Istri Kedua Tercinta

Istri Kedua Tercinta
Debat yang manis


__ADS_3

Adam mencari sebuah informasi tentang seseorang. Tugas yang di perintahkan Ken membuatnya bekerja sepanjang malam. Tanpa harus menggoda seseorang di hadapannya yang saat ini sedang menatapnya. Nesa bahkan membuatkannya secangkir teh hangat untuknya. Tapi ia bahkan tidak menoleh sama sekali pada Nesa karena Adam sedang menggeluti pekerjaannya saat ini. Ia bahkan tidak suka di ganggu jika sedang bekerja. Ekspresi Adam berubah - ubah saat melihat layar handponenya dan melihat sebuah nama dan data seseorang. Ia mendongakan kepalanya dan memandangi Nesa yang kini salah tingkah terpergok sedang memandanginya. Adam tersenyum dan berdiri dari duduknya.


"Aku ambil Laptop dulu ya cantik," ucap Adam tersenyum pada Nesa dan berjalan meninggalkan Nesa yangvkini sedang tertegun.


"Apa-apaan pria idiot ini, dia sedang menggodaku dengan wajah datarnya itu?" gumam Nesa.


Nesa melihat Adam yang berjalan memasuki rumah hendak mengambil Laptop yang ia katakan dan tersimpan di dalam kamarnya.


Nesa menggerutu ketika mendapati Adam yang bahkan belum kembali juga. Ia merasa ada hal dan sesuatu yang hilang malam ini yang terasa sepi sunyi. Nesa berjaga dengan tingkat kewaspadaannya yang intens. Ia melihat kesekeliling rumah Permana mengingat agar tidak ada hal buruk kepada tuan dan nyonyanya. Ia beradu dengan pikirannya sendiri saat kewaspadaannya mulai lengah. Ia di kejutkan oleh Adam yang sudah berada di sampingnya dengan jarak wajah yang sangat dekat. Nesa membulatkan kedua matanya ketika sebuah ciuman di bibirnya mendarat dengan mulus oleh Adam.


Kini Adam duduk pada posisinya dan membuka Laptopnya seperti tidak terjadi sesuatu. Ia bekerja dengan khusu tanpa memperdulikan Nesa yang kini terkejut dalam diamnya.


Ia merasakan sebuah bibir yang menciumnya dengan sangat cepat dan membuat jantungnya semakin berderu kencang kembali. Ia membulatkan kedua matanya dan mengerutkan keningnya melihat Adam yang kembali pada pekerjaannya tanpa menghiraukannya yang sedang kesal pada Adam.


Nesa berpindah duduknya dan berjongkok menghadap api yang kini mulai mengecil. Ia menambah kayu bakarnya dan kini sudah membesar. Seperti deru jantung Nesa saat ini perasaannya tidak bisa ia tebak. Justru semakin berdetak kencang yang membuatnya menggerutu dan bergumam sendiri. Ia memainkan ranting yang ada di hadapannya menopang dagunya dengan kedua kakinya dan membuat tulisan acak di atas tanah dengan tangan yang sesekali kesal hingga membuat ranting yang ia pegang patah.


Adam tersenyum melihat ke arah Laptopnya. Kini semua data sudah ia kumpulkan dan temukan. Seorang wanita yang asal usulnya seorang anak dari pengusaha yang sudah lama bangkrut. Yang kini sedang Ken cari.


"Ternyata dia seorang wanita yang cukup cantik di masanya, tapi sayang, ia harus menderita hanya karena seorang pria, tapi kenapa tuan Ken menginginkan data dia ya? Sudahlah aku kirim saja biar dia tahu sendiri," gumam Adam.


Ia mengirim file yang Ken minta padanya.


Saat sudah mengirimkannya. Adam menutup kembali Laptopnya dan handponenya ia masukan kedalam saku celananya. Ia tersenyum melihat ke arah wanita yang sempat ia kecup bibirnya untuk menyemangatinya.


Adam berjalan dan duduk di samping Nesa yang kini sedang menatapnya dan bergeser sedikit menjauh dari Adam.


Adam tersenyum melihat tingkah Nesa yang seperti sedang merajuk padanya.


"Jika kau menjauh lagi aku akan melakukannya dengan sangat lama nanti," goda Adam.


Nesa tertegun mendengar ucapan Adam dan membenarkan posisi duduknya.

__ADS_1


"Kau ... berani akan aku tendang," cetus Nesa.


"Terimakasih," ucap Adam.


"Hah ...."


Nesa tertegun mendengar ucapan Adam yang berterimakasih padanya. Ia mendekati Adam dan memiringkan kepalanya melihat keseriusan Adam berterimakasih padanya.


"Apa kau demam pria idiot?" tanya Nesa.


Adam melempar kayu bakar di hadapannya dan membuat api kembali membesar. Ia menoleh ke arah Nesa, yang kini sedang memiringkan kepalanya menatap Adam.


