
Di ruang Kerja.
Rendi duduk dengan menopang kakinya,sudah ada Mark, Iyas dan Ken yang juga berada duduk di hadapannya. Mereka sedang serius mendiskusikan sesuatu yang penting sehingga malam ini juga harus di selesaikan.
"Apa kau memastikanya dengan baik?" Tanya Rendi.
"Ya,semua berjalan dengan baik,tinggal melanjutkan bagaimana untuk membuatnya membayar atas kejadian yang lalu yang menimpah kita," ucap Mark.
"Hmm,setidaknya dia tidak ada waktu untuk berbuat apa-apa saat ini," ucap Rendi.
"Apa rencanamu untuk selanjutnya?" Tanya Mark.
"Aku akan habiskan waktu bersama istriku besok,dia ingin ke pantai," ucap Rendi sendu.
"Hah," ucap Mark Iyas dan Ken bersamaan.
Rendi terdiam tanpa menjawab dan membantah apapun yang ingin mereka katakan padanya.
"Tuan bahkan sangat sedih jika harus kehilangan Adiknya dan sekarang ia tidak mau hal yang sama pada nona muda," batin Ken.
"Lalu,apa yang kau katakan padanya?" Tanya Mark.
"Aku tidak menjawabnya," jawab Rendi.
"Kenapa kamu tidak katakan saja kalau ada hal yang tidak mau kamu ingat dengan pantai," ucap Mark.
"Iya,lagipula kakak ipar juga pasti mengerti," tambah Iyas
"Siapa yang kakak iparmu, hah?" Bentak Rendi.
Mereka bertiga terdiam saat perubahan ekspresi Rendi dari tadi ia sendu kini menjadi dingin saat mendengar ucapan kakak ipar.
"Jangan panggil dia kakak ipar kau bukan Adiknya," ucap Rendi dingin.
"Iya,bukan kakak ipar,tapi kan kau harus memberitahu Rara akan hal itu," ucap Iyas.
"Jangan panggil namanya," bentak Rendi.
"Astaga apa-apaan Tuanmu ini Ken dia bahkan sepertinya sudah gila," batin Iyas.
Tidak ada yang berani membantah ucapan Rendi jika dia sudah sampai membentak dua kali.
Rendi menatap tajam pada Iyas yang sok akrab dengan panggilan kakak iparnya.
"Apa kalian ada cara agar istriku tidak perlu ke pantai?" Tanya Rendi.
Mark Iyas dan Ken terdiam,mereka mencari sesuatu agar tidak ada kata pantai lagi jika itu bersangkutan dengan Rendi.
Mengingat kejadian dahulu kepada adiknya Rendi tidak mau hal itu terjadi kembali.
"Kenapa kalian diam,cepat cari cara agar aku bisa tidak pergi ke pantai," teriak Rendi.
"Sebaiknya kau ajak dia berbelanja saja,cewek lebih suka pusat perbelanjaan," ucap Iyas.
"Dia bahkan memilikinya bodoh," cetus Rendi.
"Astaga,serius kalau begitu aku bisa sesuka hati bawa pacarku ke pusat perbelnjaanmu itu Rend," teriak Iyas.
"Itu khusus untuknya,kau buatkan sendiri," ucap Rendi datar.
"Apa tidak sebaiknya kau kubur dalam-dalam luka lama itu Rend?" ucap Mark.
"Semua sudah jalan takdirnya masing-masing,kamu seharusnya jangan terlalu mendalami masa lalumu,dan menurutku katakannlah pada istrimu itu yang sebenarnya,bahwa kau tidak suka dengan pantai,dari pada nanti dia salah paham ," jelas Mark.
"Aku takut mengecewakannya,aku tidak mau apapun itu tidak terwujud untuknya,aku selalu ingin memenuhi ke inginannya," ucap Rendi.
"Kalau begitu kau pergilah tidak usah hiraukan tentang masa lalu,kalau perlu biar kami ikut pergi menjaga kalian," ucap Mark.
"Tidak perlu,besok aku akan mencoba bertahan untuk kebahagiaannya," ucap Rendi datar.
"Saranku jangan membuat dirimu menderita Rend," ucap Mark.
Terdengar ketukan dari pintu luar. Membuyarkan obrolan Rendi dan kawan-kawannya.
Rendi mengisyaratkan Ken untuk membuka pintunya.
"Kau kira siapa yang akan berani untuk mengganggu kita," ucap Iyas.
"Tentu saja nona muda," ucap Mark.
