
Setelah sarapan bersama. Mark dan Iyas berjalan ke ruang kerja milik Mark dan meninggalkan Naura yang masih di meja makan. Mark meninggalkan meja makan, setelah mencium kening Putri tercintanya itu. Naura tersenyum ketika mendapati ayahnya yang masih dengan lembut menciumnya dan berpamitan untuk pergi ke ruang kerjanya.
Naura masih melanjutkan sarapannya yang masih belum selesai. Naura terbilang gadis yang tidak pemilih dalam makanan. Bahkan ia lebih gemar makan makanan yang manis seperti coklat. Naura melihat ayah dan Pamannya berjalan hingga mereka berdua tidak terlihat lagi dari pandangannya. Ia tersenyum, ia turun dari kursi dan berjalan menaiki tangga menuju kamarnya.
Naura duduk di depan komputernya mengingat itu kegiatan sehari-hari selama di rumah. Hingga sampai Naura dijuluki gadis jenius di bidang IT. Naura bermain game online yang sering ia mainkan dengan seseorang yang jauh di sana. Meski ia sedikit penasaran dengan lawan mainnya itu, yang setara dengannya dan tidak pernah kenal lelah seperti dirinya. Naura tidak pernah melakukan stakler kepada lawan mainnya itu.
Karena baginya hal yang tidak penting jika memeriksa, apalagi mencari identitas lawan mainnya itu. Naura lebih suka bermain fair.
Bisa saja Naura meretas lawannya dan mengacaukan trik main lawannya tapi dia tidak berpikiran kesana. Baginya ada lawan yang sepadan denganya justru jauh lebih menyenangkan dan menarik. Karena selama ini tidak ada yang mampu menandingi permainanya selain lawan main onlinenya ini yang berinisial Y. Naura terdiam sambil menggigit bawah bibirnya melihat kearah layar monitor dan melihat perkataan Y.
"Kau mati?"
Pertanyaan Y singkat, pada Naura yang terdiam membacanya. Ia tersenyum ketika mendapat chat dari Y yang selalu membuatnya tersenyum di setiap perkataannya. Sama percis seperti ayahnya yang hanya sedikit berbicara.
Naura mengetik kembali dan membalas pertanyaan Y.
"Main!"
Setelah menjawab perkataan lawan mainnya. Naura memulai kembali permainannya. Ia mengundurkan niatnya untuk tidur dan kembali bermain game setelah mendapat ejekan dari Y mengatakan dia mati. Padahal Naura hanya terdiam saja bukan berarti berhenti bermain. Mereka bermain game dengan percakapan seperlunya dan juga singkat. Naura bahkan tidak tahu siapa Y dari mana dan siapa perempuan atau laki-laki dia tidak perduli.
Di ruang kerja Mark dan Iyas duduk di kursinya dan mereka saling terdiam dengan kesibukannya masing-masing. Mark membuka berkasnya yang sempat ia tunda tadi malam. Untuk memeriksa rencana keberangkatannya ke Jerman tentang perusahaan Rendi Anggara yang kini menjadi tanggung jawab Mark.
"Apa mereka berencana untuk datang ke sini?"
Iyas bertanya kepada Mark yang masih dengan aktivitasnya memeriksa dokumen dengan acuh menanggapi ucapan Iyas.
"Entahlah!" jawab Mark.
Iyas tampak mengerutkan dahinya mendengar jawaban sahabatnya yang sedingin itu.
__ADS_1
"Aku rasa sahabatmu itu, tidak akan mungkin tidak hadir jika sudah berurusan denganmu. Aku yakin, saat ini dia sudah dalam perjalanan menuju Singapura!" balas Iyas.
Iyas duduk di sofa dan membuka handphonenya.
Mark menyimpan berkasnya dan ia menopang dagu di depan mejanya. Ia mengerutkan dahinya dan memikirkan sesuatu yang sempat ia lupakan hari ini. Mark melihat kearah Iyas dan sesekali ia memutar handphone yang berada di mejanya di hadapannya nya.
"Apa aku ada jadwal hari ini?" tanya Mark kepada Iyas.
"Aku bukan sekretarismu! Mana aku tahu kau ada jadwal atau tidak hari ini!"Jawa Iyas malas.
Mendengar sekertaris, Mark terdiam. Setelah mendapatkan jawaban dari Iyas yang terlihat malas dan gundah itu. Mark mengambil handphonenya dan mencari kontak sekretarisnya dengan cermat. Ia menekan satu nama dan menelepon sekretarisnya itu. Hanya membutuhkan beberapa menit panggilan tersebut, kini sudah tersambung dan seseorang berbicara kepadanya.
"Iya Tuan, Ada apa?" tanya Alea sekretaris Mark.
"Datang ke kediamanku sekaeggang!" tegas Mark.
Mark menutup panggilannya tanpa menunggu jawaban dari sekertarisnya. Yang kini terdiam ketika mendapati telpon dari Bosnya itu. Setelah mendapat jawaban dan berbicara pada Alea. Mark kembali membuka dokumennya dan memikirkan hal yang membuatnya merasa ada sesuatu hal yang ia lupakan hari ini. Tapi dia sama sekali tidak mengingat hal apa yang ia lupakan hari ini.
Iyas yang melihat sahabatnya itu terlihat kebingungan. Ia menertawakan sahabatnya yang menurutnya sama sekali tidak peka itu.
"Hahaha, kau ini bagaimana bisa mendapatkan pengganti dari Sisi! Sedangkan anak dari pengusaha terbesar di Singapura saja, yang mengajak makan malam kamu tidak ingat!" ucap Iyas berbicara dengan lantang kepada Mark.
