
Bandung Malam Hari.
Rara berdiri di dekat jendela kamarnya yang langitnya kini terlihat gelap di luar kamarnya.
Ia menengadahkan kepalanya memandangi langit malam yang tak berbintang.
"Andai saja aku bisa menghentikan waktu, aku masih ingin bersama ayah dan ibu," gumam Rara.
Rara mendekap kedua tangannya. Dengan hati yang terkadang kuat terkadang gelisah. Ia sedikit tidak kuasa jika harus meninggalkan keluarganya. Berada jauh dari mereka.
Rara berbalik dan melihat ke arah pintu yang terbuka dan suaminya memasuki kamar dengan senyum di wajahnya melihat istrinya yang masih terjaga.
"Kamu belum tidur sayang?" tanya Rendi.
"Aku belum mengantuk, apakah semuanya sudah pada tidur?" tanya Rara.
Rendi mengangguk sebagai tanda jawaban pertanyaan istrinya. Ia memeluk pinggang istrinya yang sedang berdiri. Kini ia menyusupkan kepalanya di leher jenjang istrinya yang saat ini tidak mengenakan penutup kepalanya. Rara sedikit mengerang ketika suaminya mencium dan mengigit leher jenjang istrinya dan sudah terdapat tanda kepemilikan disana.
Rendi memeluk erat tubuh istrinya dengan hasrat yang mulai meruak di dadanya. Mendengar desahan istrinya Rendi tersenyum tipis. Ia menelusuri setiap inci leher istrinya. Dalam posisi berdiri Rendi menciumi istrinya dengan puas. Rara mendorong dada suaminya dan mengerutkan dahinya.
"Sayang, bisa tidak kamu ini jangan disini anak-anak kita baru saja tertidur," protes Rara.
"Ayo kita lakukan di kamar mandi," ajak Rendi.
"Ish ... kamu ini semakin nakal saja," ucap Rara tersenyum mengangguk pada suaminya.
Rendi menggendong istrinya dan memasuki kamar mandi dengan dada yang sudah mulai memanas. Begitupun Rara ikut memanas karena ulah suaminya yang semakin pandai membuatnya menginginkannya.
Mereka melakukan setiap aktivitas di dalam kamar mandi di bawah terpaan air. Dengan desahan dan adegan panas yang mereka habiskan malam ini hingga tuntas.
Setelah aktivitas mereka lakukan. Kini Rendi membaringkan istrinya di atas kasurnya tertidur lelap setelah mengeringkan rambutnya. Ia tersenyum dan mengecup kening istrinya penuh dengan rasa cintanya yang semakin bertambah saat ini.
"Mari sayang. Akan aku buat kamu bahagia di tempat tinggal kita yang baru nanti," ucap Rendi.
Ia ikut tertidur di samping istrinya dan memeluk erat. Menunggu pagi yang akan datang dan akan langsung kembali ke Jakarta.
Malam Hari
Adam melihat Nesa yang kini berpakaian formal kembali seperti biasanya.
Ia tersenyum dan berjalan menghampiri Nesa.
__ADS_1
Nesa tampak datar saat melihat kedatangan Adam, yang saat ini berjalan menghampirinya dengan tatapannya.
Adam duduk di samping Nesa berada. Nesa menggeser posisi duduknya ketika Adam malah duduk di dekatnya.
Adam tersenyum menggoda. Ia menggeser kembali posisi duduknya dan mendekatI Nesa.
Nesa semakin kesal dan bergeser berulang kali, hingga di ujung tempat duduk, ia terkejut bahwa disana sudah berada di pojokan dan ia tidak bisa bergeser kembali.
Adam tersenyum licik saat mendapati Nesa yang salah tingkah ketika di dekatnya.
Kini Adam berada di dekat wajah Nesa.
Tidak ada jarak di antara mereka. Deru nafas Nesa terasa hangat di dekat wajah Adam.
Nesa menunduk takut akan hal yang tidak ia duga terjadi.
Adam tersenyum saat melihat tingkah Nesa yang saat ini sedang tertunduk terbawa pikirannya sendiri.
"Kenapa kau selalu berpikir kalau aku akan menciummu!" ucap Adam.
Nesa tertegun dan mendongakan kepalanya hingga kini wajah dan tatapannya beradu tatap dengan Adam yang tersenyum licik.
Nesa mengerutkan keningnya saat Adam menggodanya seperti ini.
Adam kini terpental menjauh dari Nesa karena dorongannya sangat kuat.
Adam tersenyum mendapati Nesa yang gampang terprovokasi olehnya. Ia berdiri dari duduknya dan membuat api unggun seperti sebelumnya.
