
Di tengah malam yang sunyi juga dengan angin yang menggebus. Di depan api yang menyala. Rara menutup wajahnya menangis meratapi segala kesedihannya. Apalagi ia sudah mengambil keputusan yang seharusnya tidak ia ambil. Tapi demi kebaikan semuanya Rara harus dengan tegas mengambil keputusannya demi menunggu kembalinya suaminya padanya. Ia menangis dengan derasnya air matanya yang tidak bisa ia bendung kembali.
"Apa aku bodoh? Mengambil keputusan seperti ini! Kenapa aku harus mengalami semua ini?" ucap Rara meratapi kesedihannya.
"Anda sudah tepat Nyonya," ucap Nesa mendekati Rara yang sedang menangis menutup wajahnya dengan kedua tangannya dan mendongakan pandangannya ke arah Nesa yang kini sudah duduk di sampingnya.
Rara memeluk Nesa dengan tangisan yang teramat dalam dalam hatinya yang begitu menyakitkan baginya jika harus berkhianat pada suaminya.
"Aku tidak mau menduakan suamiku," ratap Rara dalam pelukan Nesa. Nesa memeluk Rara dan mengusap punggungnya perlahan.
"Ini semua harus anda ambil Nyonya, jika ingin tuan Rendi kembali dengan selamat," jawab Nesa dengan lembut dan terdengar tegas.
Rara melonggarkan pelukannya dan menatap Nesa dengan wajah cemberut tidak mempercayai akan ucapan Nesa yang membuatnya tidak senang.
"Kenapa kau juga mendukungnya? Bukankah kau setia pada suamiku?" tanya Rara sedikit kesal pada Nesa yang berkhianat pada suaminya begitupun Mark yang malah mengajaknya menikah begitu saja.
"Ini bukan masalah kesetiaan Nyonya, tapi ini menyangkut keselamatan tuan yang harus kita ikuti semua keputusannya, rencana B yang tuan maksud sudah di jelaskan pada mereka orang-orang terdekat tuan Nyonya dan sayapun tidak tahu apa-apa," jelas Nesa dengan tegasnya berbicara pada Rara.
"Rencana B apa maksudnya?" tanya Rara semakin kebingungan akan hal yang Nesa ucapkan padanya.
"Sebelum ini semua terjadi, tuan Rendi bahkan sudah mengetahui hal ini akan terjadi Nyonya, dia juga memberi rencana B yang harus di lakukan kita yang masih selamat," jelas Nesa dengan pandangan melihat Rara yang kinibmalah penasaran akan sesuatu dan terus bertanya padanya.
"Lalu apa menurutmu keputusanku itu benar?" tanya Rara menekan pada Nesa yang masih tidak menjawabnya.
"Jika nyonya bertanya pada saya, itu sudah termasuk jalan terbaik Nyonya, selain demi keselamatan Anda, juga semua keluarga di Indonesia dan juga anak-anak anda Nyonya," jawab Nesa dengan wajah datarnya berbicara pada Rara yang kini malah terdiam mendengar seorang wanita yang malah mendukungnya untuk berkhianat akan cintanya pada suaminya.
"Anda tenang aja Nyonya saya akan selalu ada bersama Anda," tambah Nesa memegang tangan Rara yang mulai dingin karena angin malam. Rara tersenyum dan merasa tenang ketika Nesa bebicara padanya dan menjelaskan hal yang masih belum ia pahami. Mereka berbicara kesana kemari di depan api unggun yang Mark nyalakan tadi.
Di kejauhan ada yang memperhatikan pembicaraan Nesa dengan Rara. Adam berdiri di kejauhan bersama dengan Iyas yang juga ikut duduk di samping Adam yang berdiri mendekap kedua tangannya di dadanya. Mereka melihat ke arah Rara dan Nesa yang sedang berbicara dalam kesedihan Rara yang teramat dalam karena peristiwa yang terbilang cepat tanpa sebuah peringatan.
"Apa kau pikir jalan ini satu-satunya yang terbaik? Bukankah Rendi akan marah jika tahu istrinya ...."
Iyas tidak melanjutkan ucapannya ketika Mark berjalan menghampiri mereka dengan tatapan dingin menatap mereka berdua. Adam bahkan tersenyum melihat Mark yang datang ikut duduk dan memperhatikan Rara dan Nesa yang sedang bercerita dalam kesedihannya dan juga peristiwa yang teramat mendadak bagi mereka.
"Mark, apa kau yakin jika Nyonya menjadi istrimu dia akan aman?" tanya Iyas memecah kediaman yang begitu dingin di antara malam ini yang membuat siapapun disana merasa merinding ketika melihat aura dingin Mark yang tidak dapat di tebak jalan pikiran Mark.
