Istri Kedua Tercinta

Istri Kedua Tercinta
Pelukanmu


__ADS_3

Pergerakan Mark dan Iyas.


Setelah berdiskusi tentang rencana Rendi. Kini mereka bergerak di masing-masing tugasnya. Mark bergerak di rumah kedua Jason yang tidak mungkin Jason berada di sana,karena Jason justru memperketat keamanannya saat ini di rumah utamanya. Mark bergerak dengan anak buahnya yang berada di Jerman,sudah ia persiapkan dari dulu tentang beberapa anak buahnya di sana,ia kumpulkan jika ada hal yang mendadak seperti saat ini. Ia bergerak dan memporak porandakan rumah besar kedua Jason. Para penjaga dan orang-orang yang ada di sana, tidak ada yang selamat begitupun isi rumahnya. Kini hancur tampak luarnya saja yang masih di tempat semula tapi dalamnya Mark hancurkan dengan segala caranya termasuk keamanan satelitnya.


Bersamaan dengan pergerakan Mark dan anak buahnya. Iyas telah membakar pabrik terbesar milik Jason yang di kota timurnya. Dengan wajah penuh kebanggaan Iyas berjalan dengan tangan kosong ia membuat satu pabrik besar terbakar tanpa jejak,hingga membuat Jason yang mendengar dua kabar sekaligus dalam satu hari.


****


Dalam perjalanan


Bagian Ken yang bertugas mengatur media,untuk memutar balikan fakta kecelakaan. Agar tidak ada kecurigaan berkaitan dengan Mark dan Iyas. CCTV yang tersebar luas di area rumah dan juga pabrik mati seketika sebelum aksi Mark dan Iyas.Ken tersenyum saat semua berjalan dengan baik,ia melihat ke arah tuannya yang menutup matanya bersender ke kursi duduknya.


"Akan jauh lebih baik jika tuan tetap seperti ini tidak akan ada yang berani untuk mengusiknya," batin Ken.


Dalam perjalanan pulang.


Rendi kembali bersama Ken ke kediaman utama menaiki kendaraannya dengan kecepatan sedang.


Ken masih dengan kebingungannya tersendiri,dengan apa yang tuannya lakukan hari ini. Ia bahkan tidak berani bertanya pada tuannya.


Rendi yang tahu apa yang di pikirkan Ken yang sedang banyak pertanyaan. Ia tersenyum melihat Ken.


"Tidak perlu gundah yang terpenting sekarang kita sudah sedikit lebih tenang karena Jason tidak ada waktu untuk membuat kita khawatir lagi," ucap Rendi.


"Jadi Tuan, melakukannya bukan karena masih dendam tapi karena antisipasi untuk masa depan," ucap Ken.


"Heh...bukan masa depan tapi hari esok selama kita berada di Jerman. Ken...Karena siapa yang akan tahu, jika bukan kita yang mengundurnya saja," ucap Rendi.


"Saya mengerti tuan setidaknya Jason kini sedang sibuk dan tidak akan mencoba mengusik kita tuan," ucap Ken.


"Hmm,,,pastikan Mark dan Iyas datang ke tempatku," ucap Rendi memejamkan kedua matanya dan bersender di kursi penumpang.


Kini hati Ken tenang dan tidak segundah tadi karena tuannya bertindak tanpa aba-aba dan pembicaraan dengannya. Tapi kini Ken memahaminya. Ia melajukan kendaraannya dengan kecepatan sedangnya.


Kendaraan yang Rendi tumpangi kini sudah berada di gerbang depan rumah utama. Karena sudah larut Rumah sudah sepi tidak ada tanda istri dan anak-anaknya di ruang tengah.Rendi berjalan menaiki tangga menuju kamar dan menghampiri istrinya yang sedang menidurkan Rayn.


Rara melihat ke arah suaminya yang baru masuk dan menghampirinya.


Suaminya tersenyum padanya.


"Kamu sudah pulang Sayang, kenapa sampai larut begini ayo mandi istirahat apa kamu sudah makan malam?" Tanya Rara.


Bukannya menjawab Rendi malah mencium istrinya dengan lama.


Rara membulatkan kedua matanya akan tingkah suaminya.


Rendi mencari ketenangan dari istrinya karen baginya itu adalah obat penenang yang mujarab baginya,jika sedang kerasnya dalam bekerja.


Ia melepas ciumannya dan tersenyum melihat lekat wajah istrinya.


