Istri Kedua Tercinta

Istri Kedua Tercinta
Ruangan pengap


__ADS_3

Rara membuka kedua matanya, merasakan kedua tanganya di ikat kebelakang,juga kaki terikat.


Rara melihat ke langit-langit ruangan dimana ia tertidur disana,Rara mengingat-ingat kejadian sebelum ia tersadar saat ini.


"Kenapa bisa seperti ini,ini dimana kenapa aku bisa ada disini,bukankah aku ada di toilet,oh aku ingat aku bahkan baru keluar dari toilet saat itu dan sekarang kenapa ada di tempat seperti ini," gumam Rara.


"Hallo apa ada orang?" Teriak Rara. tapi tidak ada sahutan dari arah pintu.


Rara melihat ke sekeliling ruangan tersebut bahkan tidak ada ruang terbuka sama sekali.


Rara teringat suaminya juga anak-anaknya ia terdiam.


"Apa aku punya salah pada seseorang?" Gumam Rara.


Rara mengingat-ingat siapa yang ia singgung tapi tak tahu sama sekali.


Sementara Rara sedang melihat-lihat ke seluruh ruangan,ia baru menyadari bahwa ia tidak memakai kerudungnya.


"Astagfirullooh, kemana kerudungku,seingatku aku mengenakanya tadi," gumam Rara.


Di luar ruangan ada dua orang pria sedang melihat layar laptopnya dan terdengar tawa di salah satu pria itu.


"Hahaha, kamu sangat cantik wanitaku, aku kira kamu akan tetap tidur sampai aku mencumbumu," ucap Bari tertawa.


Baru terdudukdi depan komputernya, yang di belakangnya ada anak buahnya yang berdiri di belakangnya.


"Tunggu sebentar ya Sayang,aku akan mengenalkanmu dengan kakak tercintaku itu," ucap Bari tersenyum licik melihat Rara yang sedang melihat-lihat setiap sudut ruangan.


"Tuan ada tuan Raditya di luar," ucap penjaga di luar pintu menghampiri Baru.


"Biarkan dia masuk kesini !" Perintah Bari.


Raditya memasuki ruangan yang dimana ada adiknya di ruangan tersebut,Raditya melihat ke arah laptop yang Bari lihat.


Raditya menghampiri laptop tersebut dan membulatkan kedua matanya.


"Kenapa kak apa dia cantik?" Ucap Bari tersenyum.


"Bari,dia Rara mantan istriku," ucap Rditya.


"Apa? Jadi dia Rara yang kau bilang tidak seru itu kak,jadi dia mantan istrimu yang membosankan?" Ucap Bari terkejut.


Raditya mengangguk dan menyentuh layar laptop,dan menyentuh wajah orang yang sangat ia rindukan.


Terdengar tawa Bari yang membuyarkan pikiran Raditya.


"Hahaha, Kakak kau ini buta atau bagaimana gadis secantik ini di bilang membosankan,bodoh..! UcapBari.


"Aku.." Ucapan Raditya terhenti.


"Kau bahkan lebih memilih Amora daripada berlian kak,haha," tawa Bari.


"Tapi dia sekarang miliku," ucap Bari menekan.


Raditya terdiam dengan ucapan adiknya,yang terobsesi pada mantan istrinya,ia tak habis pikir ternyata memang Rara sangat cantik,dengan rambut terurai juga tubuh yang berisi.


"Kenapa aku baru tahu bahwa Rara sangat indah," batin Raditya.


"Sepertinya kamu baru tahu kalau tuh cewek cakep ya hahaha," ucap Bari.


"Jangan sakiti dia," ucap Raditya.


"Hahaha jangan bodoh kak! Dia miliku untuk apa aku nyakitin dia,aku akan beri dia kasih sayang dan kepuasan," tawa Bari licik.


"Dia istrinya Rendi Anggara," ucap Raditya.


"Apa? Pantas saja perusahaan langsung bangkrut,ternyata ulah dia, aku bahkan tidak akan pernah mengembalikanya pada lelaki itu,biar dia menderita dengan di tinggalkan oleh istrinya," ucap Bari dengan tatapan dinginya.


"Jangan gegabah apalagi kamu menyakiti Rara,Rendi bahkan mencurigaiku tadi," ucap Raditya.


"Haha, dia bahkan sudah bergerak untuk menghakimimu Kak," tawa Bari.


"Jangan sakiti Rara,Kakak mohon dia gadis baik-baik," pinta Raditya.