__ADS_1
"Kau siapkan penerbangan secepatnya dalam waktu dua jam aku ingin sudah ada di perjalanan menuju Singapore," tegas Mark masih melihat ke arah Rara yang masih berbicara dengan Nesa yang kini memegang tangan Rara mendengarkan cerita Rara.
Iyas tertegun mendengar ucapan Mark yang sangat mendadak baginya. Tapi ia tidak berani bertanya kembali dan bergegas pergi bersama anak buahnya menyiapkan penerbangan malam ini juga.
Adam melihat ke arah Mark yang masih dengan pandangan kosongnya.
Ia duduk di samping Mark yang masih terdiam tanpa sebuah percakapan apapun.
"Kau tenang saja, aku akan mengajarkan Rayn tentang IT yang di minta Nyonya, kau cukup buat dia kuat dalam fisik saja, tentang nona kecil bukankah ada Nesa yang akan mengajarkannya," ucap Adam dengan padangan senyum melihat gadis yang sedang berbicara pada Rara. Bagi Adam Nesa teramat penting baginya ia akan selalu bersama gadis itu kemanapun ia pergi apalagi ini menyangkut tuannya yang juga sudah jadi tanggung jawabnya menjaga Rara. dan anak-anaknya.
"Kau berpikir aku menyukai istri Rendi?" tanya Mark datar.
"Aku tidak mau menebak hasrat seorang pria," jawab Adam.
"Hanya pria bodoh yang menyia-nyiakan wanita sekuat dan secantik dia, tapi aku menatapnyapun tidak berani," ucap Mark.
"Kau takut jatuh cinta dan mengkhianati tuan?" tanya Adam yang mulai tertarik akan kemana arh pembicaraannya dengan Mark.
"Aku tidak takut berkhianat pada Rendi, tapi aku tidak mau mengkhianati cintaku pada istriku," jawab Mark.
"Itu akan jauh lebih baik di bandingkan dia menjadi istri Rendi dan nyawanya terancam," jawab Mark datar.
"Kau! Bagaimana bisa berpikir seperti itu Rendi akan sangat marah jika dia tahu kau mempermainkan Rara dan juga malah menjadikannya istri keduamu?" teriak Adam kesal pada Mark yang masih datar dengan segala ucapannya.
"Lalu kau mau aku menjadikannya istriku satu-satunya dan mencintainya?" ucap Mark tidak menggubris kekesalan Adam yang mulai memuncak mendengar jawaban Mark yang semakin membuatnya tidak bisa berbicara.
"Ini semua hanya sebagai pormalitas, aku hanya bertugas menjaganya bahkan nyawaku lebih dalam bahaya jika banyak orang yang tahu jika istriku adalah istri Rendi yang sebenarnya," tambah Mark mulai merendahkan nada bicaranya.
"Baiklah, jika ini semua benar, aku akan tetap berada di samping Nyonya dan anak-anaknya diamanpun kau berada," tegas Adam mereda kejesalannya pada Mark yang dengan datarnya berbicara seperti itu padanya dan tentang istri tuannya.
"Itu jauh lebih bagus dan akan meringankan pekerjaanku," jawab Mark berdiri dan meninggalkan Adam yang menatapnya kesal.
Adam melihat Mark yang berjalan memasuki rumah dan meninggalkan Adam yang menatapnya. Adam beralih melihat ke arah Rara yang masih sendu bercerita dengan Nesa. Ia sedikit merasa lega jika ada Nesa yang meringankan dan memperkuat Rara yajg sedang di landa kesedihan karena suaminya yang kini dalam keadaan terluka.
Adam bahkan sudah tahu keberadaan Rendi saat ini, tapi ia memilih diam karena ini permintaan Rendi agar tidak mengungkapkannya sebelum Rendi dapat menghancurkan dalang di balik semua kekacauan di dalam keluarganya dan juga rencana musuhnya yang akan menangkap dan menjadikan istrinya sebagai sasaran yang matang untuk membuat Rendi lemah. Adam tahu jika keputusan Mark adalah hal yang terbaik. Mengingat sifat Mark yang akan merasakan sekali dalam sebuah kesetiaanya. Termasuk kepada Rendi selama hidupnya.
__ADS_1
Rara sudah merasa lebih baik ketika mendengar setiap penjelasan dari Nesa yang mulai mematangkan rencananya untuk kedepan dengan segala konsekuensinya.
Nesa bahkan akan selalu ada untuknya termasuk Dilla dan putrinya yang juga sudah setuju untuk selalu berada di samping Rara apapun yang terjadi walau Dilla tahu jika suaminyapun kini belum tentu keberadaannya.
