
NTR:Hai Kak, kasih bintang 5 kak, jangan lupa like, komen, favoritkan dan vote yach... Selamat membaca kak.
Setelah meninggalkan Amira di pinggir jalan. Rayn akan mengantar adiknya Raisa ke sekolah swasta nya dan kini Raisa berpamitan kepada kakaknya dengan senyum manisnya. ketika kakaknya mencium keningnya.
"Kak, jangan lupa jemput Raisa lagi, karena Raisa sudah mengatakan kepada teman-teman Raisa bahwa kakak Raisa itu sangat tampan, " ucap Raisa tersenyum manja.
"Baiklah, ingat pesan ke Amira tadi! Kamu harus bisa menjaga diri ketika di luar lingkup keluarga kita," ucap Rayn tersenyum dan ia berjalan meninggalkan adiknya yang sudah masuk ke sekolahnya.
Rayn melajukan kembali kendaraannya dan menuju universitas, dimana ia akan mendaftar kuliah pertamanya. Setelah sampai di tempat kuliahnya, Rayn memarkirkan mobilnya dan berjalan memasuki area kampus dan menghampiri bangku taman dan duduk mengenakan earphonnya dan memainkan game.
"Hmm, sepertinya kamu tidak sabaran," gumam Rayn tersenyum melihat lawan mainnya, mengirim pesan padanya.
Sementara yang lain sibuk memilih jurusan kuliahnya, Rayn bermain game di kursi taman dengan earphone di telinganya, orang-orang yang sibuk kesana kemari. Ia tampak acuh tanpa menghiraukan orang yang berlalu lalang di depannya. Ia bermain game dengan sahabat online-nya lawan main yang selama ini selalu bermain dengannya tanpa ada yang kalah satu sama lain.
Kedua anak buah Rendy yang selalu mengikuti Rayn kemanapun, mereka sedang duduk di sebuah kantin dan memperhatikan tuan mudanya itu.
Dari kejauhan, Zain dengan penampilan feminimnya ia tersenyum riang dan menghampiri Rayn yang tidak melihat ke arahnya.
"Terus saja bermain game, bukannya kita harus mencari dosen yang akan mengajar kita," ucap Zain duduk di samping Rayn.
Jangankan menjawabnya, Rayn bahkan tidak menoleh sama sekali ke arah Zain. Zain memajukan bibirnya, ia sudah terbiasa dengan sifat Rayn yang memang selalu acuh kepada siapa pun, termasuk dirinya. Namun Zain diperintahkan oleh ayahnya untuk selalu menemani tuan mudanya itu. Meski usia Zain berpaut beberapa tahun dari Rayn. Akan tetapi karena kepintaran dan kejeniusan Zain. Ia loncat kelas di setiap tahunnya, bahkan ia dengan bebas meminta syarat untuk kuliah lebih cepat bahkan satu universitas dengan Rayn, dengan syarat ujian cepat dan cerdas dari Universitas tersebut.
Setiap tahunnya ia menyetarakan kemampuannya, dengan Rayn yang usianya jauh lebih tua darinya. Bukan hanya karena permintaan dari ayahnya itu, namun Zain memang sangat menyukai pelajaran dan sesuatu yang sangat menantang jauh dari biasanya. Hingga pada akhirnya Zain kini berada di universitas yang sama dengan Rayn dan Amira.
__ADS_1
Meski diacuhkan, namun Zain tetap duduk di samping Rayn ,menemani pria yang sedang bermain game dengan serius itu.
Zain hanya duduk manis dengan makanan di tangannya. Gadis yang periang bahkan penurut kepada keluarganya termasuk tuan besarnya Rendi Anggara dan Rara Anggara begitupun kepada Rayn, sang putra dari tuan rumahnya. Meski Zain bersikap riang dan manja kepada kedua orang tuanya, akan tetapi di luar lingkup rumahnya keluarganya.
Namun ia begitu bisa diandalkan ketika sesuatu terjadi kepada Rayn dan Amira. Ia akan menunjukkan kemampuannya di luar lingkup perlindungan keluarganya, termasuk ayahnya yang selalu memanjakannya.
