
Setelah kepulangannya berlibur selama dua hari dan kembali ke kediaman rumah besar Rendi Anggara.
Semua kini beraktivitas seperti biasa menghabiskan waktu luang hanya berkumpul di halaman belakang rumah utama, yang kini sudah menjadi tempat favorite Rara berkumpul bersama keluarganya.
Mereka banyak berbincang dan bercanda ria bersama putra putrinya beserta Dilla dan suaminya, begitupun Mark, Iyas dan Adam mereka ikut berkumpul berbincang dan membahas tentang rencana kedepannya.
Kini mereka sedang asik dengan rencana memancing mereka di kolam ikan yang terdapat di taman belakang rumah. Semua antusias dengan permainannya termasuk Rendi, walau ia terlihat malas tapi karena istrinya yang meminta ia ikut berpartisipasi untuk ikut memancing juga. Dengan wajah yang bersungut-sungut malas, Rendi tetap ikut juga dengan semua peralatan sudah di sediakan oleh pelayannya.
Ada Rendi, Mark, Ken, Iyas dan juga Adam yang berdiri di depan kolam tersebut.
Rara duduk di kursi ayunan yang membuatnya senang, dengan gaun pagi yang menutupi setiap lekuk tubuhnya, penutup kepala warna peach. Ia berayun-ayun melihat putrinya yng kini sedang bermain bersama Nesa.
Rara memandang ke arah putranya Rayn yang kini sedang memperlancar cara jalannya bersama kedua pengasuhnya. Rara berteriak sekeras mungkin untuk mendukung suaminya yang sudah mulai duduk di trpi kolam ikan dan mencoba menunggu ikan untuk menghampiri umpannya dengan wajah yang tampak serius. Rara yang melihatnya, ia tersenyum dan bersorak terus-menerus memberi dukungan pada suaminya.
"Sayang, go semangat dapatkan ikan yang besar dan kita bakar juga ikannya ya," ucap Rara bersender kepalanya pada bagian belakang kursi ayunannya.
Rendi tersenyum mendengar ucapan istrinya yang menurutnya lucu dengan hanya bercara seperti itu.
Ia mencoba yang terbaik dan teliti agar pancingannya benar dan bisa mendpatkan ikan yang banyak untuk mendapatkan kebanggaan dari istrinya yang saat ini sedang menatapnya dengan senyuman di wajah cantiknya.
Rendi melihat ke arah yang lainnya yang juga sudah siap dengan pancingannya, mereka bahkan tersenyum dan mengangguk pada Rendi, menandakan mereka sudah siap untuk memulai memancingnya.
Rendi mengangguk dan memulainya lebih awal membuang pancingan umpannya dengan baik dan senyum di wajahnya, juga keseriusannya dalam membenarkan pancingan ikannya.
Mereka kini sudah siap dengan peralatan memancing mereka dan duduk di tepian kolam ikan, mereka memulai aktivitas melempar pancingannya dan saling menunggu pancingannya untuk mendapat ikan.
Iyas masih dengan tingkahnya yang selalu banyak berbicara dan bertanya tanpa henti, mengganggu sahabatnya. Mark yang sedang menatap serius pancingannya yang baru saja ia lemparkan dan berharap untuk mendapatkan ikan.
Untuk pertama kalinya seumur hidup ia mencoba memancing. Iyas yang melihatnya, tampak tertawa dan merasa lucu melihat orang - orang dingin seperti Rendi, Mark dan Ken.
Kini sedang berusaha untuk mendapatkan umpan ikan.
Wajah ekspresi mereka kini seperti sedang menunggu dengan seriusnya apa yang harus mereka dapatkan dan berusaha dengan teliti. Iyas tersenyum tertahan, ia juga mencoba bertahan dan tidak mengeluarkan tawanya dengan mengganggu pancingannya untuk mendapatkan ikan.
__ADS_1
Acara memancing sudah sekitar dua jam dan tidak ada satupun dari mereka yang mendapatkan ikannya.
Iyas sudah mulai gusar semakin ia serius dan melihat ke arah ketiga teman-temannya yang terlihat sangat serius, walau hanya Adam yang tampak biasa- biasa saja dengan pancingannya.
Iyas melihat kembali ke arah Mark yang mulai menarik pancinhannya dan berusaha menariknya. Semua melihat ke arahnya dan mendukungnya termasuk Iyas. Saat Mark mencoba menariknya ke atas yang ia dapat hanya ikan kecil dan bahkan sangat kecil sebesar ibu jari.
"Hahaha ... kau ini tidak ada kemahiran dalam hal ini Mark," tawa Iyas.
Saat Iyas tertawa, ada tatapan membunuh di setiap tatapan dari teman-temannya yang sedang memancing, juga suasana semakin mencekam ini membuat Iyas jadi terdiam dan tidak berbicara sama sekali.
Lain dengan yang lainnya Adam yang ikut juga berkumpul dan duduk menghadap ke arah kolam ikan dengan ia sudah memasang pancingannya di depannya. Alih - alih yang lain sibuk dengan pancingannya yang selalu mendapatkan ikannya , lain dengan Adam ia masih sibuk dengan gamenya tanpa menghiraukan yang lainnya. Ia hanya bergeming saat Rayn menghampirinya dan mengganggunya yang sedang bermain game. Ia bahkan membiarkan Rayn menyentuh setiap lekuk wajahnya dengan tanpa menghentikan aktivitas gamenya.