Rara berjalan memasuki rumah meninggalkan Nesa yang masih duduk menatapnya dan berjalan menghampiri Dilla yang sudah tertidur di samping putrinya, yang juga tertidur pulas di ranjang ibunya yang juga tertidur. Rara sedikit merasa lega karena saudarinya tidak merasa terguncang mendapatkan suaminya yang belum jelas keberadaannya termasuk Rendi suaminya. Rara menutup kembaki pintu kamar Dilla dan berjalan kembali ke kamarnya dengan hati yang bercampur aduk tapi ia sudah terlanjur memutuskan apapun yang terjadi keselamatan anak-anaknya jauh lebih penting di banding kebahagiaannya.
Nesa berdiri dalam diamnya melihat Rara yang sudah berjalan memasuki rumah itu dalam keadaan baik dengan keputusan yang Rara ambil untuk memecahkan masalah yang sedang terjadi di hadapan mereka.
"Apa kau juga ingin menikah di saat seperti ini?" bisik Adam membuat Nesa terkejut dan mundur beberapa langkah darinya.
"Kau? Apa yang kau lakukan hah! Masih saja bercanda dalam situasi seperti ini," cetus Nesa kesal karena Adam sama sekali tidak bisa serius dalam ucapannya.
Adam tersenyum melihat Nesa yang kesal karenanya.
Ia mendekati dengan senyum tipis di bibirnya. Nesa yang tampak sangat kesal padanya.
"Aku serius, aku akan ikut denganmu jika kau jadi istriku," ucap Adam kembali membuat Nesa semakin kesal.
"Adam ini tugasmu selalu bersama Nyonya kenapa kau malah main-main?" teriak Nesa kesal menatap tajam Adam.
"Aku akan jauh lebih setia jika kau mau menikah denganku," ucap Adam duduk di di dekat Nesa yang sudah terduduk dengan kekesalannya.
"Apa kau mau menikah?" tanya Adam tersenyum menatap Nesa yang masih kesal dengan wajah yang tidak menentu apa yang ia rasakan. Di satu sisi situasi sedang sangat genting dan perlu sebuah kewaspadaan untuk menghadapinya. Di satu sisi lagi Nesa sangat bahagia kalimat itu keluar dari mulut Adam yang selama ini selalu menghantuinya.
"Kau sebaiknya fokus berjaga bodoh! Aku tidak mau terjadi sesuatu kepada Nyonya dan anak-anaknya," ucap Nesa mengalihkan perasaannya yang berkecamuk antara tegang dan bahagia di lamar dalam situasi seperti ini.
"Kau tenang saja, aku akan fokus jika kau bersedia menikah denganku dan menjadi istriku di hari esok," jawab Adam menatap Nesa yang mulai merubah tatapan kesalnya menjadi senyuman yang teramat bahagia dalam wajah Nesa.
"Aku akan menikah denganmu jika kau bersumpah akan menjadikan keselamatan tuan dan keluarganya terjamin dan tidak berkhianat seperti saat ini terjadi," ucap Nesa.
"Kau tidak memintapun aku sudah bersumpah untuk keselamatan mereka. Tapi aku akan bersumpah di depanmu untuk mereka dan untuk selalu setia padamu," jawab Adam memandangi Nesa yang kini mulai sejuk berbicara padanya.
"Baiklah kau lakuakn sesuka hatimu karena detik ini juga jika kau setia pada tuanku, kau resmi jadi suamiku saat itu juga," tegas Nesa tersenyum tipis.
Adam mengangguk dan memegang tangan Nesa yang kini tersenyum menatap Adam yang juga tersenyum padanya. Mereka tidak menyangka jika sumpah janji cinta dan hubungan mereka di dasari sebuah kesetiaan pada Rendi Anggara dan keluarganya. Tapi hal itu malah membuat keduanya bersyukur bahagia menerimanya karena mengingat jejak Rendi Anggara pada kehidupa mereka sebelumnya jauh lebih berharga dan bermakna di bandingkan sumpah ikrar mereka saat ini. Nesa mematangkan hati dan masa depannya hanya untuk memiliki suami dan memastikan masa depan istri Rendi dan putra-putrinya dengan keamanan dari kemampuan kereka berdua juga dengan dukungan Mark dan juga Iyas yang kini mereka satu atap untuk melangkah kedepan dan mencari solusi dalam setiap masalah yang terjadi. Mark dan Iyas bahkan sudah mengerahkan anak buahnya untuk mencari keberadaan Rendi dan juga Ken yang masih dalam pencarian.
__ADS_1