
Setelah berdiskusi seharian kemarin. Akhirnya Rara mengikuti suaminya menetap di Jerman. Hari ini Rara dan Rendi berpamitan pada kedua orang tuanya.
Rara memeluk erat ibu mertuanya sama percis seperti ia memeluk ibu kandungnya kemarin, saat di Bandung. Air mata tak terbendung terjatuh di pipi putih Rara.
Rendi tersenyum melihat adegan dimana istri dan ibunya saling menyayangi satu sama lain. Juga kerinduan pasti selalu mengikutinya.
Setelah keluar dari rumah utama Anggara. Mereka berpamitan dan kini menuju bandara.
Rara setuju dan bersedia tinggal di Jerman. Karena ada Dilla yang akan ikut tinggal disana.
Senyum cerah di wajah istrinya. Membuat Rendi tersenyum tipis melihatnya. Ia sudah berjanji akan sepenuhnya selalu mengutamakan istrinya.
Sesampainya di bandara. Kini Rara duduk di samping suaminya, dengan Amira di pangkuannya. Rendi memejamkan kedua matanya bersandar di belakang kursi.
Rara memperhatikan putranya Rayn, yang kini sedang duduk di pangkuan Ken. Rayn mengelus-elus perut Dilla. Ia menjadi suka menyentuh perut Dilla ketika ia pernah menyentuhnya dan ada pergerakan di perut yang ia sentuh. Membuatnya ketagihan menyentuh perut tantenya.
Ken tersenyum tipis melihat tuan mudanya menyukai segala aktivitasnya.
Rayn bahkan tidak mau beranjak dari duduknya. Baginya itu jauh lebih menarik dari bermain game yang di tawarkan Adam padanya tadi pagi.
Hanya butuh waktu beberapa jam. Kini pesawat sudah mendarat di bandara.
Rendi menggandeng istrinya dengan wibawa seorang Ceo keluar dari pesawatnya.
Rara hanya terkekeh ketika melihat suaminya yang selalu memegang tangannya dengan erat.
"Sayang, aku gak akan kemana-mana, kamu tidak perlu memegangku dengan seerat gini," ucap Rara.
"Aku suka kok," jawab Rendi masih dengan pandangannya ke depan dan berjalan menggandeng istrinya.
"Hmmm, baiklah. Aku akan ikut denganmu sampai ke ujung dunia," dengan senyum ceria Rara mengutarakannya pada suaminya.
Rendi tersenyum melihat tingkah ceria istrinya kembali. Ia menyentuh dagu istrinya dan mencium bibirnya menikmati setiap inci bibir istrinya.
Rara membulatkan kedua matanya ketika mendapati ciuman dari suaminya. Bahkan di tempat umum yang ada banyak orang yang berlalu lalang melihatnya.
"Hmm ... mereka itu terbiasa dunia milik mereka berdua jadi ya kita hanya penonton saja," gerutu Dilla.
"Apa kamu mau juga?" tanya Ken tersenyum nakal melihat istrinya yang mengembungkan pipinya.
"Aku tidak serakus itu Ken," ucap Dilla malas.
"Ucapan sama tindakanmu di kamar tidak sesuai La," tangkis Ken dengan senyum tipisnya.
"Karena rumahku dan seisinya ya duniaku. Aku bebas berekspresi disana apalagi tentang suamiku, aku makan habis juga tetap milikku," jelas Dilla tersenyum.
Ken tersenyum tipis mendengar ucapan istrinya. Dilla selalu terbilang konyol jika sudah membicarakan hal pribadi. Tapi itu malah membuat Ken semakin mengaguminya.
Dilla berjalan menghampiri Rendi dan Rara yang masih menikmati ciumannya.
"Kalian bisa lakukan lagi nanti jika sudah berada di kamar kalian," cetus Dilla berjalan melewati mereka.
Rendi tersadar akan ucapan Dilla dan mengakhiri mencium bibir istrinya meski tidak rela.
Rara mentapa tajam pada suaminya yang membuatnya kesal. Meski di negeri orang hal hanya mencium itu terbilang biasa. Tapi bagi Rara justru akan terasa aneh baginya.
"Kamu jangan tidur di kamar malam nanti," cetus Rara meninggalkan suaminya yang terkejut mendengar ucapan istrinya.
