
Malam hari semua berkumpul untuk menikmati makan malam di pantai.
Di depan tenda sudah ada Rara bersama Dilla yang sedang berbincang saling mengutarakan kebahagiaan mereka untuk saat ini. Senyum di wajah Rara terlihat bagi siapapun yang berada di hadapannya begitupun Saudarinya Dilla, ia pun tampak sumringah atas setiap cinta yang di berikan suaminya dengan caranya sendiri.
Rara mengutarakan semua yang ia rasakan tentang besar cinta suaminya padanya dengan segala upayanya.
"Aku bahkan tidak bisa mengutarakan sebesar mana rasa bahagiaku saat ini La," ucap Rara.
Ia memandang ke arah dimana suaminya sedang berdiri menghadap lautan malam saat ini, ada hati ingin memeluknya saat ini juga untuk suaminya, tapi Dilla memintanya untuk menemaninya. Ia tidak mau meninggalkan Saudarinya yang sedang ingin ia temani, tapi dari sisi lain ia ingin menemani suaminya yang sedang sendiri bersama pantai malam.
Dilla memperhatikan kemana arah pandangan Saudarinya itu memandang,ia tersenyum tertahan saat ia tahu bahwa Rara sangat ingin menghampiri suaminya.
"Sana pergi hampiri suamimu itu,aku akan masuk ke dalam dulu sebelum makan malam aku ada hal juga yang harus aku lakukan nanti," ucap Dilla pada Rara yang sedang melihat ke arahnya.
"Kenapa, hal apa yang ingin kamu lakukan mari aku temani?" Ajak Rara.
"Apa sih, sana pergi aku bisa lakukan sendiri," ucap Dilla.
"Memang mau ngapain,ayo aku temani takutnya kamu kenapa-kenapa nanti bila sendirian," ucap Rara.
"Rara ! Aku bilang gak usah ya gak usah,sana aku mau masuk ke dalam dan juga tidak mau di temani," jelas Dilla merengek.
"Hehe,kamu ini lucu aku kira mau ngambek,gih sana mau ngapain juga terserah aku mau liat suamiku saja,dasar Dilla," ucap Rara perginmeninggalkan Dilla yang sedang merajuk menatap Saudarinya berjalan menghampiri suaminya.
"Cih,kenapa jadi aku yang di salahkan kan aku membantumu agar bersama suamimu itu Sayang," gumam Dilla.
Dilla menghampiri Iyas dan Mark yang sedang membakar daging. Ia dyduk di kursi dekat api melihat orang-orang yang sedang bercanda sambil memanggang dagingnya. Ia menopang dagunya memandangi suaminya yang sedang berbicara pada anak buahnya.
"Dia itu paling tampan jika sedang serius begitu," gumam Dilla.
Dilla asik dengan pemandangan yang membuatnya tersenyum dalam pandangannya, kadang melihat ke arah Mark dan Iyas yang sedang memanggang dan lebih memandang suaminya yang juga sesekali melihat ke arahnya.
Rara berjalan menghampiri suaminya yang sedang berdiri menghadap ke arah lautan pantai malam yang berombak kecil, ia mengenakan kaus warna putih jeans pendek warna hitam dengan kedua tangan memasuki saku kanan kirinya.
Rara menghampirinya dengan memeluknya dari arah belakang tubuh Rendi menyenderkan kepalanya di pundak suaminya dengan wajah berseri menghirup aroma tubuh suaminya yang memabukan hati dan pikirannya, menciumi punggung suaminya dengan segala tingkahnya ia menggesek-gesekan hidungnya di punggung suaminya.
Rendi yang mendapati tingkah istrinya yang lain dari biasanya,ia tersenyum dan mendekap tangan istrinya yng melingkar dan naik ke atas dadanya.
__ADS_1
Ia menolehkan pandangannya ke arah istrinya yang sedang menyusupkan kepalanya ke bahunya.
Ia tersenyum dengan hati dan perasaan gemas pada tingkah istrinya yng lain dari biasanya.
"Sayang, kamu kedinginankah? Sini aku peluk," ucap Rendi.
Ia berbalik dan memeluk istrinya yang kini tersenyum dan mendongakan kepalanya memandangi wajah suaminya yang tampak cerah dan berseri
"Sayang, apa yang sedang kamu pikirkan di depan pantai malam begini, bukankah aku selalu ada untukmu?" Tanya Rara.
Rendi tersenyum mendengar pertanyaan istrinya dengan memandangi setiap gerakan bibir istrinya yang membuatnya ingin menciumnya saat ini juga.
Rendi menyentuh bibir istrinya yang tidak mau diam dengan segala tingkahnya di hadapannya.
"Bisakah,aku menciumnya Sayang?" Tanya Rendi.
Rara mengerutkan dahinya menatap tajam pada suaminya yang saat ini memandangi wajahnya,dengan tatapn tajamnya Rara memajukan bibirnya cemberut,apalagi mendapati suaminya malah tersenyum karenanya.