"Karena dia gadis baik-baik kak,aku akan memilikinya juga dia sangat menarik,asal Kakak tahu tubuhnya itu Kak sangat mulus membuatku tak mau berhenti melihatnya,aku akan pastikan dia terpuaskan olehku," ucap Bari tersenyum licik.


"Jangan bodoh kamu Bari ! Dia sudah punya suami juga anak," bentar Raditya geram.


"Haha, kamu bahkan menyebut namaku dengan lantang kak,hanya karena wanita itu,Aku akan terima dia kak bahkan anak-anaknya akan aku beri kasih sayang akan aku jadikan kami keluarga sempurna aku bahkan akan perlakukan si kembar seperti anak kandungku," senyum Bari berangan-angan.


Rendi menggelengkan kepalanya ia bahkan tidak habis pikir dengan adiknya yang berkata seperti itu.


"Kakak ingin menemuinya," ucap Raditya.


"Haha tidak semudah itu Kak,dia bahkan belum aku sentuh kenapa kakak begitu tidak sabaran,harusnya dulu tidak kau sia-siakan istri secantik Rara ini," senyum licik Bari.


"Kamu jangan keterlaluan Bari ! Dia bahkan tidak tahu kamu ini siapa," ucap Raditya.


"Kakak harus masuk," ucap Raditya meninggalkan Bari yang tersenyum licik.


"Tanpa seizinku tidak akan ada yang bisa masuk Kak," ucap Bari santai.


Raditya menghentikan langkahnya,ia berbalik dan menahan amarah pada adiknya yang keras kepala.


"Kenapa kamu begitu tidak paham dik, Dia bukan gadis lajang kamu bisa dapatkan yang jauh lebih cantik dan baik dari dia," ucap Raditya.

__ADS_1


"Tapi aku jatuh cinta padanya memang aku perlu nasihatmu Kak," tegas Bari.


"Dik, Kakak mohon biarkan kakak bertemu dengannya sebentar," mohon Raditya.


"Sebaiknya Kakak kembali,nanti akan aku beritahu kapan Kakak bisa menemuinya,aku akan sepuasnya dulu dengan wanitaku," ucap Bari meninggalkan Raditya yang terdiam dalam pikiranya.


Rara yang sedang mencoba membuka tangannya yang terikat,tiba-tiba pintu ruangan dimana Rara berada terbuka dengan bergeser.


Tepat berdiri seorang pria berpakaian serba hitam menghampirinya dengan senyum mengembang ke arah Rara, membuat Rara tercengang dengan orang yang ia lihat.


"Kamu ? Ke kenapa ada kamu disini?" Tanya Rara terbata.


Bari menghampiri Rara,dengan senyum bahagia, melihat wanita yang melihat ke arahnya bertanya padanya.


"Kamu sudah sadar cantik?" Tanya Bari menyentuh dagu Rara dan di tepis oleh Rara menghindar tangan Bari.


"Hahaha, aku sangat suka wanita yang pura-pura galak begini," tawa Bari.


"Kenapa kamu menculiku,dan ini kenapa harus tubuhku di ikat begini?" Ucap Rara.


"Aku akan melepasnya jika kamu menurut," ucap Bari tersenyum licik.


"Kenapa aku harus menurut aku bukan budakmu," bentak Rara.


"Kamu bukan budakku,tapi wanitaku," ucap Bari tersenyum licik.


"Siapa yang wanitamu kamu gila ya," bentak Rara.


"Haha, kamu semakin galak,malah semakin cantik Sayang," ucap Bari menyentuh dagu Rara.


Rara menengadah, dan menatap tajam pada Bari yang tidak tahu malunya itu.


"Singkirkan tanganmu itu," bentak Rara.


Bari mencoba mencium bibir Rara, tapi ia menolehkan pandanganya kearah dimana keributan di luar pintu.


"Sialan ada apa,hah," teriak Bari berjalan ke arah pintu.


"Ada apa?" Teriak Bari kepada kakaknya yang sedang mencoba menerobos masuk.


"Bari biarkan kakak bertemu dengan Rara sebentar," mohon Raditya.


"Huh, sudah ku bilang kau boleh bertemu denganya bila aku sudah memuaskanya," bentak Bari.


"Kakak hanya perlu bicara sebentar denganya," lirih Raditya.


"Huh, merepotkan sana lima belas menit saja," ucap Bari acuh.


