
Setelah berbincang dan bercanda di taman belakang untuk bersantai dan berdiskusi tentang rencana kembali pulang ke Indonesia. Kini Rendi dan Rara dan semua yang ada di taman kembali untuk ke kamar mereka masing- masing. Rara dan Rendi berjalan bergandengan tangan dengan istrinya yang memeluk erat lengan suaminya. Di hadapan mereka saat berjalan sudah ada Rayn yang berjalan yang di ikuti pengasuhnya di belakangnya. Amira di pangku oleh pengasuhnya yang lain. Rara tersenyum melihat tingkah putra kesayangannya yang aktip dalam segala hal ia bahkan lebih lincah saat berjalan dan brsemangat.
Rara tersenyum melihat tingkah putranya yang berlari yang di ikuti pengasuhnya dengan tawa yang lepas dan dengan manisnya tersenyum pada ibunya.
Saat sampai di kamar Rara mendapati putrinya Amira tertidur di pangkuan pengasuhnya dan di baringkan di tempat tidurnya.
Kini hanya Rayn yang sedang asik dengan mainannya. Rara hendak berjalan ke kamar mandi. Saat ia berjalan mendekati pintu kamar mandi suaminya menghalanginya dari depan pintu dan tersenyum melihat istrinya mendongakan kepalanya bertanya padanya.
"Hmm?" Tanya Rara mendongakan kepalanya bersamaan dengan alisnya naik sebelah.
"Jangan kabur dari hukumanmu Sayang," ucap Rendi tersenyum.
Rara mengerutkan dahinya saat mendengar ucapan suaminya yang di ikuti dengan senyuman menggodanya.
Ia tersenyum dan dengan hati cepat ia menjawab suaminya dengan senyuman nakal juga pada suaminya.
"Sayang, jika kamu ingin dengan lancar menghukumku silahkan, tapi aku ini harus segera mandi dengan perawatan tubuhku bukankah itu semua untukmu? " Ucap Rara dengan tingkah menggodanya.
Rendi tertegun saat mendapati sikap istrinya yang menyentuh dadanya dengan senyum nakal dan mencium dadanya. Ia menempelkan tangannya dengan tingkah merayu suaminya.
Rendi mencoba untuk bertahan dan tidakangsung tergoda oleh istrinya yang kjni sudah mulai bisa menggodanya. Saking terkejutnya Rendi mengingat ucapan istrinya yang mengatakan bukankah tubuh ini untukmu. Mengingat hal itu ia menelan salivanya dan membangunkah sesuatu. Rendi mencoba menahannya agar terlihat tetap keren dengan tidak tergoda oleh istrinya yang belum mandi.
"Apa kamu sedang menggodaku Sayang?" Tanya Rendi mendekap istrinya yang sedang memutar- mutar jarinya di dada Rendi.
"Tentu saja aku bersungguh - sungguh," ucap Rara.
Rara tersenyum menengadahkan kepalanya dengan senyum manisnya ia majukan bibirnya di hadapan wajah suaminya, yang kini sudah tidak bisa menahan godaan istrinya lagi.
Rendi menarik istrinya dan menekannya ke dinding kamarnya, mencoba untuk mencium istrinya tapi di cegah oleh Rara dengan memalingkan wajahnya Rendi terkejut dengan sikap istrinya yang menolak ciumannya.
Rara menutup mulut Rendi dengan kedua tanganny dan kembali ke arah suaminya yang kini sedang mengerutkan dahinya dengan wajah geramnya pada istrinya yang sudah menggodanya tapi masih menolaknya hanya sekedar ciumannya saja.
"Sayang, kamu tidak lihat putramu ada disini sedang melihat kita dengan tatapan manusnya?" Ucap Rara.
Rendi menoleh dan menurunkan pandangannya ke samping dimana mereka berdiri dan sudah ada Rayn yang sedang berdiri di samping mereka dengan tatapan polosnya yang juga tanpa ekspresi memandangi kelakuan aneh kedua orang tuanya di hadapannya.
Rara tersenyum tertahan saat melihat ekspresi lucu putranya yang mampu membuat suaminya terdiam dengan seribu bahasa setelah menahan nafsu dan amarah yang memuncak dari tadi.
Rendi mengkerutkan dahinya dan memalingkan pandangannya ke arah istrinya yang sedang menahan tawanya.
Rendi tersenyum tipis saat melihat istrinya menahan senyumannya yang tertahan. Ia mengecup pipi istrinya yang membuat Rara terkejut dan menatap suaminya yang sedang tersenyum ke arahnya .
Kini pandangan mereka berdua beradu tatap, pandangan penuh kasih sayang dan cinta dari tatapan satu sama lain terpancar saat mereka masing- masing mendalami pandangan mereka dan terdapat sebuah cinta dan kasih sayang di dalamnya yang menjadikan diri mereka penting bagi satu sama lain.
Rara tersenyum dan merangkul pundak suaminya dengan sedikit meninggikan kakinya dan mendekatkan wajahnya ke samping wajah suaminya dan berbicara padanya.
