Istri Kedua Tercinta

Istri Kedua Tercinta
Kecemasan


__ADS_3

Di pinggir jalan.


Ada sebuah mobil terparkir yang berjarak tidak jauh dari kediaman rumah Anggara.


Adam di balik kursi pengemudi ia melakukan telepon pada seseorang, ada seutas senyum di wajahnya.


Rara yang memperhatikan setiap ekspresi pria yang ada di balik kemudi tepatnya di hadapannya. Ia mengernyitkan dahinya dan mulai bertanya padanya.


"Kamu siapa? Kenapa kamu bawa aku?" Tanya Rara.


Adam tidak menghiraukan pertanyaan Rara,ia mengemudikan kembali kendaraannya dan tidak menoleh sekalipun pada Rara.


Ada pesan dari peneleponya tadi bahwa ia dilarang melihat wajah istrinya jika itu di lakukan maka untuk selamanya Adam tidak akan pernah bisa masuk di dalam lingkup tuannya.


Rara mencoba membenarkan posisi duduknya di kursi penumpang dan duduk dengan benar. Ia melihat jalanan yang sama sekali tidak ia kenali. Walau sebenarnya ini jalanan menuju arah ke rumahnya sekalipun karena Rara untuk kali ini memperhatikan jalanan.


"Ini mau kemana sih,aku bahkan tidak tahu ini mau kemana,hmmm setidaknya aku lepas dari lelaki itu , gila apa aku mau di jadikannya istri keduanya,untung Rendi dulu juga langsung ceraikan istri pertamanya dan aku tetap jadi istri satu-satunya saja,aku kaya gini di culik terus apalagi jadi istrinya ," gerutu batin Rara.


Sementara Rara masih dalam perjalanan bersama Adam yang membisu,bahkan ia tidak berani walau hanya untuk menyapanya saja.


Rendi dan teman- temannya beserta anak buahnya memporak porandakan markas Jason untuk saat ini.Setelah semua hancur lebur olehnya. Rendi merogoh handponenya yang berbunyi.


Ia mengangkat telponnya.Ia mendengarkan dan tidak berbicara panjang.


"Hmm,jangan pernah mencoba melirik istriku jika tidak kau akan tahu akibatnya an jangan harap kamu masih bisa berkeliaran," tegas Rendi.


Ia menutup sambungan telponnya dan bergerak menghampiri kendaraannya. Dengan wajah murkanya Rendi menuju satu nama yaitu Jason,ia tampak kesal saat Rendi mendengar bahwa Jason akan membuat Rara menjadikannya istri keduanya. Ia semakin geram dan membanting pintu mobil dengan keras.


"Cepat jalan," teriak Rendi.


Mark,Iyas dan Ken melihat dengan penuh pertanyaan pada tuannya itu. Perubahan ekspresi Rendi kini menjadi kecemasan. Ia takut akan kehilangan istri tercintanya,apalagi saat mendengar Jason akan mengambilnya dan menjadikannya istri kedua. Ia membabi buta saat berada di markas Jason,semua ia porak porandakan. Anak buah Jason yang berjaga disana ia tangkap dan di sekap di markasnya.


Kini Rendi menuju rumah utama dimana Adam sudah membawa Rara kembali.


Dengan tatapan membunuhnya Rendi menatap tanpa arah di kursi penumpang.Ken yang memperhatikan tuannya,ia menduga-duga tentang siapa yang menelponnya tadi.


"Tuan,apa seseorang menelpon Anda Tuan?" Tanya Ken memberanikan firi.


"Hmmm," jawab Rendi.


"Untuk saat ini kita akan kemana tuan?" Tanya Ken.


"Pulang," jawab Ken.


Ken terdiam dalam kebingungannya sendiri,ia melihat murkanya tuannya tdi tapi untuk saat ini Dia bahkan meminta pulang.


"Apa tuan sudah tidak mengkhawatirkan nona muda lagi? kenapa sekarang malah pulang,bukannya langsung menyerang rumah besar Jason,apa aku suruh anak buahku saja untuk menyerang?" Batin Ken.


"Tidak perlu ... kita pulang saja sudah ada seseorang menungguku di rumah dia jauh lebih penting dari Jason," tegas Rendi datar.


"Tuan bahkan tahu isi pikiranku, apa terlihat jelas dari wajahku?" Batin Ken.


