
Dalam perjalanan menuju rumah Mark Robert. Rendy dan Rara masih bergelut romantis di dalam mobilnya. Selama perjalanan, mereka berpelukan dengan bibir masing-masing yang masih menempel satu sama lain. Mereka berdua semakin memanas menikmati suasana. Mereka berdua berciuman dengan dalam dan masih asyik dengan aktivitas mereka selama dalam perjalanan. Mengingat mereka di dalam mobil hanya berdua saja, begitupun dengan sopir Rendy menutup sekat mobilnya, memahami suasana pada tuannya yang terbilang mulai memanas.
Rendy mencium bibir istrinya dan hasrat untuk menuruti semua keinginan istrinya yang sedang hamil muda itu. Untuk saat ini, Rara bahkan tidak pernah menolak setiap keinginan suaminya untuk bercumbu dengannya di mana pun itu. Rara akan selalu bersedia, lain dari biasanya, Rara yang selalu menolak dan memilih tempat untuk menghabiskan waktu berdua mereka. Apalagi sesuatu yang intim bagi mereka dalam bercinta Rara terbilang pemilih tempat.
Rendi melepas tautan bibirnya dan memandangi wajah istrinya yang terlihat memelas. Ia tersenyum melihat wajah istrinya yang sangat cantik dan membuatnya semakin mencintai wanita kesayangannya itu.
"Emmm ... apa aku boleh melakukannya?" tanya Rendi ragu-ragu.
Rendi sedikit ragu ketika meminta hal yang menurutnya agak kurang nyaman jika di jelaskan secara detail pada istrinya itu. Akan tetapi, lain dari dugaan, Rara tersenyum dan merangkul leher suaminya yang justru terkejut mendapat jawaban dan perlakuan istrinya saat ini. Rata merangkul leher suaminya dan mencium dalam-dalam bibir suaminya. Ia seperti kelaparan melum*t habis bibir milik suaminya itu. Baginya begitu menikmati untuk saat ini.
Ketika mendapati istrinya yang sangat lain dari biasanya. Rendi mengerutkan dahinya dan mencoba menyeimbangi istrinya yang kini sedang berbadan dua. Rendi semakin ragu, mengingat pendirian istrinya yang selama ini sangat kuat tentang suatu hal intim, yang jika Rendi minta di tempat selain kamar mereka berdua. Selalu Rara tolak dan akan berceramah terus menerus padanya, jika Rendi meminta saat di ruang kerjanya apalagi di dalam mobil seperti saat ini. Tapi lain dari dugaan, Rara justru memasang wajah pasrah di hadapan suaminya dan tersenyum nakal. Rendi tersenyum tipis dan memeluk tubuh istrinya dan mengecup bibir istrinya dan mendekapnya. Rara mengerutkan dahinya dan menatap wajah suaminya yang kini sudah duduk seperti semula dengan tubuh istrinya di pangkuannya.
"Sayang, kenapa tidak jadi? Kamu marah?" tanya Rara mengerutkan dahinya.
"Tidak, untuk apa aku marah okada istri yang sangat manis ini!" jawab Rendi menyusupkan kepalanya di leher jenjang istrinya yang kini penutup kepalanya sedikit terbuka.
"Lalu, kenapa berhenti?" tanya Rara kembali dan memegang wajah suaminya dan menatapnya.
"Aku hanya akan menghargaimu dengan komitmentmu istriku, jadi mari kita lakukan jika kita sudah sampai nanti!" jawab Rendi tersenyum dan mendekap tubuh istrinya semakin erat.
__ADS_1
"Benarkah? Kamu tidak apa-apakan Sayang?" tanya Rara masih meragukan ucapan suaminya yang sama sekali tidak pernah bisa menahan nafsunya dan hasrat keinginan pada tubuhnya.
Rendi mengangguk dan merapihkan pakaian istrinya beserta kerudungnya yang sempat berantakan karena ulahnya. Rendi menahan nafsunya hanya demi menjaga komitmen istrinya dalam menghargai tubuhnya dan juga dirinya. Baginya hubungan intim akan di dapatkan dimanapun dan kapanpun. Tapi sebuah komitment harus di perkuat dan kokoh ketika saling memahami dan menghargai satu sama lain. Apalagi di antara mereka berdua dalam sebuah komitment ada ikatan cinta yang murni di dalam hal apapun termasuk menghargai istrinya ini.