"Memang kenapa,bukankah aku milikmu,kamu tidak perlu ijinku jika hanya sebuah bibir ini yang lain juga milikmu," ucap Rara.
Rendi tersenyum bahagia ia merangkul pinggang istrinya menempelkan tubuh istrinya dengannya dan menatap lekat wajah istrinya dengan senyuman di wajahnya dan juga tatapan tajam Rara.
"Aku tidak menggodamu Sayang, tapi mengatakan apa adanya,nih ciumlah aku jika membuatmu bahagia," ucap Rara.
"Hahaha,kamu sangat manis Sayang, aku akan melakukannya sesuai peraturanmu kita akan menghargai setiap lekuk tubuh kita dan melakukannya di tempat yang pantas dan layak untuk kita," jawab Rendi.
"Hmm kenapa,tidak biasanya kamu ini semurah hati ini Sayang?" Tanya Rara.
"Hmm,karena aku akan selalu menghargaimu menghormatimu dan mencintaimu istriku," jawab Rendi.
"Baiklah aku akan menunggumu, sekarang katakan apa yng sedang kamu pikirkan tadi sampai tidak menghiraukan aku yang duduk di depan tenda dari tadi?" Tanya Rara.
Rendi tidak langsung menjawab pertanyaan istrinya,ia mempertahankan pegangannya pada pinggang istrinya dan menundukan kepalanya pada wajah istrinya,ia mengadukan hidungnya dengan hidung istrinya dengan tatapan mata keduanya bertemu senyum di wajahnya.
Rendi menggesek-gesekan hidungnya pada istrinya.
"Sayang?" Ucap Rara.
__ADS_1
"Hmm, aku hanya sedang memandang lautan malam ini Sayang, juga melihat senyuman gadis kecilku dan melihat senyum tawa bahagiamu dari tadi pagi yang menghiasi pikiranku," jelas Rendi.
"Benarkah?" Ucap Rara.
Rendi mengangguk dan tersenyum memandangi istrinya.
"Jika seperti itu ajaklah aku Sayang, untuk melihat senyum dan tawa gadis kecilmu itu,aku ingin berkenalan degannya,apa kau sudah memperkenalkanku padanya?" Tanya Rara.
"Sudah,bahkan aku sudah memperkenalkanmu saat aku bertemu denganmu di parkiran saat itu," jawab Rendi.
"Parkiran,kenapa dengan saat itu?" Tanya Rara.
Rendi tersenyum saat mendapati segala pertanyaan dari istrinya yang saat ini sangat membuatnya gemas di buatnya.
Rendi membalik tubuh mereka dan berdiri menghadap lautan pantai malam yang berada di hadapan mereka.
Kini Rara memeluk suaminya dari sampingnya dan mendengarkan ucapan suaminya menyusupkan kepala ke dalam dadanya.
"Saat aku bertemu denganmu di parkiran dan aku melihat kartu identitasmu,aku selalu teringat akan dirimu yang dengan lepasnya tertawa di hadapanku dengan segala tawamu itu aku sampai tidak bisa tidur Sayang, saat aku semakin mengingat wajahmu yang selalu mengisi di pikiranku,aku melihat ke arah poto yang terpajang di samping kamarku,aku juga melihat gadisku itu tersenyum padaku percis seperti dirimu,saat itu juga aku memperkenalkanmu padanya dan berkata untuk bisa menjadikanmu sebagai istriku, saking aku terbayang wajahmu aku tidak bisa tidur semalaman," jelas Rebdi.
Rara tersenyum dengan cerita suaminya yang konyol baginya tapi indah.
"Sayang,memang sejak kapan kamu jatuh cinta padaku?" Tanya Rara.
Rendi terenyum mendengar pertanyaan istrinya yang justru tidak bisa ia katakan.
"Aku tidak tahu Sayang,mungkin aku sudah jatuh cinta padamu saat pertama kita bertemu," jawab Rendi.
"Jangan bohong kamu,mana ada orang jatuh cinta maki-maki aku gadis gila," cetus Rara.
"Hehe,iya ya kamu gadis gila yang membuat hatiku semakin gila karena mencintaimu," ucap Rendi.
"Kamu ini aku serius nih," ucap Rara.
"Hehe, aku tidak tahu Sayang,karena cinta datang tanpa kita sadari juga dan berjalan begitu saja yang aku tahu aku selalu ingin bersamamu dan memilikimu bahagia bersamamu ," jelas Rendi.
"Hmmm,kamu menggemaskan suamiku, aku juga tidak tahu kapan jatuh cinta sama kamu yang aku tahu kamu suamiku, yang sangat berarti dan aku cintai," ucap Rara.
__ADS_1
Rendi mempererat pelukannya dan mencium kening istrinya dengan dalam.
Mereka berpelukan menghadap lautan pantai malam yang menjadi saksi cinta yang tidak tahu kapan datangnya dan menjadi semerbah satu cinta. Kini menjadi satu pasangan yang saling mengisi satu sama lain dan penuh cinta.