Rendi berlari mengejar istrinya yang berjalan cepat bersama Dilla yang kini sudah berada di depan bandara dan hendak memasuki mobil mereka.
Rendi memegang tangan istrinya, dengan pegangannya yang erat menarik istrinya kedalam pelukannya.
Rara meronta mencoba melepas pelukan suaminya. Lain dengan tenaganya. Rara tidak bisa lepas dari cengkraman dan pelukan suaminya yang bertubuh kokoh.
"Sayang, aku minta maaf aku selalu ketagihan dengan bibir manismu ini, maaf ya," bisik Rendi meminta maaf pada istrinya yangbkini sudah tidak meronta lagi.
Rara mendongakan kepalanya dan mengangguk menatap mata suaminya yang sayu.
Rendi tersenyum kembali dan mengajak istrinya masuk kedalam mobil. Bahkan Rara kini duduk di pangkuannya.
Rayn yang berada di pangkuan Adam. Ia menggelengkan kepalanya melihat tingkah kedua orang tuanya yang menurutnya terlihat konyol.
Adam hanya tersenyum tipis melihat tuan dan nona mudanya, juga Rayn yang justru terlihat sudah mengerti akan kekonyolan orang tuanya.
Di dalam mobilnya Rara mencoba untuk berpindah dari pangkuan suaminya ingin segera duduk di kursinya, tapi di cegah oleh Rendi yang malah tersenyum kearahnya.
"Sayang, kamu ini. Aku mau duduk dengan benar," gerutu Rara.
"Maka duduklah dengan baik Sayang, kalau tidak akan ada seseorang yang bangun jika kamu tetap bergerak," ucap Rendi tersenyum menggoda.
__ADS_1
Rara tertegun saat mendengar ucapan suaminya. Apalagi ketika merasakan sesuatu bergerak disana. Ia membulatkan kedua matanya dan melihat wajah suaminya yang kini tersenyum melihat wajah istrinya yang terdiam.
Rendi mendekatkan wajahnya pada istrinya.
"Jika kamu bergerak terus, dia akan terbangun dan kamu tahu resikonya apa Sayang? Aku tidak keberatan walau di dalam mobilpun,kamu harus bertanggung jawab jika dia terbangun," bisik Rendi tersenyum penuh kemenangan.
Wajah Rara memerah semu menahan malu juga terasa takut baginya. Jika ia bergerak dan bahkan membangunkan sesuatu yang suaminya katakan.
Rara kini duduk di pangkuan suaminya dengan baik. Walau masih ada rasa takut dan malu jika sesuatu terjadi dan ia harus bertanggung jawab akan hal itu.
Ia memilih bersikap baik bahkan tidak bergerak sama sekali. Ia mendongakan kepalanya, melihat suaminya menutup matanya bersender kebelakang dengan tangan merangkul istrinya di pangkuannya.
Rara memandangi wajah tampan suaminya. Yang sangat nakal baginya. Selalu menggodanya dimanapun mereka berada. Rara tersenyum saat mengingat tingkah suaminya yang menciumnya di bandara tadi. Rendi bahkan bersikap salah tingkah saat di hentikan Dilla yang menggerutu padanya.
Rendi tersadar akan istrinya yang memandanginya, ia hanya menutup matanya saja tapi tidak dengan kesadarannya. Dalam hatinya ia tersenyum bahagia. Ketika melihat istrinya yang kini menurut akan ucapannya dan terdiam dengan baik.
"Bersikap baiklah, sebentar lagi sampai dan kamu bisa sepuasnya memandangi suamimu ini nanti," ucap Rendi dengan mata tertutupnya.
Rara mengerutkan dahinya, ada sedikit kesalahan dalam ucapan suaminya yang membuatnya merasa ada yang tidak benar.
"Kenapa jadi aku yang menginginkannya? Bukannya dia yang dari tadi nyosor terus sama aku," batin Rara mengerutkan dahinya.
Rara memilih terdiam di pangkuan suaminya dan bersender di dada Rendi yang kini juga tersenyum mendapati istrinya di dadanya.
Rendi mengusap punggung istrinya. Dengan senyum penuh kemenangan Rendi mendapati istrinya tertidur di pangkuannya.
Ada sekitar empat mobil yang menuju kediaman rumah besar Rendi Anggara.
Di mobil paling depan ada Rendi dengan istrinya juga supir di balik kemudi.