Raditya mengangguk,dan berjalan memasuki ruangan dimana Rara berada.


Raditya melihat ke arah Rara yang juga melihatnya.


Raditya tidak langsung menjawab Rara,ia memandang wajah Rara wanita yang selama ini ia rindukan, Raditya berjalan perlahan menghampiri Rara hingga tepat di hadapanya.


"Kenapa dulu aku tidak sadar,bahwa kamu sangat secantik ini Ra, bodohnya aku malah menghilang darimu dan menikah dengan wanita yang bahkan tak menghargaiku," lirih batin Raditya.


"Mas ?" Ucap Rara mengeras membuyarkan Raditya yang sedang asik memandang Rara.


"Ra, apa kabarmu?" Ucap Raditya.


"Mas,tidak lihat aku sedang tidak naik-baik saja," ucap Rara keras.


"Maaf Ra," lirih Raditya.


"Kenapa minta maaf,mas apa hubunganmu dengan pria itu dan sedang apa mas disini?" Tanya Rara.


"Maaf Ra, atas segala sikapku padamu selama ini,dan dia Adiku," lirih Raditya.


"Mas,kenapa kamu membiarkan adikmu seperti ini padaku,lepaskan aku Mas, aku harus kembali kepada suamiku dan anak-anaku Mas," lirih Rara.


"Ra,bisa kah kita kembali seperti dulu?" Ucap Raditya sendu.


"Kembali seperti dulu,kamu yang cuek padaku Mas,kamu yang tidak pulang setiap hari berminggu bahkan berbulan-bulan Mas,atau kamu yang mengatakan aku sangat membosankan?" Tanya Rara.


"Ra,aku minta maaf aku memang salah tapi akan aku perbaiki semuanya menjadi lebih baik," ucap Raditya memohon.


"Hmm Mas, lebih baik kamu cari cara agar aku bisa lepas dari sini karna aku juga sudah muak melihatmu," ucap Rara acuh.


"Aku sangat merindukan suamiku dan anak-anakku,Rendi tolong aku," lirih batin Rara.


"Ra, kembalilah denganku," lirih Raditya.


Raditya berjalan mendekati wajah Rara,dan mencoba menciumnya tapi sebuah tangan menarik Raditya, ia terpental dengan tinjuan di wajahnya.


"Kau tak sabaran ya kak,sudah ku bilang aku belum memuaskanya dan juga dia wanitaku," teriak Bari.


Raditya yang memerah wajahnya karena tinjuan dari adiknya,ia berdiri dan membalas pukulan adiknya Bari.


Bari menangkisnya dan merekapun berkelahi saling memukul satu sama lain.


"Seharusnya aku berlari di saat pintu itu terbuka," batin Rara.


Di saat Raditya dan Bari berkelahi, Rara mencoba membuka tali pengikat tanganya,dengan menggeseknya ke tiang meja yang ia sandari,dengan berkelahinya kakak beradik itu.


Rara mencoba untuk melepas tali di tanganya.

__ADS_1


Saat Bari melihat ke arah Rara, yang sudah melepas tali di tanganya,dan melepas tali di kakinya.


Bari beralih menghampiri Rara yang sudah berlari dan meraik rambut Rara hingga membuat Rara meringis kesakitan.


"Aawwww sakit,lepaskan," teriak Rara.


"Kalian tahan dia !" Perintah Bari pada anak buahnya pada Raditya yang sedang mencoba menghampiri Bari dan Rara.


Dua anak buah Bari memegang Raditya, mencegahnya agar tidak melawan kembali.


"Bawa kakakku keluar," teriak Bari dengan wajah merah penuh amarah.


Kedua anak buah Bari membawa pergi Raditya dengan Raditya yang meronta-ronta berteriak.


"Bari, jangan sakiti Rara aku mohon," teriak Raditya dengan wajah babak belur.


Sementara itu Rara meringis menahan sakit,karena rambutnya di tarik juga tanganya di tarik ke belakang.


Bari tersenyum licik dan mendekatkan wajahnya di wajah Rara.


"Kenapa kamu mencoba kabur sayang, bukankah kamu ingin aku memuaskanmu," senyum Bari pada Rara yang membulatkan kedua tanganya dan menangis.


"Aku tidak akan menyakitimu,justru aku akan memberimu kenikmatan yang jauh lebih nikmat dari suamimu itu," ucap Bari tersenyum licik.


"Jangan harap,aku bahkan tidak sudi melihat wajahmu itu," teriak Rara.


