Istri Kedua Tercinta

Istri Kedua Tercinta
Rencana Kedepan


__ADS_3

Kediaman Rendi Anggara.


Rendi menggendong Rara menaiki tangga setelah ia mengetahui bahwa istrinya sudah aman dalam tangan Adam dan berada di rumahnya.


Rendi tampak bercampur perasaannya yang tak karuan saat kehilangan istrinya dan mendengar bahwa akan di jadikan istri keduanya Jason.


Ia membaringkan istrinya di tempat tidur dan memegang wajahnya. Rendi tersenyum melihat wajah istrinya yang sayu. Ia mencium bibirnya dan memperdalam ciumannya menekan kepala Rara dengan kerinduan dan ingin memiliki seutuhnya. Rendi tampak tidak mau kehilangan kepemilikannya.


Rara kehabisan nafasnya saat ciuman suaminya tidak akan berhenti secepat itu. Rara mengerutkan keningnya dengan pipi mengembung.


"Kamu ini, seperti tidak terjadi apa-apa saja malah asik cium aku,aku tuh rindu kamu juga anak-anak, aku juga takut ternyata jadi istri kamu tidak semudah yang aku bayangkan dan satu hal lagi jangan terlalu membatasi aku agar aku bisa tahu mana yang baik dan yang buruk setiap orang Rend," ucap Rara.


"Kenapa kamu mau aku tidak membatasi kamu?" Tanya Rendi.


"Agar aku bisa leluasa minta tolong,plis jangan terlalu membatasi setiap hal yang terpenting aku setia padamu dan tetap bersamamu," ucap Rara.


"Hmm lihat nanti saja aku rindu padamu," ucap Rendi manja.


"Satu hal lagi, ayo kita pulang aku takut tinggal disini aku takut pria itu kembali dan menculliku lagi juga Sodara Doni sepertinya terluka karena aku," tangis Rara.


"Itu bukan salahmu sayang,itu karena dia terobsesi karenamu, sebaiknya kamu istirahat ya, nanti aku suruh pelayan bawa anak-anak menemuimu," ucap Rendi.


Rara mengangguk dan pergi ke kamar mandi.


Di dalam kamar mandi madih terbayang wajah seorang Jason yang memandangnya dengan tatapan menggodanya seperti ingin memakannya.


Rara menundukan kepalanya dan menyelesaikan aktivitas mandinya.


Saat keluar dari kamar mandinya Rara sudah melihat kedua putra putrinya berada di atas ranjang tidur mereka. Rara tersenyum menghampiri anak-anaknya yang kini sudah lancar berjalan. Ia memeluk menciuminya dengan kerinduan yang ia rasakan saat ini Rara merasa sedih semua yang ia miliki ini tidak senyaman kampung halamannya dulu dimana di rumah kedua orang tuanya yang nyaman mereka yang saling menyayangi. Rara meneteskan air mata saat mengingat kejadian berulang kembali dimana ia menjadi istri Rendi yang malah membawanya ke jalur kesusahan.


Rendi yang masuk ke dalam kamar ia melihat istrinya yang sedang menangis tanpa henti memeluk putra putrinya.


Ia melihat tangisan dari istrinya yang tertahan.


Rendi menghampiri istrinya setelah keluar dari ruang gantinya, ia tersenyum saat melihat istrinya menciumi anak- anaknya.


Ia merangkul istri dan anak-anaknya.


"Sayang,apa ada yang kamu inginkan?" Tanya Rendi.


"Aku ingin pulang,dan juga aku tidak mau semua ini aku ingin pulang bersama mamah Ratih aku ingin pulang bersama orang-orang yang aku kenal," lirih Rara.


"Sayang, aku minta maaf jika liburan kali ini membuatmu takut,maaf karena aku tidak bisa memberimu kenyamanan," ucap Rendi.


Rara melihat ke arah suaminya yang sendu menundukan kepalanya.


"Sayang,kenapa jadi kamu yang sedih? Harusnya aku yang sedih tahu," cetus Rara.


"Aku sedih karena kamu menangis," ucap Rendi manja.


"Hahaha ... itu bibirmu kenapa jadi kedepan kau masih mau menciumku?" Tawa Rara.


Saat melihat tawa istrinya ada hati yang bahagia di dalam hati Rendi. Juga sebuah semangat yang berlipat dalam dirinya. Ia tersenyum dan mencium bibir istrinya.


