
Di dalam perjalanan, Rendi masih dalam diam melihat jalanan. kota di balik kaca mobilnya. Ia masih memikir suatu hal yang teramat ia khawatirkan untuk beberapa hari ini. Rendi masih mengharap ada sebuah keajaiban dalam setiap langkahnya. Itu yang sedang ia katakan di dalam hatinya yang kini hanya bisa terdiam. Nesa melihat tuannya yang seperti sedang dalam keadaan tidak nyaman dalam duduknya. Ia ingin bertanya tapi Nesa urungkan mengingat tuannya masih dalam mode terdiam.
Kecepatan tinggi kendaraan yang Nesa bawa membuat Rendi denganya sampai lebih cepat bersamaan jalanan yang tidak ramai.
Rendi keluar dari kendaraannya dan berhenti sebelum melangkah keluar.
"Kau pastikan perusahaanku baik-baik saja," ucap Rendi menegaskan Nesa.
"Semua masih dalam kendali Tuan," jawab Nesa mengangguk dan hormat pada Rendi yang kini juga mengangguk dan berjalan memasuki perusahaan ayahnya.
Sebenarnya ada hal di dalam perasaannya agar tidak pergi ke perusahaan ayahnya ini. Tapi Rendi tidak menghiraukan tentang perasaannya ini. Ia berpikir karena ia sudah memiliki istri yang selalu menggunakan perasaan padanya. Rendi memilih diam dan tetap berjalan memasuki perusahaan ayahnya yang kini sudah mulai stabil.
Rendi di sambut hangat oleh semua karyawan yang menyambutnya. Ia juga melihat Ken yang kini berdiri di hadapannya bersama dengan Mark dan Iyas yang juga berdiri masih menunggunya. Mark dan Iyas bahkan belum kembali ke Singapore selama satu minggu ini. Mereka berada di Jerman bersama Rendi membantu perusahaan ayahnya. Mereka selalu ada untuk Rendi dalam hal apapun kesetiaan mereka memang sudah tidak di ragukan lagi.
Rendi berjalan memasuki ruangannya dengan tatapannya ke ruangan Direktur milik ayahnya.
Rendi duduk dengan berwibawa dan melihat Mark dan Iyas yang kini duduk di sofa bersamaan Ken yang juga duduk menghadap Rendi yang membuka dokumen yang sudah menumpuk perlu pemeriksaannya.
"Hari ini ada pertemuan di Kota C apa Anda akan berangkat Tuan? Jika tidak biar saya yang pergi sendiri Tuan," ucap Ken mengawali pembicaraan ketika suasana sedang terasa dingin.
Rendi mendongakan pandangannya dan menopang dagu dengan sebelah tangannya dengan pena di tangannya.
"Apa bisa seperti itu? Pertemuan apa Ken?" tanya Rendi dengan datar acuh.
"Pertemuan lelang yang di selenggarakan oleh persatuan hitam Tuan, disana terdapat mutiara milik tuan Anggara yang pernah tuan bicarakan," jelas Ken.
"Benarkah? Ternyata lelangnya secepat itu ya? Kapan itu Ken?" tanya Rendi antusias, mengingat mutiara pertama yang di dapatkan mendiang kakeknya dulu yang telah di ambil alih oleh persatuan hitam itu.
__ADS_1
Rendi bahkan sangat penasaran siapa ketua persatuan hitam itu. Selama ini dia hanya mendengarnya saja tapi tidak pernah bertemu langsung.
"Apa aku perlu ikut Rend?" tanya Mark.
"Hmm kau cari tahu dulu kapan itu di mulai," ucap Rendi pada Ken.
"Lelang di laksanakan subuh nanti Tuan," jawab Ken.
Rendi mengangguk dan terdiam. Ia memikirkan cara untuk bisa mendapatkan kembali mutiara itu dan mengetahui siapa di baliksemua ini. Ia tahu tidak semudah itu seorang perusahaan Anggara di retas setiap keamanannya sedangkan ia memiliki peretas handal dua-duanya yaitu Mark dan Adam.
Mengingat tentang seorang Jason yang sudah ia buang ke sebuah pulau tidak akan mungkin jika dia masih berani menyerang Rendi dan perusahaan ayahnya. Mengingat semua asetnya sudah ia hancurkan dengan tanpa ampunan lagi termasuk keluarga Jason yang juga ikut terlibat kini mendekap di penjara.
