Istri Kedua Tercinta

Istri Kedua Tercinta
Menghindar 2


__ADS_3

Prolog Raditya.


Radit terkejut saat mendapati telepon dari istrinya Rara.


Sebenarnya dalam hatinya tersirat kebahagiaan yang teramat dalam.


karena istrinya yang selama ini tidak pernah meneleponnya kini menanyakan dirinya.


Tapi Radit termenung karena hal yang telah ia lakukan pada istrinya saat ini.


Karena takut banyaknya pertanyaan yang akan istrinya lontarkan padanya.


Radit tidak membalas pesan pesan dari istrinya itu. Apalagi menelpon balik setelah apa yang ia dengar.


Tadi pagi bahwa istrinya menelpon dan yang mengangkat sekertarisnya.


Karena tidak berani untuk berbicara pada Rara. Apalagi bertatap langsung dengan istrinya yang teramat baik selama ini padanya.


Radit lebih memilih tinggal di Hotel selama satu minggu dan selama itu pula ia tidur dengan Amora sekertarisnya.


Ia memilih menghindari semua hal yang akan terjadi. Apalagi saat ia membayangkan, dimana Rara pasti akan meminta perceraian padanya. Semua ia menduga-duga sendiri tanpa memikirkan orang yang ia tinggalkan di rumahnya itu.


********


Prolog Rara


Rara kembali ke Rumah setelah hatinya tenang. Setelah semuanya tercurahkan pada seorang wanita yang hal layaknya seumuran ibunya.


Walau Rara tidak mengenalinya tapi ada ke hangatan antara mereka berdua saat berbincang tadi di Danau.


Rara sekarang memasang hati tenang dan wajah bersemangat, ia bergegas ke kamarnya dan ternyata Radit tetap belum pulang.


Rara mencoba menjadi lebih baik dengan hati yang tegar. Sampai seminggu lebih Radit sama sekali tidak pulang dan bahkan tanpa memberi kabar padanya.


Rara bahkan sudah tidak berharap akan Radit untuk membalas pesannya apalagi menemuinya.


Rara hanya akan mengikuti apa yang Radit ambil dengan caranya sendiri.


Hari ke hari minggu ke minggu bahkan sampai dengan setahun penuh suaminya tidak kunjung datang menghampirinya.


Kini ia melewati waktunya hanya dengan menyibukan diri di rumah.Juga mempersiapkan usahanya. Rara akan membuka kedai nongkrong untuk usahanya.


Saat ini Rara sedang sibuk dengan handponenya,ia sibuk dengan memasang pengumuman di media sosial bahwa akan di buka segera sebuah Cafe store yang akan ia buka bersama sahabatnya Dilla.


Dilla akan tinggal di Jakarta bersama Rara untuk menjalankan usaha bersamanya.


Rara juga sudah meminta izin dan juga meminjam modal pada kedua orangtuanya di Bandung.


Ia juga sudah minta izin pada suaminya bahwa ia akan membuka sebuah cafe dengan tuturan kata yang nampak tegass walau tidak dibuka pesannya apalagi menjawabnya. Rara tidak perduli walau tanpa suaminya izinkan.


Rara sudah bersiap dengan pakaian rapihnya. Ia tampak bersemangat berangkat dari rumahnya menuju Cafe nya.


Hari ini hari dimana di bukanya Cafe yang ia dirikan.

__ADS_1


Saat Rara memasuki Cafe ia melihat seorang gadis yang ia kenali.


Nampak Dilla sudah berada di kafe itu sedang menata tempat pembuat kopi.


"Asalamualaikum, Sayang?" Salam Rara.


"Waalaikum salam, Ra..." Jawab Dilla.


"Kapan kamu datang?" Katanya besok?" Tanya Rara cemberut.


"Hehe, iya Sayang aku sengaja bilang kemarin, karena aku sebenarnya sudah nyampe dari kemarin, dan langsung kesini. Soalnya aku harus tinggal dimana kalau bukan kemari," ucap Dilla sambil memeluk Rara mereka saling berpeluk bercengkrama melepas kerinduan mereka berdua.


Tampak senyum kebahagiaan di raut wajah Rara. Setelah kedatangan sahabatnya itu.


"Ayo kita mulai buka ," ucap Dilla.


Dilla yang bersemangat Rarapun mengangguk dan ia menuju ke pintu masuk dan membalikan gantungan Open di balik pintu Cafe store.


Dengan menutup matanya senyum di wajahnya Rara mengucapkan basmallaah.