Mark tidak mengalihkan pandangannya melihat sosok wanita yang berdiri memasuki ruangan dimana mereka berada.
"Sayang,kamu kenapa kemari,apa Rayn mengganggu tidurmu?" Tanya Rendi lembut.
Ia berdiri menghampiri istrinya yang masuk dengan pandangannya yang penuh tanda tanya.
Rendi merangkulnya dan menuntunnya ke tempat duduknya.
Rara yang masih dalam pandangan tanpa arahnya,ia tidak percaya akan bisa masuk ke tempat kerja suaminya apalagi saat sedang ada tamu. Baginya sudah tanggung masuk mending lanjutkan.
Saat mendapati memasuki ruang kerja Rendi,ia langsung terobos masuk ke dalam ruangan tanpa menyuruhnya.
Ia duduk di sofa yang suaminya tuntun padanya.
"Sayang,kamu kenapa?" Tanya Rendi kembali.
Rara menoleh kearah suaminya yang ada di sampingnya.
Ia tersenyum pada suaminya yang berada di hadapannya.
Suaminya bahkan tersenyum lembut padanya.
"Sayaang, kamu baik-baik saja?" Tanya Rendi.
Rara masih terdiam tanpa menjawab ataupun berbicara dahulu.
Mark melihat Rara sambil tertunduk dan Iyas memandangi Rara tanpa berkedip.
__ADS_1
Rendi yang melihat reaksi Mark dan Iyas ia menghalangi pandangan mereka dengan berdiri di hadapan Rara.
Mark dan Iyas merasa kecewa dan berpaling dari pandangannya.
Rendi menatap tajam ke arah mereka.
Kini tidak ada yang berani menatap Rara kembali.
"Sayang,ada apa kamu kesini apa Rayn membuatmu tidak bisa tidur?" Tanya Rendi.
"Hmmm,kamu kenapa ada di sini,tengah malam juga," ucap Rara.
"Hehehe,tidak apa-apa sayang aku hanya sedang ada Mark dan Iyas,tentang perusahaan," ucap Rendi.
"Hmmm apa sudah selesai?" Tanya Rara.
"Sudah mereka akan tidur di kamar tamu," jawab Rendi.
Rendi mengisyaratkan pada Mark Iyas untuk keluar beserta Ken.
Mereka kini berdiri dan bergegas keluar ruangan.
"Ko, mereka sudah pergi,aku belum menyapa mereka," ucap Rara.
"Tidak perlu,"jawab Rendi.
"Kenapa?" Tanya Rara.
Rendi merangkul pundak istrinya yang duduk di sampingnya.
Kini hanya ada mereka berdua di ruangan kerja Rendi.
"Kamu kenapa Sayang?" Tanya Rendi.
"Aku hanya merasa kamu ada apa saja jam segini masih di sini," ucap Rara.
"Hmmm, ayo kita kembali ke kamar kita tidur istirahat Sayang," ucap Rendi.
Rendi menggandeng istrinya untuk menuju kamar tidurnya.
Di tengah rumah besar Mark ,Iyas, Ken menuju kamar masing-masing yang di sediakan pelayan.
"Huh padahal kakak ipar juga mau berbicara dengan kita," batin Iyas.
"Jangan berpikiran yang aneh," cetus Mark pada Iyas.
"Huh,siapa juga yang mikir aneh,aku hanya mau berkenalan sama kakak ipar," ucap Iyas.
Mereka bertiga kembali ke kamarnya masing-masing.begitupun Rendi dan Rara kini sudah ada di dalam kamar kembali.
Rara duduk di atas ranjang bersama suaminya yang menyimpan handponenya.
"Sayang,kamu kenapa tidak langsung tidur kamu kenapa?" Tanya Rendi.
"Hmmm Sayang ayo, kita berbelanja saja," ucap Rara.
"Aku hanya belajar untuk tidak egois saja,"ucap Rara.
"Sayang,aku tidak masalah jika kamu egois juga aku tetap cinta kamu," ucap Rendi.
"Hmm," ucapan Rara terdiam.
"Kita pergi ke pantai besok,biar kamu senang," ucap Rendi memeluk Rara.
"Tapi aku tidak mau hanya menjadi bebanmu Sayang, aku jalan-jalan untuk kita bahagia bukan untuk aku bahagia sendiri,kamu tidak perlu seperti itu," jelas Rara.
"Hmm,memang kata siapa aku tidak bahagia?" Tanya Rendi.
