Istri Kedua Tercinta

Istri Kedua Tercinta
Cara Alternatip


__ADS_3

Sesampainya di rumah utama. Rara menggerutu memarahi suaminya yang tidak mau berobat sama sekali. Tapi ia memegang obat yang di berikan Ken sebelum kembali pulang. Rendi dan Rara berjalan memasuki kamarnya dan duduk di atas ranjang bersamaan.


"Sayang kamu buka kemejamu dulu ya nanti biar aku usap dengan kain hangat," ucap Rara mengusap wajah suaminya yang mulai panas.


"Sayang kamu mau tubuhku?" ucap Rendi pelan dan memajukan bibirnya ke wajah istrinya.


"Ish ... kamu ini Sayang, sedang sakit juga ayo berbaring," gerutu Rara mengingat suaminya malah semakin ngaur berbicaranya.


Rara membuka pakaian suaminya satu persatu. Tapi Rendi malah tersenyum licik saat melihat wajah khawatir istrinya.


Saat Rara mencoba untuk membasuh tubuh suaminya agar bersih. Rendi melihat istrinya dan mengerang saat Rara menyentuh bagian dada bidangnya.


"Aah ...."


Rendi tersenyum dengan desahannya melihat wajah istrinya yang terkejut dan memgerutkan dahinya.


Rendi masih tersenyum liciknya.


"Aaah ...."


Rendi mendesah saat istrinya mengusap bagian pusar suaminya dengan kain hangat sedikit basah. Untuk kali ini Rara membulatkan kedua matanya melihat mata tertutup suaminya yang juga tersenyum tipis.


Rendi mencoba membuka kedua matanya lagi dan melihat istrinya memeras kembali kain di dalam tempat air. Ia memcoba menggoda istrinya kembali dengan hati sukanya.


"Aaaah ...."


Untuk kali ini desahan Rendi semakin panjang, saat istrinya mengusapkan kain basahnya di bagian paha atasnya. Ia tersenyum tipis dan menutup sipit matanya sedikit melihat wajah istrinya yang berhenti mengusap tubuhnya. Rendi mengerutkan dahinya saat tidak merasakan aktivitas membasuhnya dengan kain seperti yang tadi istrinya lakukan. Rendi mencoba membuka kedua matanya. Ia terkejut dengan senyum tipisnya saat melihat istrinya memelototinya dengan wajah kesalnya.


"Kau berani main-main ya Tuan Rendi yang nakal !" teriak Rara menusuk-tusuk tubuh suaminya yang telanjang tanpa pakaian.


Rendi tertawa saat merasakan gelitikan dari istrinya. Mereka saling menggelitiki di malam hari. Hingga pada akhirnya Rara terdiam dan berada di atas tubuh suaminya. Ia tersenyum dan melihat wajah dan mata sayu suaminya yang panas. Rara tersenyum ketika saling beradu tatap dengan suaminya yang juga tersenyum nakal.


"Kau ini msih saja bisa menggodaku ya padahal tubuhmu ini panas sekali," ucap Rara menekan dahinya di dahi suaminya yang panas. Ia mengadukan hidungnya dengan hidung suaminya juga senyum tipisnya.


"Aku hanya butuh tubuhmu maka aku akan sembuh dengan cepat," goda Rendi.


Rara membulatkan kedua matanya dan memukul dada suaminya pelan. Ia beralih duduk di samping suaminya dengan wajah kesalnya. Mendengar godaan suaminya walau dalam keadaan tubuhnya yang sedang sakit ini.


"Kau bisa sepuasnya dengan tubuhku jika tubuhmu tidak sedang sakit apalagi kau sangat menyebalkan tidak mau di periksa Dokter sama sekali," gerutu Rara sambil menyelesaikan mengusap tubuh suaminya.

__ADS_1


Rendi tersenyum saat melihat istrinya yng mengomelinya dengan perhatiannya. Ia merasakan tubuhnya yang tidak bertenaga tapi ia merasa bahagia saat mendapatkan perhatian istrinya di saat sakit dan lemah seperti ini. Lain dengan dulu saat ia sedang sakit. Jangankan memperhatikannya, beryanya tentang keadaannya saja ibunya tidak pernah bertanya padanya. Rendi selalu hidup dengan para pelayan yang bahkan hanya mengharap bayaran darinya bukan karena ketulusannya.


Rara berjalan dan membereskan tempat airnya dan kini suaminya sudah bersih dan memakai pakaian tidurnya dengan selimut menutupinya. Rara tersenyum dan mencium bibir suaminya dengan lembut.


