Istri Kedua Tercinta

Istri Kedua Tercinta
Sedikit Berbicara Akan Baik


__ADS_3

NTR:Hai Kak, kasih bintang 5 kak, jangan lupa like, komen, favoritkan dan vote yach... Selamat membaca kak.


Saat Rayn memainkan gamenya, ia mendapatkan sebuah pesan dari pamannya Adam. Ia mengerutkan dahinya ketika melihat isi pesan darinya. Ia melepas earphonenya dan melihat ke arah kerumunan mahasiswa lainnya dan ia berdiri berjalan tanpa menghiraukan Zain yang mengerutkan dahinya.


Zainpun berdiri dan berjalan mengikuti Rayn. Kini Rayn berjalan melewati adik perempuannya yang sedang berdiri di antrian bersama seorang pria yang tampilannya tampak culun bahkan lemah dengan kacamata besarnya.


"Amira beneran ikut antrian dia?" gumam Zain pelan.


Rayn menatap adiknya tanpa ekspresi dan beralih melihat pendaptaran yang cukup panjang. Ia berjalan meninggalakan antrian itu, masih di ikuti Zain yang berjalan lincah mengikuti Rayn.


"Eh, pria tampan itu melihatmu Amira! Kau tahu, dia juga menyukaimu kayanya," ucap Aris.


"Hmm, kau pikir siapa yang tidak akan menyukaiku?" jawab Amira tersenyum tipis. Dirinya memang selalu bersaing dalam hal tampan dan cantik jika kepada kakaknya.


Aris mengerutkan dahinya lagi masih mendengar kepercayaan diri Amira yang masih sangat asing di pendengarannya. Pasalnya Amira selama ini hanya seorang gadis yang akan sangat acuh pada siapapun. Namun pada pria yang barusan ia lihat lain dengan sifat Amira dari biasanya.


"Aku masih tidak percaya kau ternyata normal Ra," ucap Aris.


"Hmmm," Amira hanya menjawabnya dengan anggukan.


"Hah, jadi kau selama ini merasa tidak normal Ra?" tanya Aris tidak percaya akan respon sahabatnya itu.


"Hmmm," jawab Amira berjalan meninggalkan pendaftaran dan menuju kantin.

__ADS_1


"Astaga gadisku ini benar-benar misterius, jawabannya hanya ada sekedar hmm aja, aku tidak tau itu jawaban iya atau tidak," gerutu Aris.


Amira hanya tersenyum mendengarkan gerutuan sahabatnya itu. Mereka kini berada di kantin yang mana begitu banyak mahasiswa yang juga menatap ke arah mereka berdua terutama Amira. Seorang gadis berkerudung yang penampilannya jauh berbeda dari kebanyakan orang lain. Dia lebih mencolok karena dengan tampilan sederhananya. Amira menjadi daya tarik dan terlihat manis.


Amira tidak menghiraukan sudut pandangan orang lain. Ia duduk dan membaca bukunya dengan makanan di mulutnya, ia membaca buku. Aris yang tahu gadis yang ada di hadapannya itu, ia hanya tersenyum mengagumi sahabatnya itu.


"Gadis aneh dan norak!" ucap beberapa gadis yang duduk di samping Amira dan Aris.


"Iya ... gak tau pasion, hahaha," balas temannya yang lain.


"Tapi, kenapa dia bisa kuliah disini yach?" tanya gadis lainnya.


"Paling ada koneksi dari om-om hahaha," balas Siska. Seorang gadis seksi dengan penampilan peminimnya.


"Bukankah bagus, ada media gratis tanpa perlu bayar! Kita hanya perlu menonton dan mendengarkannya saja, tidak perlu menanggapinya selama mereka kuat dan tahan untuk berbicara," ucap Amira.


Gadis-gadis yang mendengar ucapan Amira. Mereka mengerutkan dahinya dan dengan kesalnya mendengar ucapan Amira. Salah satu dari mereka berdiri dan menghampiri Amira dan Aris. Ia menggebrak meja yang ada dihadapan Amira.


"Kau pikir aku ini apa? Tidak level kami harus menjadi pusat media untuk kamu! Dasar gadis miskin dan norak," ucap Siska kesal.


