
Rara terdiam di depan cermin kamar mandi,ia melihat dirinya dan termenung sendiri.
"Hmmm berasa diri ini gak ada harga dirinya,bila orang lain yang merendahkanku, aku tidak akan sesakit ini tapi suamiku,suamiku sendiri menghinaku,entahlah aku bingung," gumam Rara.
Rara keluar kamar mandi,ia melihat ke arah ranjang putra putrinya dan menghampiri mereka.
"Kalian bahkan sangat manis," ucap Rara.
"Kenapa dia belum pulang,ini sudah jam sembilan malam," gumam Rara.
Rara mengambil handponenya dan ia memoto dirinya saat ini,Rara mengetik dan mengirimkanya pada suaminya.
Rara tertidur setelah mengirim pesan pada suaminya,yang tidak ada balasan.
Rendi yang sedang gundah dengan pikiranya,ia menundukan kepalanya di atas meja kerjanya. Ken ia suruh untuk pulang dahulu,hanya tinggal Rendi yang di sana. Hingga terdengar sebuah pesan masuk ke handpone Rendi ia mengabaikan handponenya lama.
Saat Rendi tersadar akan kelalaianya melihat pesan dari istrinya,dengan segera ia mengmbil handponenya yang tergeletak hingga retak,tapi masih menyala dan benar saja itu pesan dri istrinya. Rendi mengerutkan dahinya.
"Kenapa kau rusak di saat-saat penting hah,hape kurang ajar,aku hanya bisa melihat separuh wajah istriku," gumam Rendi kesal.
"Bahkan isi pesanyapun tidak bisa ku baca semua." Rendi semakin kesal.
Saat mendapat pesan dari istrinya, Rendi bergegas keluar dari kantor,ia menuruni lift untuk segera pulang. Sesampai di depan perusahaan Rendi berdiri,sebuah mobil berhenti tepat di hadapanya. Rendi masuk ke dalam mobil tersebut dan melajukan kendaraanya.
"Kenapa kau masih disini?" Tanya Rendi.
"Saya menunggu anda Tuan," jawab Ken.
"Sepertinya kau sudah tidak mendengarkanku ya Ken,bukankah aku menyuruhmu pulang," ucap Rendi dingin
"Saya akan tetap memastikan anda baik-baik saja Tuan," ucap Ken.
"Aku tidak apa-apa," ucap Rendi acuh tapi dalam hatinya ia tersenyum.
"Ke rumah besar Tuan?" Tanya Ken.
"Kau pikir kemana?" Bentak Rendi.
"Aku pikir anda akan kabur tuan, setelah bertengkar dengan nona muda," batin Ken.
Ken melajukan kendaraanya dengan kecepatan sedang,ia memastikan semua dengan baik untuk tuannya.
"Kenapa kamu membawa mobil pelan sekali Ken!" Teriak Rendi.
"Baik Tuan," jawab Ken.
"Apanya yang baik!" Teriak Rendi.
Ken lebih memilih diam,ia mempercepat laju mobilnya. Karena tuannya yang berubah-ubah sifatnya.
Rendi sangat gundah, ia sangat penasaran dengan isi pesan dari istrinya,ia juga kesal dengan handpone yang sudah tidak berguna lagi.
"Ambil ini ganti dengan yang baru!" Pinta Rendi melemparkan handponenya pada Ken.
Rendi memasuki rumah tanpa di ikuti Ken. Ken bergegas melajukan mobilnya untuk pulang.
Rendi berjalan dengan cepat,menaiki tangga dan membuka pintu kamar perlahan,ia melihat ke arah ranjang bayi dan melihat ke kasur istrinya sedang tidur dengan di tutupi selimut tebal.
Rendi mendekat ia hendak memegang rambut istrinya dan ingin memeluknya yang sangat ia rindukan.
Tapi Rendi urungkan ia bergegas masuk ke kamar mandi dan membersihkan diri.Rendi keluar dengan hanya memakai celana pendek dada telanjang. Ia menghampiri tempat tidur dan duduk.
"Oh iya apa yang istriku kirimkan ya aku lihat handponenya saja," gumam Rendi.
Rendi mengambil handpone istrinya dan melihat pesan yang Rara kirim untuknya.
Rendi terkejut membulatkan kedua matanya dengan apa yang ia lihat dan isi pesanya.
"Astaga, dia bahkan berani mengirim pesan seperti ini padaku," gumam Rendi.
Rendi melihat istrinya,ia berbaring dan memeluk istrinya yang tertidur lelap.
