
NTR:Hai Kak, kasih bintang 5 kak, jangan lupa like, komen, favoritkan dan vote yach... Selamat membaca kak.
Naura tengah terdiam di depan kompor yang masih belum menyala, ia terdiam memikirkan apa saja yang akan ia buat untuk sarapan pagi ini. Setelah mereka kembali dari kemah.
"Kamu sedang apa Sayang?" tanya Rayn.
Rayn memeluk Naura dari arah belakang dan mencium pundak Naura. Membuat Naura terkejut dan berbalik ke arah Rayn yang baru saja dari tmruang kerja ayahnya.
"Hmmm, aku hanya sedang memikirkan apa yang akan aku buat untuk sarapan pagi ini?" jawab Naura.
"Buat saja apapun yang kamu bisa Sayang," ucap Rayn mendekap kekasihnya itu dari arah belakang lagi.
"Iiih, aku serius! Aku tidak bisa membuat apa-apa! Yang aku bisa buat roti selai saja!" sela Naura melepas pelukan Rayn.
"Hh, ternyata kamu beneran sedang dalam masalah ya Sayang?" tanya Rayn tersenyum tipis.
"Yah, masalahku, aku gak bisa masak!" jawab Naura memajukan bibirnya.
"Heh, benarkah? Aku tidak masalah kamu tidak bisa masakpun, tapi apa yang aku dapatkan jika aku membantumu Sayang?" ucap Rayn tersenyum.
"Kamu masih meminta imbalan pada istrimu ini?" tanya Naura mengerutkan dahinya.
"Memang apa salahnya mendapat bayaran dari istri sendiri?" jawab Rayn tersenyum.
"Baiklah, apa maumu?" ucap Naura malas.
"Apa yah?" balas Rayn terdiam menopang dagunya.
__ADS_1
"Cih, tinggal bilang saja kamu mau aku cium!" cetus Naura.
"Hmm, ide bagus Yank, meski tadinya aku gak kepikiran kesitu sih," ucap Rayn tersrnyum.
"Hah, seriusan? Aku yang salah donk! Yang lain aja Yank," balas Naura salah tingkah.
"Bukannya kamu sudah janji?" tanya Rayn.
"Eeh, iya deh tapi nanti yah? Sekarang buatkan dulu sarapannya, kan Amira akan pergi melamar kerja dia harus sarapan dulu!" jawab Naura.
Rayn tersenyum ia melepas pelukan pinggang Naura dengan senyum tipis tersirat di wajah tampannya. Lalu ia membuat nasi goreng dengan sangat propesional membuat sarapan di depan calon istrinya itu. Membuat Naura terkagum melihat pria tampan dengan mengenakan celemek melingkar di tubuhnya wajah tampan dan manisnya sangat terlihat seksi bagi Naura ketika melihat kekasih hatinya itu membuat nasi goreng. Padahal akan sangat mudah bagi Rayn untuk meminta pelayan untuk membuatkannya, namun dia sudah terbiasa memperhatikan ibunya memasak untuk anak-anaknya dan memperhatikannya.
"Kamu kok manis banget Sayang!" ucap Naura tersenyum memperhatikan Rayn yang tengah memasak.
"Kiss donk!" balas Rayn menyodorkan wajahnya.
Naura tersipu malu ketika mendapati sikap kekasihnya yang manja dan malah membuatnya menjadi salah tingkah. Namun dia mencoba untuk mendekatkan bibirnya hingga sampai di wajah Rayn dan mencoba untuk mencium pipi Rayn. Namun saat tengah sampai di dekat wajah Rayn. Kekasihnya itu berubah posisi hingga kini bibir keduanya yang beradu dan sebuah kecupan mendarat di bibir mereka. Hal yang membuat Naura terkejut membuatnya membulatkan kedua matanya melihat Rayn yang tersenyum melihat Naura dan ia kembali menyekesaikan masakannya.
Setelah mereka kembali dari rumah Anggara, Amira kini berjalan menuruni tangga dengan pakaian formalnya. Ia terlihat sangat rapi dengan tujuan akan melamar pekerjaan ke perusahaan yang diajukan oleh kakaknya. Ketika dia berjalan menghampiri Raun dan Naura di meja makan. Amira tersenyum ketika melihat makanan di atas meja pagi ini.