"Kamu makan dulu ya Sayang, aku tahu kau belum makankan? Aku buatkan bubur untukmu ya," ucap Rara lembut dan tersenyum pada suaminya.


Rara hendak berdiri dan meninggalkan suaminya. Tapi sebuah tangan menahannya. Ia berbalik dan melihat wajah suaminya yang sayu.


"Sayang kamu jangan tinggalkan aku biarkan pelayan yang buatkan," pinta Rendi dengan wajah lemahnya panasnya semakin naik.


Rara mengangguk dan menekan nomer pada handponenya meminta Nesa membuatkan bubur hangat untuk suaminya.


"Baiklah suamiku yang manja ... aku akan menemanimu sampai panasmu turun," ucap Rara lembut dan mengompres suaminya.


Sebuah ketukan di balik pintu kamarnya, membuat Rara menoleh dan bangun menghampiri pintukamarnya dan membukanya. Rara tersenyum ketika melihat Nesa di depan pintunya dengan sebuah nampan berisi bubur dan beberapa air di tangannya. Rara tersenyum ketika melihat Nesa memberikan nampan tersebut dengan wajah datarnya.


"Saya sudah menaburkan obat di dalam bubur tersebut Nona, semoga makanannya bisa sampai habis tuan makan DCan selamat malam Nona," ucap Nesa memelnakan suaranya takut Rendi mendengar ucapannya.


Rara tersenyum dan mengangguk pada Nesa yang kini berbalik dan meninggalkan kamarnya. Ia mengisyaratkan kedua pepmayan yang berjaga di depan pintu kamarnya untuk menutup kembali pintu kamarnya karena kedua tangannya sedang memegang nampan yang berisikan makanan untuk suaminya.


Rara berjalan dengan nampan bubur untuk suaminya. Ia tersenyum ketika melihat suaminya pura-pura tertidur. Setelah tadi ia berani menggodanya dan bermanja padanya.


Rara tersenyum dengan mangkuk dan sendok di tangannya. Ia memikirkan cara agar suaminya tidak pura-pura tidur lagi.


"Kira-kira siapa ya yang harus aku suapi? Atau aku suapi Adam saja ya, karena kalau aku suapi Doni dia tidak ada disini," goda Rara mencoba agar suaminya bergerak dan tidak berpura-pura tidur lagi.


Pada akhirnya, Rendi mengalah dan bangun dengan bergegas dan duduk dengan benar. Ia menatap istrinya yang tersenyum menggodanya. Rendi mengerutkan dahinya dengan bibir maju kedepan kesal pada istrinya yang menyebut nama pria lain.


"Hahaha, kamu ini Sayang mau pura-pura tidur lagi? Aku akan pergi menyuapi orang lain," tawa Rara melihat wajah suaminya yang memerah onarena memang panas di tubuhnya semakin tinggi.


Lain dari dugaan Rara. Rendi kesal karena istrinya menyebut nama pria lain apalagi Doni yang sudah tidak pernah di ingat olehnya apalagi Rara.


"Aku tidak suka kamu menyebutnya," ucap Rendi memalingkan wajahnya.


"Baiklah ... aku akan menyebut yang lainnya jika kamu masih tidak mau makan juga," goda Rara lembut mengingat suaminya memang tidak menyukai jika ia mengatakan orang lain apalagi pria lain.


"Mari sini makan, aku akan menyuapi suamiku yang manja ini agar cepat sembuh dan nanti kita bercinta lagi," bujuk Rara tersenyum tipis.


Rendi kembali melihat istrinya dengan senyum di wajahnya. Ia mendengar ucapan istrinya yang sangat ingin ia dengar dari tadi.

__ADS_1


"Benarkah Sayang? Sepertinya obat sesungguhnya adalah dirimu Sayang," ucap Rendi tersenyum bahagia.


"Hmm ... ayo makan nanti kita lakukan sepanas mungkin apapun yang kamu mau, aku siap seutuhnya untukmu," ucap Rara memasukan sesendok bubur yang sudah ia tiup ke mulut suaminya yang tersenyum bahagia.


"Haha ... kita akan bercinta tapi tidak malam ini Sayang, maaf ya aku sudah menambah semua obatnya termasuk kandungan obat tidur di dalam makanan ini," batin Rara tersenyum.