"Baiklah Sayang, bagaimana kalau besok kita ke pantai bahkan kita mendirikan tenda di sana," ucap Rendi lantang.


Rara menengadahkan kepalanya dan mengernyitkan keningnya tidak memahami maksud suaminya.


Rendi tersenyum cerah saat melihat istrinya.


Rendi membungkukan tubuhnya dan mencium bibir istrinya yang dengan sengaja menyodorkannya.


"Aku ke bawah dulu ya Sayang, untuk bertemu Adam," ucap Rendi.


"Adam? Siapa dia?" Tanya Rara.


"Adam yang sudah menolongmu Sayang," jawab Rendi.


"Hmmm,baiklah aku akan berterimakasih padanya," ucap Rara.


"Tidak perlu,biar aku saja ya sayang," jawab Rendi tersenyum.


Rara mengangguk dan tersenyum pada suaminya yang mencium kembali bibirnya yang sedang tersenyum pad suaminya.

__ADS_1


Rendi tersenyum dan keluar dari kamarnya meninggalkan istrinya yang sedang menatapnya tidak mempercayai akan kelakuan suaminya yang berubah-ubah.


Rara memberi minum susu anak-anaknya terutama Amira terdahulu.


Rayn masih asik dengan mainannya melihat ibunya yang sedang menyusui adiknya. Sesekali Rayn bolak balik menarik-narik kaki Amira untuk mengajaknya main. Rara membiarkan kelakuan anak- anaknya yang saling mengisi dengan penuh canda kakaknya yang suka narik-narik kaki adiknya jika sedang minum susu.


Rendi berjalan menuruni tangga menghampiri ruang tamu yang sudah ada Mark,Iyas dan Mark.


"Ken,Adam sudah kau periksa? Bawa dia ke ruang kerjaku," ucap Rendi.


Ken mengangguk,ia berdiri dan berjalan keluar menghampiri Adam yang sedang duduk di kursi depan.


Ia mengenakan topi untuk menutupi wajahnya, dengan kepala sedang menyender di kursi kemudinya.


Ken melangkah dan mengisyaratkan penjaga untuk membangunkan Adam.


Adam membuka topinya dan melihat ke arah Ken, ia menunduk memberi hormat saat ia keluar dari mobilnya.


Ken mengisyaratkan Adam untuk masuk ke dalam mengikutinya. Adam mengangguk dan berjalan mengikuti Ken yang ada berjalan di depannya.


Adam melihat setiap sudut rumah yang luasnya tidak dapat ia pungkiri ketakjubannya. Adam berjalan dan ia juga melihat Mark dan Iyas yang sedang duduk di ruang tamu.


Tapi Adam tidak duduk di ruang tamu, melainkan ia mengikuti Ken dan masuk ke ruang kerja Rendi. Yang kini Rendi sudah berada di kursi kerjanya.


Saat Adam memasuki ruang kerja yang luasnya dua kali kamarnya,ia mengagumi siapapun orang yang membangun dengan indah rumah yang saat ini ia lihat saat ini.


Adam melihat seorang pria yang sedang duduk di kurdi putarnya dengan wajah dan tatapan datrny yang berwibawa. Sosok yang Adam kagumi selama ini bahkan selama ini Adam hanya mendengar tentang tuan Anggara yang berwibawa dan kepintarannya dalam berbisnis dan kemahirannya dalam dunia mafianya.


Adam membungkukan tubuhnya memberi hormat pada Rendi yang kini mempersilahkannya untuk duduk. Ken berdiri di samping tidak jauh Rendi.


Rendi menatap lekat wajah dan postur tubuh yang ada di hadapannya.


"Katakan apa yang kau inginkan? Aku akan mengabulkannya karena kau telah menyelamatkan istriku?" Tanya Rendi.


Di dalam hati Adam merasa bahagia saat mendengar ucapan pertama tuannya berbicara dengan nada baik. Adam bahkan tidak membayangkan akan mendapatkan penawaran seperti ini setelah apa yang di berikan tuan Anggara selama ini padanya sudah jauh lebih cukup dan sekarang dengan lantang ia menanyakan hal yang ia inginkan. Adam tampak memikirkan jawaban yang tepat untuk menjawab tuan yang ada di hadapannya.


"Itu tidak perlu Tuan,Anda sudah berjasa pada keluarga saya itu sudah jauh lebih cukup Tuan," jwab Adam.