"Jika Suamiku bisa membuat Rayn tertidur, aku bisa secepatnya bersiap mandi dan melanjutkan semuanya," bisik Rara.
__ADS_1
Mendengar ucapan istrinya, Rendi tertegun dan memandangi istrinya yang kini sudah ada di hadapannya, kembali dengan senyum menggodanya yang semakin membuatnya ingin segera memakannya.
Mengingat masih ada Rayn putranya yang masih dengan pandangan polosnya, Rendi mengurungkan niatnya untuk mengecup istrinya dan berpaling melihat putranya yang kini sedang berada di samping mereka berdiri tepat di depan pintu kamar mandi.
Rendi mendekati menekan tubuhnya dan melihat istrinya yang tertegun, dengan pandangan herannya pada suaminya yang nekat dengan tingkahnya di hadapan putranya. Rara kini dengan wajah merah padamnya menahan malu tidak bisa mencegah suaminya.
"Hmmm aku lupa dengan tingkah godaanku, suamiku ini tidak mungkin bisa tahan jika harus menahannya, aduh aku malu pada putraku," batin Rara.
Saat Rendi melihat istrinya kinibsudah memejamkan matanya dengan sedikit mengerutkan dahinya. Ia tersenyum dengan mendekatkan wajahnya di telinga istrinya dan berbicara.
"Aku akan memakanmu setelah kau bersiap Sayang," bisik Rendi.
Rendi tersenyum dan menggendong putranya dan berjalan menghampiri ranjang tanpa menghiraukan istrinya yang kini sedang mematung dengan terheran padanya.
Rendi menggendong Rayn dengan senyum tupis di wajahnya dan penuh kemenangan karena sudah menggoda istrinya yang kini sedang mematung memandanginya.
Ia duduk bersama Rayn yang kini sedang memainkan bolanya tanpa mempermasalahkan kedua orang tuanya yang tidak dapat ia pahami.
Rara diam mematung dengan apa yang ia dengar tentang ucapan suaminya.
Dengan pandangan tanpa arahnya Rara berpikir untuk tetap jernih dan wajah merah padamnya menahan malu.
"Huh,suamiku ini pasti salah makan sangat jarang baginya bisa menahan hal seperti itu walau di hadapan putranyapun," batin Rara.
Melihat istrinya yang masih berdiam diri di depan pintu kamar mandi. Ia memandangi istrinya dengan senyum penuh kemenangannya dan berbicara pada istrinya kembali.
Rara terkejut saat suaminya berbicara kembali padanya dan membalikan tubuhnya dan masuk ke dalam kamar mandi dengan langkah tergesa dengan wajah tertegun menahan wajah yang kini menahan malu.
Rendi tersenyum saat melihat tingkah istrinya yang menggemaskan baginya.
Rendi kembali menemani Rayn bermain dengan permainannya.
"Apa kamu tidak suka jika Mamahmu itu aku goda?" Tanya Rendi pada Rayn yang tidak menanggapinya dan bermain seperti tidak melihat apapun.
Rara di dalam kamar mandi bersender pada pintu kamar mandi yang kini sudah tertutup dan bersender pada pintunya. Dengan tangan masih ke belakang dengan sebelah tangan memegang pedal pintu dan tangan yang satunya memegang erat dadanya, yang kini sedang berdebar kencang menahan setiap godaan suaminya yang menurutnya bisa membuatnya meloncat keluar.
"Apa ini, kenapa masih saja malah aku yang tergoda olehnya,huh, harusnya kan yang tergoda suamiku, kenapa malah aku yang seperti tidak tahan ingin dj gjda olehnya," gerutu Rara.
Ia tersenyum mengingat setiap ucapan dan tingkah lucu suaminya yang mencoba menggodanya dengan tingkah dan ucapan suaminya yang selalu terdengar manis baginya.
Rara merendam dirinya di dalam bathroom nya dan mencoba meredakan debaran jantung, yang sudah hampir terjatuh dari tadi dengan debaran kencangnya saat suaminya hampir saja melakukan hal konyol di hadapan putra mereka.
Rara menutup kedua matanya dan merebahkan kepalanya di dalam bathroom. Ia mencoba menenangkan dirinya yang kini sudah mulai merasa segar kembali setelah merasa tubuhnya lelah dan tidak bertenaga.
Rara mencoba mempercepat aktivitas mandinya dan setelah selesai dengan aktivitas mandinya, ia duduk di teras tersedia di kamar mandinya dan duduk menghadap cermin yang tersedia di dalam kamar mandinya. Ia tersenyum dan mengenakan lotion ke tubuhnya dengan menyeluruh ia tersenyum saat wajah suaminya yang tersenyum penuh kadih sayang dan cinta padanya. Rara selalu ingin menghabiskan setiap hal bersama suaminya yang teramat ia isi dengan setiap cinta yang kini semakin bertambah dan menjadikannya rasa sayang dan ingin memilikinya seutuhnya tanpa ada hal yang bisa membuatnya meninggalkannya.
"Aku bahkan terlihat tidak tahan saat suamiku menggodaku tadi," gumam Rara.
