
Adam membulatkan kedua matanya ketika melihat wajah seseorang yang menarik mendekapnya dengan tangan halusnya. Ia bahkan tidak menyangka jika tubuhnya bisa di tarik oleh seorang wanita dengan kekuatan sebesar itu. Setelah sekitar satu jam lamanya. Adam masih dalam dekapan Nesa yang kini masih waspada melihat situasi agar tetap tenang.
"Apa kau sangat menyukainya?" bisik Adam di telinga Nesa yang kini terkejut mendengarnya.
"Kau mesum!" cetus Nesa membulatkan kedua matanya dengan kesal pada Adam yang masih sesempat itu menggodanya.
Nesa tidak menghiraukan Adam yang kini malah menggodanya. Ia mengedarkan pandangannya ke arah luar yang kini ada banyak para penembak yang mengejar Adam. Nesa masih mendekap mulut dan tubuh Adam dengan erat tanpa bersuara sedikitpun. Hingga hanya deru nafas mereka saja yang terasa dan degupan jantung yang kencang saling bersahutan di antara mereka berdua.
Setelah merasa aman, Nesa melepas dekapannya pada Adam dan melihat bahu Adam yang basah karena darah yang mengalir dari tadi, bahkan meninggalkan jejak di pakaiannya. Nesa melepas pelukannya pada Adam dan membenarkan pakaiannya.
"Kau terluka?" tanya Nesa.
"Tidak apa! Bagaimana Nyonya dan anak-anaknya?" tanya Adam.
"Mereka aman! Aku sudah membawa mereka ke suatu tempat yang tidak tergapai oleh siapapun," jawab Nesa datar.
"Syukurlah, lalu bagaimana dengan nona Dilla?" tanya Adam kembali dan mengerutkan dahinya. Adam tahu siapa dalang di balik ini semua dan hanya Rendi dan dia yang tahu konpirasi ini.
"Dia juga aman dengan putrinya, aku mengajak mereka sekaligus dengan aman," jawab Nesa masih dengan kewaspadaannya.
"Apa kau tahu siapa di balik ini semua?"tanya Adam berpura-pura tidak tahu.
"Aku rasa ada seorang pengkhianat di dekat tuan, aku akan bunuh dia jika aku tahu siapa orang itu," ucap Nesa datar.
Adam terdiam dan mengangguk. Ia tidak akan memberitahu pada siapapun seperti pesan dari Rendi setiap saat. Mereka kini sudah mencoba untuk keluar dari persembunyian.
Nesa dan Adam pergi dari kediaman Rendi Anggara yang kini sudah tidak pasti keamanannya. Mereka lebih memilih untuk pergi dan melihat Rara dan anak-anaknya.
Mark dan Iyas terkejut ketika mendengar kabar jika rumah utama Rendi Anggara kini sedang dalam keadaan bahaya. Sedangkan penjagaan sedikit disana. Mereka berbalik dan menunda pencarian untuk Rendi dan memilih untuk berbalik dan menyelamatkan anak istri Rendi secepat mungkin. Dengan wajah ingin membunuhnya Mark dan Iyas kini mengemudi mobilnya dengan kecepatan tinggi berharap secepatnya untuk sampai.
"Sial! Kenapa kita bisa lupa akan pesan Rendi, bahwa kita harus selalu menjaga istri dan anaknya," geram Mark menekan pedal gas dengan kecepatan tinggi. Iyas tidak protes sama sekali.
Mereka berdua tampak geram dengan tatapan ingin membunuhnya. Mark membawa mobilnya seperti seorang yang sedang balapan. Yang ada di pikirannya hanya ingin segera sampai di rumah utama dan memastikan istri dan anak-anak Rendi selamat.
Perjalanan dari kota c sekitar satu jam dan itu membuat Mark semakin kesal karena mereka menempuh perjalanan sangat lama.
Sesampai di dekat kediaman Rendi Anggara. Mark menghentikan kendaraannya dan melihat ada banyak penjagaan disana. Yang bahkan itu bukan para penjaga anak buah Rendi.
