu tahu," jawab Rendi.
"Aku ikut," ucap Sisi
Rendi membuang nafas kasar.
"Baiklah ayo," ucap Rendi.
Mereka berjalan menuju sebuah toko baju .
Rendi membeli dua buah syal yang berwarna silver dan sedang menunggu di bungkus.
Rendi melihat ke arah Sisi yang berkeliling mengitari toko tersebut Rendi menghampirinya.
"Ada yang kau beli?" Tanya Rendi.
"Ini bukan seleraku terlalu norak," ucap Sisi.
Sisi mengikuti Rendi yang sudah berjalan duluan mereka memasuki mobil dan melajukan kembali kendaraanya .
"Apa itu untuk kalian berdua," tanya Sisi.
"Tentu," jawab Rendi tersenyum.
"Huh sok imut," ucap Sisi.
"Kamu tidak tahu saja dia bahkan sangat imut,"ucap Rendi bangga.
__ADS_1
"Huh," cetus Sisi.
Disaat Rendi sedang mengemudi dering handpoenya Rendi berbunyi,ia meminggirkan mobilnya dan mengangkat teleponya.
"Diamlah," ucap Rendi.
"Hallo Ra, ada apa?" Tanya Rendi.
Rendi tidak tahu kalau ada yang salah dari ucapanya tapi ia tidak menyadarinya.
Sisi yang melihat Rendi yang sedang menelpon ia tersenyum.
"Huh, sudah ku duga," batin Sisi.
Rendi mengakhiri teleponya, ia melajukan kembali kendaranya dan mempercepat kecepatanya, ia seperti merasa kebingungan dalam hal ini ia merasa ada yang aneh dari Rara.
"Ada apa denganya ya? Aku sangat merindukanya sekali, huh aku harus melakukanya hari ini," batin Rendi.
Rendi melajukan dengan kecepatan tinggi, hingga dengan kecepatan itu Rendi sudah saampai di Hotel XX.
Mereka keluar dan menuju Restoran yng ada di Hotel itu. Mereka memesan makan disana dan Sisi memakannya dengan lahap seperti baru mendapatkan makan saja.
Rendi tidak makan ia terbawa pikiranya sendiri ia berpikir istrinya tadi bersuara dan berbicara dengan aneh tadi.
"Apa dia sudah mau melahirkan ya?" Batin Rendi.
Rendi berdiri dan melangkah pergi dan menoleh ke arah Sisi yang melihatnya.
"Kamu makan dengan puas aku akan pergi ke atas untuk membereskan pekerjaanku," ucap Rendi.
"Aku ikut," ucap Sisi manja.
"Baiklah," ucap Rendi membuang nafas.
Rendi dan Sisi berjalan menaiki lift dan menuju lantai atas.
Rendi berjalan dengan tangan Sisi yang merangkul tangan Rendi. Ia berjalan dan masuk ke sebuah ruangan tersebut dan disana sudah ada dua pria dan dua wanita yang melihat kedatangan mereka.
"Wow, Tuan muda sudah datang apa kabar bro," ucap Iyas teman kuliah Rendi.
"Hai bro," ucap Mark juga teman kuliah Rendi.
Rendi berpelukan dengan mmereka ia duduk dengan berhadap-hadapan dengan mereka yang ada disana.
"Kalian bahkan menyiapkan penghibur untuk diri kalian sendiri," ucap Rendi dingin.
"Hahaaha, kalau saja kamu berikan gadis di smapingmu aku akan sangat berterimakasih bro," ucap Iyas.
"Jangan harap, " ucap Sisi cetus.
"Dari pada menggoda yang sudah beristri mending gw masih suci,"ucap Iyas tersenyum.
"Aku tak sudi padamu," cetus Sisi.
Sementara Iyas dan Sisi sedang berselisih pendapat.
Rendi dan Mark sudah berada di sebuah ruangan privat di sebelah bangku itu.
"Ini yang kamu mau," ucap Mark memberikan berkasnya.
"Terimakasih kamu memang selalu memuaskanku," ucap Rendi.
"Kenapa kau membawa dia?" Tanya Mark.
"Dia yang mengekoriku," jawab Rendi dingin.
"Bukankah kamu punya istri?" Tanya Mark.
"Ya," jawab Rendi.
"Lalu?" Tanya Mark.
"Dia sedang bekerja dan hamil besar saat ini tidak baik bila dia ikut ketempat seperti ini," jelas Rendi.
"Kamu hebat sudah akan dapat bayi," ucap Mark.
"Kamu bahkan menjengkelkan !" Teriak Sisi .
Teriakan Sisi membuyarkan pembicaraan Mark dan Rendi.
Mereka menghampiri Sisi dan Iyas. Mereka yang sedang bertengkar dengan Sisi menjambak rambut Iyas. Di waktu yang lengah saat Iyas pergi ke kamar mand. Tiba-tiba ia melihat handpone Rendi dan mengutak atik handponenya dan menyimpanya kesemula.
