
Prolog Rendi Rara
Rara dan Dilla berjalan tidak menghiraukan panggilan Rendi.
Lain dengan Rara seperti di pisahkan dengan kekasihnya.
Ia menjulurkan tangannya pada Rendi dan Rendi mencoba meraih tangannya.
Hal layaknya hubungan yang tak di restui oleh orangtuanya hingga sampailah di rumah Rara merekapun mengucap salam.
"Asalamualaikum," ucap Rara dan Dilla.
"Waalaikum salam Sayang, kamu sudah pulang mana ayahmu?" Tanya ibu Rara.
Ibunya terkejut, dengan apa yang ia lihat ada dua orang pria di belakang Dilla dan Rara dengan wajah tampan dan gagah.
"Siapa mereka, Nak?" Tanya ibu.
"Saya Rendi, Bu," ucap Rendi mengulurkan tanganya.
"Saya Ken." Ken juga sama mengulurkan tanganya.
Ibunya Rara menyambut salam dari Rendi dan Ken dengan ramah.
Mereka di persilahkan masuk dan duduk.
Ibunya Rara pergi ke belakang untuk mengambil minum untuk mereka.Rara di belakang ibunya mengikutinya masuk ke dapur.
"Mereka siapa Ra?" Tanya ibu Rara.
"Mereka teman Rara,Bu," jawab Rara.
Rara menyiapkan minuman untuk di berikan pada Rendi dan Ken.
"Teman darimana?" Tanya ibu Rara.
"Teman di Jakarta,mungkin mereka ada urusan di desa kita Bu,Rara juga belum tahu baru juga bertemu di jalan," jelas Rara.
"Tapi cakep-cakep ya," ucap ibu Rara.
"Haha, Ibu ini tahu aja kalau yang cakep mah," tawa Rara.
Ada kebahagiaan di hati ibu Rara mengingat kepedihan yang putrinya alami.
Tapi sekarang Rara justru nampak berseri tanpa beban di hatinya.
Rara membawa nampan air beserta camilannya, meninggalkan ibunya yang sedang terdiam melihatnya.
Rara mencium pipi ibunya.
"Ibu jangan khawatir Rara sangat bahagia," bisik Rara tersenyum pada ibunya.
"Gadis nakal," ucap ibu Rara tersenyum melihat tingkah putrinya yang pergi membawa nampan.
Rendi Dilla dan Ken duduk di ruangan tengah yang luas tanpa sofa, tapi dengan kursi terbuat dari kayu jati.
Rara menghampiri mereka bertiga dengan membawa nampan air dan camilan untuk mereka.
Mereka berbincang-bincang tentang perjalanan Rendi dan Ken yang bertemu gadis-gadis desa juga mereka yang di soraki pemetik teh.
Sampai sore tiba terlihat dari kejauhan ayahnya Rara menghampiri mereka kembali dari sawah.
"Asalamualaikum," salam Ayah Rara.
__ADS_1
"Waalaikum salam ," jawab semua.
Ayah Rara ikut duduk bersama tersenyum dan bertanya dalam keadaan kotor.
"Yang mana kekasihmu itu, Ra?" Tanya Ayah Rara.
"Apa yang ayah bicarakan kenapa bertanya seperti itu," batin Rara salting.
"Saya Rendi Pak dan saya kekasih Rara," ucap Rendi lantang.
Membuat semua mata keluarga Rara membulat dan tertawa semua.
"Ternyata orang kota sangat jujur ya," ucap Paman Rara.
Paman Rara yang baru datang yang tak lain Ayah Dilla, ia ikut duduk berbincang-bincang dengan mereka.
Rendi merasakan ada ke hangatan antara keluarga Rara menyambut kedatangan Rendi.
Rara pergi ke halaman belakang dan ia duduk melihat matahari senja.
Ada raut bahagia di wajah Rara.Ia terduduk di sana hingga menjelang maghrib.
Rara termenung sambil senyum mengembang dengan suasana hati yang bahagia.
****
Rendi yang sedang berbincang dengan Ayah Rara hanya berdua saja.
"Nak, Rendi,sudah tahukan kalo Rara seorang janda?" Ucap Ayah Rara
Rendi tersenyum dengan ucapan ayah Rara yang apa adanya. Iapun mencoba berbicara pada Ayah Rara.
"Saya juga dulu punya istri Pak dan dua hari yang lalu kami bercerai," jawab Rendi.
