
Prolog Rara dan Rendi.
Kehidupan Rendi dan Rara berjalan dengan baik seperti biasanya. Rendi yang selalu bermanja pada istrinya. Terkadang juga ia mengerjai istrinya dengan segala hal konyolnya untuk menghiasi hari-hari mereka berdua.
Setelah Enam bulan sudah pernikahan Rendi dan Rara berlangsung.
Hari-hari mereka jalani tanpa perselisihan satu sama lain mereka tetap menghabisi setiap waktunya bersama. Saling mengisi satu sama lain.
Karena tidak mendengar kabar perseteruan dari pernikahan Rendi dengan istrinya. Hal itu justru sudah membuat ibu Ratih merasa khawatir.
Ia sedang memikirkan berbagai cara agar dapat memisahan mereka dan juga menemukan wanita yang baik untuk putranya. Ia bahkan tidak ingin putranya dengan wanita yang tidak jelas asal usulnya seperti istrinya saat ini.
Ibu Ratih sedang duduk di halaman depan dengan secangkkir tehh di tangannya. Ada seorang pria berpakaian formal di sampingnya.
"Pak Jun mulai saat ini kau selidiki dan cari tau siapa dimana dan asal usul istri Rend saat ini,dan usahakan agar Rendi tidak menyadarinya," perintah ibu Ratih pada pengurus rumah.
"Bukankah ini sedikit terlambat untuk menyelidikinya Nyonya kenapa tidak dari awal kita mencari tahu?" Tanya Pak Jun.
"Tadinya aku berharap walau aku tidak bertindak dia tidak akan bertahan selama ini," jawab ibu Ratih.
"Baik Nyonya akan saya pastikan untuk menyelidikinya," ucap Pak Jun.
Setelah itu ibu Ratih menyebar bawahanya untuk selalu mengawasi Rendi terutama istrinya. Ia mencoba mencari kesalahan wanita itu untuk di jadikan alasanya untuk tidak menerima pernikahan mereka.
"Aku akan pergi," ucap ibu Ratih berdiri dari tempat duduknya.
Ibu Ratih bersiap untuk memasuki mobil dan pergi ke suatu tempat.Ia selalu pergi di saat penat karena Rendi. Ia pergi dengan pak Jun di belakangnya kepercayaannya sekaligus tangan kanannya.
Tampak wajah Dingin ibu Ratih terpancar saat ia tahu bahwa Rendi sudah memiliki istri lagi.
Pikirannya mengharapkan agar putranya itu tidak mencintai wanita yang menjadi istrinya saat ini. Ia tidak ingin mempunyai menantu yang tidak sesuai dengan kalangannya.
*****
Prolog
Pagi itu Rara dan Rendi bersiap-siap untuk pergi ke tempat kerjanya.
__ADS_1
Rara memasangkan Dasi pada suaminya. Rendi masih dengan tingkal manjanya mencolek-colek pipi istrinya. Ia selalu menggoda istrinya setiap pagi dengan menggelitiki istrinya yang lebih sering menusuk-nusuk pipi istrinya.
"Aku rasa kamu gemukan Sayang," goda Rendi tersenyum.
"Iya kah,apa kamu tidak suka?" TanyaRendi.
Rara berbalik melihat wajahnya dan memegang pipinya saat ia bercermin menepuk-tepuk wajahnya. Rendi yang melihat tingkah istrinya yang bercermin. Ia tersenyum mencium dan memeluknya dari arah belakang Rara menghadap cermin.
"Hm ... aku sangat suka Sayang," goda Rendi.
Rara memegang tangan dan pelukan Rendi. Ia mengangguk dan tersenyum juga melihat ke arah cermin dengan Rendi memeluknya membenamkan kepalanya ke leher Rara.
"Sayang bisakah aku bertemu keluargamu?" Tanya Rara.
"Hm ... kenapa tiba-tiba..untuk apa juga bertemu?" Tanya Rendi terkejut.
"Aku tidak tahu aku merasa sangat ingin bertemu keluargamu terutama mamahmu," lirih Rara.
"Ini belum saatnya Sayang, kita harus menunggu waktu yang tepat aku takut kamu akan sakit hati oleh mereka," ucap Rendi.
"Kenapa seperti itu Sayang ... mungkin saja tidak seburuk itu," ucap Rara.
