
Di taman belakang pagi ini keluarga utama Anggara berkumpul minum teh, juga ada Dilla yang sedang bermain dengan Rayn di pangkuanya.
"Hhhmmm baby Rayn dan Amira yang tante rindukan," ucap Dilla.
"Kau hanya tidak bertemu sehari saja gak usah lebay," ucap Rara.
"Biarin aku memang kangen bgt sama Rayn dia lucu kalo perlu aku bawa dia pulang," ucap Dilla.
"Buatlah sendiri jangan karya orang lain kamu ambil," cetus Rara.
"Oooowh, jadi ini karya yang kalian maksud itu huh aku baru paham sekarang," ucap Dilla.
"Dasar gila," ucap Rara.
"Uuuuh, jangan bilang begitu donk nanti hilang image aku di depan baby Rayn," rengek Dilla.
"Huh, memang dia ngerti apa sama imagemu itu," tangkis Rara.
Dilla memajukan bibirnya kesal sama sahabatnya itu,yang tidak pernah berubah menindasnya. Tapi Rara malah tertawa melihat Dilla yang menyondongkan bibirnya .
Rendi dan Ken di belakangnya,ia melihat istrinya tertawa dengan bahagia bersama Dilla yang ikut tertawa.
"Dia sangat manis," ucap Rendi.
"Benar manis," ucap Ken juga.
"Siapa yang kau bilang manis"bentak Rendi memelototi Ken.
Ken terkejut.
"Istri saya Tuan," jawab Ken tersenyum
"Emang bernyali apa saya tuan? hingga berani bilang kalau nona muda manis, walau memang yang saya lihat nona muda yang emang manis hihi," Batin Ken.
Rendi melihat kembali ke arah istrinya ia melihat Dilla yang memang istri Ken sekarang.
"Kau berani sombong setelah mempunyai istri," ucap Rendi.
Rendi melihat ke arah istrinya dan berjalan menghampirinya.
"Emang harusnya tuan saja yang beristri Tuan." Batin Ken.
Rendi mendekat pada istrinya yang masih asyik tertawa dan berbincang dengan Dilla.
"Memang apa yang lebih membahagiakan selain suamimu ini sayang?" Ucap Rendi tiba-tiba menghentikan tawa istrinya.
"Memang kamu kenapa ?" Batin Rara.
"Tidak ada kami hanya sedang membicarakan tentang bulan madu kita," jelas Rara.
"Kita maksudmu?" Tanya Dilla terkejut.
"Iya aku dan suamiku," ucap Rara polos.
"Jadi maksudmu yang berbulan madu kalian yang sudah beranak ini?" Ucap Dilla terkejut.
"Hmmm," jawab Rara.
Rendi yang melihat ekspresi Dilla yang menahan amarahnya ia hanya tersenyum melihatnya.
"Sekali-sekali ngerjain Ken biar dia tau rasanya istrinya bicara tanpa henti," batin Rendi.
Dilla terdiam ia melihat ke arah suaminya yang tanpa ekspresi tidak bersalah sama sekali. Ia melihat ke arah Rara dan Rendi yang seperti tidak terjadi apa-apa.
"Huh aku pulang," ucap Dilla ia berdiri menggebrak meja.
"Kenapa?" Tanya Rara polos.
Dilla semakin geram.
"Ken ayo pulang?" Teriak Dilla tapi Ken tidak bergeming.
"Kenapa buru-buru ini masih pagi juga kita sarapan bersama," ucap Rara.
"Akuu," ucapan Dilla terpotong saat melihat Ken mengangguk memberi isyarat.
Dilla terduduk kembali dengan amarah yang sudah membara di dadanya.
Dilla tidak berbicara sama sekali walau Rayn menendangnya di pangkuan ibunya.
"Ayo sarapan mamah dan papa sudah menunggu ayo Dilla! " Ajak Rara ia tidak melihat wajah kesal Dilla yang saat ini karna sibuk menggendong Rayn.
Dilla berjalan dari belakang Rara dan Rendi paling depan dengan Amira.
"Kamu berhutang penjelasan padaku," bisik Dilla kesal ia mencubit suaminya.
Ken mengangguk ia tidak bersuara sama sekali cubitan istrinya hanya gigitan semut bagi tubuhnya yang kekar itu.