Ia kembali membuat kebisingan di ruangan itu dengan mengusik iyas kembali agar tidak terjadi apa-apa.
Rendi yang melihat itu menggelengkan kepalanya. Ia bahkan tidak menghentikan aksi mereka berdua itu. Rendi hingga akhirnya Sisi kecipratan air soda yang pijak sendiri dan membuat bajunya menjadi basah dibagian lenganya.
Rendi yang melihat itu iya membuang kasar nafasnya.
"Apa kalian sudah selesai ?" Tanya Rendi dingin.
"Kak ... Dia jahat," rengek Sisi manja menujuk pada iyas.
"Kamu yang jahat membuat rambutku yang bagus ini jadi rusak dasar kucing kecil liar," ucap iya.
"Kamu ... "cap Sisi.
Ia melihat Rendi meminum anggur dan Sisi merebut gelas yang Rendi minum. Ia menumpahkan anggur merah yang ia minum ditambah lagi perciakan jus tomat yang harusnya di minum Sisi kini tumpah dan menciprat di dagu Rendi .
Sisi yang melihat itu ia memegang bahu Rendi akan membersihkanya dengan posisis seperti itu. Tampak Rendi seperti sedang melakukan sesuatu kepada dada Sisi. Karena kepala Rendi tepat ada di tengah dada Sisi dan di saat keributan itu iyas berbicara.
"Kamu siapa?" Tanya Iyas melihat seorang wanita berkerudung pink memakai dres putih dan terlihat seperti sedang hamil.
"Ra ... kamu sedang apa?" Tanya Rendi ia terkejut dan mendorong Sisi.
Rendi berdiri dan menghampiri Rara di hati Rend. Ia memang sangat merindukan istrinya ini ingin memeluknya untuk saat ini juga.
"Siapa dia Rend apa kau mengenalinya?" Tanya Iyas.
"Dia ist... "Ucapan Rendi terpotong oleh Rara.
"Saya salah kamar,",ucap Rara.
"Ra, kamu mau kemana aku akan antar kamu pulang, " ucap Rendi.
"Sebaiknya kamu bersihkan mulutmu itu," ucap Rara dingin.
Rara pergi meninggalkan ruangan itu, sementara Rendi ia terkejut dengan sikap istrinya itu. Ia berbalik dan menyimpan berkasnya juga mengambil handponenya.
"Dia istriku aku pergi," ucap Rendi.
__ADS_1
Rendi bergegas mengejar Rara yang mungkin belum jauh di sana. Ia menuruni lift dan keluar Hotel tapi tidak menemukan istrinya.
"Dimana kamu Sayang,kenapa kamu kesini malam-malam begini?" Gumam Rendi.
Rendi menelusuri jalanan,dengan kendaraanya ia sangat prustasi. Secepat itukah istrinya pergi kenapa sampai tak terkejar olehnya ia melajukan terus mobilnya sambil melihat di sepanjang jalan.
Di balik Dinding hotel Rara terdiam dengan air mata yang mengalir deras. Ia tidak pernah terpikir akan mengalaminya untuk yang kedua kalinya ia di khianati oleh pria .
Rara berjalan keluar hotel setelah tau bahwa suaminya sudah pergi ia memberhentikan Taxi dan pergi tanpa arah.
"Apa aku harus kerumah ayah ibu?Gumam Rara.
Supir taxi yang melihat dan mendengar ucapan penumpanngnya ia tersenyum dia adalah seorang pria paruh baya.
"Sebaiknya jangan melangkah jauh, coba berbicara dengan cara yang anda inginkan Nona," ucap Supir itu.
Rara yang mendengar itu melihat ke arah Supir itu.
"Maksudnya?" Tanya Rara heran.
"Nona bisa bertanya dan berbicara dengan cara yang anda inginkan, Nona seperti berteriak membentak ataupun diam jangan langsung menghindar itu bukan jawaban Nona," ucap supir itu kembali.
"Apa salah bila Saya pergi?" Tanya Rara.
"Tidak salah,hanya sangat penting untuk tahu jelas titik masalahnya Nona," ucap Supir itu kembali tersenyum ramah.
"Benarkah apa itu akan baik?" Tanya Rara.
"Baik atau tidak nona akan tahu sendiri nanti," ucap Supir kembali.
"Baiklah, antar saya kesini ya Pak!" Ucap Rara memberikan alamat Apartment nya.
Rendi yang sudah kembali ke Apartment ia tidak menemukan istrinya. Ia sangat prustasi apa yang akan Rara lakukan dengan kehamilanya saat ini .
Rendi berlari kembali keluar Apartment untuk mencari Istrinya kembali. Karena dalam pikiranya Rara harus kembali.