"Jangan terlalu banyak berpikir tetap fokus mengemudi,aku perlu secepatnya sampai di rumah," tegas Rendi.


Ken mengangguk,ia mempercepat kecepatan kemudinya dengan kecepatan tinggi agar cepat sampai di rumah besar yang tuannya inginkan.


Kendaraan beruntun sekitar lima mobil mengawal kendaraan Rendi. Termasuk Mark yang berada di kendaraan yang kedua bersama Iyas di samping kemudi.


Iyas tampak mengernyitkan alisnya saat mengetahui jalur yang Ken lewati yang bukan menuju mansion Jason.


Ia menoleh ke arah Mark yang masih denngan diamnya tanpa pembahasan dari tadi.

__ADS_1


"Sebenarnya Ken mau kemana? Apa dia tidak merasakan tadi tuannya itu sangat murka?" Ucap Iyas.


Mark tidak menjawabnya,ia fokus mengemudi tidak ada perubahan ekspresi darinya.


Iyas kesal dan jengkel saat di dadanya sedang membara ingin menuntaskan perkelahiannnya yang sudah lama tidak ia lakukan. Untuk saat ini ia bersemangat untuk berkelahi apalagi alasannya sangat jelas bahwa nyonya besar di culik oleh Jason.


Iyas tampak tidak pernah suka pada Jason , jika sekali mengingat wajahnya yang membuatnya ingin membunuhnya. Sekaligus setelah apa yang ia lakukan pada keluarganya yang bekerja sama menghancurkan keluarganya bersama pamannya, yang semasa kecil mengasuhnya berbalik berkhianat hanya karena seorang Jason yang licik akan setiap perusahaan.


"Aku ingin sekali membunuhnya untuk saat ini juga,kenapa Rendi malah memilih jalan pulang?" Gerutu Iyas.


Mark masih dengan tatapan datarnya ia mengemudi tanpa menghiraukan ucapan Iyas yang dari tadi tidak hentinya bertanya dan mendecak kesal. Mark jauh lebih tahu apa yang ingin di lakukan Iyas untuk saat ini.


"Aku akan pergi kesana sendirian aku tidak mau terjadi sesuatu pada kakak ipar aku akan pergi berhentikan kendaraannya Mark aku akan pergi jika Rendi tidak mau untuk bergerak sekarang," teriak Iyas dengan kesalnya ia memasang wajah merah murka.


Mark menghentikan kemudinya sampai terdorong maju kedepan mobil begitupun dengan Iyas yang terkejut saat kendaraannya berhenti mendadak. Mark menoleh ke arah Iyas yang mencoba mrmbuka pedal pintu dan Mark menariknya untuk masuk ke dalam mobil kembali.


"Apa kau gila hah? Sebaiknya kau urungkan niatmu itu jika kau tidak mau mati sia-sia," bentak Mark.


Dengan tatapan kesalnya Iyas menatap Mark yang kini juga kesal dengan kelakuan sahabatnya itu.


"Aku akan menyelamatkan kakak ipar,jika Rendi masih mengulur waktu seperti ini," teriak Iyas.


"Apa kau bodoh? Rendi jauh lebih tahu apa yang harus ia lakukan untuk istri yang ia cintai kenapa kau mau bertindak bodoh bahkan tanpa aba-aba dari tuanmu sendiri,kau pikir aku tidak tahu kau bukan karena kakak ipar tapi karena dendam pribadimu itu yang belum sempat kau balaskan," teriak Mark.


"Tapi aku mengkhawatirkan kakak ipar aku tidak mu hal untuk yang kedua kalinya terulang kembali dan aku tidak mau melihat sahabatku Rendi bersedih untuk yang kedua kalinyakarena kehilangan orang yang ia cintai kembali," lirih Iyas.


"Diam!kau pikir aku akan membiarkannya ... kau pikir Ken akan berdiam saja membiarkan itu semua..kau pikir Rendi akan tinggal diam saat mengingat istrinya tidak berada di sisinya ... sebaiknya kau turuti Tuanmu atau kau akan menyesal nantinya duduk dan diam ," tegas Mark.


Ken melihat dari kaca spion bahwa kendaraan Mark dan Iyas berhenti tertinggal jauh darinya.


Ia mengerutkan dahinya saat melihat hal yang seperti biasa ia lihat.


"Sepertinya Iyas semakin murka Tuan," ucap Ken.