"Jika kau wanita yang tadi siang, aku pasti sudah memakanmu," ucap Adam sambil menyalakan api.
Nesa tertegun saat mendengar ucapan Adam yang membuatnya malu.
"Siapa juga yang mau sama kamu," cetus Nesa.
Adm tersenyum dan berdiri mendekati Nesa kembali dengan senyum tipisnya.
Ia kini mendekati Nesa dengan posisi berdirinya mendekati tubuh Nesa.
"Aku tidak perlu persetujuanmu jika itu mauku," ucap Adam tersenyum.
Nafas Adam terasa di wajah Nesa. Saaat Adam berbicara terlalu dekat dengannya.
__ADS_1
"Kau terlalu percaya diri, menyingkir di hadapanku pria idiot kau membuatku panas," cetus Nesa mendorong Adam.
Tangan Nesa di tahan oleh Adam. Nesa terkejut dan melihat wajah senyum licik Adam yang kini sedang menatapnya.
"Kau ... kau mau apa lepaskan, kau tidak akan bisa," bentak Nesa.
Adam semakin mendekatkan wajahnya pada wajah Nesa yang kini sudah menutup kedua matanya. Nesa meronta tapi pegangan Adam terlalu kuat untuknya dan juga pertahanan kakinya sangat kuat pada tubuh Nesa, yang tidak bisa membuatnya mendorong Adam.
Saat wajah mereka sudah sangat dekat. Adam memiringkan sedikit kepalanya dan mencoba menempelkan bibirnya. Saat bibirnya menempel di bibir Nesa. Adam membuka kedua matanya saat mendengar dering handponenya dan menjauh dari Nesa.
Ia mengangkat panggilan telepon dari Ken yang kini berada di Jakarta dengan berkas di tangannya,kacamata di kedua matanya.
Adam menjawab dengan singkat dan tenang kembali. Ia menutup panggilan teleponnya.
Kini ia berbalik dan melihat Nesa duduk jauh darinya. Ia tersenyum dan bejalan mendekati Nesa kembali dari duduknya.
Nesa tertegun saat sesuatu menempel di bibirnya. Sebuah bibir yang dingin menyejukan dan membuat dadanya berdetak lebih kencang dari biasanya. Untuk kali ini Nesa baru tahu apa itu tentang sebuah ciuman dan bibir yang pertama bersentuhan dengannya. Nesa teebawa dengan pikirannya sendiri mengingat dan merasakan kembali kejadian yang terjadi beberapanmenit yang lalu. Semua terasa mimpi tapi terasa nyata.
Nesa bergelut dengan pikirannya sendiri. Hingga tidak menyadari Adam kini sudah berada di hadapannya dan duduk memandanginya dengan senyuman tipis di wajahnya. Ia mendekati Nesa ke samping wajahnya.
"Nanti kita lanjutkan lagi, malam ini aku ada hal yang harus aku kerjakan," bisik Adam membuat telinga Nesa memerah karena merasakan nafas hangat Adam di telinganya.
Nesa mundur dari duduknya dan membulatkan kedua matanya. Saat Adam malah tersenyum melihat ke arah Nesa.
"Kau ... siapa juga yang mau kamu, menjauhlah dariku pria idiot," bentak Nesa.
"Lalu kenapa kau ingin merasakman dan membayangkan bibirku terus," goda Adam.
"Kau ...."
Nesa terdiam, mengingat apa yang sempat ia pikirkan tentang sebuah bibir yang sempat menempel di bibirnya tadi. Adam bahkan tahubbahwa ia berharap hal itu terulang kembali agar ia merasakannya dengan kesadarannya. Nesa menunduk dengan wajah merah padam di pipinya menahan malu agar tidak terlihat oleh pria yang kini sedang menatapnya.
Adam tersenyum dan mendekatinya lagi.
"Tapi aku suka," bisik Adam kembali.
Adam berdiri menjauh dari Nesa yang kini sedang tertegun dengan dadanya yang semakin berdetak kencang. Ia mendongakan kepalanya melihat Adam yang kini sedang duduk memainkan handponenya.
Ada rasa bahagia saat Nesa mendengar ucapan Adam yang terakhir tadi.
"Dia bilang suka, suka apa sih, aku jadi ingin tahu, tapi aku tidak mau jika harus bertanya padanya. Malas," batin Nesa.
__ADS_1
Malam ini mereka berjaga tanpa perbincangan apalagi perdebatan hingga terasa panjang dan lamanya malam ini. Adam sibuk dengan handponnya dan Nesa asik dengan pandangannya melihat Adam yang sempat membuatnya berpikir tidak karuan terhadapnya.