"Akuu aku.." Rara terdiam.
Rendi memeluk istrinya yang terdiam menunduk.
"Kemarilah sayang,maaf ya jika aku membuatmu khawatir juga marah,aku hanya habis lelah bekerja tidak apa besok kita ke pantai ya," ucap Rendi.
Rara terdiam ia memandangi wajah lekat suaminya,ia tidak berani untuk berkata kembali,Rara tidak mau jika hanya karena dia yang egois ingin ke sebuah pantai yang selalu ia sukai menjadikan suaminya kesusahan.Tetapi ia tidak berani juga bertanya alasan suaminya tidak pernah mau pergi ke pantai bahkan menjelaskannyapun ia tidak mau.
"Sayang,apa kamu tidak suka pantai?" Sanya Rara.
"Hmmm," jawab Rendi.
"Kalau begitu,kita berbelanja saja ya biar ke pantai nanti saja jika putra putri kita sudah besar," ucap Rara.
"Hmmm,kamu yakin?" Tanya Rendi.
"Iyaaa," jawab Rara.
"Baiklah,kita akan ke pantai dan berbelanja," ucap Rendi.
"Kenapa jadi dua-duanya?" Tanya Rara.
"Karena kamu suka," ucap Rendi.
"Hah,kenapa selerti itu,sudah belanja saja ya," ucap Rara.
"Sebenarnya aku tidak suka semua Sayang tapi untukmu aku akan berikan apapun itu," batin Rendi.
"Kita tidur ya besok pagi kita akan pergi bersama untuk berlibur," ajak Rendi.
Rendi menarik istrinya tertidur dan menarik selimut.
Dengan mengerutkan dahinya Rara mencoba untuk menuruti suaminya.
Rendi sudah menutup matanya untuk tertidur dalam dekapan istrinya berada di pelukannya.
Rara masih tidak memejamkan matanya,ia memikirkan cara agar tidak perlu pergi. Ia hanya mau suaminya tetap seperti biasanya tidak dalam rahasia seperti ini.
Ia mendongakan kepalanya melihat wajah lekat suaminya. Ia menyentuh wajahnya dan menyentuh bibirnya menggunakan jarinya.
__ADS_1
"Sayang,bisakah kamu ceritakan padaku kenapa kamu tidak suka pantai?" Tanya Rara dengan suara lembutnya.
Rendi masih memejamkan matanya tapi tidak dengan pendengarannya. Ia mempererat pelukannya pada istrinya yang mendongakan kepalanya.
Rara terdiam,ia mencoba mencari berbagai cara untuk membatalkan rencananya.
"Apa yang harus aku lakukan ya,agar besok tidak perlu untuk pergi?" Batin Rara.
Rendi membuka kedua matanya,ia tersenyum melihat wajah istrinya yang belum juga tertidur masih dengan pikirannya .
"Sayang kenapa belum tidur ayo nanti sebentar lagi si kembar membangunkan kita," ucap Rendi.
"Rend,aku tidak mau kemana-mana," ucap Rara.
Ucapan istrinya membuatnya membulatkan kedua matanya dan terbangun dari tidurnya.
"Kamu kenapa,apa ada yang kamu pikirkan Sayang?" Tanya Rendi mengerutkan dahinya.
"Aku berpikir untuk tidak perlu kemana-mana,kapan kita pulang sayang?" Tanya Rara.
"Kamu tidak apa-apa kan,aku hanya sedang banyak kerjaan saja Sayang, kita akan tetap ke pantai kamu jangan membantahnya," tegas Rendi.
"Tapi kamu sebenarnya kenapa?" Tanya Rara sedikit nyaring.
Rendi terdiam ia mengerutkan dahinya melihat istrinya yang sedang gundah.
"Hmm,kamu ini kenapa sayang,bukankah kamu ingin ke pantai kenapa banyak bertanya?" Tegas Rendi.
Rara terdiam saat suaminya mengeraskan ucapannya.
"Kalau begitu katakan padaku ada apa dengan pantai yang selalu kamu ingin datangi itu?" Tanya Rendi.
"Karena aku ingin mengingat seseorang yang pernah aku temui dulu, aku mengingatnya karena dia teman pertamaku,tapi ia tidak ada lagi aku bahKan berharap dia bisa menemuiku,seorang gadis kecil yang tersenyum padaku,dia bahkan menyemangatiku saat aku sedang sedih," ucap Rara.
"Siapa dia?" Tanya Rendi mengerutkan dahinya dengan geramnya.
