
NTR:Hai Kak, kasih bintang 5 kak, jangan lupa like, komen, favoritkan dan vote yach... Selamat membaca kak.
Amira duduk di kursinya bersampingan dengan Aries, yang di belakangnya ada Rayn yang masih memperhatikan Amira duduk bersama dengan Zain. Gadis itu tampak acuh melirik ke arah kakaknya yang tidak sesuai perjanjian yang mereka sepakati bahwa kakak lelakinya itu tidak akan ada di sekitarannya. Saat Amira mendapat sebuah pesan di handphonenya. Ia mengerutkan dahinya dan berbalik melihat ke arah Rayn yang masih dengan gamenya ia tidak melihat ke arah adiknya itu.
Apa sih yang ada di pikiran kakak ini? Kan sudah sepakat untuk tidak ambil jurusan yang sama. Kenapa malah duduk di ruanganku? batin Amira.
Aris mengerutkan dahinya melihat Amira yang berbalik memperhatikan pria yang bahkan tidak melihat ke arahnya. Rayn justru sibuk dengan handphonenya dan earphone di telinganya.
Amira melihat kembali ke arah pesan di handphonennya dan membalas pesan dari kakaknya itu.
'Kakakmu disini buatmu adik tercintaku' pesan Rayn.
'Aku gak perlu kakak!' balas Amira.
Setelah membalas pesan dari kakaknya itu, Amira menatap kesal kearah kakaknya yang malah tersenyum tipis, tidak membalas pesan dari adiknya. Saat Amira hampir saja ia berdiri menghampiri kakaknya, seorang wanita berpakaian rapih masuk ke dalam ruangan tersebut dan membuat hening ruangan.
Seorang dosen wanita, dengan rok selutut dan kemeja warna putih mengenakan kacamata. Kini berdiri di depan para mahasiswa yang sudah duduk rapih. Amira kini belajar berada di ruangan yang sama dengan kakak.
Di jam istirahat, Amira menghampiri kakaknya yang sedang duduk di taman universitas yang masih sama sedang bermain game dan earphone di telinganya.
"Kenapa tidak sesuai perjanjian?" tanya kesal Amira.
Rayn tetap terdiam, tanpa memperhatikan atau menghiraukan ucapan adiknya itu. Rayn masih dengan gamenya dia tidak menghiraukan adiknya meski, ia mendengar ucapan adik perempuanya itu. Amira dengan kesannya Iya merebut handphone kakaknya, ia memasang wajah kesal, saat Rayn menatap adik perempuannya itu.
"Kamu pindah ruangan dan ambil jurusan!" tegas Amira.
__ADS_1
"Bukannya bagus jika ada seorang pria tampan yang berada di sampingmu?" ucap Raya tersenyum tipis adiknya yang cemberut.
"Apanya yang bagus? Kakak selalu saja berubah-rubah tidak sesuai perjanjian awal!" jawab Amira.
"Di sini duduk di samping kakak!" seru Rayn.
Rayn menarik tangan Amira. Dengan kesal Amira duduk di samping kakaknya itu dan memajukan bibirnya kesal kepada kakaknya. Mereka berbincang hanya berdua saja di taman, di mana mereka kuliah bersama.
Dari kejauhan ada banyak sorotan mata yang tidak menyukai adegan dimana Amira dan Rayan bersama, bahkan kini duduk berbincang berdua saja di taman.
"Gila, gadis norak itu bahkan bisa mendekati pria tampan di kampus ini," ucap kesal Siska.
"Bukannya kamu bilang dia suk Om-om ya?" tanya gadis disampingnya.
Ia tampak tidak menyukai Amira, yang bahkan berkata tentang dirinya, saat di kantin tadi.
Setelah berbicara dengan kakaknya itu Amira kini berada di di perpustakaan bersama dengan Aris, yang sudah tahu sahabatnya itu, ia mengerutkan dahinya dan membaca buku dan dia pilih bersama sahabatnya itu.
"Kamu itu tidak malu apa? Seorang gadis cantik bahkan duduk di perpustakaan hanya untuk tidur saja! Bukannya kamu habis bertemu dengan pria tampan," ucap Aris.
Aris membolak-balikkan bukunya berbicara kepada sahabatnya, yang sedang tertunduk di atas meja untuk tertidur. Meski tidak ada jawaban dari sahabatnya itu, Aris tetap menemani Amira tanpa protes. Ia hanya membuka buku dan membacanya mereka berdua bahkan menghabiskan jam kuliahnya hanya di dalam perpustakaan dengan Amira yang tertidur dan Aris yang menjaga dengan buku di hadapannya dan sebuah roti di tangannya.