Hatinya sudah tidak sabar ingin segera sampai di rumahnya,ia merindukan istrinya dan ingin memeluknya,Rendi bahakn saking tidak sabarnya ia memegang erat tangan yang menempel di kakinya dengan menopang kaki sebelahnya. Ia membayangkan senyuman istrinya,tawanya bahkan setiap ucapannya yang selalu membuatnya rindu dan tidak mau berada jauh berlama-lama dari istrinya itu.


Ken yang memperhatikan sikap tuannya yang tidak sabar,ia menambah ketinggian kemudinya untuk segera sampai di rumah.


"Mungkin Tuan jauh lebih tahu apa yang harus ia lakukan ,karena hanya dia yang tahu akan yang terbaik banginya dan juga orang-orang sekitarnya," batin Ken.


Saat Kendaraan berjalan kembali begitu juga Mark dan Iyas masih mengikutinya. Kini semua kendaraan Rendi memasuki area komplek milik Rendi saat masih dalam tengah perjalanan,Rendi melihat sebuah mobil hitam sudah terparkir yang berjarak tidak jauh dari rumahnya. Ia membulatkan kedua matanya.


"Berhenti Ken," teriak Rendi antusias.


Ken menghentikan mendadak membuatnya memaju kedepan dengan benturan ringan. Rendi tak menghiraukannya,ia bergegas keluar dan mengitari mobilnya. Ia berjalan menghampiri kendaraan yang terparkir di depannya.


Rendi membuka pedal pintu bagian belakang mobil tersebut ia menunduk dan melihat istrinya yang sedang menggesek tangannya. Rendi terkejut kesal juga bahagia di saat melihat istrinya.


Rendi tersenyum dan memeluk istrinya.


"Sayang,kamu baik- baik saja?" Tanya Rendi.


Ia menarik istrinya membuka tali pengikat tangan dan kakinya dan juga memeluk erat istrinya di dalam mobil. Rendi menutup matanya dan memeluk erat istrinya. Rara mempererat pelukannya dan menangis di dalam pelukan suamjnya.


"Sayang,aku takut aku tidak mau jadi istrinya dia mengerikan aku takut," tangis Rara.


"Hmmm kamu aman sekarang sayang,maaf ya aku lengah dan tidak tahu kalau aku bisa selengah itu," ucap Rendi tersenyum.


Adam di balik kemudi hanya tersenyum mendengar percakapan tuan dan istrinya itu.


Ia sangat penasaran dengan wajah tuan barunya itu, tapi ia sudah senang saat mendengar langsung suara tuannya dengan jelas.

__ADS_1


Rendi yang melihat Adam ia mengernyitkan alisnya ia menduga-duga tentang betapa wajah Adam sangat tampan. Ia tidak mau berlama-lama di dalam mobil jika nanti Adam melihat istrinya dan nanti menyukainya.


"Kau bahkan membiarkan istriku terikat hah? Dan tidak melepasnya," teriak Rendi pada Adam yang sedang asik dengan pikirannya sendiri.


Adam terkejut saat mendengar teriakan Rendi dan menegurnya. Ia membuyarkan setiap pikiran tentang tuan barunya yang manis dan kini hilang sudah setelah mendengar teriakan menggema seram dari tuannya ia terdiam dan mencoba menjawabnya.


"Maaf Tuan,bukankah Tuan melarang saya melihat istri Tuan,makanya saya tidak berani melakukannya," jawab Adam.


"Bodoh,kau membiarkan tangan halus istriku membekas dengan ikatan kencang begini,kau akan masuk setelah satu jam diam disini setelah itu kau baru boleh masuk," tegas Rendi.


Adam mengangguk dan melihat Rendi pergi keluar dengan menggendong istrinya yang kepalanya menyusup di dada Rendi.


Saat melihatnya Adam tampak senang melihatnya tentang tuannya yang menemuinya dan juga suaranya yang ia sukai. Ia mengagumi sosok Anggara yang sudah menolong ia dan keluarganya. Sejak saat itu ia sudah berjanji untuk sumpah setia pada tuan Anggara yang bahkan tidak pernah ia membayangkan akan bersi tatap dengannya.


Mark,Iyas dan Ken melihat Rendi yang masuk ke dalam mobil itu dan menggendong seorang wanita yang mereka kenali yaitu istrinya yang sudah ada yang menyelamatkannya.


