Istri Kedua Tercinta

Istri Kedua Tercinta
Kenyataan Yang Pahit


__ADS_3

NTR: Hai Kak, kasih bintang 5 kak, jangan lupa like, komen dan vote yach... Selamat membaca kak.


 


Ketika Iyas mencoba untuk mencari kekasih masa kecilnya. Ia malah menemukan keberadaan gadis masa kecilnya itu sudah dalam keadaan kritis dan dengan balutan alat bantu di rumah sakit. Iyas bahkan selalu menawarkan bantuannya untuk mengajak Ines berobat di luar negeri. Namun, Ines tidak pernah mau menerima ajakan Iyas.


 


"Dia adalah calon istriku sesuai permintaanmu. Dia gadis yang sangat baik," jelas Iyas dengan lembut kepada Ines.


"Kamu sangat pandai mencari gadis yang baik seperti ini. Aku bahagia karena kamu menemukan gadis yang tepat," jawab Ines dengan lembut dan tersenyum tipis.


 


Gadis yang sangat manis dan cantik terlihat putih pucat dengan alat bantu pernafasanya. Iyas mengangguk menanggapi ucapan gadis tercintanya itu. Meski sangat terasa sakit di dalam hatinya. Setelah Iyas berbicara seperti itu, kepada Ines. Iyas melirik kearah Lina dan mengisyaratkan Lina untuk duduk di sofa, yang ada di dalam ruangan tersebut.

__ADS_1


Lina terbawa suasana, ia menurut dan kini dia duduk di sofa tersebut. Lina melihat Iyas yang sangat lembut terhadap Ines. Ia duduk di samping ranjang pasien, dengan menggenggam erat tangan Inez dengan lembut.


 


"Setidaknya kau sudah bisa tersenyum saat ini Ines," ucap Iyas rambut.


"Ya aku sangat bahagia ketika kamu sudah menemukan gadis yang tepat dan bisa membuatmu bahagia," balas Ines pelan.


"Sebenarnya aku tidak perlu gadis lain, cukup dirimu. Aku sudah sangat bahagia tapi atas permintaanmu aku turuti apapun yang kamu minta," ucap Iyas dengan nada sendu dan hati yang sangat sakit.


 


 


Bahwa Ines sudah tidak bisa diselamatkan lagi, karena kanker otak yang ia derita sudah stadium akhir. Karena takdir yang mempertemukan mereka berdua adalah untuk perpisahan mereka. Iyas sempat kesal pada dirinya sendiri, karena menemukan Ines dalam kondisi seperti saat in. Ia merasa seharusnya Iyas lebih cepat menemukan keberadaan Inez.

__ADS_1


Sebelum Ines divonis stadium akhir. Baginya, setidaknya mereka sempat berbahagia dahulu. Hidup bersama beban dan melepas kerinduan mereka selama ini. Namun, setelah berpisah bertahun-tahun lamanya. Ternyata takdir berkata lain. Iyas pada akhirnya harus berpisah juga dengan gadis tercintanya.


Gadis yang sangat ia cinta dan rindukan di masa kecilnya ini dan sudah memiliki seorang pendamping pria lain. Maka dari itu, Ines memintanya untuk secepatnya memiliki penggantinya. Yang akan Iyas cintai untuk masa depannya dan kehidupannya kelak atas permintaan gadis yang ada di hadapannya saat ini. Gadis yang terbaring lemah hanya tersenyum tipis dan lembut menatap Iyas. Iyas yang memegang erat tangan Ines dan sesekali mencium tangan gadis tersebut.


 


Lina sedikit tersentuh ketika melihat cinta Iyas yang begitu besar, kepada wanita yang ada di hadapannya itu. Iyas terlihat tulus dan sangat menyayangi gadis itu. Lina tersenyum tipis dan mengalihkan perhatiannya melihat\-lihat isi ruangan tersebut yang terlihat rapih dengan sangat bersih lebih tepatnya itu adalah ruangan vvip.


 


Setelah satu jam mereka berada di ruangan tersebut. Tiba-tiba pintu terbuka dan terdengar teriakan dari seorang pria yang memasuki ruanagn dimana ada Iyas,Lina dan juga Ines berada.


"Sayang ...."


Ucapan pria itu terhenti ketika melihat ke arah Lina yang duduk di sofa dan melihat Iyas yang berada di samping Ines. Pria tersebut tak lain adalah suami Ines. Ia berdiri di membelakangi pintu masuk dan hanya terdiam ketikamelihat keberadaan mereka berdua di dalam ruang rawat istrinya.

__ADS_1


Lina merasa canggung,lalu melihat ke arah Iyas yang kini sudah berdiri dan tersenyum memandangi Ines. Ia melepas pegangannya pada tangan Ines dengan sangat berat. Namun Iyas akhirnya melepas gadis tercintanya itu dan berpamitan untuk kembali ke kantor yang sempat ia tinggalkan sebagai alasanya untuk pergi dari ruangan tersebut.


__ADS_2