Baginya adalah suatu hal yang sudah terbiasa dilakukan dengan Amira hanya untuk bermalas-malasan di dalam perpustakaan, apalagi mengingat Amira seorang gadis pintar dan cerdas dalam bidang apapun, meski harus rajin belajar dan membaca namun kepintarannya sangat jauh dibawah Amira. Ia bahkan selalu minta tolong kepada Amira, jika ada pelajaran yang tidak ia mengerti baginya adalah sebuah anugerah bisa berteman dengan Amira. Pasalnya Aris yang hanya seorang anak atau pria yang cupu, bisa lebih baik dalam pelajaran soalnya, karena berteman dengan Amira, seorang gadis sederhana yang cukup pandai.
Setelah jam kuliah berakhir, Amira sudah berada di halte bis, berpamitan dengan Aris meski dia sudah menawarkan tumpangan kepada Amira. Amira tidak pernah mau diantar oleh Aris. Saat Amira menunggu datangnya bis, sebuah mobil berhenti tepat dihadapan Amira. Ia lalu membukakan kaca mobilnya yang tak lain adalah Rayn, Kakak Amira tersenyum menatapnya.
__ADS_1
"Gadis cantik tidak baik menunggu sendirian di sini! Mari ikut dengan om!" seru Rayn tersenyum tipis menggoda adik perempuannya itu.
Amira mengerutkan dahinya dan ia tampak kesal mendengar ucapan kakaknya itu, ia berdiri dan menghampiri kakaknya namun tidak memasuki mobil tersebut ia berbicara tepat di hadapan Rayn.
"Terima kasih Om tapi om bukan selera Mira," ledek Amira tersenyum tipis melihat kakaknya yang tertegun dengar ucapan adiknya itu.
Sebelum Rayn membalas adik perempuanya itu. Amira sudah berlari dan pergi menghampiri bus yang sudah berhenti dan meninggalkan mobil Rayn. Rayn yang tersenyum melihat tingkah laku adik perempuanya itu, saat Rayn mencoba untuk menyalakan kembali mobilnya, Ia mendapat sebuah pesan dari seseorang.
"Dua hari lagi aku akan ke Indonesia," pesan dari Naura.
Rayn tersenyum mendapat pesan dari gadis itu, ywng tak lain adalah calon istrinya yang sangat ia rindukan dan nanti kan selama ini. Rayn memang sudah menempatkan dirinya kepada Naura, yang memang sudah dijodohkan dengannya sedari kecil.
Rayn memang pria yang sangat setia apalagi mengingat Naura adalah tipe gadis yang Iya cari selama ini.
'Aku akan menunggumu istriku,' balas Rayn ia tersenyum dan menyimpan handphonenya.
Rayn lalu mengajukan kembali mobilnya menuju ke sekolah swasta, di mana adik kecilnya Raisa berada, dengan hati bahagia dan senang Rayn melajukan mobilnya tanpa menghiraukan, ada sebuah panggilan di handphonenya yang bernyalakan atas nama Zain. Namun Rayn tetap fokus dengan setirnya hingga kini berada tepat di depan sekolah milik adiknya Raisa.
Ia keluar dari mobilnya dan kini berdiri di depan sekolah dan bersender di mobilnya. Ia membiarkan handphonenya di dalam mobil, tanpa mendengar handphonenya berdering. Saat Rayn menunggu beberapa menit, sudah ada sekumpulan anak-anak seusia adiknya. Raisa berlarian keluar dari sekolahan tersebut, ia melihat seorang gadis kecil mungil yang cantik tersenyum dan berlari ke arahnya.
"Wah kakakku sangat tampan dan menepati janjinya untuk menjemput Raisa," teriak Raisa.
Ia berharap teman-temannya yang meragukan Raisa, yang memiliki kakak yang tampan ini terdiam, menatap Raisa yang memeluk Rayn. Raisa tampak puas mendapati hasil, yang ia membenarkan bahwa dirinya memiliki seorang kakak yang sangat tampan, kini berada di hadapan teman-temannya.
Bahkan senyuman Rayn membuat mabuk teman-teman Raisa di usia mereka yang terbilang masih kecil sekitar 10 tahunan sudah bisa mengagumi seseorang termasuk Rayn yang terbilang sangat tampan itu dan cool.
__ADS_1