Ada siratan senyum tipis di wajah mereka dan hati yang bahagia. Tapi mereka mulai penasaran dengan siapa ia yang sudah menolong Rara.


Mereka berjalan menghampiri Adam yang masih di dalam mobilnya bahkan tidak ada tanda-tanda ia akan keluar.


Saat Adam menoleh ke arah jendela kaca mobilnya sudah ada tiga orang yang menghampirinya dengan penuh tanda tanya.


Saat Adam mencoba melihat ke arah mereka ada suara yang menggema di jarak yang tidak jauh dari keberadan mereka.


"Jangan sentuh dia, biar dia di sana," tegas Rendi.


Ia berhenti berbicara dan berjalan kembali.


Mark,Iyas dan Ken mengangguk dan menatap lekat kembali tentang Adam yang ada di hadapan mereka lagi.


Ada banyak pertanyaan dari benak mereka terutama Iyas yang sangat penasaran tentangnya.


Ken tampak terdiam datar tidak menghiraukannya,ia berjalan memasuki rumah utama dan duduk bersama Mark dan Iyas meninggalkan Adam yang masih di dalam mobolnya. Mereka duduk bersender di ruang tengah dengan hati yang mulai tenang setelah kejadian yang baru saja mereka lewati.


Dilla yang baru datang memasuki rumah utama,ia melihat suaminya yang baru saja datang dan duduk di ruang tamu. Ia mempercepat jalannya dan menghampiri suaminya. Ia bahkan duduk di pangkuan suaminya tanpa menghiraukan orang lain. Ken yang mendapati istrinya yang ada di pangkuannya ia membulatkan kedua matanya dan merangkul istrinya agar tidak terjatuh.


"Ken,kamu sudah kembali mana Rara dan juga tuanmu bagaimana keadaannya,dan juga kamu tidak apa-apakan,mana ada yang luka tidak? Biar aku oleskan obat untukmu,aku sangat senang saat kau sudah pulang," ucapan Dilla tidak ada hentinya.


Ken hanya tersenyum dan merangkul pinggang istrinya dan mendengarkan setiap celotehan istrinya yang begitu banyak pertanyaan. Ken hanya tersenyum tipis melihat ke arah wajah istrinya yang tidak berhenti berbicara Dilla merengkuh pundak suaminya dan berbicara panjang lebar.


Mark dan Iyas hanya menganga saat melihat adegan suami istri yang mesra, juga mendengarkan setiap pertanyaan yang istri Ken lontarkan pada suaminya.


Dan yang lebih mengejutkan Ken hanya tersenyum tipis dan malah menikmati moment dimana istrinya yang berbicara panjang lebar tanpa jeda. Mark dan Iyas saling menoleh satu sama lain tidak mempercayai tentang temannya Ken yang dengan sabar menghadapi istrinya yang begitu banyak pertanyaan padanya.


"Apa dia sudah gila, Mark?" Bisik Iyas.


"Dia gila karena cinta,kalo kamu gila beneran," cetus Mark.


"Hei, kau kenapa seperti itu," bentak Iyas.


Ken dan Dilla bahkan tidak menghiraukan apa yang di lakukan Mark dan Iyas yang mereka belakangi.


Dilla masih dengan seribu pertanyaannya pada suaminya itu. Yang kenyataannya Dilla sangat cemas pada suaminya itu yang pergi menyerang markas yang katanya orang terkejam di kota itu


Dilla bahkan membayangkan jika terjadi sesuatu pada suaminya dan apa yang akan terjadi padanya dalam keadaan dirinya yang sedang hamil.Ia kesal dan rindu pada suaminya. Ia menatap lekat wajah suaminya dan tersenyum. Ia bahkan mencium bibir suaminya dengan lekat mendalami ciumannya suaminya yang ia rindukan dan sempat cemas padanya mengobati kecemasannya seharian ini.


Mark dan Iyas memalingkan pandangannya saat melihat hal tersebut.


Ken tersenyum ia melepas ciuman istrinya.


"Kita lakukan nanti di rumah, saat ini masih ada banyak yang harus di selesaikan," ucap Ken mengecup bibir istrinya.

__ADS_1


Dilla mengangguk dan tersenyum mengingat kecerobohannya yang mencium suaminya di depan semua orang. Walau hanya ada du pelayan dan juga kedua teman Ken yang kini sedang memalingkan wajahnya.


__ADS_2