Istri Kedua Tercinta

Istri Kedua Tercinta
Selanjutnya


__ADS_3

Mengingat semua yang di lakukan Adam padanya Nesa berendam tubuhnya di dalam bathroom hingga ia tertidur dalam tubuhnya yang lelah karena bekerja seharian kesana kemari. Nesa bahkan tidak sadar jika dirinya masih di dalam bathroom dalam tidurnya.


Adam berdiri lama di dalam kamar Nesa setelah memperhatikan setiap ruangan yang tertatat rapih di ruangannya. Ia tersenyum tanpa henti ketika melihat photo gadis itu lagi yang tersenyum manis di dalam potonya.


Adam mengerutkan dahinya ketika tidak mendapati Nesa yang keluar dari kamar mandinya. Ia menghampiri pintu kamar mandi dan mencoba mengetuk pintu kamar mandinya. Tapi tidak ada jawaban dari dalam setelah satu jam Nesa memasuki kamar mandi. Adam tampak khawatir akan gadis itu. Ia mengetuk berulang kali dan akhirnya ia mendobrak pintunya hingga Nesa terkejut dan terbangun dari tidurnya.


Nesa tidak menyadari apa yang ia lakukan saat ini. Ia berdiri tanpa helaian benang di tubuhnya. Ia bahkan berdiri di hadapan Adam yang kini sudha berbalik.


Adam terkejut ketika melihat tubuh seorang gadis yang berdiri di hadapannya dan berbalik secara spontan.


Nesa mengerutkan alisnya dan melihat ke tubuhnya. Ia menutupnya dengan kedua tangannya dan mulai berteriak.


"Aaaaaah ... kau Adam sialan pria idiot, pria bodoh! Kau berani masuk bahkan mendobrak pintu kamar mandiku untuk apa au masuk hah? teriak Nesa kembali duduk dan sembunyi di balik bathroomnya.


"ssssth kamu ini berteriak seperti mau di perkosa saja, aku tidak selera melihat yang bulat rata itu, memang sih terlihat cantik apalagi kulitnya semulus itu juga tubuh yang ramping aku suka," goda Adam.


"Adaaaam !" teriak Nesa semakin kesal mendengarkan penuturan Adam yang kini sudah berjalan menjauh.


"Cepat kau pakai handukmu aku kira kau mati tenggelam di bak mandi," ucap Adam.


Nesa membulatkan kedua matanya dengan kesalnya pada ucapan Adam yang membuatnya kesal.


"Awas kau Adam sialan akan aku buat kau mati," gerutu Nesa mengenakan handuk bajunya dan bergegas keluar menghampiri Adam yang berdiri di dekat ranjang mengambil handpohnenya.


Nesa berjalan dan menghampiri Adam yang sedang mengambil handphonenya. Tapi Nesa malah menubruknya hingga di terjatuh di atas ranjang bersamaan dengan Adam yang menahannya.


Adam terdiam dengan lamunannnya, Ia bahkan sangat menikmati moment saaat ini.


"Kau mau sampai kapan seperti ini? Tidak sabarkah kau pada tubuhku?" goda Adam.


"Kau ...."


Nesa terhenti dari protesnya saat mendengar dering handphonenya. Nesa bangun dari tubuh Adam dan mengambil handphonenya.


Ia melihat pesan yang di kirim oleh nona mudanya. Ia bergegas ke ruang gantinya dan meningggalkan Adam yang sedang terdiam dari duduknya melihat Nesa yang seserius itu.


"Ada apa? Apa tuan membutuhkanmu?" tanya Adam menghampiri Nesa yang kini sudah mengenakan pakaiannya.


"Aku harus membuat bubur, kau ambil obat yang ada di dalam mobil biar nanti aku taburkan di atasnya," jawab Nesa dan pergi meninggalkan Adam di dalam kamarnya yang masih terdiam.


"Kau sangat betah di kamarku akbilah, nanti aku akan mencari kamar lain untukku," cetus Nesa yang sebenarnya jantungnya dari tadi tidak berhenti berdetak dengan kencang di dekat Adam.


Adam mengikuti Nesa dari belakangnya dan berpisah di tengah jalan. Nesa memasuki dapur dan Adam pergi ke luar untuk mengambil obat yang dari rumah sakit untuk Rendi yang Rara simpan di dalam mobil.