"Sialan, kita terlambat! Bagaimana ini, apa kita terobos masuk?" tanya Iyas geram.
"Baiklah, kita masuk jalur belakang, penjagaan selalu sedikit jika dari belakang," jawab Mark.
__ADS_1
Mark dan Iyas kini berjalan mengendap-endap. Mereka memasuki rumah Rendi dari jalan tertutup melalu taman belakang, kini mereka sudah berada di dalam rumah Rendi dan ada banyak sekali penjagaan disana.
Mark dan Iyas terdiam. Ketika melihat banyaknya penjagaan yang ketat di rumah itu.
Mark dan Iyas memilih untuk berdiam dahulu. Mark melihat handphonenya yang bergetar dan melihat pesan yang di kirim oleh Adam yang menperlihatkan bahwa Rara dan semuanya baik-baik saja.
Mark tersenyum ketika mendapatkan pesan tersebut. Ia melihat ke arah Iyas dengan tatapan membunuhnya.
"Ayo kita bersenang-senang! Aku ingin tahu siapa yang berani pada Rendiku!" ucap Mark membuka mantelnya dan mengambil dua senjata yang ada di sakunya.
"Tentu, aku juga penasaran yang berani pada kita," jawab Iyas ikut tersenyum dan di tangannya sudah ada dua senjata juga di pinggangnya ada banyak pisau belati yang tertata rapih.
Mark dan Iyas berjalan dengan aura ingin membunuhnya. Mengingat kini tuannya Rendi masih belum di temukan dan kini serangan langsung pada kediamannya. Mark melakukan aksinya. Pertama dia mendekap sebagian dari penjagaan yang lengah begitupun Iyas semakin bersemangat menancapkan pisaunya di bagian vital dan mengakhiri siapapun yang ada di hadapannya yang sudah membuat ia bersemangat ingin melampiaskan kekesalannya pada apa yang terjadi di kediaman sahabatnya.
Semakin Mark dan Iyas berjalan. Semakin banyak yang melawan mereka dengan tangan kosong dan itu mempermudah Mark dan Iyas menembak banyaknya penjaga dan mereka berdua masih penasaran siapa di balik semua ini.
Mark dan Iyas membabi buta dengan segala perlawanannya pada para penjaga yang melawannya dengan sebuah perkelahian ataupun dengan tembakan. Saat Mark dan Iyas sedang berkelahi, ada seorang yang berjas serba putih berjalan dan memasuki kediaman dan melihat Mark dan Iyas yang sedang berkelahi. Mark mengerutkan dahinya ketika melihat seseorang yang kini tersenyum melihatnya dengan kedua pengawal yang berbadan besar di sampingnya.
"Sialan kau belum mati juga?" ucap Mark kesal. Melihat Jason berada di hadapannya bahkan anak buahnya Anaspun masih ada di sampingnya.
Mark bertanya-tanya, bagaimana bisa Jason yang ia buang ke pulau terpencil dan kini masih berdiri dengan sehat tanpa goresan luka sedikitpun.
"Hahaha, kau tidak menyangka, kenapa aku masih hidupkan Mark?" tawa Jason menggema di ruangan tengah rumah Rendi yang kini banyak anak buahnya yang tergeletak karena pembantaian Mark dan Iyas yang sangat tidak terkendali.
Kini hanya Jason seorang yang berdiri dalam keadaan takut. Mark menatap dengan tatapan ingin membunuhnya. Ia berjalan tapi Jason mundur beberapa langkah dengan ketakutan yang teramat dalam baginya.
"Katakan, siapa yang melakukannya?" tanya Mark menatap Jason yang kini tubuhnya terhenti karena sebuah tembok yang membuatnya tidak bisa mundur lagi.
"Katakaan! " teriak Mark mengangkat kerah Jason dan menekannya dengan tenaga kuatnya.