Rara menyuapi suaminya yang bersemangat untuk menghabiskan makanannya. Karena sesuatu yang akan ia dapat setelah menghabiskan makanan yang di suapi istrinya saat ini. Rara tersenyum melihat suaminya yang memandanginya dengan tatapan lembutnya. Walau panas menjalar di seluruh tubuhnya, tapi Rendi masih sempat untuk menjamah istrinya.


Setelah melahap habis buburnya. Rendi mengambil minumnya dengan cepat. Rara tersenyum melihat suaminya yang bersemngat. Ia menyimpan mangkuk di tangannya dan sebuah tangan menariknya dan kini ia berbaring di atas tubuh suaminya yang kini tersenyum padanya. Wajah mereka menempel satu sama lain. Rara tersenyum begitupun dengan Rendi. Ia mencium bibir istrinya dengan lembut.


Rara membalas ciuman suaminya dengan lembut. Ia merasakan ciuman dari suaminya yang terasa panas karena tubuh dan nafas suaminya saat ini sedang panas juga. Rara tersenyum dan melihat suaminya yang menatap lembut dirinya.


Selang beberapa menit mereka bergelut dalam ciumannya. Rara membulatkan kedua matanya saat tangan Rendi berada di belakang bokongnya dan meremas dengan gemas. Rara mengerutkan dahinya mengingat suaminya malah semakin bersemangat bukannya tertidur.


Rendi tersenyum dan membalik tubuh istrinya yang kini berada di atas tubuh istrinya. Rara masih terdiam dan mengerutkan dahinya.


"Kenapa efek obatnya tidak bekerja? Bukankah dari resep obatnya ada kandungan obat tidurnya, hmm bagaimana cara menolak suamiku ini, aku sudah terlanjur janji tadi," gerutu batin Rara.


Rara melihat wajah suaminya yang sayu dengan tatapan nakalnya ia membuka tali dres istrinya dengan senyuman penuh kemenangannya. Ia tidak memiliki tenaga penuh tapi mampu jika hanya menggeser tali dres di bahu istrinya.


"Sayang ... Aku ...."


Rendi menjatuhkan tubuhnya di atas tubuh istrinya yang sedikit terbuka dres tidurnya.


Rendi tertidur dalam keadaan tangan memegang sesuatu sebelah tangannya di bagian dada milik istrinya.


Rara tersenyum ketika mendapati suaminya yang tertidur. Ia merasa sesak saat tubuh besar suaminya berada di atas tubuhnya. Ia mencoba membalik tubuhbsuaminya perlahan dan membaringkannya untuk tidur dengan benar. Rara menyelimuti selimut untuk suaminya dan mengompresnya dengan kain hangat baru yang di sediakan pelayan tadi.


"Hmmm aku pikir obat itu menipuku karena malah membuat suamiku bersemangat begitu, ternyata memang reaksinya sedikit lambat," ucap Rara tersenyum.


Ia mengompres suaminya dengan sabar dan mengusap kembali wajah suaminya yang masih terasa panas di sentuhan tangannya yang sedikit basah karena sudah membuat kompres untuk kening suaminya.


Rara tersenyum melihat wajah tampan yang lemah di hadapannya ini. Ia tersenyum karena hanya ia yang beruntung memiliki suami yang sangat menyayanginya juga mementingkan semua kebutuhannya. Untuk kali ini Rara lebih bertahan dan kuat ketika mengingat suaminya yang selalu mengusahakan setiap kebahagiaannya.


Baginya jika mengingat sebuah pernikahan untuk pertama kalinya baginya hanyalah sebuah pernikahan dan bukan sebuah kebahagiaan apalagi rencana masa depan. Apalagi perjalanan pernikahan yang sempat membuatnya lelah dan sedih. Juga dengan suaminya Rendi yang ternyata mempunya istri. Ia sempat merasakan sakitnya jika suami kita sendiri di ambil oleh wanita lain.


Tapi karena penjelasan dan perjuangan suaminya yang membuatnya yakin jika. Pernikahan akan terasa hangat dan bahagia jika kita isi dengan sebuah kepercayaan dan pengertian satu sama lain.


Sebuah kepercayaan akan menjadi kekuatan yang mutlak untuk memperkokoh sebuah pasangan apalagi sebuah rumah tangga yang di dasari oleh cinta dan kepercayaan pada pasangan hidup kita.

__ADS_1


Rara tersenyum mengingat semua itu. Ia mengecup bibir suaminya yang mulai reda panasnya dan tertidur di samping suaminya dan memeluknya.


__ADS_2