__ADS_1


Nesa membuat bubur sendiri dengan cekatan. Ia bahkan tidak menyadari jika ada Adam yang mendekatinya dan kini sudah berada di belakangnya. Nesa larut dalam pikirannya ketika mengingat bahwa Adam tampak selalu kurang ajar padanya.


"Dasar pri bodoh dan idiot ! Kenapa dia berani sekali memperlakukanku seperti itu? Dia pikir dia tampan, dia hanya sedikit keren saja," gerutu Nesa dengan kesal.


Adam tersenyum tipis saat mendapati Nesa yang merutukinya. Adam mencoba menggodanya saat mendekati di belakang Nesa. Tapi Adam terdiam saat menghirup wangi segar di balik keher Nesa.


"Harum ... kenapa wanita ini menyegarkan wanginya," batin Adam.


Adam tidak menyadari jika tangannya kini sudah berada di pinggang Nesa. Hingga membuat Nesa terkejut dan berbalik memukul Adam yang mengagetkannya hingga Adam terpental ke lantai hingga terjatuh dan tangannya terkena kaki meja yang ada di belakangnya.


Adam meringis saat mendapati tubuhnya terpental jauh oleh Nesa.


Nesa terkejut dan menghampiri Adam yang terjatuh.


"Kau tidak apa-apa? Kau terlalu nakal juga mengagetkanku, sini aku obati," ucap Nesa dengan khawatirnya ia meniup lengan Adam yang terkena kaki meja tadi.


Adam tersenyum ketika mendapati Nesa yang panik karenanya. Ia tidak merasa sakit. Tapi demi mendapat perhatian Nesa yang saat ini. Ia berpura-pura terluka dan merasakan sakitnya. Hingg kini tangannya Nesa olesi oleh obat dengan perlahan. Adam tersenyum dalam diamnya memandangi gadis itu.


"Kau ini terlalu gila, sudah ku bilang jangan selalu membuatku terkejut tahu sendirikan aku bisa berkelahi nanti kamu akan lebih dari ini," gerutu Nesa bangun dari duduknya setelah mengobati Adam.


"Apa boleh aku meminta ijin dulu jika mau menciummu?" tanya Adam.


"Kau ... " Nesa terdiam dan memelototi Adam yang duduk dengan senyum menggodanya.


Di pagi hari.


Rendi terbangun dari tidurnya dengan tubuh yang segar di pagi hari. Kini ia sudah tidak demam lagi dan melihat ke arah istrinya yang memeluknya. Ia tersrnyum karena istrinya yang terlihat cantik ketika dalam tidurnya yang manis.


Rendi menusuk-nusuk pipi istrinya yang tertidur kelelahan karena semalaman tisdrak tidur menjaganya.


"Sayang, tidak sembahyangkah? Ini sudah hampir piagi loh, atau kamu mau melanjutkan tugas yang kamu lewatkan tadi malam?" bisik Rendi membuat Rara terbangun karena Rendi yang malah memintanya melayaninya.


"Apa sih Sayang? Kamu ini sudah sembuh? coba aku cek dulu," tangan Rara menempelkannya di dahi suaminya.


"Hmmm Alhamdulillaah... kamu sudah sembuh Sayang, kamu diam dulu disini ya istirahat, aku mandi dulu dan sembahyang, ingat! Jangan kemana-mana," tegas Rara turun dari ranjangnya dan meninggalkan suaminya memasuki ke kamar mandi.


Rendi terdiam dalam senyumnya. Ia ingin menggoda istrinya. Tapi mengingat waktu subuh sudah hampir habis. Ia mengurungkan niatnya dan membiarkan istrinya untuk melakukan aktivitasnya sendiri. Rendi menfambil handphonenya dan melakukan panggilan pada Adam yang masih tertidur.


"Kau pergi ke perusahaan dan jangan biarkan ada yang terlewatkan," tegas Rendi dan menutup teleponnya. Ia mengingat perusahaan ayahnya yang masih belum stabil karena seseorang yang selalu mengacaukan setiap gerakan dari perusahaan ayahnya itu.