Setelah sarapan Dilla dan Ken berpamitan untuk kembali.
Dengan wajah kesal Dilla melirik ke arah Rendi memelototinya. Rendi malah tersenyum padanya seperti tidaak mengerti maksudnya.
__ADS_1
"Selesaikan segera aku mau secepatnya," tegas Rendi pada Ken sebelum pulang.
*****
Prolog Ken.
Ken menangguk dan kembali bersama Dilla ke Apartementnya.
Dengan suasana hati buruk. Dilla diam membisu di dalam mobil ia tidak mau melihat wajah suaminya sama sekali.
"Dia bahkan sangat menyebalkan tadi," batinDilla.
Ken tahu istrinya sedang marah ia berusaha tetap tenang .
"Tuan sengaja menempatkanku seperti ini huh Dilla tidak sekeras kepala nona muda Tuan," batin Ken.
Sesampai di Apartment Dilla memajukan bibirnya ia terdiam dan menyilangkan tanganya di dadanya.
Ken yang melihat itu ia pergi ke kamar mandi dan ia mandi.
"Kenapa dia malah pergi mandi sih bukannya istrinya ini sedang marah padanya,hei Ken," teriak Dilla.
Ken yang mendengar teriakan istrinya ia sedang mandi di bawah sower air dengan busah di kepalanya ia tersenyum.
"Tenang saja Sayang, tuannku tidak sejahat yang kamu kira justru dia sangat baik dengan caranya sendiri," ucap Ken ia meneruskan aktivitas mandinya.
Ken keluar dari kamar mandi ia membulatkan kedua matanya juga mengkerutkan keningnya. Seisi rumahnya berantakan semua berserakan.
Ken melihat istrinya yang sedang duduk menangis,ia menghampiri Dilla.
"Kenapa menangis?" Tanya Ken lembut.
Dilla menangis histeris ia memukul dada telanjang suaminya yang hanya mengenakan handuk di pinggangnya.
"Kamu jahat kamu jahat," teriak Dilla.
"Jahat kenapa?" Tanya Ken.
"Kamu bahkan tidak protes sama sekali pada tuanmu itu,dia hanya memperbudakmu bahkan di hari pernikahan kita,dia itu hanya tuanmu yang tidak tahu malu aku benci dia," Maki Dilla.
Ucapan Dilla membuat Ken geram,dan memegang tangan istrinya yang dari tadi memukulinya.
"Cukup kamu Dilla kamu tidak berhak menjelekan tuannku seperti itu," bentak Ken murka dengan kelakuan istrinya.
Dilla yang melihat Ken dengan tatapan membunuhnya ia terdiam dan terkejut ia menangis karena suaminya sekejam itu.
"Kamu jahat Ken aku benci kamu,kamu bahkan lebih membela dia dari pada istrimu hah," teriak Dilla histeris.
"Cukup Dilla memang kamu berpikir apa hah,kamu ingin bulan madu ayo, kamu ingin tubuhku ayoo,kamu ingin kemana ayo,tapi jangan pernah membicarakan hal buruk tentang tuannku," bentak Ken.
"Kamu pikir siapa yang menyuruhku menikahimu,siapa yang paling sibuk mempersiapkan pernikahanku, siapa yang bersedia menjadi keluargaku disaat aku melamarmu,siapa yang mensuportku agar siap menjadi seorang suami,siapa yang menemaniku selama hidupku ini hah,itu dia Tuan Rendi Anggara yang tidak ada hubungan darah sama sekali denganku,dia bahkan memberiku makan tempat tinggal pendidikan, pekerjaan disaat semua orang di dunia ini menghinaku menginjaku tak menghiraukanku,Dia Rendi Anggara yang mengulurkan tangannya dengan Senyum penuh kasih sayang padaku.
kamu pikir apa yang harus aku beri padanya hah tidak ada," jelas Ken sendu.
Dilla yang mendengarkan perkataan Ken yang tidak ia duga, suaminya yang selama ini diam tanpa banya bicara. Apalagi tentang kehidupanya juga keluarganya,yang Dilla tidak tahu bahkan mungkin Dilla tidak mau tahu.