Yang ternyata bukan seorang bujangan menurut ayah Rara sepintas Rendi tidak nampak pria sudah menikah.
"Nak Rendi,apa putri Bapak yang merusak rumah tanggamu?" Tanya Ayah Rara cemas.
Rendi menggelengkan kepalanya.
"Bukan Pak, saya mengenal Rara baru tiga bulan ini. Soal Rumah tangga saya sudah retak dari saya menikah sebulan pernikahan kami. Pernikahan kami hanya satu tahun itu di karenakan saya yang kurang mejaga istri saya sehingga di ambil orang Pak," ucap Rendi.
"Oh Nak Rendi, begitu pula dengan anak Bapak juga berakhir setelah satu tahun menikah," ucap Ayah Rara sedih.
"Saya tidak akan mengecewakan Bapak, apalagi Rara Pak," ucap Rendi.
Rendi menenangkan hati Ayah Rara dengan menjelaskan setiap maksudnya berkunjung ke rumah orang tua Rara.
Setelah itu Rendi menghampiri Rara yang sedang melihat senja.
"Bukannya sebentar lagi kamu harus sembahyang?" Tanya Rendi mengejutkan Rara.
"Iya, aku sedang melihat indahnya senja disini di kotamu aku sangat jarang menyaksikan ini semua," jawab Rara.
"Iya kau benar Sayang," ucap Rendi.
Rendi ikut duduk di samping Rara,
Rara malah memegang erat bajunya. jantungnya semakin cepat berpacu mendengar perkataan Rendi.
Rara sangat sering mendengar panggilan sayang dari orang-orang sekitarnya.
Keluarga, Ayah, Ibu, Dilla.
__ADS_1
Tapi dari seorang Rendi malah membuatnya seperti berlari sejauh seratus kilo meter.
Antara bahagia dan salah tingkah juga.
Rara tak bersuara berusaha mengatur pernafasannya.
Rara dan Rendi memandang senja berdua di kursi yang terbuat dari bambu.
Di saat Rara mendongakan kepalanya melihat matahari yang sudah tenggelam.
Rendi memegang dagu Rara dan mencium bibir Rara.
Rara yang mendapat serangan dadakan, ia membulatkan kedua matanya merasakan sebuah bibir yang bergelayut di bibirnya.
Rendi tersenyum melihat Rara yang terdiam.
Lain dengan Rara jantungnya berdetak kencang saat di depan Rendi.
******
Setelah sholat berjamaah keluarga besar Permana yang di ikuti Rendi dan Ken.
Mereka keluarga besar di ruangan tengah makan bersama.
Begitu yang biasa keluarga Permana lakukan keseharianya.
Dalam setiap hal mereka selalu bersama suka duka makanpun bersama.
Disana ada Ayah, Ibu Rara,Ayah Dilla beserta Istrinya dan Tante Rara dengan suaminya yang putrinya baru berusia lima tahun.
Keluarga besar sudah bersiap untuk pergi ke acara pernikahan Ayu dan Agus.
Rara keluar dengan gaun warna peach senada dengan kerudungnya.
Rendi yang menunggu di depan pagar melihat keluarganya serombongan.
"Dimana Rara?" Tanya Rendi.
"Mungkin belum selesai dandan," jawab Ken.
Dari belakang sudah ada Rara mengikuti keluarganya.
"Cantik, sangat cantik," gumam Rendi.
Gumaman Rendi yang terdengar oleh Rara membuat wajahn Rara bersemu merah.
Mereka berdua mengikuti keluarga dari belakang begitupun Ken dan Dilla.
Hanya butuh waktu beberapa menit kini semua sampailah kepelaminan.
Sudah ada dua pengantin Rara akan memberikan selamat pada mempelai saat bersalaman pengantin wanita berbicara pada Rara.
"Siapa dia Ra?" Tanya Ayu.
Rara belum sempat menjawab Dilla sudah keburu menjawab.
"Ini calon suami nya dan juga sebentar lagi mereka menikah," ucap Dilla lantang.
Ucapan Dilla membuat semua keluarga berbalik dan melihat ke arah Rara.
Rara yang merasa keluarganya memperhatikannya wajahnya merah padam karena malu.
"Dasar Dilla bodoh kenapa dia berkata seperti itu," gumam Rara.
__ADS_1
Rendi yang mendengarnya ia tersenyum dan menuntun Rara yang terdiam meninggalkan kerumunan.