Jangankan untuk menjawab ucapan Siska. Amira bahkan tidak menoleh ke arah gadis itu sama sekali. Ia masih dengan membaca bukunya tanpa menghiraukan Siska, yang mulai kesal di sampingnya berdiri. Saat merasa tidak dihiraukan, Siska menarik buku yang dipegang oleh Amira dan membuangnya ke lantai. Setelah itu Siska melipat kedua tangannya di dadanya dan tersenyum penuh kemenangan, menatap Amira yang kini terdiam dan menoleh kearah Siska.


Amira masih merapatkan bibirnya dan menatap lekat Siska. Lalu ia melihat ke arah meja kantin, dari kejauhan ada 2 anak buah ayahnya yang akan segera untuk berdiri. Namun Amira mengisyaratkan kedua matanya kepada anak buah ayahnya agar tidak menghampirinya. Amira tidak mau jika hanya hal spele mereka mengacaukan segalanya.

__ADS_1


"Kita tmjangan ikut campur dengan urusannya, jika sudah di luat batasan baru kita turun tangan," ucap salah satu anak buah Rendi.


Amira bahkan tidak berbicara sama sekali, meski buku yang sedang ia baca dilempar oleh Siska. Siska yang tidak ditanggapi oleh Amira, Ia mulai kesal dan geram lalu menggebrak kembali meja yang ada dihadapan Amira. Aris yang mulai kesal kepada Siska, ia mencoba untuk berbicara namun Amira menatap Aris dan penahannya untuk berbicara.


"Gadis miskin dan norak, bahkan sangat lemah tidak mampu untuk protes dengan apa yang aku perbuat meski buku yang kamu baca sudah aku buang," pancing Siska.


"Aku tidak pernah suka memungut apa yang sudah aku buang dan tidak perlu menanggapi orang yang membuangnya," ucap Amira berdiri dan berjalan meninggalkan Siska yang tertegun mendengar ucapan Amira.


Amira berjalan meninggalkan Siska dengan diikuti oleh Aris yang tersenyum penuh kebanggaan kepada sahabatnya itu dan melihat kearah Siska yang masih terdiam meresapi ucapan Amira, yang mengingatkannya bahwa dirinya sama persis seperti sebuah buku itu. Yang ia buang dan kenyataan pada dirinya adalah dirinya yang dibuang oleh kedua orang tuanya, tanpa mengetahui identitas aslinya dan ucapan Amira membuatnya merasa bahwa ucapan Amira adalah tertuju kepada kehidupannya menatap.


Amira yang berjalan sudah keluar dari kantin tanpa menoleh kembali kearah Siska, yang masih terdiam. Amira yang meninggalkan kantin yang diikuti oleh Aris. Ia masih memakan camilannya tanpa memikirkan hal yang baru saja terjadi. Aris selalu bangga kepada sahabatnya itu, yang sekali ia berbicara memang selalu membuat orang lain terdiam termasuk Siska.


"Kenapa kamu berbicara seperti itu kepada Siska? Bisa membuat dia terdiam begitu saja, saat berbicara seperti itu. Aku bahkan tidak mengerti apa yang kamu ucapkan," tanya Aris.


"Hm m," jawab Amira. Amira hanya mengatakan apa yang ia ketahui tentang kehidupan Siska yang hanya tidak sengaja ia ketahui saat dirinya pulang sekolah dulu, ia tidak sengaja melihat Siska di usir oleh ayah angkatnya dan mengetahui bahwa Siska hanya anak angkat.


"Ya, ya ... aku sudah tahu! Kau pasti akan menjawab hal yang sama yang seperti biasanya, hmm saja," gerutu Aris.


Aris yang ditanggapi oleh senyuman tipis Amira yang tahu bahwa sahabat prianya itu sudah mengerti akan dirinya. Amira dan Aris kini berada di di kelasnya. Amira tertegun saat melihat seorang pria yang tak lain adalah kakaknya, berada di ruang yang sama dengan dirinya. Amira mengerutkan dahinya, ia masih tidak memahami apa maksud dari kakaknya itu, yang kini masuk di jurusan yang sama dengannya.


"Apa yang sedang dia lakukan di sini?" gumam Amira.


Aris terdiam namun ia tersenyum ketika melihat pria yang sempat membuat Amira tersenyum dan percaya diri tadi kini berada di ruangan yang sama dengan mereka.

__ADS_1


"Wah, pria tampan itu. Ternyata berada satu ruangan dengan kita, ada banyak kesempatan buatmu Amira," ucap Aris tersenyum melihat sahabatnya, Amira bergelut dengan pikirannya sendiri bahkan memajukan bibirnya.


__ADS_2