Rara tersenyum dan memeluk erat tubuh suaminya dengan hati bahagia dan senyum di wajahnya. Ia tampak memahami suaminya yang selalu menghargainya dan menghormatinya. Rara bahkan menyusupkan kepalanya di leher jenjang milik suaminya dan meninggalkan jejak kismark di leher milik suaminya itu. Ia tersenyum ketika melihat suaminya hanya tersenyum tipis, ketika membiarkan istrinya melakukan hal tidak pernah di lakukannya itu. Rara menatap suaminya dan tersenyum.
"Sayang, kamu tidak protes aku melakukannya?" tanya Rara tersenyum pada suaminya yang juga tersenyum padanya.
"Kmenapa harus marah? Kamu istriku, semua yang ada pada diriku ya milikmu, apalagi tubuhku ini," jawab Rendi.
"Uuuunnnh ... kamu kok manis sekali Sayang? Aku kan jadi ingin buat banyak disana!" seru Rara meng eratkan pelukan suaminya.
"Untuk apa? Lakukanlah. Aku akan diam," ucap Rendi memberikan lehernya pada istrinya yang terbilang sangat jarang dia inisiatif seperti itu.
"Ayo, kita lakukan setelah sampai!" ajak Rendi.
"Emmm, baiklah. Kau bisa sepuasnya sayang," jawab Rara tersenyum gemas.
Rendi tersenyum dan mencium bibir istrinya dengan dalam. Mereka melakukan sesi ciuman di sepanjang perjalanan. Bagi mereka dimanapun mereka berdua dan bersama. Mereka sudah berkomitment untuk selalu hangat dan lembut satu sama lain. Begitupun Rendi, mengingat istrinya yang sedang berbadan dua. Ia selalu menjaga sikap dan bicaranya agar tidak menyinggung istrinya yang kini mudah menangis. Saking sensitifnya kehamilan kali ini.
__ADS_1
Selama perjalanan mereka masih dengan pelukan dan kehangatan mereka berdua. Rara bahkan tidak mau melepas pautan bibirnya pada suaminya. Ia tampak bahagia ketika mendapati perlakuan lembut dari suaminya itu.
Sekitar satu jam, semua kendaraan memasuki kediaman Robert beriringan. Kendaraan Rendi dan Rara paling depan. Setelah pintu di buka oleh pelayan. Kini Rendi dan Rara keluar dan turun dari mobil dengan perlahan. Rara bahkan melangkah hati-hati.
Mark, Ken, Iyas dan Adam begitupun seluruh yang melihat ke arah Rendi termasuk Alea tertegun. Mereka tersenyum di dalam hati ketika melihat sebuah tanda merah yang terpampang sangat jelas di leher henjang milik Rendi yang berkulit putih bersih itu. Mark dengan wajah datarnya, ia tampak biasa saja.
"Mereka sepertinya habis melakukan hal yang panas!" bisik Dilla pada Ken.
"Kau mau melakukannya juga?" tanya Ken dengan wajah datarnya.
Dilla mendelik pada suaminya yang berbicara konyol. Bahkan dengan wajah datarnya berbicara seperti itu. Ken tersenyum tipis melihat wajah kesal istrinya dan berjalan menghampiri tuannya Rendi.
Ken mengikuti Rendi yang berjalan masuk lebih dulu bersama istrinya beriringan di sampungnya. Mereka seperti sepasang pengantin di iringi kedua anaknya di belakang dan pengantar di belakang mereka. Mengingat ruangan rumah utama sudah di hiasi dekor bunga berwarna serba putih layaknya akan ada acara pernikahan. Padahal hanya acara ulang tahun putrinya saja.
"Daddy ...."
Teriak seorang gadis berlari dari lantai atas dan menuruni tangga. Ia tampak cantik dan manis ketika berjalan dengan riang di ikuti pelayannya dan tersenyum manis menghampiri Rendi dan Rara dan juga Mark yang kini berdiri di samping Rendi.
Semua yang melihat gadis itu melihat ke arahnya dengan senyum mengagumi kecantikan gadis itu. Tampak beraura cantik dan manis. Naura berhambur ke pangkuan ayahnya dan Mark menyambutnya dengan senyum tipisnya dan menggendong putrinya itu. Naura tersenyum ketika berada di pangkuan ayahnya.
__ADS_1
"Daddy, mamah Rara dan papa Rendi apa kabar?" tanya Naura bertanya pada ayahnya dan beralih tersenyum pada Rendi dan Rara.
Semua yang mendengar Naura berbicara tampak tersenyum bahagia mendengar ucapan Naura yang terdengar manis.