"Kenapa kamu membentaku?" Teriak Rara matanya sudah berkaca-kaca.
"Ayolah Sayang, kamu mau bertemu siapa saja aku izinkan. Kamu mau bertemu dengan artis juga siapapun itu akan aku penuhi. Tapi jangan dengan keluargaku apalagi ibuku," jelas Rendi meninggikan nadanya.
"Kamu jahat kamu bahkan tidak pernah menganggap aku dan juga meremehkan kemampuanku siapa tahu mereka justru lebih baik padaku," teriak Rara berurai air mata.
"Rara Permana kenapa kamu selalu melakukan hal seperti ini menangis hanya untuk keinginan bodohmu," bentak Rendi.
Rara terkejut dengan ucapan Rendi yang mengatakan bahwa keinginannya selalu hal bodoh.
"Jadi selama ini di matamu aku ini hanya wanita bodoh hah..! " Teriak Rara.
"Aku benci kamu Rendi Anggara yang jelek kamu bahkan membentaku dan menganggapku bodoh, aku benci kamu," teriak Rara meninggalkan Rendi.
Rara keluar dari Apartmentnya. Ia pergi menaiki Taxi yang iapanggil.
__ADS_1
Entah kenapa akhir-akhir ini selalu banyak keinginanyanya pada suaminya. Jika tidak di penuhi,ia pasti akan menangis pada suaminya.Tidak hanya pada suaminya. Saat di Cafe Rara juga selalu bermanja pada sahabatnya Dilla. Bila keinginannya tidak ada yang terpenuhi hatinya akan sakit dan menangis. Rara selalu keras kepala dengan semua keinginanya.
Rara kini sudah berada di dalam mobil dengan keadaan menangis. Di mobil ia terisak tanpa henti air matanya mengalir deras. Dengan tanpa tujuan Rara menaiki mobil yang ia berhentikan di jalan Taxi online yang kebetulan lewat. Tanpa tujuan yang ia menaiki mobilnya.
Rara turun dari Taxi ia berjalan menelusuri taman yang dulu pernah ia datangi hanya untuk melepas kegundahan hatinya.
Dulu pernah sekali ia bertemu dengan seorang ibu yang baik dengan pelukan hangatnya. Rara bahkan sempat berharap akan ada sosok ibu tersebut dan bercerita padanya. Karena hanya dia yang menurutnya tepat untuk teman bercerita.
Rara berdiri menghadap Danau seperti sebelumnya.
"Kamu jahat kamu jelek kamu bodoh kamu menyebalkan," teriak Rara.
Setelah puas mengumpati suaminya. Ia terduduk di rerumputan menghadap danau. Menurutnya dengan begini semua unek-uneknya akan berkurang.
"Apa sudah membaik?" Tanya seseorang menghampirinya.
Rara yang mendengar suara seseorang di belakangnya. Ia menoleh dan berbalik. Ia tersenyum dan membungkukan kepalanya dengan hormat.
"Anda di sini Tante,apa anda sedang bersedih,lalu kenapa saya baru melihat anda lagi setelah berapa lama?" Tanya Rara .
"Saya baru ada waktu senggang dan ya Saya hanya sedang dalam kebimbangan makanya saya berjalan-jalan," ucap Ibu itu.
"Hm ... duduklah Anda bisa menceritakan masalah Anda pada Saya, tenang saja Saya bisa menjaga rahasia Anda," ucap Rara tersenyum.
"Kamu bahkan tidak dalam keadaan baik tapi masih mau mendengarkan masalah orang lain," ucap ibu itu tersenyum.
"Waaaah senyum Anda sangat manis Tante," puji Rara sumringah.
Mereka duduk di rumput taman dengan memandang ke arah danau taman.
Mereka saling menceritakan masalah mereka. Rara lebih banyak tertawa di sana ia bahkan melupakan kejadian tadi pagi.
Mereka berpamitan untuk berpisah hendak kembali ke rumah .
Tapi di saat Rara melangakah ia sempoyongan dan pandanganya buram dan terjatuh.
Supir wanita paruh baya itu dengan sigap menangkap Rara. Wanita itu mengusulkan membawanya kembali ke rumah.
__ADS_1
Wanita itu tampak cemas melihat gadis berhijab ini terlihat lemah.
"Suruh Dokter keluarga untuk datang secepatnya kita ke rumah !" Perintah wanita itu.