Dengan senyum di wajahnya ia tertidur memeluk istrinya.
Di tengah malam Rayn menangis,di tambah dengan Amira yang terbangun karena kakaknya menangis kini mereka sedang kompetisi suara tangisan terkencang. Hingga membangunkan Rara.
Saat terbangun Rara merasa sesak ada sebuah tangan yang melingkar di tubuhnya. Rara mencoba melepas pelukan Rendi tapi pelukannya malah semakin kencang dan meremasnya.
"Ada yang salah dengan tangan ini, kenapa ia diam disana,itu milik Rayn," gumam Rara melepaskan pautan tangan Rendi di buah dada Rara.
Karena belum ada yang merespon Rayn dan Amira semakin kencang tangisanya. Rara mencoba melepas tangan Rendi yang berat,hingga sudah geram Rara menggigit tangan Rendi dan Rendi menjerit melepas pelukanya.
Rendipun tersenyum melihat istrinya yang kesal,ia juga ikut bangun menenangkan Rayn dan Amira.
Rara menyusui Amira dalam keadaan yang tidak ia sadari.
Rendi menggendong Rayn tapi matanya melihat ke arah Rara yang sedang menyusui Amira.
Rara menyadari suaminya memperhatikanya dari tadi,setelah ia teringat sesuatu ia terkejut dan segera mengambil selimut untuk menutupi tubuhnya.
"Kenapa di tutup,bukankah itu untuku," ucap Rendi tersenyum.
Rendi mendekati Rara dengan menggendong Rayn. Ia tidak hentinya tersenyum lebar memandang istrinya.
"Sayang," ucap Rendi mendekati istrinya.
"Hmmm." Rara fokus pada Amira.
"Apakah pesan itu masih berlaku?" Tanya Rendi.
"Kalau sudah berganti hari, itu sudah tidak berlaku," jawab Rara acuh.
"Hmmm, masih ada setengah jam lagi,berarti masih berlaku dong? Tanya Rendi tersenyum.
"Ini waktunya Rayn dan Amira," jawab Rara acuh.
__ADS_1
"Uuuh baby Amira cepetan ya itu milik Papa," ucap Rendi pada Amira yang sedang asik meminum susu.
Rara tersenyum dengan tingkah suaminya yang kekanakan.
"Lihat tuh mamahmu setuju, udah yah minum susunya entar kalo urusan papa sama mama sudah selesai, baru kamu boleh minum susu lagi," ucap Rendi masih berbicara pada Amira.
Rara sudah tidak bisa menahan senyumnya,ia tertawa gemas melihat tingkah suaminya. Rendi tersenyum melihat istrinya tertawa, baginya melihat senyum istrinya adalah kebahagiaan terindah.
Setengah jam sudah berlalu Amira sudah tidur, kembali tinggal Rayn yang belum melepas pautanya.
Rara melihat Rendi yang tertidur dalam keadaan duduk menopang dagunya. Ia tersenyum.
Rayn tertidur Rara memindahkanya ke ranjangnya.
Rara melihat suaminya dan melihat tangan yang ia gigit tadi membekas.
Rara mengambil kotak obat dan mengoleskan pada tangan Rendi.
Rendi memegang tangan istrinya. tidak ada jarak di tatapan wajah mereka.
"Sayang maafkan aku,aku aku?" Lirih Rendi tak menyelesaikan ucapannya karena Rara mengecup bibir suaminya.
"Apa aku terbilang ingin menarik perhatian pada suamiku?" Tanya Rara Rendi menggelengkan kepalanya.
Rara mengecup kedua mata Rendi.
"Apa aku terlihat seperti murahan jika begini pada suamiku?" Tanya Rara kembali Rendi menggelengkan kepalanya.
Rara mengecup pipi dan kening suaminya.
"Apa aku terlihat murahan jika menggoda suamiku?" Tanya Rara kembali Rendi menggelengkan kepalanya.
"Lalu kenapa aku menjadi rendah di matamu jika hanya sehelai rambut yang tidak sengaja terlihat?" Lirih Rara.
Rendi terkejut dengan ucapan istrinya,ia memeluk istrinya dengan erat.
Rara menangis tertahan.
"Maafkan suamimu yang bodoh ini Sayang,maaf aku takut kamu kamu terluka,tapi malah aku sendiri yang melukaimu,walau hanya sehelai rambutmu aku tidak rela,ada yang melihatnya apalagi menyentuhnya kamu miliku," lirih Rendi mempererat pelukanya.
Rendi melepas pelukanya,ia memegang wajah istrinya.