Di saat Rendi keluar dari gedung Apartment,ia melihat seorang wanita yang turun dari taxi ia terlihat seperti yang Rendi rindukan itu adalah istrinya Rara sampai .
Rara pun melihat suaminya yang ada di depan dan mereka berhadapan bersitatap sangat lama bergelut dengan pikiran mereka masing-masing.
***
Prolog..
Di kamar Hotel XX. Sisi yang melihat itu tampak tersenyumm ia bahagia dengan apa yang terjadi .
"Aku sudah menduga bahwa ini ulahmu," ucap Mark dingin.
"Apa maksudmu?" TanyaSisi.
"Kau pikir aku bodoh?" Ucap Mark dingin.
"Aku akan pergi," ucap Sisi.
Mark menarik tubuh Sisi dan menekanya.
Iyas yang melihat terheran apa yang mereka berdua lakukan dan pembicaraanya mengarah kemana
Mark menekan leher Sisi dengan tatapan tajam ia bahkan seperti ingin membunuhnya.
"Apa ini aku bahkan tidak ingat kalau si harimau ini sudah sangat tajam dan buas," batin Sisi.
"Aku bahkan akan mencabik tubuhmu dan bukan hanya membunuhmu," ucap Mark.
"Apa dia bahkan membaca hatiku," batin Sisi.
"Karena kamu wanita gila yang selalu ada di sekeliling kami dari dulu," ucap Mark.
"Lalu kenapa kamu seperti ini?" Teriak Sisi.
'"Apa yang kamu lakukan pada kakak ipar hah?" Bentak Mark.
"Aku tidak melakukan apapun," ucap Sisi.
"Kamu ingin aku melakukanya?" Ancam Mark.
"Aku bahkan tidak melakukanya dan juga dia juga kaka iparku bodoh!" Teriak Sisi.
"Kamu sudah sadar diri kalau kamu hanya Adik pungut tuan muda hah!" Teriak Mark tajam.
"Hei, aku bahkan di sayang Kakak," ucap Sisi.
"Kamu pikir kamu masih penting baginya hah," tajam Mark.
"Kakak masih memperhatikanku," ucap Sisi.
"Wanita gila katakan apa rencana mu?" Tanya Mark tajam.
"Baiklah aku hanya sedang mengujinya saja apa dia pantas menjadi istrinya," ucap Sisi.
"Kamu bahkan masih berlaga polos," tajam Mark.
"Iya, iya aku ingin kakak meninggalkanya,karena dia selalu memuji wanita itu dia bahkan bilang mencintainya aku tidak mau kakaku meninggalkanku!" Teriak Sisi.
Dengan sigap Mark membungkam mulut Sisi dengan mulutnya. Mark menciumi dengat dalam ia bahkan menggigit bibir Sisi.
Iyas yang melihat itu,ia bergegas pergi dari ruangan itu. Ia tahu apa yang akan terjadi dan tidak mau menjadi penonton.
Bisa bisa ia akan jadi tidak suci bila melihat adegan panas di usianya yang berusia 25 tahun itu yang ada di pikiranya.
Mark mengakhiri ciumanya,ia melihat bibir Sisi yang berdarah dan ia menatap tajam pada Sisi.
Dalam pikiran Mark ia tidak akan pernah membiarkan tuannya menghadapi masalah apapun termasuk seorang wanita.
Semua masalah Rendi Mark dan iyas akan berusaha untuk membantu Rendi.
Dan memastikanya berjalan dengan lancar tapi untuk kali ini hanya ada satu cara untuk menyelesaikanya yang ada di pikiranya.
"Aku akan mengabulkan keinginanmu dan juga mencegai maksudmu," ucap Mark tajam.
Mark mencium leher Sisi ia membuka baju Sisi yang sudah terbuka dari tadi, hanya untuk menggoda tuannya tadi. Wanita ini bahkan banyak caranya untuk mencapai tujuanya.Padahal Sisi adalah keponakan Rendi dan di anggap adik olehnya dan Rendi sangat menyayanginya.
Sisi menyesali perbuatannya dengan apa yang ia lakukan pada Rara.
Ia bahkan hanya berencana menguji kaka iparnya bukan untuk menghancurkan hubungan mereka. Tapi apa yang ia alami ini ia harus membayarnya dengan tubuhnya sendiri.
Mark tahu bahwa Sisi masih gadis maka dari itu ia ingin mengunci tingkah Sisi yang ia anggap adalah ancaman bagi kehidupan tuannya itu.
Maka dari itu ia ambil resiko apapun itu asalkan tuannya dalam keadaan baik-baik saja.
__ADS_1
Hal itu bukan hanya Mark saja yang akan melakukan apapun untuk Rendi. Bahkan Ken Iyas juga Dana mereka akan melakukan hal yang sama jika ada hal yang mengancam kebaikan tuanya.