"Bismillahirohmanirohim ," ucap mereka berdua sambil tersenyum.


Dari saat buka belum ada yang menghampiri Cafe. Rara dan Dilla menunggu dengan sabar akan pengunjung pertamanya.


Sekitar jam makan siang pintu Cafe terbuka. Ada dua anak muda yang memakai seragam sekolahnya menghampiri Rara dan Dilla.


Untuk pertama kali yang datang adalah sepasang anak SMA mereka bertanya.


"Apakah ada capucino disini?" Tanya anak lelakinya.


"Ada ," jawab Rara tersenyum.


"Aku pesan dua ya,Mba?" Tanya gadis itu.


"Apakah ada camilanya juga?" Tanya gadis itu kembali.


"Tentu ada, spageti juga ada ya kan bossQu?" Ucap Dilla menggoda Rara


Rara mengangguk .


"Baiklah, silahkan duduk pelanggan pertamaku semoga kalian bahagia" ucap Rara dengan senyum senang.


Berawal dari sepasang anak sekolahan pelanggan pertama Cafe store.


Seminggu usaha Rara Ramai lancar dan tanpa ada kendala mereka berdua melayani pelanggan dengan hati senang dan Ramah.


Bahkan banyak juga pelanggan muslimah yang berkunjung juga.


Cafe store menyediakan ruangan bersembahyang khusus muslim,beserta pasilitas kebutuhan khusus wanita tentunya.


Cafe Rara bernuansa Romantis yang banyak di datangi anak-anak muda khususnya anak SMA. Juga ada karyawan kantor di sekitar.


Cafe yang bernuansa romantis,dengan dinding kecoklatan kaca transfaran yang di depan cafe terdapat air mancur.

__ADS_1


Juga dapat memperindah suasana hati para pengunjungnya dimana Cafe store juga di jadikan tempat nongkrong daun muda.


Selama berbulan-bulan lamanya juga Rara tidak pernah mendapat kabar dari suaminya.


Yang kini entah dimana bahkan Rara tidak pernah mencoba mencarinya ke kantornya.


Hanya karena takut akan terjadi dan melihat sesuatu yang bisa membuat perasaan dan hubungannya semakin memburuk.


Begitupula Raditya yang berada di kantor tetap sibuk dengan urusanya bersama sekertarisnya menghabiskan waktu senggang hanya berduaan saja. Mereka memang tidak pernah kenal lelah.


*******


Prolog Rendi


Di dalam kantornya nampak Rendi dengan seriusnya, ia membolak balikan laporan yang ia terima dari sekertarisnya Ken tdi pagi.


Rendi tampak segera mungkin mempercepat tanda tanganya dan iapunn menekan tombol teleponya menelpon sekertarisnya.


Tersirat di wajahnya seperti wajah lelah karena kurang tidur juga di wajah Rendi.


"Bawakan aku kopi! " Pintanya tegas.


Tidak butuh waktu lama untuk Ken berada di ruangan Rendi.


Ken sudah ada di hadapanya,Ken masuk dan hanya berdiri menghadap Rendi.


"Apa yang kanu lakukan bukannya aku memintamu membawakan kopi?" Bentak Rendi .


Ken malah tampak tak bersalah ia tersenyum menghampiri Rendi.


"He he he," senyum Ken.


"Apa kamu gila Ken? Kamu sudah berani membodohiku ya Ken," bentak Rendi geram.


"Apa Tuan tidak bosan?" Tanya Ken.


"Memang kapan aku pernah bosan?" Tanya Rendi dingin.


"Mari ke luar Tuan!" Ajak Ken.


"Aku malas kamu bawa secangkir kopi untukku," ucap Rendi datar.


"Kita tidak perlu buat,kita tinggal ke bawah saja ," ajak Ken.


"Ternyata kamu sudah mulai membantah ya, Ken," teriak Rendi.


"Hahaha, mana berani saya Tuan," jawab Ken.


"Lalu kenapa kamu masih di sini?" Teriak Rendi.


Ken hanya tersenyum tertunduk dengan teriakan Rendi yang sedang kelelahan.


"Jika Tuan tidak mau ke bawah nanti akan saya bawakan kopinya,tapi saya enggan keluar lagi jika sudah berada di Cafe store itu Tuan,gadisnya cantik-cantik," ucap Ken terkekeh.

__ADS_1


Rendi mengerutkan dahinya tidak mengerti ucapan Ken.


__ADS_2