"Aku tidak tahu jika berhadapan langsung akan setegang ini,untuk kali ini aku merasa takut dan segan pada orang lain ,apa karena aku mengaguminya? Sudahlah yang pasti aku menyukainya,aku akan selalu memberikan yang terbaik,huh,hatiku senang sekali," batin Adam.


Adam terdiam ia tertegun saat mendengar ucapan tegas dari Rendi.


"Saya ingin menjadi pengikut anda Tuan," jawab Adam.


"Hmm,kau bahkan ingin menjadi pengikut apa akan kau pastikan kesetiaanmu?" Tanya Rendi.


"Saya,memegang janji saya tuan," jawab Adam.


"Kalau begitu kau harus bertanggung jawab keselamatan istri dan putra putriku," tegas Rendi.


"Baik Tuan,"jawab Adam.


Ken yang mendengarkan percakapan tuannya dan Adam terdiam ia tidak mengatakan hal apapun tentang keputusan tuannya.


Rendi bersender di kursinya.


"Ken,besok kita akan ke pantai berlibur dan aku ingin kau bereskan Jason agar tidak mengacau di acaraku,sibukan dia dengan kasusnya dan ingat istrimu jangan sampai kemana-mana walau bagaimanapun dia juga orangku aku takut akan menjadi sasaran orang lain lagi," tegas Rendi.


Ken mengangguk,ia mendengarkan setiap ucapan tuannya pada Adam.


Juga mulai mencari sesuatu yang di perlukan untuk keperluan ke pantai di dalam handponenya.


"Ken,kau siapkan juga penginapan untuk kita ke pantai kita akan pergi bersama nanti,aku hanya tidak ingin istriku merasa sedih lagi atas kejadian kemarin," ucap Rendi.


"Tuan bukankah kita..."Ken menghentikan perkataannya.


"Tidak apa,ayo kalian siapkan,aku akan naik ke atas,oh ya Anas yang kau suruh untuk mengurus di area B kau harus terus mengawasinya,sepertinya dia juga terlibat dalam penculikan," ucap Rendi.


"Ya,dia yang mempengaruhi pria itu karena ia pernah menjadi psikolog," ucap Adam.


Ken mengangguk dan melihat tuannya berdiri untuk kembali ke kamarnya.


"Dan satu lagi,Adam beri dia kamar yang di samping Nesa," ucap Rendi.

__ADS_1


"Baik,Tuan," jawab Ken.


Rendi keluar dari ruang kerjanya yang di ikuti Ken dan juga Adam di belakangnya.


Ia melihat Mark dan Iyas,lalu menghampirinya.


"Kalian masih di sini?" Tanya Rendi.


"Ya,apa kau sudah berdiskusinya?" Tanya Mark.


"Hmmm,kalian ikut aku untuk berlibur," ucap Rendi.


"Kenapa?" Tanya Mark mengerutkan dahinya.


"Aku hanya mau memberi kalian satu hari untuk santai setelahnya kalian bersihkan segala hal tentang Jason," tegas Rendi dengan tatapan dinginnya.


Mark ,Iyas ,Ken dan juga Adam yang mendengarkannya tampak tertegun saat mendengar penuturan Rendi.


Tadi sempt mereka berpikir bahwa Rendi sudah menjadi lebih lembut saat mendapati istrinya yang membuatnya khawatir, tapi ternyata ia lebih murka saat tahu istrinya yang sempat ingin di sentuh oleh Jason yang jika Adam tidak secepatnya menolong Rara dalam dekapan Jason.


Rendi merenungkan setiap kejadian dan sikap istrinya yang menjadi tegas saat ini,ia berpikir bahwa Jason telah mempengaruhinya dalam setiap sisi.


Walau kenyataannya memang hal yang seperti itu yang Rara rasakan.


Berada di lingkup seorang suami yang kehidupannya penuh dengan bara api masa lalu yang sulit jika hanya untuk sekedar menghilangkannya dan melupakannya.


Rendi berbincang bercama teman- temannya mendiskusikan setiap rencana mereka di ruang tamu tanpa menghiraukan yang lainnya. Adam terduduk di samping Ken yang berbicara bersama yang lainnya.


Adam hanya menjadi pendengar dan memahami setiap pembicaraantuan dan teman-temannya.