"Waaah, apa ini? Sarapan buatanmu Kak?" tanya Amira tersenyum melihat ada tiga piring nasi goreng di atas meja.
"Lebih tepatnya suamiku yang membuatnya, hehe," jawab Naura tersenyum.
"Hmm, sudah ku duga! Karena ciri khas Kakaku emang nasi gorengnya seperti inj banyak sayurnya," balas Amira tersenyum.
"Yah, meski begitu bayarannya mahal itu, biar nasi goreng yang tampak aneh gitu juga," ucap Naura memajukan bibirnya.
__ADS_1
"Makan saja dulu baru protes!" tegas Rayn.
Amira tersenyum begitupun Naura. Amira memakan dengan lahap sarapannya tanpa protes sekalipun, Naura mengerutkan dahinya ketika melihat Amira yang dengan lahap memakan sarapannya tanpa berbicara apapun. Dia mencoba untuk melihat nasi gotmreng miliknya yang terlihat ada banyak satmyuran hijau juga kacang polong yang Rayn masukan ke dalam nasi gorengnya. Ia melihat Rayn juga memakan sarapannya dan melihat ke arah Naura.
"Apa kamu mau aku suapin Sayang?" tanya Rayn tersenyum.
"Ah, tidak! Aku bisa makan sendiri. Tapi apa nasi goreng ini tidak bermasalah? Kok kamu memakannya hingga habis Ra?" balas Naura.
"Hmmm,? Aku memang selalu seperti ini jika kakaku yang membuatnya!" jawab Amira.
"Hah? Kamu di ancam apa oleh kakakmu itu?" tanya Naura semakin penasaran.
"Untuk apa kakaku mengancamku? Masakan dia paling enak di antara aku dan Papa!" jawab Amira.
"Dia mama kedua aku masakannya sangat enak!" tambah Amira.
Naura mengerutkan dahinya, ia tidak mempercayai apa yang di katakan oleh Amira yang mengatakan jika masakan Rayn jauh lebih enak dari buatan Amira yang pandai memasak dan sudah jelas keenakannya. Tapi Rayn yang dimana pria dingin yang acuh dalam segala hal memasak dengan enak. Bagi Naura itu adalah hal yang tidak mungkin. Tidak banyak berbicara lagi Naura mencoba mencicipi makanann yang ada di hadapannya dan mengunyahnya perlahan. Saat mendapati suapan pertama ia terdiam dan yang kedua juga kesekian kalinya Naura menikmati makanan yang ada di hadapannya.
"Apa kamu semakin mencintaiku Sayang?" tanya Rayn tersenyum melihat Naura menikmati makanannya.
"Aah, aku ... aku sangat cinta padamu Sayang! Ini enak sekali! Kamu kok bisa membuat makanan seenak ini sih dengan tampilan yang buruk juga tapi aku menyukainya," jawab Naura tersenyum sembari memakan makanannya.
"Kamu persiapkan saja bayarannya," balas Rayn tersenyum memakan sarapannya.
Naura tersenyum ia mengangguk mengerti apa yang dikatakan oleh kekasihnya itu. Meski tidak mengerti apa yang dibicarakan oleh kakaknya. Amira masih dengan fokus ia memakan sarapannya. Ia sudah bersiap dengan pakaian formalnya dan juga lamarannya yang ada di dalam ranselnya, ia akan pergi melamar pekerjaan ke perusahaan yang di ajukan oleh kakaknya.
"Apa kamu mau kakak antar Dek?" tanya Rayn.
__ADS_1
"Tidak perlu Kak, Amira akan pergi dengan sopir rumah," jawab Amira.
Rayn mengangguk, ia memahami akan prinsip adik perempuannya itu, yang memang jika sekali apa yang diucapkannya, akan sangat sulit sekali untuk membantah ketentuan Amira. Meski pada dasarnya Raynlah yang selalu terbilang keras kepala dalam hal apapun. Apalagi ketentuannya, namun dia selalu memahami apa yang diinginkan oleh adik perempuannya itu. Dengan hati yang bahagia dan bersemangat, Amira berpamitan kepada Rayn dan Naura. Ia pergi menaiki mobil keluarga bersama dengan sopirnya untuk melamar pekerjaan.