Ken di mobil kedua dan istrinya yang duduk di kursi penumpang dengan Rayn di sampingnya. Ia tertidur di pangkuan paha Dilla.
Mobil ketiga, ada Nesa dengan para pengasuh anak-anak Rendi. Dengan Adam di balik kemudinya.
Dan mobil paling belakang, para anak buah Rendi mengawal sepanjang perjalanan.
Semua kendaraan, kini memasuki halaman rumah Rendi Anggara. Sudah ada para penjaga dan juga para pelayan menyambut kedatangan Rendi dan keluarga di depan rumah.
Salah seorang penjaga membuka pedal pintu mobil Rendi.
Rendi keluar dengan menggendong istrinya yang tertidur pulas. Rara mempererat pegangannya pada pakaian suaminya dalam tidur nyamannya.
"Mama, bobo," ucap Amira menunjuk ibunya yang di pangkuan ayahnya.
Nesa yang mendengar ucapan Amira tersenyum. Ia ikut melangkah masuk kedalam kediaman dengan Amira di pangkuannya yang masih terjaga tanpa tertidur.
Rendi menaiki tangga dengan istrinya yang masih tidur dalam pangkuannya.
Ia lebih banyak tersenyum mendekap istrinya.
Sesampainya di kamarnya. Rendi membaringkan Rara dengan perlahan.
Ia mengecup kening istrinya. Rendi juga mengganti pakaian istrinya dengan pakaian santai dan terbuka.
Membuat senyaman mungkin tidur istrinya saat ini yang sudah tertidur semakin pulas.
Rendi tersenyum memandangi wajah istrinya yang tertidur seperti bayi baginya.
"Kamu sangat manus, hingga membuatku mabuk dan tidak mau berhenti menciummu," ucap Rendi.
Ia berjalan mendekati pintu kamarnya, membuka dan keluar dari kamarnya.
Kini sudah ada kedua pelayan yang bertugas berjaga di kamar utama.
"Jika istriku mencariku katakan aku di ruang kerja," tegas Rendi.
Rendi berjalan menuruni tangga, ia melihat ada Ken dan Dilla yang duduk di ruang tamu.
Dilla selonjoran di atas sofa dengan perut menjulang ke atas.
Ia terlihat kelelahan dengan hanya duduk saja.
"Kenapa tidak langsung kerumahmu saja?" tanya Rendi menghampiri Ken yang duduk di samping istrinya juga Rayn yang kini di pindahkan ke atas oleh pengasuhnya untuk tidur di dalam kamarnya.
"Dilla mau tidur disini katanya, mungkin dia lelah juga," jawab Ken.
"Tidurkan dia di kamarnya, biar dia nyaman," tegas Rendi.
"Tidak mau ...."
__ADS_1
Dilla protes saat akan di gendong oleh suaminya untuk pindah ke kamar tidurnya.
Ken mengerutkan dahinya terkejut akan teriakan istrinya yang malah terbangun dari tidurnya.
"Kamu tidur di kamar agar nyaman," ucap Ken.
"Aku tidak mau, aku mau merasakan rasanya tidur diatas sofa orang kaya," protes Dilla .
Ia tertidur kembali setelah suaminya tidak lagi menyentuh tubuhnya apalagi memindahkannya.
"Bagaimana ini Tuan?" tanya Ken mengerutkan dahinya.
"Heh, istrimu ini lucu. Bukannya dia juga kaya di kampungnya," ucap Rendi tersenyum tipis.
Ken hanya terdiam mendengar ucapan Rendi.
Ia sudah tahu apa yang ada di pikiran istrinya.
Dilla selalu penasaran apa yang ada dan di rasakan Rara ketika tinggal di rumah paling besar ini. Dilla bahkan selalu bercerita setiap mimpinya saat melihat rumah besar Rendi ini.
Apalagi mengingat tuan Rendi bersedia mengijinkan Dilla untuk sepuasnya di pusat perbelanjaan yang ada di bagian belakang kompleks rumah besar Rendi Anggara.
Rendi ikut duduk di sebrang Ken yang sedang memikirkan istrinya yang tertidur tanpa bergeming. Dilla justru terlihat nyaman dalam tidurnya.
Rendi meminum kopi hitamnya yang di sediakan pelayan saat ia turun tadi.
