Istri Kedua Tercinta

Istri Kedua Tercinta
Bandara


__ADS_3

NTR:Hai Kak, kasih bintang 5 kak, jangan lupa like, komen dan vote yach... Selamat membaca kak.


Iyas tertegun dan mengerutkan dahinya mendengar ucapan Lina yang tidak masuk akal. Namun ia memilih untuk mengalah, mengingat hari memang sudah malam baginya. Tidak baik bagi seorang gadis malam seperti ini, masih berada di luar. Iyas keluar dari kursi penumpang dan keluar. Kini ia berdiri di hadapan Lina.


"Masuklah!" seru Iyas kepada Lina.


Dengan cepat Lina masuk dan duduk di kursi penumpang. Iyas yang melihat Lina sudah duduk di kursi penumpangnya. Ia lalu berjalan menuju pintu mobil depan. Lalu ia duduk di kursi depan di samping sopir. Iyas melihat kearah Lina yang sudah duduk dengan rapih dan acuh tanpa melihat ke arah Iyas.


"Jalan Pak," ucap Iyas kepada sopir taksi.


Saat dalam perjalanan Iyas dan Lina tidak ada perbincangan diantara mereka.


Begitupun supir taksi tersebut. Namun setelah 1 jam Iyas dan Lina berada di mobil taksi.

__ADS_1


Ia lalu berpaling melihat ke kursi penumpang, melihat Lina yang ternyata sudah tertidur pulas di kursi belakang. Iyas mengerutkan dahinya, juga tersenyum tipis melihat wajah polos Lina yang tertidur pulas dengan sangat manis bagi Iyas.


Dia lalu membiarkan Lina tertidur dan fokus melihat ke jalanan depan. Ia mengerutkan dahinya lalu melirik ke arah supir yang usianya paruh baya itu. lalu ia mencoba untuk mengajak berbicara sopir taksi nya itu .


"Kenapa di usia anda yang sudah terbilang tidak muda lagi masih harus bekerja bahkan sebagai seorang sopir?" tanya Iyas.


Iyas berbicara kepada pria paruh baya di sampingnya itu yang masih fokus dengan pandangannya ke depan dengan kemudi di tangannya.


"Setiap kebutuhan dan kehidupan orang berbeda-beda, begitupun dengan saya meski usia saya sudah terbilang sangat tua namun kebutuhan materi saya memperkenankan saya untuk tetap bekerja sampai saat ini," jawab sopir tersebut.


Saat melihat identitasny. Iyas mengerutkan dahinya dan melakukan telephone kepada sekertarisnya untuk melakukan apa yng hrus di lakukan besok pagi. Iyas tersenyum dan menyimpan kembali handphonenya. Lalu melirik kembali ke arah sopir lagi. Dengan senyum tipisnya Iyas berbiacara kembali pada pria paruh baya itu lagi.


"Jika Bapak berkenan, besok bapak tidak perlu kerja sampai malam lagi , apalagi harus melewati malam di perjalanan seperti ini lagi. Anda datang saja ke alamat ini nanti akan ada sekertaris saya yang akan memberikan kerja ringan untuk anda dan menjamin kesehatan anda," ucap Iyas.

__ADS_1


Sopir tersebut mengerutkan dahinya Ia juga tertegun mendengar ucapan Iyas namun ia sedikit ragu untuk menjawab pernyataan Yas kepada dirinya bahwa mulai besok dirinya tidak perlu menjadi seorang sopir taksi lagi. Mengingat dirinya tidak melakukan apapun bahkan kesalahan sedikitpun selama menjadi seorang sopir taksi.


"Sebenarnya apa kesalahan saya?" tanya supir itu.


Iyas tersenyum mendengar pertanyaan pria paruh baya itu. Yang bahkan mempertanyakan atau merasa takut akan hal yang memang tidak ia lakukan sama sekali namun ia tahu bahwa pria yang ada di hadapannya itu adalah seorang pejuang yang yang tangguh.


"Anda jangan khawatir, anda tidak melakukan kesalahan apapun. Besok anda hanya perlu datang ke perusahaan saya dan menemui sekretaris saya di meja resepsionis!" jelas Iyas tersenyum dan kembali fokus melihat pandangan ke depan.


"Terima kasih Nak," hanya itu yang terucap oleh pria paruh baya itu.


Iyas mengangguk menjawab pernyataan dan terima kasih dari pria paruh baya itu. Ia tidak berbicara kembali padanya. Namun saat melihat Lina masih terjaga dengan tidurnya. Iyas tersenyum tipis.


Saat dia mau membuka pintu mobil, terdengar suara dering handphonenya berbunyi. Iyas berhenti dan mengangkat teleponnya. Saat Iyas mengangkat teleponnya, ia mengerutkan dahinya dan terkejut. Ia hanya menjawab dengan anggukan dan ucapan Iya saja. Setelah menutup teleponnya. Iyas menyimpan handphonenya dan kembali duduk dengan benar lalu ia melirik kearah supir dan berbicar.

__ADS_1


"Jalan lagi Pak, ke bandara!" seru Iyas kepada sopir taksi.


Setelah mendengar permintaan Iyas, sopir taksi tersebut menancapkan gas kembali dan kini mobil melaju menuju bandara. Sesuai yang diperintahkan oleh Iyas. Hanya butuh waktu 1 jam untuk sampai di bandara di mana pesawat jet pribadi Iyas berada.


__ADS_2