"Hm, bibirmu saja sudah kenyang bagiku,aku mandi saja dulu nanti kita tidur jika anak-anak sudah tidur," ucap Rendi.


"Sayang apa kamu baik-baik saja?" Tanya Rara.


"Tentu saja, aku hanya lelah bekerja saja sayang," jawab Rendi.


"Kamu tidak mau makan kah?" Tanya Rara.


"Aku sudah kenyang dengan bibir manismu ini Sayang kenapa kamu malah semakin manis bagiku," goda Rendi.


"Baiklah cepat mandi aku ingin tidur di pelukanmu Sayang," ucap Rara


Rendi merangkul pinggang istrinya dan mengecup kembali bibir istrinya.


Rara mendongakan kepalanya melihat suaminya yang sedang tersenyum padanya.


"Hmmm kamu pasti sangat lelah ya Sayang? Aku akan memijitmu jika kamu mau," ucap Rara.


"Hmm, tidak perlu aku tidak mau tangan halus ini terluka sebentar ya aku mandi dulu," ucap Rendi.


Rara melihat ke arah suaminya yang berjalan memasuki kamar mandi.


Ia duduk di tepi ranjang dengan dres tidur selutut warna putih. Ia melihat handponenya yang melihat pemasukannya setiap bulan semakin naik dan tidak bisa Rara hitung hanya dengan menggunakan jarinya. Rara mengerutkan dahinya untuk melihat data pemasukan dari Cafenya, untuk tetap seimbang dan sisanya yang ada di tabungannya adalah trannsferan dari suaminya.


"Suamiku ini yang kemarin saja belum aku habiskan ini malah di tambah lagi," gerutu Rara.

__ADS_1


Rara terdiam saat melihat nominal yang selalu bertambah di rekeningnya.


Awalnya,ia sempat berpikir untuk bertanya hal itu pada suaminya.


Tetapi,ia urungkan. Rara tetap membalik tubuhnya untuk membelakangi langit-langit kamarnya di atas ranjang,ia menunggu suaminya selesai mandi,sambil memainkan handponenya. Rara sempat berpikir tentang orang tuanya juga ibu mertuanya. Ia mengembangkan sebuah senyuman di wajahnya.


Ia mencoba mengerik sebuah kontak dan mencari nama ibu mertuanya.


Ia berpikir untuk menanyakan tentang kabar ibu mertuanya itu,karena selama dua hari di Jerman,ia belum memberinya kabar apa lagi keberangkatannya tidak berpamitan dahulu padanya.


Rara berulang kali menelepon ibu mertuanya. Tetapi tidak ada jawaban dari sana. Membuat Rara mengerutkan dahinya dan bibirnya memaju ke depan dan mendesah berkali-kali.


Ia berguling dari tidurnya menjadi rebahan,dengan rambut terurai ke bawah kasur. Ia memainkan handponenya dengan kepala melihat ke langit-langit kamar dan tangan memainkan handponenya. Rara mencoba menelepon kembali ibu mertuanya. Tetapi,masih tidak dapat tersambung.


"Ada apa dengan mamah ini,kenapa masih belum mengangkatnya apa dia sudah tidur?" Ucap Rara berdecak kesal.


Rara sibuk dengan handponenya, yang masih juga tidak tersambung dengan ibu mertuanya. Rendi yang keluar dari kamar mandi,ia melihat istrinya yang rebahan di atas kasur,dengan kepala di ujung ranjang dan rambut terurai kebawah. Ia tersenyum saat melihat tingkah istrinya yang konyol.


"Hmm, istriku ini banyak saja tingkahnya membuatku semakin ingin memakannya," batin Rendi.


Ia menghampiri istrinya yang tidak menyadari dirinya. Ia berdiri di hadapan kepala istrinya dan melihat ke bawah dalam keadaan telanjang dada handuk melilit di pinggangnya.


Rara terkejut mendapati suaminya di atas kepalanya berdiri. Ia bangun dan terduduk di atas ranjang dimana suaminya berdiri di hadapannya. Dengan wajah tersenyum malu dan salah tingkah ia cengengesan di hadapan suaminya.


"Hehe Sayang,kamu sudah selesai mandinya?" Ucap Rara cengengesan.


Rendi tersenyum gemas padanya saat melihat tingkah istrinya.


"Sayang aku mencoba menelepon mamah tapi tidak di angkat apa mamah sudah tertidur ya?" Tanya Rara.


"Hmm," jawab Rendi.


Rendi menundukan tubuhnya, memegang dagu istrinya dan mencium bibirnya.