Rara kini sudah keluar dari ruang gantinya dan sudah melakukan sembahyangnya. Ia melihat suaminya yang sudah berdiri di depan jendela dengan kedua tangnnya di dalam saku celananya. Rara tersenyum dan menghampirinya. Ia bahkan memeluk suaminya dari belakang dengan kepala yang ia susupi ke dalam punggung suaminya.


"Sayang, kamu masih belum sehat kenapa kamu malah berdiri disini, ayo berbaring nanti aku buatkan bubur untukmu," ucap Rara.

__ADS_1


"Kalau aku maunya memakanmu bagaimana?" goda Rendi.


"Hmm ... kamu itu baru sembuh, jadi nanti saja ya," ucap Rara yang merangkul leher suaminya yang berbalik merangkul pinggang Rara.


"Tapi aku kaunya sekarang, aku butuh sesuatu untuk menyembuhkanku," ucap Rendi meniumi leher istrinya.


"Hmmm nanti saja, kau harus makan dan butuh tenaga untuk melakukannya, jangan membantah! ayo kita makan ya ," ucap Rara mendorong tubuh suaminya dan berbalik mencoba meninggalkannya.


Tapi tangan Rendi menariknya dan membuatnya memeluk Rara dari arah belakang. Kini Rendi menyusup di leher jenjang istrinya dengan segarnya sesudah mandi piagi istrinya.


"Apa kau meragukan kemampuanku? Aku tidak perlu makan jika hanya untuk melakukannya Sayang, ayo aku ingin sesuatu yang hangat di pagi hari," bisik Rendi ;enciumi leher jenjang istrinya dengan lembut. Ia merasakan dan mencium wangi dan lembutnya kulit istrinya yang memabukannya.


Rara mendesah saat tangan suaminya kini naik kebagian dadanya yang menjulang menunjukan kepemilikannya.


"Sayang, apa kamu tahu aku tidak akan menolaknya jika kamu sudah sembuh benar dan tidak merasakan panasnya tubuhmu ini, aku mohon kita makan dulu ya, nanti kita lanjutkan jika kamu sudah benar-benar sembuh," ucap Rara membalikan tubuhnya menghadap Rendi yang kini menghentikan aktivitasnya.


Rendi mengangguk, ia bergegas berjalan ke kamar mandinya dan melakukan aktivitas mandi setelah air hangat yang di sediakan oleh istrinya. Rara tersenyum penuh kemenangan saat mendapati suaminya yang mendengar ucapannya. Walau ia harus tetap melakukannya nanti. Setidaknya suaminya kini bisa makan dan bertenaga lagi.


Rara menunggu suaminya yang kini sudah siap dengan pakaian santainya. pakaian yang hanya di gunakan di rumah saja. Rendi tersenyum melihat istrinya yang kini tersenyum memandanginya.


"Apakah aku setampan itu Sayang? Mari kita makan aku sudah tidak sabar setelah ini memakanmu," ucap Rendi menuntut tangan istrinya dengan wajah berseri.


Seharian ini Rendi istirahat di rumah bersama istri dan anak-anaknya. Ia bahkan berjalan di taman belakang bersama. Mengingat Ken dan Dilla belum di ijinkan untuk pulang kembali. Mereka akan menjenguknya nanti malam saja jika Rendi sudah sembut total.


Hai kakak apa kabar? Tinggalkan jejak


Like, bintang 5 dan vote ya kak. Karena bisa mendukung kelanjutan novel ini.


Masih banyak kelanjutannya Dan nanti akan ada musim kedua tentang Rayn yang memiliki pengawal wanita semua. Tapi itu masih lamaaaaaa.


Terimakasih ya kak sudah selalu mendukung karya saya kelanjutannya akan secepatnya. Untuk sekarang hanya ini yang bisa saya suguhkan karena ada tugas sdri dunia nyata yang memungkinkan saya up satu maaf ya.


Jika semua sudah beres akan saya usahakan up yang banyak untuk memuaskan readers Terimakasih kakak.


Author disini mau merecomendasikan


karya novel sebelah yang berjudul


"My Fate is You"


Karya author Aliceline.


Jika berkenan mampir ya di karyanya.

__ADS_1


__ADS_2