Istri Kedua Tercinta

Istri Kedua Tercinta
Sebuah Konpirasi


__ADS_3

Suasana di ruangan istirahat, Rendi tertawa terbahak ketika berbicara dengan putri dan istrinya yang kini sudah bisa berbicara bahkan sudah memanggilnya ayah. Rendi tersenyum melihat wajah istrinya yang juga merajuk padanya. Rendi tersenyum dan semakin merindukan istri dan anak-anaknya walau hanya sehari dia meninggalkan mereka ke luar kota.


"Tentu saja aku sangat merindukan istriku yang tercinta ini, apalagi bibirmu ini sangat manis begitu sayang," ucap Rendi tersenyum.


"Hmm cepatlah pulang Sayang, aku sangat merindukanmu," rengek Rara.


"Baiklah nanti malam aku akan pulang hanya untukmu sayang," ucap Rendi menenangkan istrinya yang merajuk.


Rendi mengakhiri panggilan videonya. Kini ia menyimpan handphonenya di atas nakas meja di sampingnya.


Rendi melihat ruangan di sekeliling ruang istirahatnya dan melihat ada sebuah kamera kecil di balik AC yang terdapat di hadapannya.


Rendi tersenyum tipis, ia mengambil handphonenya kembali dan mengirim email pada Adam dan ia kembali tertidur di atas sofa.


Adam meretas kamera yang ada dalam ruangan tersebut dan menjadi sebuah kamera saja hanya memperlihatkan Rendi yang sedang tertidur. Akan tetapi Rendi sudah pergi dari ruangan tersebut.


Sekitar pukul 5 sore Rendi dan Ken sudah berada di ruangan yang serba tertutup. Ruangan yang hanya untuk beberapa orang saja. Rendi dan Ken sedang makan untuk yang ke sekian kalinya setelah berkali-kali di beri makanan oleh penyelenggara lelang tapi sama sekali mereka tidsk memakannya.


"Kita kembali secepatnya," ucap Rendi.


Ken mengangguk, mengingat bahwa mereka tidak membawa pengawalan yang ketat. Mereka lebih memilih untuk segera kembali.


Saat mereka bergegas untuk kembali. Hingga seorang Dirga mengantar kepulangan mereka menaiki pesawat Jetnya.


Rendi dan Ken kini sudah berada di dalam pesawat dan akan lepas landas. Dalam beberapa menit Rendi duduk dengan tanpa memperhatikan sesuatu hal mencurigakan.


Selang sekitar satu jam penerbangan. Rendi mendapatkan sebuah email dari Adam . Yang membuatnya terkejut mendapatkan email darinya. Ia mulai menatap ke sembarang arah. Ketika ia melihat ke araj Ken dan terdapat sebuah tusukan di bagian perutnya berulang kali oleh Ken. Ia tidak mempercayai dengan apa yang terjadi dan ia dapatkan saat ini. Selain email dari Adam yang tidak bisa membuatnya percaya. Tetapi apa yang ia dapatkan saat ini jauh lebih tidak percaya baginya. Ia terasa sakit di bagian perutnya, akan tetapi, baginya ini terasa seperti hal yang tidak bisa ia percayai dan itu jauh lebih menyakitkan.

__ADS_1


Rendi melihat ke arah Ken yang menatap ke depan dengan datarnya. Ken kini berbalik menatap Rendi yang menatapnya tidak percaya akan hal yang terjadi. Ia mencoba lebih tenang. Akan tetapi Ken bergerak lebih cepat darinya, hingga sebuah tusukan sudah mendarat di perutnya. Rendi tetap tenang walau hatinya terasa bergejolak karena email yang ia terima jauh lebih menyakitkan, di banding tusukan pisau yang ia terima saat ini dari orang yang ada di sampingnya. Orang kepercayaannya yang selama ini selalu berada di sampingnya. Rendi bahkan mencoba untuk tidak bergerak melawan Ken yang menatapnya dengan tatapan penuh kebencian padanya.


Ken menatap dengan tatapan datarnya melihat Rendi yang masih menatapnya dengan sedikit meneteskan air mata. Rendi mencoba untuk berteriak tapi kedua anak buah yang berada di depan ternyata mereka tidak menghiraukannya. Rendi sudah menduga hal ini akan terjadi, tapi ia tidak menyangkanya jika itu akan menjadi secepat ini dan sangat buruk dan menyakitkan baginya.