Rara yang kini mmenghampiri suaminya sedang duduk bersama suaminya di kursi belakang, dimana Rendi duduk mrnghadap kolam ikan taman belakang, dengan kursi ayunan yang sering mereka pakai untuk bersantai.
Kini Rara melihat ke arah Rayn yang sedang asik mengganggu Adam yang sedang bermain game. Rayn bahkan sesekali mengahalangi pandangan Adam pada game oleh kepalanya yang mengikuti kemana arah pandangan Adam. Saat melihat tingkah putranya Rara tersenyum, ada kebahagiaan tersendiri saat mendapati putranya kini bisa akrab dengan orang lain. Juga Rayn merasa nyaman dan bisa bermain sesuka hatinya tanpa ia memilih satu sama lain, seperti bisanya , Rayn tidak pernah mau makan sesuatu yang dari tangan orang lain terkecuali dari ibunya yang dengan benar menyuapinya.
Tetapi untuk saat ini Rara melihat hal yang lain dari biasanya. Bukan Adam jika dia mudah terkecohkan, jika hanya hal sepele dengan gangguan anak kecil, tidak akan membuatnya bergeming dari tujuan awalnya terutama bermain game yang akhirnya ia memenangkan pertarungan gamenya dan membuatnya bersorak membuat Rayn terkejut menatapnya.
"Kau harus bisa mengejarku biar terlatih juga," ucap Adam berbicara pada Rayn yang sedang khusu bermain game.
Adam kembali menarik pancingan yang sedari tadi tidak pernah berubah posisinya, bahkan belum dapat ikan sama sekali. Ia mengerutkan dahinya dan bergumam.
"Huh,aku tidak suka hal yang hanya membuang waktu seperti ini. "
Adam memilih bersender ke kursi yang tersedia di belakangnya, ia menutup kepalanya dengan topi hodie nya dan melihat ke arah Rayn yang masih berada di pangkuannya bermain game dengan serius. Ia mengacak rambut Rayn tersenyum dan menutup kedua matanya dan tertidur.
Rendi masih dengan pancingannya yang masih saja tidak mendapatkan tanda-tanda ikan akan menghampiri umpannya.
Ia berdiri dan melihat ke arah yang lainnya yang juga dengan hal yang sama tidak mendapatkan ikan juga.
"Ini hal konyol yang sangat membuatku ingin menghancurkannya, kenapa juga ikan itu susah sekali di dapatkannya," gerutu Rendi berdiri membalik menghadap istrinya da tersenyum.
Mereka yang melihat dan mendengar gerutuan Rendi menahan senyum tipisnya dan melanjutkan kembali aktivitas memancingnya yang juga sama saja, tidak ada di antara mereka yang mendapatkan ikan satupun.
__ADS_1
Rara tertawa setelah mendapati suaminya yang menggerutu dengan wajah yang berkeringat dan juga keseriusan yang lainnya yang bahkan sama sekali tidak mengetahui apa-apa sama sekali.
"Hahaha Sayang, kamu ingin tahu kenapa kalian tidak bisa juga mendapatkan ikannya?" Ucap Rara.
Rendi menghampiri istrinya dan menarik pinggang Rara, sampai membuatnya bersentuhan dengan tubuh suaminya.
"Memangnya kenapa Sayang? Apa kamu tahu suatu hal?" Tanya Rendi.
"Hmmm," jawab Rara tersenyum tertahan.
Semua yang mendengarkan penuturan Rara. Ia mencoba mendengarkan ucapan Rara dan menunggu apa yang salah dari cara mereka memancing.
Rara tersenyum tertahan saat melihat ekspresi mereka dan juga suaminya yang penasaran akan jawabannya.
Rendi mengerutkan dahinya dan mempererat pelukannya.
"Apa Sayang?" Tanya Rendi tersenyum.
"Tentu saja karena kolam ikan ini tidak ada ikannya," ucap Rara dengan senyum tertahannya yang kini sudah membeludak tertawa melihat ekspresi suami dan teman-temannya yang menganga melihat tawa Rara dan penuturannya juga.
Mereka berdiri dan memastikan kebenarannya dengan bertanya pada pelayannya.
"Apa itu benar?" Tanya Ken pada pelayan.
"Iya Tuan, kemarin pengurus rumah Nesa menyuruh kami membersihkan kolam ikan dan memindahkannya sementara waktu,"jawab pelayan.
Rendi terdiam dan melihat ke arah istrinya yang masih tertawa dengan tawanya yang ingin puas.
"Kamu berani mempermainkan aku ya Sayang, akan aku kasih pelajaran di malam nanti ," bisik Rendi pada istrinya yang kini terdiam dan membulatkan kedua matanya juga menutup mulutnya yang masih tidak tahan untuk tertawa.
Mereka kini memilih untuk berbincang dan berbicara kesana kemari. Mereka juga sudah membicarakan tentang rencana kembalinya mereka ke Indonesia dan sudah di pastikan bahwa besok juga keberangkatannya.
Kini Rendi dan rombongannya berencana untuk kembali pulang esok harinya ke Indonesia. Rara tampak bahagia saat mendengar rencana kembalinya ia ke Indonesia.
__ADS_1