Ia menikmati setiap moment rasa dari meminum kopinya. Baginya kopi adalah penenang pikirannya. Lain dari istrinya dia adalah candu baginya yang tidak sanggup jika tidak memandanginya sedetik saja.
Ken ikut meminum kopinya seperti halnya tuannya minum kopi.
Ia bahkan mengerutkan dahinya ketika mengingat tentang perusahaan tuan Anggara yang sedang dalam keadaan kacau saat ini.
"Tuan, apa kita akan langsung pergi ke perusahaan?" tany Ken mengawali perbincangan.
"Besok kita akan periksa apa saja yang harus kita lakukan, Ken. Kau panggil mereka untuk membantuku," ucap Rendi.
"Baik Tuan," jawab Ken.
Rendi dan Ken berbincang hingga malampun tiba. Tetapi istrinya Ken masih belum bangun juga. Ken memilih untuk berpamitan pada Rendi dan memindahkan istrinya memasuki kamar yang di sediakan oleh pelayan di rumah Rendi.
Rendi kembali kedalam kamarnya. Ia membiarkan Ken pergi bersama istrinya yang masih tertidur.
Ia berjalan dan menaiki tangga. Rendi hendak membuka pedal pintu. Tapi ia urungkan.
"Nanti bawakan makan malam jika aku meminta, tapi jika tidak kalian siapkan buah-buahan untuk istriku," tegas Rendi.
Kedua pelayan itu mengangguk. Juga membungkukkan tubuhnya memberi hormat pada Rendi.
Rendi membuka pedal pintu dan memasuki kamar dengan istrinya yang masih tertidur lelap.
Ia tersenyum dalam langkahnya.
"Hehe, sepertinya kamu lelah Sayang, tidurlah aku mandi dulu ya," ucap Rendi tersenyum ke arah istrinya yang masih tertidur dengan pulasnya.
Rendi memasuki kamar mandi dan berdiri di bawah sower air mandinya.
Ia bersenandung dalam kamar mandi menikmati moment mandinya.
Setelah keluar dari kamar mandinya. Rendi sudah mengenakan baju santainya dan ikut tertidur di samping istrinya. Ia menutup kedua matanya dengan pikiran yang melayang kesana kemari memikirkan perusahaan ayahnya yang hampir menelan banyak biaya karena lemahnya keamanan hingga membuat perusahaan tersebut menurun drastis. Rendi memikirkannya hingga tak terasa ia tertidur lelap bersama istrinya.
Di Kamar lain.
Ken sedang duduk di kursi malas yang ada di kamarnya. Ia melihat kearah Laptopnya.
Ia mengerutkan dahinya mengingat-ingat wajah seorang wanita paruh baya itu.
Data yang di dapat oleh Adam kini membantunya dan kini Ken sudah mengutus anak buah Ken. Untuk mencari wanita itu jug dengan anaknya yang bernam Bram.
Ken memikirkan tentang wanita paruh baya yang rela menolongnya walau ia sedang kesusahan. Ken tersenyum tipis jika mengingat kelembutan dan keramahan wanita itu. Menurutnya itu adalah sifat seorang ibu jika berbicara pada anaknya.
Mengingat ia bahkan tidak tahu asal usulnya. Ken merasa kesal pada orang tua yang sudah membiarkannya terlantar di jalanan hingga Rendi yang bahkan masih kecil dan tidak tahu apa-apa bersedia menolongnya dan memberikannya kehidupan.
Ken semakin terdiam dalam pikirannya hingga ia tidak menyadari jika ia sedang dia amati oleh istrinya yang kini sedang duduk di atas ranjangnya memandangi Ken yang kini sedang memikirkan orang lain.
Dilla berjalan menghampiri suaminya dengan langkahnya yang semakin berat. Tetapi ia penasaran akan aa yang suaminya pikirkan.
Saat berjalan mendekati suaminya. Dilla melihat sebuah file yang menunjukan sebuah poto seorang gadis yang tersenyum manis dengan cantiknya dan senyum lebar menatap ke arah kamera. Wanita berkulit putih dengan rambut lurus hitam tubuh yang idealis dengan porsi yang pas. Kini ada di hadapan suaminya yang sedang menutup kedua matanya menengadahkan kepalanya bersender di kursinya.
Dilla terdiam dalam ke adaan berdiri melihat ke arah layar Laptop milik suaminya.
__ADS_1