Ken membuka pintu Jet dengan paksa. Ia mencoba untuk mendorong tubuh Rendi yang masih menatapnya dalam pandangan kosongnya. Ken bahkan tidak memberi ampunan. Tusukan yang ia berikan berulang kali pada Rendi. Ia menendang tubuh Rendi hingga terjatuh dari pesawat. Rendi bahkan tidak melakukan sebuah perlawanan pada Ken yang mulai tersenyum tipis membiarkan Rendi terluka dan terjatuh dari pesawatnya. Kedua penjaga yang melihat hal itu mereka terkejut dan mencoba mengacaukan rencana Ken. Hingga pesawat yang mereka tumpangi tidak stabil.


Ken mengerutkan dahinya ketika mendapatkan pengkhianatan dari anak buahnya. Yang malah membuat pesawatnya menjadi tidak stabil. Ken memilih untuk membunuh mereka berdua. Kini Ken sedang memasang alat darurat untuk turun dari pesawat yang akan meledak karena di kacaukan oleh anak buahnya sendiri. Ia melompat dari pesawat dengan tubuh yang sudah terpasang sebuah parasut di tubuhnya. Ia melayang di atas dengan peswat yang kini sudah meledak dan hancur.


Di Kediaman Rendi Anggara.


Adam terbangun dari tidurnya yang bersandar pada kursi di depan komputernya. Ia terkejut saat mendapati alarm di handphonenya bahwa tuannya sedang dalam bahaya. Ia terbangun dan memeriksa kamera pengawas di dalam pesawat tapi tidak ada hal apapun yang ia dapatkan. Sinyal di handphone Rendipun sudah tidak bisa ia lacak. Alarm ini menunjukan sesuatu terjadi pada tuannya. Ia berdiri dan mencoba mencari sesuatu di komputernya yang bisa ia dapatkan dari satelit dunia yang bisa menangkap sebuah peristiwa. Tapi apa yang Adam dapatkan adalah sebuah pesawat Jet meledak di ketinggian laut sekitar 35000 kaki di udara.


Adam melacak pesawat tersebut dan ternyata benar. Jika itu adalah pesawat Jet milik Mark yang di gunakan tuannya untuk pergi ke kota c. Adam mulai panik dalam hal ini. Ia bahkan tidak mendapatkan sinyal handphone dari tuannya. Ia berjalan keluar dari kamarnya dan menuju ruangan Mark yang kamarnya tidak terlalu jauh dari ruangnnya. Adam kini berdiri di depan pintu kamar Mark dan menggedornya dengan keras hingga membuat Mark yang sedang tertidur bangun dengan wajah sedikit kesalnya.


Mark membuka pedal pintunya dan melihat Adam yang sedang menatap cemas dan panik lain dari biasanya. Mark mengerutkan dahinya dan membiarkan Adam masuk ke dalam kamarnya. Adam bolak balik dengan pandangan khawatirnya pada tuannya.


Adam berhenti dan menarik nafas dalam-dalam dan membuangnya menatap Mark yang kini sudah berada di hadapannya.


"Tuanku sedang dalam bahaya, kau lihat video ini, aku mendapatkanya dari pencarianku," jelas Adam masih dengan rasa kekhawatiranya.


"Apaa ? Siala*n ! Aku sudah menduganya. Dirga tidak akan membiarkan Rendi lolos semudah itu," seru Mark dengan wajah geramnya.


"Sudah aku coba lacak di handphone tuan tapi tidak ada hal yang bisa aku dapatkan dari pencarianku," ucap Adam.


"Aku akan mencoba mengerahkan semua anak buahku untuk mencari di seluruh wilayah, apa kau tau titik pasti pesawat itu meledak?" tanya Mark dengan pandangan seriusnya.


"Hanya 35000 kaki dari kota c, kemungkinan masih di wilayah sana," jawab Adam.