"Aku minta maaf istriku tercinta," ucap Rendi Rara mengangguk dan tersenyum.
Rendi mencium istrinya dengan dalam Rendi memperdalam ciumanya hingga kehabisan nafas dan melepas ciumannya.
"Apa ini untuku?" Tanya Rendi tersenyum.
"Hmmm." Rara tersenyum malu ia memeluk suaminya memasukan kepalanya ke dada Rendi.
"Bagaimana kalau kita bercerita bagaimana kejadianya?" Ucap Rendi.
"Apa kamu yakin mau tahu?" Tanya Rara.
"Hmm," jawab Rendi.
"Dari kamu selalu ingin bersama Doni," ucap Rendi.
"Ko Doni,apa hubunganya dengan dia?" Tanya Rara.
"Ada,kenapa kamu sama dia?" Tegas Rendi.
"Hhmm Sayang,aku sama dia tuh hanya untuk memberinya pekerjaan saja,udah gitu aku suka dengan kinerjanya," jelas Rara.
"Dia bekerja di dapur,ya pasti ada pekerjaan,kenapa harus kamu yang memberinya pekerjaan," ucap Rendi.
"Sayang aku pernah melihat dia kebingungan saat di dapur,karena semua udah punya pekerjaanya masing-masing,tapi lain dengan Doni aku melihat dia mau memegang itu tidak boleh memegang ini,tidak boleh oleh koki yang lain.
Juga para seniornya terlalu tegas padanya,tanpa melihat pekerjaanya. Sampai aku melihat dia memetik buahpun ia tidak boleh,suatu hari ia terlihat sedih setelah Pak Jun bicara padanya,aku hanya kasihan padanya makanya aku mengajaknya bicara itupun hanya sebatas memerintahnya saja,agar ia merasa ada pekerjaan untuknya.
Aku juga pernah melihat dia memukuli preman di jalanan,saat aku dari Cafe.
dan kebetulan dia bisa bawa mobil jadi aku jadikan dia supirku,tidak lebih," jelas Rara.
"Aku tidak suka karena dia selalu tersenyum padamu," ucap Rendi.
"Sayang dia sama sepertiku tidak punya adik ataupun kakak,aku hanya menganggapnya adik dan dia menganggapku kakaknya,dia lebih muda dariku Sayang,lagipula dia kalah tampan dari suamiku,mana mungkin aku tergoda olehnya," tambah Rara.
Rendi tersenyum mendengar pujian dari istrinya.
"Kenapa kamu tidak pernah membalas pesanku?" Tanya Rara.
"Handponeku rusak," jawab Rendi.
"Kenapa?" Tanya Rara.
"Terjatuh," jawab Rendi
Rendi menelusuri leher istrinya dengan tangan kesana kemari.
"Lalu?" Tanya Rendi.
"Lalu apa?" Ucap Rara.
"Kejadian selanjutnya," ucap Rendi.
Rendi masih menciumi leher istrinya.
"Aku di tabrak oleh pria dan ia menarik kerudungku sampai ia melihatku seperti mata keranjang," ucap Rara.
Rendi geram ia memaki dalam hatinya pada lelaki itu.
"Berani sekali dia melihat istriku dengan mata yang seperti itu," batin Rendi geram.
"Sayang ?" Panggil Rendi.
__ADS_1
"Hmmm," jawab Rara.
"Jangan pernah membenciku dengan memanggil nama lengkapku juga tatapan itu lagi ya," lirih Rendi.
"Hmm, aku hanya merasa sakit saja di hati ini," ucap Rara sendu.
Rendi memeluk erat istrinya dari belakang.
"Aku janji tidak akan pernah melakukanya lagi sayang aku janji, aku hanya tidak tahan dengan kamu yang tersenyum pada pria lain," lirih Rendi.
"Pria lain,siapa?" Tanya Rara terkejut.
"Koki itu," ucap Rendi manja.
"Hahaha, Sayang benarkah kamu cemburu padanya,dia bahkan tidak berani menatapku lama-lama karena dia bilang Sayang nyawa." Ucap Rara.
"Tapi aku tidak mau kamu tersenyum padanya," ucap Rendi manja menyusupkan kepalanya pada leher Rara.
"Baiklah tapi apa dia boleh jadi supirku?" Tanya Rara.
"Dia koki bukan supir," tegas Rendi.
"Tapi," ucap Rara.
Rara terdiam Rendi yang menyadari istrinya terdiam ia mendongak.
"Kenapa?" Tanya Rendi.
"Tapi dia tidak ada kerjaan Sayang," ucap Rara.