Kedua mata Rara membulat lebar saat mendapat serangan suaminya. Ia mendorong tubuh suaminya dan melepas ciumannya.


"Kamu ini di tanya malah asik cium sana sini," decak Rara kesal pada suaminya.


Rendi masih dengan senyumnya melihat tingkah istrinya yang malu juga tersenyum saat mendengar ucapan istrinya.


Ia membungkukn tubuhnya dan naik ke atas ranjang. Tetapi istrinya mundur darinya.


Masih dengan senyum di wajahnya Rendi menghampiri istrinya yang masih mundur menghindarinya.


Istrinya yang masih mundur dan terbentur di dinding ranjangnya,ia sudah tidak bisa berkutik saat suaminya merayapi tangannya.


"Sayang kamu pakai baju saja dulu aku akuu ," tangan Rendi masih merayapi tubuhnya.


Rendi tersenyum tertahan saat melihat istrinya menutup matanya ketakutan.


"Duuuh, bagaimana ini aku kan sedang tidak bisa Sayang kamu ini," batin Rara.


Saat Rendi mendekatu wajahnya ke wajah istrinya.


"Aku sedang datang bulan ," teriak Rara.


Rendi terdiam ia mengerutkan dahinya dan tersenyum. Ia memandangi wajah istrinya yang matanya terpejam saat berteriak padanya.


"Kau bisa membuat gendang telingaku rusak," ucap Rendi sedikit keras.


"Maaf Sayang," ucap Rara membuka kedua matanya.


"Untuk apa minta maaf," ucap Rendi melihat istrinya yang salah tingkah.


"Aku aku," ucapan Rara terbata.


Saat Rara merasa salah tingkkah sebuah tangan menyentuh wajahnya. Ia membuka kedua matanya dan menengadahkan kepalanya.


Rendi tersenyum padanya.


"Kenapa Sayang,memang aku melakukan apa sampai membuatmu takut begitu," ucap Rendi mencium keningnya.


"Aku hanya malu mengatakannya," ucap Rara.


"Kenapa harus malu,aku ini suamimu sayang tidak perlu takut ataupun malu jika hanya hal seperti itu. Itu bukan segalanya bagiku yang segalanya bagiku adalah dirimu yang aku cintai," ucap Rendi mengecup kening istrinya.

__ADS_1


Rara melonggarkan tubuhnya yang tegang karena takut mengecewakan suaminya. Ia mendongakan kepalanya melihat ke arah suaminya yang menunduk tersenyum padanya. Rara tersenyum saat mendapati suaminya yang sangat memanjakannnya.


Rendi merentangkan kedua tangannya dan tersenyum padanya. Istrinya yang mellihat tingkah suaminya yang merentangkan tangannya untuknya. Ia mengerutkan keningnya dan memikirkan apa yang terjadi pada suaminya. Rara memeluk duaminya memasukan kepalanya le dada bidang suaminya yang masih bertelanjang dada. Rendi memeluk erat istrinya dengan dalam dan menutup kedua matanya merasakan pelukan istrinya yang seharian ini tidak ia temui.


Rara yang merasakannya ada yang berbeda dengan suaminya, ia melonggarkan pelukannya dan mendongakan kepalanya melihat ke arah suaminya. Ia mengajukan pertanyaan dwngan menatap lekat pada suaminya dan mengerutkan keningnya.


Rendi tersenyum mellihat istrinya yang menggemaskan. Ia menempelkan bibirnya pada bibir istrinya yang mengerutkan keningnya.


"Ada aPa dengannya kenapa aku merasa ada yang berbeda darinya apa karena pekerjaannya yang membuatnya cape tapi tidak berani bertanya nanti malah membuatnya semakin menjadi lagi ini saja maen cium-cium saja terus," batin Rara.


Rendi melonggarkan pelukannya,ia tersenyum melihat ke arah istrinya yang sedang banyak pertanyaan untuknya.


"Ayo kita jalan-jalan sayang kita pergi ke tempat yang kamu suka di Jerman," ucap Rendi.


Ucapan Rendi membuat Rara terkejut setelah ia bergelut dengan segala pertanyaannya. Rendi tersenyum padanya dan memeluk kembali istrinya. Ia memejamkan kedua matanya berharap ada ketenangan jika memeluk istrinya seperti ini.


"Sayang kita mau berjalan- jalan kemana memangnya?" Tanya Rara.


"Kita berbelanja,"jawab Rendi.