__ADS_1


"Baiklah, cepat kita kerahkan semuanya untuk memcarinya, aku akan menghubungi anak buahku, kau bangunkan Iyas juga Nesa, aku ingin semua berjalan secepat mungkin dan dapat menemukan Rendi secepatnya," tegas Mark mulai membuka handphonenya dan memanggil anak buahnya untuk mencari tuannya yang hilang tanpa jejak dan hanya pesawat yang meledak bukan berarti penghuninya juga ikut meledak dari pesawat itu. Mengingat Rendi dan Ken pintar. Mereka tidak akan mungkin berdiam saja. Apalagi Ken yang selalu setia menjaga keselamatan Rendi dari hal apapaun.


Mark kini sudah berdiri di ruang kerja Rendi yang kini ada Iyas, Adam dan Nesa juga yang sudah mulai tampak ingin membunuh seseorang yang membuat hal ini terjadi.


"Kalian kerahkan semua anak buah kalian, jangan sampai ada yang lengah dalam hal mencari tuanku, kau ? Jaga nyonya dan anak-anaknya ! Mereka jauh lebih penting dari Rendi," tegas Mark.


"Tuan Rendi juga penting Mark!" seru Nesa kesal dengan ucapan Mark.


"Tapi Rendi sekalipun lebih mementingkan mereka, apa kau akan mengabaikannya?" jawab Mark dingin.


Nesa tertegun mendengar telak balasan Mark akan ucapannya yang membenarkan segala ucapan Mark. Bahwa Rendi selalu mementingakan istri dan anak-anaknya.


Kini semua anak buah Mark, Iyas juga Adam. Mereka berkumpul di luar kompleks Rendi Anggara. Mark memimpin pembicaraan dan menjelaskan apa saja yang harus di lakukan saat ini.


Saat semua sudah pergi dengan tugas mereka masing-masing. Nesa berdiri di depan rumah utama dengan tatapan geram. Ia kesal saat mendengar ada persekongkolan dalam kejadian ini tapi mereka belum tahu siapa dalang di balik semua ini.


Lain dengan Adam. Ia masih dengan tatapan ke depannya di balik kemudi dengan kecepatan tingginya. Dalam perjalanan, ia masih dengan fokus mengemudi tapi ia teringat akan sesuatu. Pesan yang sering Rendi lontarkan padanya dan membuatnya menghentikan mobilnya dengan suara rem yang membuat siapapun yang mendengarnya akan memilih untuk menutup telinganya yang sakit mendengarnya. Ia melihat seseorang yang tak asing berdiri di balik tiang dan saat ia memperjelas pandangannya. Orang itu menghilang begitu saja.


"Sial ! Aku harus kembali lagi ke rumah utama!" seru Adam. Ia memutar balik kendaraannya dengan kecepatan tinggi.


Adam sudah berada jauh dari kediaman Rendi untuk menuju kota c. Hingga butuh waktu sekitar 30 menit untuknya berbalik dan menuju kediaman rumah Rendi Anggara kembali.


Setelah sampai di kediaman Rendi Anggara. Suasana di kediaman rumah utama sangat hening, lain dari sebelumnya. Adam berjalan perlahan dan sebuah tembakan membuatnya terkejut dan menunduk. Ia membalas tembakan pada mereka yang meluncurkan tembakan berulang kali padanya. Satu tembakan mendarat di bahu kanannya. Adam bersembunyi di balik dinding yang sempat ia gunakan untuk mencium Nesa waktu itu. Ia tidak menyangka jika pertahanan di rumah Rendi Anggara akan semudah itu di masuki oleh para musuh. Padahal semua sudah dengan teliti ia periksa dengan keamanan yang ketat. Tapi akhirnya bobol juga.


"Ini pasti ada sebuah konspirasi dari orang dalam, aku pikir si dingin itu tidak akan melakukannya, aku harap tuan selamat," gumam Adam memegang bahunya yang tertembak.


Ia mencoba untuk mengikat luka tembakan di bahunya. Dengan darah bercucuran di lengannya. Ia berdiri dan menembak semua yang berada di hadapannya, tapi semakin banyak yang melawan hingga membuat Adam memilih untuk lari dari rumah utama secepat mungkin menelusuri jalanan hingga sebuah tangan menariknya dan membuatnya tersungkur membuatnya meringis dan sebuah tangan mendekap mulutnya dengan kencang.

__ADS_1


__ADS_2