"Aku ... aku yang membuat semua ini," jawab Jason merasa takut ketika mendapat dan melihat tatapan Mark yang begitu mengerikan.
Iyas berada di belakang Mark berjaga agar tidak ada yang memasuki dan melawannya lagi.
"Sepertinya kau masih tidak bisa di ajak berbicara Jason, mengingat kau juga ikut terlibat dalam kehancuran keluargaku dan sekarang malah mengacaukan sahabatku, aku tidak akan lagi melihat nyawamu! " ucapan terakhir Jason bahkan tidak ia dengar dan pedulikan ketika ia membanting tubuh Jason ke tembok dan membantingnya kembali ke lantai yang sudah ada sebuah batu pajangan disana membuat Jason terkapar tapi masih hidup. Mark mencoba bertanya kembali tapi Jason masih menyangkalnya.
Mark berdiri dan menatap Jason yang bersimbah darah karena luka dalamnya yang hancur karena bantingan Mark yang kencang dan dalam.
Mark dan Iyas mengedarkan pandangannya. Ia berjalan menghampiri sofa. Ia duduk bersama Iyas dan melihat ada anak buahnya yang baru datang bergelomboran.
Masih dengan tatapan membunuhnya Mark memerintahkan anak buahnya untuk mengambil barang yang ada di ruangan kerja milik Rendi dan juga milik Rendi semua yang ada di kamarnya.
__ADS_1
Setelah di dapati semua sudah beres, Mark meninggalkan ruangan tersebut tanpa menghiraukan Jason yang masih hidup bersimbah darah tanpa perkataan.
Ketika Mark dan Iyas beserta anak buahnya yang kini dalam mobil.
Kediaman rumah Rendi Angagara kini hancur lebur karena seuah ledakan yang di siapkan Mark yang di maksud rencana B yang Rendi lakukan adalah jika sesuatu terjadi di luar kendali maka tidak boleh ada hal kecilpun yang tersisa apalagi jejak.
Mark dan Iyas kini berada di kursi penumpang dengan anak buahnya yang di balik kemudi.
Mark masih menatap geram tanpa mendapatkan apa-apa. Iyas juga masih bergelut dengan pikirannya menerka apa saja yang terjadi hingga kini mereka berdua saling menatap dan berbicara bersamaan.
"Konpirasi dari seorang pengkhianat," ucap Mark dan Iyas bersamaan dengan tatapan tidak percaya mereka.
"Kau pikir siapa?" tanya Iyas.
"Yang pasti jauh lebih dekat dengan Rendi," jawab Mark.
"Kau berpikir Ken?" tanya Iyas kembali.
"Akhir-akhir ini Adam juga dekat dengannya," tambah Iyas yang melihat Mark yang masih berpikir dalam diamnya. Ia mengingat-ingat apa saja yang terjadi belakangan ini. Ia baru menyadari ketika Rendi bekerja sendiri tanpa bantuan siapapun. Ternyata Rendi sudah menduga-duga bahwa ada sang pengkhianat di dekatnya. Ia mengangguk dalam pikirannya sendiri.
"Aku lega ketika Rendi sudah tahu lebih awal dari kita," ucap Mark menarik nafas dalam dan membuangnya.
"Apa maksudmu? Dia sudah tahu? Lalu kenapa dia tidak memberitahu kita?" tanya Iyas masih belum memahami keadaan yang membuat perubahan pada Rendi hingga ia melakukan semuanya dengan sendiri tanpa memerintah apalagi dengan rencana dari jauh jauh hari.
"Dia pastinya sudah tahu dari lama, tapi dia juga belum mengetahui siapa yang berkhianat, oleh sebab itu dia meminta kita untuk tetap berada di sampingnya untuk memastikan siapa yang berkhianat," jelas Mark membuat Iyas semakin penasaran siapa yang sudah berani menghadapi Rendi yang cara membunuhnya bahkan lebih kejam dari Mark dan Iyas, apalagi Kenyang juga membunuh tanpa ampun.