"Aku akan memberinya pekerjaan nanti, tapi tidak menjadi supirmu," tegas Rendi.
"Hhmm, baiklah terimakasih suamiku," ucap Rara mengecup bibir mata pipi kening dan hidung suaminya.
Rendi tersenyum bahagia dengan tingkah istrinya juga sifatnya yang lapang.
"Aku tadi sangat takut dengan marahnya istriku,tapi ia sangat besar hati memaafkan kebodohanku terimakasih istriku," batin Rendi tersenyum.
"Hmmm, kalo hapemu rusak lalu darimana kamu tahu aku mengirim pesan itu?" Tanya Rara.
"Apapun itu aku pasti tahu," ucap Rendi tersenyum.
"Hmm benarkah apa kalau kirim pesan seperti itu siapa saja bisa tahu?" Tanya Rara.
"Hanya aku yang tahu," ucap Rendi.
"Uuuuh aku malu," ucap Rara memasukan kepalanya ke dada Rendi.
"Haha aku suka Sayang, kamu seperti itu," tawa Rendi.
"Kenapa kamu seperti itu,bukankah kamu sangat marah tadi padaku?" Tanya Rendi.
"Saat aku pulang melihat Rayn dan Amira,aku tidak mau bila mereka menyaksikan pertengkaran orang tuanya,juga aku tidak mau kamu seperti Radit yang hilang tanpa pulang ke rumah,kamu bahkan tidak langsung pulang aku takut seperti," ucap Rara sendu terhenti .
Rendi yang mendengar itu ia memeluk istrinya dengan erat.
"Aku tidak akan seperti dia sayang, aku tidak akan menyia-nyiakan bidadari sepertimu,aku akan selalu bertahan dan mempertahankanmu karena aku mencintaimu," lirih Rendi.
"Lalu kenapa kamu tidak pulang?" Teriak Rara melepas pelukanya.
"Hehe karena aku takut tatapanmu yang membenciku marah padaku itu," Ucap Rendi tersenyum.
"Huh, setelah aku marah kamu baru takut, tapi saat marah padaku kamu seperti singa badai,bicara kesana kemari membuatku takut," ucap Rara memajukan bibirnya.
"Hhahah iya Sayang,aku memang singa badai jika aku marah hilang kendali, makanya aku minta maaf sayang dan aku janji tidak akan melakukanya lagi, asal kamu tidak tersenyum pada orang lain lagi," tegas Rendi.
"Baiklah aku akan mengatur senyumanku," ucap Rara tersenyum.
"Karena senyuman ini membuatku ingin memakanmu," ucap Rendi.
Rendi menuntaskan tugas yang tertunda dan menyelesaikan dengan sepanjang malam pada istrinya.
Apalagi saat mengingat istrinya yang mengirim pesan tadi,ia malah semakin buas sepanjang malam pada istrinya.
Pesan Rara.
Rara mengirim poto dirinya yang memakai dres hitam transfaran kesukaan Rendi tanpa bra rambut terurai basah tersenyum .
"Sayang mau makan malam diriku?.
****
Prolog Raditya
Raditya mengunjungi rumah sakit yang dimana adiknya di rawat dengan tubuh berbalut perban penuh luka.
"Uuuuh Kak gadis itu sangat cantik dan menggoda,adiku saja sampai bangun saat melihatnya," ucap adiknya Radit.
"Kamu bahkan sampai babak belur, pikiranmu masih pada wanita saja," ucap Radit.
"Kalau kakak melihatnya,kakak pasti juga akan suka," ucap Bari.
"Sebaiknya kamu pikirkan kesembuhanmu saja," ucap Radit.
Orang tua Radit memasuki ruangan dimana anaknya di rawat.
"Anak sialan,sebenarnya siapa yang kau singgung hahkenapa sampai membuat bangkrut perusahaanku dalam semalam hah," teriak Ayahnya Radit.
Radit dan Bari terkejut dengan perkataan ayahnya.
"Maksud ayah apa,kenapa bisa seperti itu?" Tanya Radit.
"Siapa yang kau singgung hah,semua saham di tarik dalam semalam,hingga membuat kita tak mungkin bangkit kembali," lirih ayah Radit ia lemah dan terduduk sedih.
Radit dan Bari termenung dengan apa yang terjadi.
__ADS_1
"Nak kamu pergilah ke keluarga Anggara,ayah yakin mereka akan membantu kita," ucap Ayah Radit.
"Tapi yang mengendalikan saat ini anaknya ayah apa masih bisa?" Ucap Radit ragu.