"Aku bahkan tidak tahu namanya, dia adalah sahabat masa kecilku," ucap Rara.
Rendi terdiam saat ia mendengarkan cerita istrinya. Ia bahkan penasaran gadis yang pernah bertemu dengan istrinya itu.
"Kalau kamu kenapa tidak suka pantai?" Tanya Rara.
"Karena ada sebuah kecelakaan yang menimpa keluargaku dulu,jadi aku tidak suka pantai," jawab Rendi singkat.
"Kenapa,kecelakaan seperti apa?" Tanya Rara.
"Anisa meninggal disana sayang pantai itu yang membuatnya meninggalkan aku,gadis kecilku yang selalu aku sayangi pergi karena sebuah pantai yang ia sukai,aku tidak mau kamu juga pergi hanya karena sebuah pantai," jelas Rendi.
"Astagfirullooh,apakah seperti itu sayang maafkan aku yang bahkan tidak tahu hal itu," ucap Rara memeluk suaminya yang terlihat sendu.
Rara terasa sakit saat melihat wajah murung suaminya untuk saat ini.
Rendi merasa lega saat menceritakannya pada istrinya.
"Ternyata benar kata Mark aku harus menceritakannya baru bisa setenang ini," batin Rendi.
Rara melonggarkan pelukannya,ia menatap lekat wajah suminya menciumi wajahnya dan tersenyum.
"Ayo kita berbelanja saja,aku akan menghabiskan semua uangmu," ucap Rara.
Rendi tersenyum mendengar ucapan istrinya dan mengangguk. Ia memeluk istrinya yang semakin manis dan bisa memahaminya.
Dalam pelukannya mereka kini menutup kedua matanya bersama untuk tidur.
Rara tersenyum dalam tidurnya,kini tidak ada lagi kegundahan dalam hatinya tentang suaminya.
"Akan aku habiskan uangmu ini memang sebanyak apa sih uangmu ini aku helum pernah menggunakannya," ucap Rara.
"Habiskanlah Sayang karena semua milikmu," ucap Rendi mempererat pelukannya.
Kini mereka berdua tertidur saling memeluk satu sama lain,di malam yang dingin mereka tertidur pulas begitupun kedua anaknya yang lelah karena bermain seharian dengan aktipnya.
Sekitar pukul lima subuh Rara terbangun,ia melihat wajah suaminya yang tertidur pulas. Ia menciumnya dengan hati tenang.
Rara berdiri dan memasuki kamar mandi,setelahnya ia mencoba mendekati putra putrinya dan menciuminya.
"Sayang ,kalian ini sudah besesar saja,mamah bangunkah Papamu dulu ya," ucap Rara.
Rara membangunkan suaminya yang masih pulas tertidur. Ia mengguncang berkali-kali tapi tidak membuat suaminya bangun.Ia malah semakin menarik selimutnya.
Rara mengerutkan dahinya dan memajukan bibirnya mencium pipi suaminya.
"Ayo Sayang, bangun kamu harus sembahyang dulu setelah itu kita sarapan," ajak Rara.
Rendi menggeliat memeluk istrinya.Ia membuka kedua matanya dan tersenyum melihat istrinya yang sudah segar sehabis mandi.
"Aku mau sarapan kamu," goda Rendi.
"Apanya,cepetan aku kan sudah bilang tadi malam," cetus Rara.
Rendi tersenyum melihat gerutuan istrinya,pipinya yang kembung karena marah itu semakin Rendi menyukai istrinya yang manja.
"Ayo Sayang, aku akan ke bawah ya masak," ucap Rara.
"Untuk apa,tidak usah,ada banyak pelayan dan juga koki kamu diam cantik dan tunggu aku selesai mandi mengerti," tegas Rendi.
Rara tersenyum dengan perkataan suaminya,ia sengaja berkata seperti itu agar suaminya terbangun.
Melihat Rendi pergi ke kamar mandi dan melakukan sembahyangnya. Rara duduk di balkon kamarnya menikmati udara pagi di atas balkon kamarnya.
Rendi yang keluar dari ruang ganti melihat wajah berseri istrinya yang terpancar di pagi hari.
Embun pagi membasahi rambut halusnya dengan senyuman mengembang di wajahnya.
"Pagi yang baik untuk menyegarkan penglihatanku," gumam Rendi tersenyum.
Ia menghampiri istrinya memeluknya dari belakang. Mereka berdua meminum teh pagi di atas balkon.
__ADS_1