Mark dan Iyas berpikir dalam diamnya mereka saling bertanya apa dan siapa saja yang benar-benar berkhianat pada Rendi. Kini kendaraan mereka bahkan melewati pantai yang berombak besar seperti besarnya gejolak amarah Mark dan Iyas saat ini. Ada sekitar empat mobil yang berjalan mengikuti Mark dan Iyas. Anak buahnya bahkan bertindak sadis ketika menghancurkan mayat-amyat di rumah Rendi dan menghancurkan rumah milik Rendi hingga tak tersisa. Karena itulah yang di inginkan Rendi ketika semua memang sudah tidak bisa di perbaiki lagi. Hanya hal baru yang harus di tempuh, biarkan masa lalu menjadi penguat perjalanan kita untuk menuju masa depan yang damai indah dan bahagia.
Kini kendaraan mereka sudah sampai di sebuah rumah yang keberadannya terpencil dan ada di sebuah hutan belantara dengan kegelapan yang menyelimutinya. Mobil kini sudah terparkir di sebuah gedung tua yang terlihat usang dan kumuh tanpa penghunian bahkan coretan dinding terlihat usang ketika siapapun yang melihatnya.
Mark memasuki pintu yang terbuka bersama dengan Iyas yang kini sudah berjalan di belakangnya memasuki setiap lorong rumah tua tersebut hingga sampai di sebuah ruamgna yang luas dan kini sudha ada Rara yang duduk di sofa denga kedua anaknya yang di pangkuan para pengasuhnya. Begitupun Dilla yang kini merasa cemas akan suaminya dan tidak mempercayai apa yang terjadi malam ini.
Adam berdiri dengan telanjang dada dalam balutan perban di tubuhnya. Ia memghampiri Mark dan Iyas yang kini sudah berdiri di hadapannya.
"Bagaimana, apa sudah hancur?" tanya Adam kepada Mark yang mengangguk.
"Mark apa yang terjadi kenapa suamiku masih belum kembali, apa yang terjadi?" teriak Rara cemas tapi tidak meneteskan air mata sama sekali.
"Semua baik-baik saja, sebaiknya kamu fokus besarkan anak-anakmu dan menjadi lebih kuat seperti yang Rendi harapkan," jawab Mark dengan nada tegasnya tanpa ada aura membunuh seperti sebelumnya. Mark bahkan mengerutkan dahinya ketika melihat Rara yang masih dalam diamnya mengangguk dan tidak ada tangisan seperti yang ia lakukan seperti biasanya menangis jika terluka sedikit saja. Tapi untuk kali ini Rara bahkan terlihat tegar srtelah mendengar ucapan Mark yang kini sudah duduk dengan pakaian yang berlumuran darah.
Rara menghampiri putra putrinya dengan tatapan kosongnya. Ia memandangi putra putrinya dan mengingat ucapan suaminya yang akan membuat Rayn dan Amira menjadi anak-anak yang kuat itu karena hal seperti ini yang akan terjadi jika kita lemah. Ia baru memahami setiap ucapan suaminya jika kita harus kuat dan tegar setiap hal apapun dan konsekuensinya . Rara bahkan mematangkan hatinya ketika mendapat kabar bahwa pesawat suaminya meledak di udara. Ia masih merasa hangat bahwa suaminya masih hidup dan tidak akan mungkin meninggalkannya begitu saja. Apalagi saat ini Rendi menginginkan putrinya yang kini sudah bisa berbicara. Rara mendekap putrinya yang tertidur, Dilla menangis dalam pelukannya putrinya masih tertidur.
__ADS_1
Mark dan Iyas yang terduduk dalam diam mereka dan juga Adam yang kini duduk di samping Nesa yang juga terdiam membuat suasana di ruangan gedung tersebut menjadi sedingin malam ini. Kejadian yang sangat cepat dan tanpa peringatan mereka alami tapi juga bersyukur karena mereka selamat dan tidak ada yang terluka selain Adam yang kini sudah baik- baik saja.