Rencana dari pantai agar istrinya tidak merasa tegang saat bersama mereka,rencana mereka menginap dan tidak ada yang boleh tertidur satu orangpun,rencana setelah kepulangan mereka dari pantai untuk memberi jera pada seorang Jason yang secara pribadi membuat Rendi semakin ingin menghancurkannya.


Begitupun mereka berempat antara Mark ,Iyas,Ken dan Adam yang memiliki dendam sendiri untuk Jason.


Lain dengan Ken walau ia tidak memiliki motip tersendiri,selama itu tuannya ia akan selalu mengikuti setiap langkah Rendi,karena hanya itu yang sudah tertanam dari prinsip di dalam dirinya.


Setelah merasa waktu semakin malam,Rendi memilih untuk kembali ke kamarnya bersama yang lainnya yang kembali ke kamar mereka masing-masing.


Rendi berjalan menaiki tangga,ia beradu dengan setiap pikirannya sendiri,memikirkan tentang cara agar ke inginan istrinya yang agar aku bisa memberikan keterbukaan istrinya dengan orang lain,ia tampak sedang kesulitan tersendiri jika harus membiarkan istrinya ramah pada orang lain,ia bergelut dengan perasaan yang tidak mau jika isttinya harus bertegur sapa selama ia melihatnya Rendi akan selalu murka dan panas di dadanya membara.


Sesampai di depan pintu kamar dengan dua pelayan yang membungkuk memberi salam padanya.


Rendi terdiam sejenak dan menarik nafas dalam, mempersiapkan dirinya agar bisa sebaik mungkin menghadapi istrinya yang perasaannya yang sedang gundah.


Rendi membuka pedal pintu kamar dan memasuki kamarnya,saat ia melangkah ia sudah mendapati istrinya yang sudah tertidur lelap mengenakan dres putih dengan rambut sedikit basah tubuhnya bahkan tidak tertutupi oleh selimutnya.


Rendi tersenyum dan menghampiri istrinya yang tertidur lelap,ia melihat wajah yang damai dengan kecantikan yang membuat siapapun yang melihatnya akan mengaguminya.


Rendi menyentuh wajah istrinya menelusuri setiap inci wajah yang ia rindukan.Ia mencium pucuk kepala istrinya dan menarikan selimut untuk menutupi istrinya.


Saat ia melihat tangan istrinya,ia terkejut dan mengerutkan dahinya.


Rendi menyentuh tangan yang terdapat lingkaran merah di pergelangannya luka yang sedikit tergores,bekas ia menggesekan tali di setiap meja yang ada walau tidak berhasil.


Rendi mengangkat tangan istrinya dan menciumnya,ia melihat wajah istrinya kembali.


"Kau bahkan tidak mengeluh sakit sama sekali saat mendapati tangan yang terluka seperti ini," ucap Rendi.


Ia berdiri dan meletakan tangan istrinya perlahan,ia mengambil otak P3K berjalan dan menghampiri istrinya. Rendi duduk di samping istrinya yang masih terlelap tidur karena kelelahan.


Ia membuka kotak obat dan mengangkat tangan istrinya,ia mengolesi obat salep pada setiap luka di pergelangan tangannya,Rara sempat mengaduh saat ia merasa tangannya terasa perih tersentuh,Rendi berhenti dan mengolesnya dengan perlahan sambil meniupinya.


Kedua pergelangan tangan istrinya kini sudah terbalut perban dengan tipis oleh suaminya yang melihatnya sudah membaik.


Ia tersenyum dan menggeser duduknya dan mencium bibir istrinya yang terlelap.


Rara yang merasakan sebuah sentuhan dari seseorang ia merangkul pundak suaminya dan menciumnya dalam keadaan mata tertutup.


Rendi membulatkan kedua matanya saat mendapati istrinya menciumnya dalam tidurnya. Bahkan ia mencium Rendi dengan permainan ciumannya yang mahir. Rendi antusias membalas ciuman istrinya yang memberikan ciumannya dengan lembut.


"Istriku ini dengan siapa dalam mimpimu itu hah,kau berciuman dengan siapa?" batin Rendi.


Dalam tidur Rara,ia bermimpi pergi ke pantai bersama suaminya melihat senja dan berciuman bersama di pesisiran pantai dengan matahari yang tenggelam. Percis seperti ciuman mereka berdua saat di rumah Rara yang berciuman di saat senja.

__ADS_1


__ADS_2