"Dia bahkan menyiapkan bulan madu sendiri untuku," tambah Ken lirih tapi ia tidak menangis.
Dilla terkejut dengan ucapan suaminya.
"Seburuk itu kah hati mulut dan pikiranku terhadap Rendi," batin Dilla.
"Aku bahkan tidak pernah membuatnya puas dengan kerjaku, dibandingkan Mark dan Iyas mereka bahkan lebih memuaskan dan membanggakan untuknya,tapi dia tidak pernah menyingkirkanku," lirih Ken.
Dilla terdiam dadanya sakit mendengar kisah suaminya yang tidak bisa ia bayangkan. Lain dengan Dilla ia yang hidup dengan orangtua utuh, paman bibi dan saudaranya dan juga Rara yang selalu tertawa bahagia tanpa ada kesedihan di hari-harinya.
"Aku minta maaf," lirih Dilla tertunduk.
Ken terdiam,ia melihat istrinya yang tertunduk ia memegang wajah istrinya. Ken mencium bibir istrinya dengan dalam dan intens ia tidak menghentikan aktivitas lidahnya yang memasuki mulut istrinya hingga kehabisan nafasnya baru ia melepasnya.
"Apa kamu marah karena kita belum melakukanya?" Tanya Ken.
Dilla terkejut pipinya memerah menahan malu.Ken tersenyum melihat istrinya ia ingin menggoda istrinya kembali.
"Apa kamu mau tubuh ini,dan melakukannya sekarang," bisik Ken ketelinga istrinya.
"Iiiiiih kamu mesum aku mana ada aku aku...." Ucap Dilla terpotong ia terdiam saat melihat dada telanjang suaminya.
"Mulut dan matamu tidak searah"goda Ken mendekati istrinya.
"Ken kamu menggodaku," teriak Dilla.
"Ayo kita lakukan," goda Ken memegang tangan Dilla.
"Aku..aku." Dilla masih tidak jelas bicara.
"Bereskan dulu rumahnya nanti kita lakukan sepuasmu," Bisik Ken ia tersenyum menggoda istrinya.
Ken pergi ke lemari mengenakan pakaianya,meninggalkan Dilla yang sedang mematung menahan malu.
"Kenapa kesannya aku yang gak tahan sih Dilla apa kamu beneran gilla," teriak batin Dilla.
__ADS_1
Dilla membereskan ruangan yang berantakan karenanya. Ia membereskan dengan cepat,ia melihat Ken di teras belakang yang sedang membuka laptopnya juga melakukan menelpon seseorang.
"Kenapa aku dulu bahkan selalu iri dengan Rara yang bahagia mempunyai orangtua yang sangat baik,aku juga iri karena Rara juga pintar,aku sempat iri Rara yang menikah dengan pria tampan,aku iri Rendi yang di utamakan oleh Ken,tapi dari itu semua ternyata aku yang paling beruntung,orangtua Rara yang selalu membelaku jika ayah memarahiku, Rara yang selalu bahagia jika aku bersama orangtuanya,Rara yang membiarkan suaminya sibuk mengurus pernikahanku juga Ken suamiku yang mengutamakan tuannya hanya agar bisa selalu bersamaku di sampingku menjadi suamiku." Batin Dilla ia menangis tertahan.
"Ternyata yang jahat itu aku"gumam Dilla.
"Iya kamu jahat lihat tuh pas bunga yang gak bersalah saja kamu pecahkan." Ucap Ken memeluk Dilla dari belakang,Dilla tersenyum ia berbalik dan memeluk Ken.
"Maafkan aku yang jahat ini Ken," ucap Dilla menangis di pelukan suaminya.
"Tidak perlu minta maaf,wajar kalau kamu marah,aku harap kamu mengerti aku yang bertugas untuk tuannku," ucap Ken memeluk erat istrinya.
Dilla mengangguk kini hatinya tersenyum tenang,ia bahkan sangat ingin memeluk Rara sahabatnya yang sangat berarti baginya yang telah memberinya kebahagiaan ini.
"Mari kita kerumah besar lagi," ucap Dilla.
"Kenapa? Tanya Ken heran.
"Aku kangen Raraku," ucap Dilla.
"Bukankah barusan kita dari sana?" Tanya Ken.