Rendi terdiam lama. Ia tidak cepat merespon ucapan teman-temannya tapi ia berpikir dengan dalam di setiap langkahnya. Ia mengedarkan pandangannya kepada teman-temannya yang nampak bertanya dalam diam mereka.
"Kalian tetap disini dan nanti pulang kita diskusikan semuanya, Ken kau masih mengatur semua tentang Cafe milik istriku?" tanya Rendi.
Rendi mengangguk saat tahu jika Cafe milik istrinya masih stabil. Mengingat permintaan istrinya yang menginginkan jika Cafenya harus tetap berdiri karena cinta yang mereka bangun dari awal adalah Cafe itu. Rendi tersenyum ketika mengingat ucapan manja istrinya yang konyol. Meminta dan menceritakan segala keinginannya.
Rendi tidak menghiraukan teman-temannya yang melihatnya tersenyum sendiri.
"Sepertinya Rendimu itu sudah gila karena cinta," bisik Iyas pada Mark yang kini memandanginya dengan tatatpan tidak suka dengan kesalnya pada ucapan Iyas akan tuannya.
"Aku rasa musuh yang paling nyata itu adalah kau Yas," ucap Mark dingin.
"Hahaha mana mungkin. Aku ini pengawal setianya untuk apa aku berkhianat pada penolong hidupku, aku ini akan selalu menjunjung tinggi kesetian pada tuanku Rendi tanpa sebuah kata-kata yang manis. Aku akan bertindak jika hanya untuk sebuah kesetiaan," ucap Iyas dengan lantang di hadapan Mark dan Ken yang memandangnya dengan datar. Rendi mendengarnya tapi tidak menghiraukannya. Itu sudah hal biasa baginya jika Mark dan Iyas beradu mulut jika seeang berada di hadapannya. Rendi sudah tahu bahwa mereka selalu mencari perhatiannya. Tapi tidak pernah ia hiraukan.
"Kalian mau makan siang?"ucap Rendi dengan wajah sedikit tidak menunjukan kedinginannya.
__ADS_1
"Wiiih ... Bro. Apa yang kau katakan tidak sedang bercandakan?" tanya Iyas dengan antusias tidak percaya akan apa yang ia dengar.
Mengingat selama ini Rendi tidak pernah mau berbicara banyak apalagi makan bersama selama mereka bersama. Rendi hanya akan mementingkan makanan mereka dahulu baru dia makan. Tapi kali ini dis mengajak mereka langsung.
"Aku tidak perlu berkata dua kali," ucap Rendi dingin.
"Baiklah Bro ... ayo aku sudah lapar nih juga aku sedang bahagia dapat undangan makan dari tuan Rendi Anggara yang sangat jarang di temukan ini," ucap Iyas.
" Kau bisa tidak ikut jika tidak mau," uap Mark dengan wajah datarnya.
"Aku ikut Bro, kasihanilah hati dan perutku ini mereka butuh asupan," rengek Iyas dengan sikap kekanakannya.
Rendi berjalan lebih dulu di ikuti Mark yang berjalan di belakangnya.
"Badan sebesar itu bodohnya masih tidak hilang," cetus Ken datar.
"Hei anak kecil, hanya Rendi yang boleh mengatakan aku bodoh, kau hanya anak kecil yang dingin," tangkis Iyas dengan kesal.
"Bodoh !" ucap Rendi dengan senyum tipisnya.
"Hah ... apa aku tidak salah lihat? Kau tersenyum Bro ... aku senang melihat senyuman tampanmu itu Bro aku mau memelukmu," ucap Iyas dan mencoba untuk memeluk Rendi tapi di cegah oleh Ken dengan segala caranya Iyas mencoba untuk lepas dari cengkraman Ken yang mencegahnya untjk memeluk Rendi.
"Kau ini anak kecil minggir ! Aku ingin melihat senyumnya lagi," gerutu Iyas kesal pada Ken yang masih mencegahnya.
Rendi tersenyum berjalan di depan mereka bertiga yang masih ribut an membuat hangat hati Rendi yang merasakan tiga sahabatnya yang sangat memperdulikannya. Ia berjalan menghampiri Renstoran di dekat perusahaan di ikuti tiga sahabatnya dan makan dengan Iyas yang masih berbicara mengisi waktubmakan siang mereka. Iyas menceritakan setiap hal yang di lakukan dulu dan sekarang tentang wanitanya yang banyak.
Mereka mendengarkan tanpa protes bagi mereka itulah Iyas yang selalu berbicara tanpa henti tapi tidak mengurangi kesetiaannya.
__ADS_1