
Rara berjalan menelusuri taman kota. Hari ini ia sedang ingin menikmati masa hamil yang ke sembilan bulan. Rara yang di temani Dilla berjalan -jalan kini sedang duduk di bangku taman disana ada banyak orang yang berlalu lalang menikmati suasana taman.
"Apa suamimu itu tertidur di kantornya jalan sore saja ia tidak bisa," cetus Dilla.
"Kamu sedang kesal pada suamiku atau kekasihmu," ucap Rara.
"Heehe, mana berani aku marah sama suamimu Sayang," ucap Dilla cengengesan.
"Kenapa tidak menikah saja," ucap Rara.
"Aku tidak tahu katanya masih ada banyak tugas yang belum ia selesaikan terus," jawab Dilla.
"Menikah sambil bertugas kan bisa," ucap Rara.
"Oh iya yah, kenapa aku gak kepikiran kesitu," ucap Dilla sumringah.
"Huh dasar gilla yang bodoh!" Ucap Rara.
"Aku gak gilla sayang hanya sedang bodoh saja," tangkis Dilla.
Rara dan Dilla sedang menikmati camilan yang mereka beli tadi dari supermarket.
"Apa ibu mertuamu baik?" Tanya Dilla.
"Tentu saja," jawab Rara.
"Apa dia menyayangimu?" Tanya Dilla.
"Hmmm," jawab Rara.
"Apa dia akan menjadikanmu nyonya rumah?" Tanya Dilla kembali.
"Jadi nyonya besar atau tidak, aku tidak perduli yang pasti sekarang aku sudah jadi nyonya Rendi Anggara, dan sebentar lagi aku juga akan menjadi seorang ibu, bagiku Suami dan anaku jauh lebih penting daripada sebuah gelar aku tak membutuhkanya karena yang terpenting cinta dan hati suamiku," lirih Rara.
"Kamu sweet banget sayang aku menyayangimu semoga kau tetap baik-baik saja," ucap Dilla.
Rendi yang masih dalam perjalanan menyusulnya kini sedang bergelut dengan kemacetan jalan Raya.
"Ken apa tidak ada jalan lain?" Tanya Rendi.
"Sepertinya kita tidak bisa mempercepat Tuan," ucap Ken.
"Istriku pasti sedang menunggu," gerutu Rendi.
"Dia bersama Dilla," ucap Ken.
"Ya tapi aku masih ingin menemani istriku kenapa harus keluar rumah sih di tengah kehamilanya yang besar begitu ," gerutu Rendi.
Satu jam Rendi ada di tengah-tengah kemacetan. kini mobil mereka sudah keluar dari jalanan selang beberapa menit Rendi sudah sampai di taman kota.
Ia mencari keberadaan istrinya di lihatnya Rara yang sedang berbicara dengan anak kecil laki laki juga dengan pria dewasa Rendi geram melihat ekspresi lelaki itu yang tidak hentinya menatap istrinya dan tersenyum.
Rendi bergegas menghampiri istrinya.
"Sayang kamu disini," ucap Rendi lembut dan merangkul istrinya.
__ADS_1
"Akhirnya kamu datang juga kita sudah mau pulang nih," ucap Rara.
"Kenapa apa kamu mau melahirkan?" Tanya Rendi cemas.
"Hmmmm, aku bukanya mau melahirkan tapi aku sudah lelah ni menunggu kamu yang lama sekali," ucap Rara kesal.
"Salahkan Ken yang membawa mobilnya lama," ucap Rendi
"Kenapa jadi saya yang di salahkan tuan ini," batin Ken.
"Biaar aku yang bawa mobil kamu pergi sendiri," tegas Rendi pada Ken.
Ken mengangguk mengerti kini Rendi kembali dengan istrinya.
Rendi melajukan kendaraannya dengan kecepatan sedang,dengan jalanan yang mulai senggang.
Tidak seperti saat Rendi menjemput istrinya tadi dengan kemacetan padat.
Rara berjalan sudah sangat lambat ia melangkah ke dapur untuk membuat makan malam .
"Jangan masak lagi sayang,nanti setiap hari mamah akan mengirimkan kita makan buatan Mamah,"ucap Rendi.
"Benarkah, wah Mamah baik sekali sayaang duh aku sudah gak sabar ingin bertemu mamah kapan mamah kesini?" Ucap Rara sumringah.