"Belanja lagi? Sayang toko yang kamu sediakan saja belum tentu habis dan juga aku sama sekali belum melihatnya untuk apa berbelanja," ucap Rara.


"Bukankah kamu ingin berbelanja dan membelikan oleh-oleh untuk keluarga di Indonesia?" Tanya Rendi.


"Bukankah kamu bilang biar Ken yang sediakan?" Teriak Rara.


"Memang kamu tidak suka?" Tanya Rendi mengerutkan dahinya.


"Tidak," cetus Rara.


"Hmm begitu lalu kamu mau kemana?" Tanya Rendi tersenyum melihat istrinya yang memajukan bibirnya kesal.


"Aku mau ke pantai," ucap Rara.


Rendi terdiam mendengar ucapan istrinya. Ia tidak menjawabnya ataupun menolaknya.


"Bagaimana?" Tanya Rara.


"Tidak," jawab Rendi sedikit teriak.


"Kenapa...bukankah kamu bilang kemana pun yang aku suka kita akan pergi ke sana?" Ucap Rara.


Rendi terdiam ia berjalan meninggalkan istrinya dan memasuki ruang gantinya meninggalkan istrinya yang sedang melihat ke arahnya mengerutkan dahinya.


"Uuuuh ada apa dengannya tadi bertanya antusias mengajakku untuk jalan-jalan sekarang aku mengusulkan untuk pergi ke pantai selalu saja tidak mau memang ada apa dengan pantai itukan indah," batin Rara.


Rara mendecak kesal beberapa kali.Ia keluar dari kamarnya dan mendapati dua pelayan berada di depan kamarnya. Yang membuatnya semakin mendesah kesal mereka menunduk memberi hormat padanya.


"Nyonya ada yang bisa saya bantu?" Tanya pelayan itu.


"Aku mau ke bawah mengambil minum," bentak Rara.


"Biar saya ambilkan Nyonya," jawab pelayan itu.


Rara terdiam ia semakin geram dengan tingkah pelayannya ia memilih untuk duduk dan mengangguk. Ia melihat ke arah pelayan yang sudah berjalan pergi dari hadapannnya untuk mengambil minum untuknya.


Setelah Rara menunggu beberapa waktu ia melihat kembali pelayan yang tadi berbicara padanya. Dengan membawa nampan air beserta makanannya. Ia tersenyum pada Rara dan ia memberikan minuman pada Rara. Setelah itu Rara membawa ke dalam kamarnya daripada nanti akan panjang urusannya, jika ia memilih berdebat dengan pelayannya.


Saat Rara memasuki kamarnya kembali. Ia sudah mendapati suaminya sedang menyandarkan kepalanya di atas sofa dengan menutup kedua matanya.


Kini ia sudah mengenakan pakaiannya dengan kaus putih celana hitam pendek Rara menghampirinya. Ia menyimpan nampan air,sempat melirik ke arah suaminya yang tidak terkejut saat ia mendekatinya. Seperti biasanya selalu mengganggu Rara dalam hal apapun.


Tapi kali ini. Rendi masih terdiam tanpa membuka kedua matanya. Ia seperti sedang banyak beban berat yang sedang ia pikirkan jika di ganggu akan membuatnya buyar.


Rara memilih untuk tidak mengganggunya dan duduk di atas ranjangnya. Ia masih penasaran dengan apa yang terjadi dengan suaminya. Rara tidak bisa tenang saat mendapati suaminya diam seribu bahasa tidak seperti biasanya. Sampai pada akhirnya ia sudah tidak tahan lagi dan mencoba menghampiri suaminya. Rara mendekatinya dan duduk di pangkuan suaminya.


Rendi yang terkejut mendapati istrinya duduk berada di pangkuannya. Ia tersenyum dan mengerutkan dahinya. Mengangkat sebelah alisnya bertanya mengapa istrinya seperti ini.


Rara tersenyum saat mendapati suaminya membuka matanya dan tersenyum padanya.


"Sayang ayo tidurnya di atas ranjang biar tidurmu nyenyak," ajak Rara tersenyum pada suaminya.


Rendi tersenyum mengangkuk,ia menggendong istrinya dan tidur di atas ranjang bersamaan istrinya yang memeluknya.


Walau banyak pertanyaan di benak Rara tapi ia tidak bertanya. Ia lebih memilih untuk memeluk suaminya dan tertidur.

__ADS_1


"Pelukan ini yang aku butuhkan Sayang saat ini," gumam Rendi menengelamkan kepalanya pada istrinya.


__ADS_2