"Hahaha, kau pikir dengan menunggumu sudi padaku,aku akan menyerah sayang,tunggu jawaban dari tubuhmu baru aku akan tahu jawaban yang tepat dan memuaskan untukmu," ucap Bari.


Bari melempar Rara ke ranjang,yang ada di sana. Rara meringis kesakitan bercampur takut.


Bari mendekatinya dengan senyum jahatnya,ia seperti mata keranjang melihat wanita yang menggiurkan baginya.


"Jangan mendekat suamiku akan membunuhmu jika berani kau sentuh aku," teriak Rara.


"Hahaha, kalau dia peduli padamu seharusnya dia sudah datang menjemputmu sayang,bagaimana kalau kita menikah saja agar kamu bisa aku puaskan apapun itu," ucap Bari tersenyum.


"Siapa yang ingin di puaskan olehmu,jangan mendekat pergi," teriak Rara dengan air mata yang mengalir dengan ketakutan yang Rara rasakan.


Bari semakin mendekatinya dan menindih tubuh Rara,ia merobek lengan baju Rara hingga terlihat bagian dada Rara.


Rara berteriak dan menutupi dadanya dengan kedua tanganya.


Bari yang melihat kulit mulus Rara, ia menganga dan terkagum dengan kulit putih mulus wanita yang ada di hadapanya,juga tonjolan dada yang besar.


"Hahaha, Raditya bodoh! Wanita semulus gini di bilang membosankan, aku bahkan akan membunuh semua pria yang mencoba mendekatimu, Rara Sayang," tawa Bari.


Rara semakin gemetar ia menutup sebisa bagian yang terbuka juga menangis tak henti dengan berteriak.


"Rendi...Aku takut," teriak Rara.


Bari menghampiri wajah Rara,dengan maksud ingin menciumnya.


Tapi sebuah tangan menghampirinya dan membuang Bari ke arah meja, dan membenturkan kepala Bari hingga berdarah.


Bari meringis menyentuh kepala yang berdarah melihat siapa yang melemparnya.


Bari terkejut siapa yang ada di hadapanya.


"Kau bagaimana bisa kau disini?" Ucap Bari terbata.


Rendi dengan wajah membunuhnya, ia memukul Bari dengan keras di wajahnya yang di tangkis Bari dan berkelahi.


Hingga Bari tersungkur dengan babak belur,Rendi menjambak rambut Bari dan meninjunya membabi buta dengan amarah memuncak,bahkan Bari terkulai lemas dengan darah berceceran di wajahnya.


Rendi terhenti saat Mark, Iyas dan Ken akan masuk.


"Berhenti jangan masuk! " Teriak Rendi menghentikan Mark dan yang lainya melangkah memasuki ruangan tersebut.


Rendi menghampiri Rara yang sedang menundukan kepalanya,menutup dengan kedua tangannya.


Rendi membuka jasnya dan memakaikanya pada istrinya.


Rara mendongakan kepalanya,ia melihat Rendi di hadapanya menangis dan memeluk Rendi.


Rendi memeluk erat istrinya yang menangis keras.


"Huuaaaa,Kenapa kamu lama sekali aku takut," tangis Rara dengan pegangan erat pada suaminya dengan bergetar di tubuhnya.


"Maaf Sayang ,harusnya aku lebih cepat," lirih Rendi memeluk erat Rara.


Bari yang dengan wajah berdarah ia mencoba berdiri dan menghampiri Rendi yang sedang memeluk Rara.


"Dia wanitaku !" Teriak Bari.


Dorrr.... Dorrr...


Suara tembakan dua kali di kaki Bari yang membuatnya terjatuh.


"Siapa yang kau bilang wanitaku hah, dia akan hidup menderita dan mati mengenaskan," ucap Rendi dengan tatapan membunuhnya.


Tembakan yang Rendi lakukan mengejutkan Mark, Iyas juga Ken yang ada di luar ruangan.


Mereka memasuki ruangan dengan isyarat Rendi.


Rendi masih mendekap istrinya di dalam dadanya,ia menggendong istrinya yang memeluk erat dengan tubuh bergetar Rara.

__ADS_1


"Pastikan dia tak hidup," ucap Rendi tajam berjalan meninggalkan Bari yang terkapar.


Rendi menggendong istrinya yang masih memasukan kepalanya di dada Rendi dan pergi meninggalkan tempat itu.


__ADS_2