"Sebentar juga datang," ucap Rendi.
Ia menuntun istrinya ke sofa untuk menonton tv perut istrinya semakin besar.
"Kenapa istriku malah semakin menggoda sih," batin Rendi.
Di saat Mereka sedang nonton televisi terdengar suara bel rumahnya berbunyi .
Rendi bergegas membuka dan yang datang adalah Pak Jun.
"Maaf Tuan, Nyonya besar tidak bisa datang berkunjung,karena beliau sedang mempersiapkan segala hal untuk acara besok Tuan," ucap Pak Jun
Pak Jun berpamitan pada Rendi, hanya memberikan bingkisan makanan dan berpamit untuk kembali.
Rendi kembali dan menyiapkan makan malam di meja.
"Mamah tidak ikut Sayang?" Tanya Rara.
"Tidak Mamah sedang mendata acara buat besok katanya jadi tidak bisa datang," ucap Rendi.
"Hmmm baiklah, karena besok kita akan kesanakan," ucap Rara.
"Iya ... ayo makan Sayang!" Ajak Rendi.
Rendi dan Rara makan mlam bersama, mereka membicarakan rencana untuk besok menghadiri acara mertua Rara.
Kini Rendi dan Rara sudah berada di ruang tengah menonton tv.
"Sayang apa tidak apa-apa aku kesana?" Tanya Rara memeluk Rendi di sofa sambil menonton tv.
"Memang kenapa kamu tetap cantik," jawab Rendi.
__ADS_1
"Tapi aku tidak sexsi," rengek Rara.
"Haha sini aku lihat semua tubuhmu sexsi aku suka bahkan adikku saja merindukannya," ucap Rendi tersenyum menggoda.
"Iiih apa sih kamu mau ya?" Tanya Rara mendorong tubuh suaminya.
"Hahaha, aku memang tidak tahan dengan dirimu Sayang,bolehkah aku memakanmu?" Tawa Rendi.
"Uuuh, kamu tidak lihat nih badanku seberat ini?" Cetus Rara.
"Aku suka kamu malah semakin cantik dan sexsi," ucap Rendi.
"Kalau begitu aku mau susu strawberi buatan kamu,"ucap Rara.
Rendi mengerutkan keningnya ia menyentuh pipi istrinya yang menggemaskan.
"Baiklah tuan putri susu rasa strawberi buatan suamimu ini akan segera datang," ucap Rendi mencium pipi istrinya.
Rara yang melihat tingkah suaminya ia tertawa,bahagia melihat kepatuhan suaminya.
"Aku juga mau biskuitnya Sayang," teriak Rara.
Rendi hanya tersenyum mendengar istrinya yang bermanja padanya.
Ada perasaan kebahagiaan tersendiri yang Rendi rasakan.
Rasa di butuhkan,rasa keberadaannya penting bagi istrinya,rasa di hargai,juga rasa memiliki yang Rendi rasakan menghasilkan perasaan kebahagiaan di hatinya.
Hingga menghasilkan senyum mengembang di wajahnya juga hati yang berbunga-bunga bahagia.
Rendi membawa dua gelas di nampannya juga sepiring biskuit yang istrinya minta.
"Silahkan Tuan putri," ucap Rendi.
Menyimpan nampan di meja depan Rara.
Rara tersenyum tertahan mendengar dan melihat perlakuan suaminya.
"Pijit kakiku terasa pegal disana," ucap Rara manja menunjukan kakinya yang bengkak.
"Baik Tuan putri," jawab Rendi tersenyum.
"Aku mau menciumnya," rengek batin Rendi.
Rendi masih mempertahankan ke coolannya walau sebenarnya hatinya sudah meleleh karena tingkah manja istrinya dari tadi.
Rara memakan biskuitnya juga meminum susu yang di buat suaminya, sambil nonton tv kakinya di pijat oleh suaminya yang terlihat memelas gemas melihat Rara.
Rara tersenyum pada suaminya yang baik.
"Terimakasih ya suamiku kakiku memang selalu pegal,kamu tidak apa kan?" Tanya Rara.
Rendi mengangguk ia tersenyum dan menyodorkan bibirnya di hadapan istrinya.
Rara tersenyum ia mencium bibir suaminya berkali-kali membuat Rendi tersenyum dan melanjutkan pijatan lembut pada kaki Rara.
__ADS_1
Rara sampai tertidur karena pijatan suaminya.