Mark kini terdiam dan membulatkan kedua matanya, mengingat janjinya kepada nona Dera bahwa ia menyanggupi makan malam bersamanya malam nanti. Ternyata itu yang ia lupakan hari ini.
Mark kembali mengambil handphonenya dan menelpon kembali Alea. Setelah panggilan telponenya dijawab oleh Alea.
"Carikan tempat untuk makan malamku malam ini!"
Mark berbicara tegas kepada Alea dan menutup kembali panggilan teleponnya tanpa menunggu jawaban dari Alea.
__ADS_1
Setelah melakukan panggilan tersebut, Mark kembali memeriksa dokumen dihadapannya dan tanpa sengaja, ia menjatuhkan sebuah dokumen. Ia mengambilnya dan saat ia melihat isi dokumen tersebut ternyata itu file resume milik sekretarisnya Alea Wijaya. Melihat berkas tersebut, Mark mengambilnya tanpa sengaja, ia Malah membuka resume milik Alea. Terdapat sebuah foto dan biodata milik Alea Wijaya.
Mark terdiam, ketika membaca biodata milik aleana Wijaya. Bahkan ia sedikit memicingkan alisnya dan tersenyum saat membaca makanan favorit Alea sekretaris harunya itu.
"Bakso Indonesia!" ucap Mak sepontan ia tertawa.
Mark tertawa ketika membaca makanan favorit milik sekretaris barunya itu. Ia bersandar di kursinya sambil sesekali memandangi foto milik Alea, yang Bagi siapapun yang melihatnya terlihat hanya biasa saja karena kesederhanaannya. Mark bahkan tersenyum tipis, ketika mengingat kekonyolan sekretaris barunya, saat pertama kali mereka bertemu. Alea bahkan dengan konyolnya mengatakan bahwa ia bekerja untuk mendapatkan uang dan bukan untuk mengejar pekerjaan.
Bagi Mark itu adalah alasan sangat biasa saja, namun berarti bagi siapapun yang mengerti dari pernyataan Alea sekretarisnya. Iyas mengerutkan dahinya ketika melihat dan mendengar ucapan Mark yang tiba-tiba tertawa seperti orang gila. Iyas bahkan menggelengkan kepalanya ketika memperhatikan Mark yang malah tertawa hanya mengucapkan bakso Indonesia.
"Sepertinya kau semakin gila saja Mark!" ucap Iyas.
Iyas berdiri dan meninggalkan Mark sendirian di ruangan kerjanya. Mark bahkan tidak menghiraukan ucapan Iyas sama sekali. Ia masih dengan senyum tipisnya melihat photo seorang gadis asal Indonesia yang bekerja sebagai sekertarisnya.
Apalagi mengingat perkataan sekertaris barunya itu, ketika Mark bertanya apa alasan Alea wijaya beketja. Seorang gadis asal indonesia yang mau bekerja di perusahaan IT milik Mark sebagai sekretaris barunya.
Alea Wijaya bahkan tinggal di Apartemen milik perusahaan Mark di dekat perusahaan itu. Alea tinggal di sebuah apartemen karena permintaan mark mengingat Alea yang tidak pernah tepat waktu ketika dibutuhkan oleh Mark. Untuk saat ini Alea masih dalam pembelajaran sebagai sekretarisnya.
Di lain tempat, seorang gadis berusia 23 tahun dengan pakaian formalnya mengenakan kemeja putih dan rok warna hitam selutut, mengenakan heels teplek dengan rambut diikat kuda kuncir kuda Iya tampak kesal ketika mendapatkan sebuah telepon dari Bosnya itu.
"Aku bahkan tidak bisa menjawab iya apalagi tidak kepadanya! Dasar Bos Kutub Utara!" ucap Alea.
Alea memggerutu sembari menyimpan kembali handphonenya dan berjalan memberhentikan sebuah taksi. Ia naik dan menuju ke sebuah restoran ternama di Singapura. Alea Wijaya, seorang gadis yang cantik dengan tampilan sederhananya. Ia bekerja di Singapura sebagai sekretaris seorang CEO. Di dalam mobil ia menggerutu mengutuk bosnya itu.
Kini Alea sudah berada di sebuah restoran dimana bosnya akan melakukan dinner dengan anak pengusaha terbesar di Singapura. Setelah mempersiapkan segala sesuatunya dengan sempurna dan seromantis mungkin untuk makan malam bosnya. Alea kini duduk di sebuah Cafe dan meminum coffee dengan santainya. Ia tampak cantik walau tanpa balutan make-up tebal.
Baginya pekerjaannya saat ini jauh lebih baik, dibandingkan pekerjaannya yang hanya menjadi seorang Kasir di sebuah toko Indomaret. Baginya menemukan Bos kutub utara seperti Mark adalah sebuah keberuntungan dan juga kesialan. Karena untuk pertama kalinya Alea tidak pernah bisa membantah setiap ucapan seseorang. Terutama bosnya itu. Alea terbilang sangat cerewet dalam setiap hal, apapun kepada orang-orang terdekatnya.
Tapi menghadapi bosnya yang sedingin kutub utara itu. Ia hanya tertunduk dan menurut saja. Mengingat gaji di perusahaan milik Bosnya itu sudah melampaui perkiraannya. Bahkan dengan gajinya itu, ia bisa mendapatkan sebuah rumah dengan instan selama satu tahun bekerja di sana. Alea Wijaya seorang gadis sebatang kara tanpa keluarga. Dia gadis asal indonesia yang tinggal bersama paman dan bibinya. Namun Alea memilih tinggal sendiri dan bekerja kesana kemari hingga menjadi seorang sekertaris seperti saat ini.
__ADS_1