"Aku kangen dia," ucap Dilla manja.
"Baiklah nanti sore kita kesana agar tidak terlihat matamu yang habis menangis sebaiknya kamu tidur saja dulu,nanti kita kesana," ucap Ken.
Dilla mengangguk ia melepas pelukanya dan hendak meninggalkan suaminya.Tapi ken menarik tangan Dilla dan ia memeluknya dari belakang.
"Apa perlu kita lakukan sekarang?" Bisik ken.
Dilla terkejut ia mendorong suaminya, ia tersenyum dan menjulurkan lidahnya ia pergi ke kamar mandi.
Ken melihat istrinya sudah tidak marah dan bersedih lagi ia tersenyum, kembali ke mejanya ia menyelesaikan tugas yang belum ia selesaikan.
##
Prolog Rara
Rara yang sedang menyusui Rayn di balkon kamarnya,ia bersenandung sampai Rayn yang di susuinya tertidur.
Rara menyusui anaknya dengan hijab tertutup jadi ia tidak cemas terekspos walau sedang di keramaian.
Saat tersadar bahwa Rayn tertidur tanpa melepas pautanya. Rara membiarkanya iapun tertidur dengan Rayn di pelukanya.
Rendi keluar dari kamar mandi,ia melihat Amira yang tertidur di ranjang bayinya. Rendi melihat Rara yang duduk di sofa balkon dan menghampirinya,ia tersenyum melihat istrinya tertidur.
"Bukankah tadi dia bernyanyi ya,cepat sekali tidurnya ini juga kenapa tidak di lepas itu miliku," gumam Rendi mencoba mengambil Rayn yang ada di pangkuan Rara.
Rara menjerit karena buah dadanya di tarik paksa oleh Rayn yang tidak mau lepas.
Rendi terkejut karena istrinya menjerit.Rara yang tahu penyebab Rayn menguatkan pautanya,ia memelototi suaminya,ia ingin menggigit tangan suaminya yang ada di dadanya.
"Hehe maaf ya Sayang,dia mengambil punyaku tidak mau melepasnya," ucap Rendi manja.
"Untuk saat ini,ini miliknya," cetus Rara.
Tersirat senyuman di wajah Rayn. Rara meninggalkan suaminya ke dalam kamar.
"Jangan senang dulu kamu saat besar nanti aku akan menyiksamu." Batin Rendi.
Rendi terkejut dan mengejar istrinya yang sedang memindahkan Rayn ke ranjang bayi.
Rara tak menghiraukan suaminya yang memmbuntutinya kesana kemari manja,Rara terduduk di ranjang, Rendi memeluk istrinya manja.
"Sayaaang," ucap Rendi.
"Hmmm "jawab Rara malas.
"Itu miliku kan?"Tanya Rendi manja.
"Hmmm." Rara malas ia menutup matanya mengantuk.
"Aku boleh memilikinyakan." Ucap Rendi kembali ia tersenyum.
"Hmmm." Rara tertidur.
Saat mendengar itu Rendi tersenyum bahagia,ia melihat istrinya dan membuka kancing baju yang istrinya kenakan,Rendi membuka nya.
Rendi tersenyum ia memegangnya dan mencium aromanya,Rendi memainkan juga menciuminya hingga puas.
Terdengar suara halus dari istrinya yang membuat sesuatu berdiri di bawah sana.
Rendi meninggalkan kembali dan meninggalkan bekas merah disana.
Rendi meninggalkan bekas merah yang banyak di leher dan yang katanya miliknya.
Suara Rara beraturan tapi ia tak kuat menahan kantuknya.
Rendi membuka semua penutup tubuh istrinya, ia menatap istrinya yang masih tidak bisa menahan kantuknya.
"Hmmm istriku ini kenapa kuat begini tidurnya," gumam Rendi tersenyum.
__ADS_1
Rendi tersenyum ia melihat istrinya membuka matanya dan tersenyum padanya. Rendi mencium istrinya mereka berciuman bersama,Rara membalas ciuman suaminya dengan lama. Mereka beraktivitas seperti biasa di dalam kamarnya.
Kini Rendi memeluk istrinya yang memang dari tadi mengantuk,ia menyelimuti istrinya dan tidur di siang hari.