Adam tersenyum melihat tingkah Nesa yang lucu baginya. Tanpa ia sadari. Adam memegang kepala Nesa dan mencium bibir Nesa yang terlihat manis, membuatnya ingin merasakannya kembali setelah kali tadi ia mengecupnya perlahan.


Adam menelusuri setiap inci bibir Nesa yang teramat menjadi candu baginya. Ia menelan salivanya dan menciumi bibir Nesa dengan mata tertutup dan rakus di depan bara api di hadapannya. Ia menikmati setiap inci bibir Nesa yang kini terdiam dan membulatkan kedua matanya.


Nesa terkejut mendapati serangan dari Adam yang malah membuatnya terdiam dan menutup kedua matanya merasakan dan membiarkan Adam menciuminya.


Pria yang menciumnya bahkan hanya seorang Adam yang sering ia teriaki dengan panggilan pria idiot.


Setelah mendapati ciumannya. Adam melepas pautannya dan membuka kedua matanya. Melihat Nesa yang kini sudah membuka kedua matanya kembali. Ia tersenyum mengingat Nesa bahkan tidak memberontak seperti sebelumnya.


Wajah Nesa bersemu merah padam, merasa malu akan tingkahnya yang tidak bisa mengontrol emosi dan hasratnya yang seharusnya ia jaga. Ia seperti orang lain saat berada dekat dengan Adam. Jantungnya terlalu sering berdetak kencang. Apa lagi saat ini Adam menciumnya tanpa aba-aba.


"Maaf dan terimakasih," ucap Adam.


Nesa mengerutkan dahinya. Ia menatap Adam dan juga bibir yang baru saja menciuminya. Ia merasa malu dan tersentuh saat melihat bibir Adam yang terasa dingin dan menyejukan di bibirnya.


Nesa menyentuh dahi Adam dengan selah tangannya.


"Aku rasa kau tidak sedang sakit," ucap Nesa.

__ADS_1


Adam tersenyum dan memegang tangan Nesa yang menggantung di keningnya.


"Bibirmu manis," ucap Adam.


Ucapan Adam membuat Nesa salah tingkah. Ia berpaling menatap api yang berkobar di hadapannya. Ia bahkan tidak hentinya tersenyum. Mengingat setiap ucapan Adam yang menurutnya sangat jarang ia dapati dari seorang pria yang ia temui. Apalagi dari kecil. Ia hanya berdiam diri di rumah besar Rendi Anggara di Jerman. Untuk kali ini pertama kalinya seorang pria mengatakan hal manis tentangnya apalagi menciumnya.


Adam tersenyum melihat tingkah malu Nesa di hadapannya. Dari banyaknya wanita yang ia temui. Hanya Nesa yang merasa salah tingkah dan malu berdekatan dengannya. Sampai saat ini Adam belum pernah mencium seorang wanita dengan hasrat dan penuh keinginan srperti saaat ini. Adam selalu berjaga jarak jika ada seorang wanita mendekatinya. Tapi lain dengan Nesa. Ia bahkan berani mengatakan Adam pria bodoh dan idiot. Adam justru merasa senang saat Nesa mengatakannya dengan bentakan dan tatapan mata tajamnya. Ia mendekati Nesa yang membelakanginya dan berbisik.


"Apa kau ingin lebih dari sebuah ciuman?" bisik Adam.


Nesa terkejut dan berbalik ke arah Adam. Kini wajah mereka bertemu satu sama lain. Saling menatap. Nesa mengerutkan dahinya dengan wajah kesalnya.


"Kau jangan keterlaluan pria bodoh, memang kau siapa aku," cetus Nesa mendorong dada Adam yang berada dekat dengannya.


"Memang kau ingin aku jadi siapa kamu?" tanya Adam tersenyum.


"Aku ... "


Nesa terdiam dan di buat salah tingkah kembali oleh pria di hadapannya. Setiap kali ia berdebat dengan Adam. Ia merasa perdebatannya terasa manis. Nesa mengarahkan tangannya ke arah api dan menggosok telapak tangannya yang mulai dingin. Ia tidak menghiraukan Adam yang masih menatapnya.


Adam tersenyum dan memegang tangan Nesa. Mendekapnya dan menghangatkannya di depan tungkuan api yang membara di hadapan mereka berdua.


Nesa tertegun dan melihat ke arah Adam yang terlihat santai di hadapannya. Adam menoleh ke arah Nesa dengan senyum tulusnya.


"Apa kau merasa hangat di dekatku?" tanya Adam.


"Kau bukannya hangat tapi malah membuatku panas," jawab Nesa terkejut atas ucapanny dan menutup mulutnya dengan kefua tangannya.


"Panas di bagian man?" goda Adam tersenyum melihat tingkah Nesa yang saat ini sedang salah tingkah.


Nesa tidak menjawabnya. Ia memilih diam menghadap ke arah api. Takut akan ucapan salah lagi yang akan ia ucapkan pada Adam.

__ADS_1


Ia selalu kalah jika harus berdebat dengan pria di hadapannya ini.


__ADS_2