Sementara Rayn dan Zain duduk di taman universitas dengan kegiatan mereka masing-masing. Amira kini sudah sampai di depan universitas tujuannya namun, ia tidak mendaftar seperti hal lainnya mahasiswa yang lain. Amira justru bergegas pergi ke ruang ganti dan mengganti pakaiannya menjadi pakaian karatenya, yang berwarna putih dengan hijab yang masih ia kenakan sebelumnya.
Amira memasuki sebuah gedung yang terdapat beberapa orang yang sedang melakukan pemanasan melakukan karate. Saat Amira datang menghampiri salah satu temannya Aries, ia menepuk pundak temannya itu.
"Sialan, kau mengagetkanku saja Amira! Lihatlah mereka sungguh tangguh. Aku tidak yakin kalau aku bisa mengalahkan mereka," seru Aris.
Amira tidak menjawab ucapan Aris, namun dia segera duduk di barisan di samping Aris. Ia menunggu gilirannya untuk bertanding dengan lawan mainnya. Amira bahkan maju lebih depan dan memulai perkelahiannya dengan seorang pria yang tubuhnya cukup besar dan kekar. Namun tidak ada ketakutan sama sekali dari raut wajah wanita yang berhijab cantik itu. Ia justru memberi hormat dan hanya dengan 3 kali, ia melawan pria bertubuh besar itu hingga keluar dari garis pengaman.
"Apa kau kuliah akan tetap mengikuti kelas karate ini?" tanya pria tersebut.
Amira menatap lekat pria yang berbicara itu, namun, ia menggelengkan kepalanya menolak secara halus pertanyaan pria tersebut.
"Kenapa? Kau akan jauh lebih baik dan bagus ketika mengikuti karate di universitas kami," uccap pria itu.
"Aku ikut turnamen ini karena aku sudah berjanji pada ibuku dan aku juga berjanji bahwa ini adalah turnamen terakhirku," jawab Amira.
Ia berdiri dan berjalan meninggalkan pria itu, diikuti oleh Aris dari belakang Amira. Di luar gedung, Amira berjalan dengan melihat-lihat sekitar universitas yang untuk pertama kalinya ia memperhatikan tempatnya kuliah kali ini.
__ADS_1
"Apa kau tidak mau memikirkan kembali tawaran pelatih itu?" tanya Aris.
"Aku tidak pernah ingkar dari janji, apalagi janji kepada ibuku," jawab Amira.
Ia berjalan yang diikuti oleh Aris, namun saat ia berada di taman universitas. Ia melihat seorang pria dengan wanita duduk di taman tersebut. Amira tersenyum memperhatikan pria yang ia lihat itu dan berjalan kembali melewati mereka berdua.
Aris mengerutkan dahinya, karena untuk pertama kalinya, Amira memperhatikan seorang pria dari sifatnya yang acuh pada siapapun.
"Hei, apakah kau menyukai pria itu? Dia tampan lho, Amira," ucap Aris.
"Aku juga cantik," jawaban Amira tersenyum.
Amira berjalan mendahului Aris yang terdiam mengerutkan dahinya. Ia tidak percaya akan ucapan sahabatnya itu, yang untuk pertama kalinya mengatakan hal narsis seperti yang ia dengar saat ini. Ia lalu tersenyum dan berjalan mengikuti Amira yang kini ikut ke kerumunan mendaftar jurusan yang akan mereka ikuti kuliah di universitas saat ini. Lain dengan kakaknya Ia justru menjadi mahasiswa biasa yang tanpa bantuan sebuah koneksi untuk mempermudah masuk universitasnya. Ia berdiri di barisan antrian dengan yang lainnya.
"Kita ambil jurudan ini tidak masalah?" tanya Aris.
"Entah," jawab Amira acuh.
"Astaga, Amira bisakah kau menjawab lebih banyak lagi?" tanya Aris mengerutkan dahinya.
"Hmmm," jawab Amira menjawab pertanyaan sahabat prianya itu.
Aris sahabat Amira di tempat karatenya, mereka selalu bersama. Hingga saat mereka bertujuan di jurusan yang sama, Aris selalu menemani Amira saat mereka berada di tempat pelatihan dan menjadi sebuah persahabatan.
__ADS_1