__ADS_1
Setelah selesai dengan hal di dalam kamar mandinya. Rara keluar dari kamar mandinya dengan dirinya sudah mengenakan pakaian tidurnya dan kepala berbalut handuk. Dengan wajah segarnya ia melihat ke arah suaminya yang sedang membaringkan Rayn di ranjang tidurnya. Ada senyum penuh kebanggaan saat melihat suaminya yang sudah bisa membuat putranya untuk tertidur.
Rendi melihat ke arah istrinya yang kini sudah segar dengan wajahnya yang berseri. Ia menghampiri istrinya yang saat ini sudah duduk di kursi meja riasnya.
Ia tersenyum dan menghampiri isttinya dan memeluknya dari arah belakangnya.
ia mencium dan menghirup aroma segar harum dari tubuh istrinya, yang kini sedang tersenyum memandangi tingkah suaminya di balik cermin. Rendi mendongakan kepalanya dan melihat ke arah dimana istrinya tersenyum melihatnya.
Rendipun ikut tersenyum saat tatapan mata mereka bertemu di cermin. Rendi mengecup pucuk kepalanya dan menghirup wangi tubuh juga mengecup leher jenjang segar istrinya kembali.
"Sayang, apa aku sudah boleh memakanmu?" Bisik Rendi tidak mengurangi aktivitas mengecup setiap lekuk leher jenjang istrinya.
Rara tersenyum saat mendengar pertanyaan suminya, ia menghargai setiap hal yang berhubungan dengan perasaan istrinya yang sebenarnya ia sudah memiliki hak penuh pada setiap inci yang ada pada tubuh istrinya bahkan tanpa harus meminta ijin apalagi bertanya tentang ketersediaan istrinya padanya.
Rara tersenyum dan membenarkan tubuhnya yang kini mereka sudah berhadapan satu sama lain dengan Rendi yang kini sedikit membungkukan tubuhnya menyeimbangi istrinya.
Rara memegang wajah suaminya yang kini sudah berada di hadapannya dengan merendahkan tubuhnya dan berjongkok di hadapan istrinya.
Rara mengecup kening suaminya, kedua pipinya, hidungnya, kedua matanya dan yang terakhir di bibirnya yang terpajang dengan senyum pada istrinya.
"Sayang kamu bisa melakukannya tanpa harus meminta ijin padaku karena aku adalah milikmu seutuhnya, apa kamu masih meragukan diriku yang kini selalu ada di hadapanmu setiap saat dan setiap waktu hanya untukmu?" Ucap Rara.
Rendi tersenyum mendengar penuturan istrinya yang teramat manis baginya.
"Hmmm, ini bukan hanya sekedar godaan lagi kan Sayang?" Tanya Rendi tersenyum.
Rara tertegun mendengar ucapan suaminya yang ternyata mengetahuinya bahwa dirinya sempat menggoda suaminya dan hendak bercanda lagi padanya setslah apa yang ia lakuakn tadi siang pada suaminya yang justru membuatnya terlihat kesal saat seharian harus memancing dengan kolam ikan yang justru tidak ada ikannya sama sekali. Rara tersenyum dan mengecup suaminya dengan mendalam, mencoba agar suaminya tidak mengingatnya lagi begitupun ia juga mencoba membayarnya dengan mengecup suaminya dan menjadikannya mengalihkan setiap asumsi suaminya tentang dirinya yang menjahilinya tadi siang.
Rendi tertegun saat mendapati istrinya yang mengecupnya dengan antusias sendiri tanpa harus ia mengawalinya dan menekan dengan paksaan.
Rendi menanggapi hal yang istrinya lakukan padanya dan mempererat pelukannya pada istrinya dengan tidak menghentikan aktivitas mereka hingga sampai ia menggendong istrinya yang kini sudah berbalut dres tidur dan rambut terurai sedikit basah, kini handuk dari kepalanya yang sudah terlepas karena jatuh saat Rendi menggendong istrinya.
Rara merangkul pundak suaminya dengan wajah tersenyum dan kening di tempelkan di kening suaminya, wajah dengan senyuman di bibir mereka saling menatap penuh kebahagiaan. Rendi menggendong istrinya sampai di atas ranjang mereka. Ia membaringkan tubuh istrinya perlahan dengan tatapan mata mereka beserta senyuman tanpa henti mereka beradu tatap dan mencoba mengulang kembali kecupan bibir mereka yang sempat terhenti saat mereka berpindah untuk sampai ke ranjang tidur mereka.
Kini Rara dan Rendi beradu cinta dengan aktivitas hangat mereka di malam yang sunyi tanpa ada sesuatu hal yang dapat mengganggu mereka berdua. Bahkan kedua anaknyapun tidak mungkin mengganggu mereka yang sedang berpadu cinta kasih berdua di kamar mereka. Karena Rendi sudah paham dengan situasi yang akan ia dapat jika putra cerdasnya itu masih terbangun. Ia akan mencoba segala cara untuk mencegah ibunya berdekatan dengan ayahnya yang selalu ingin bermanja melebihi dirinya yang membuatnya selalu menatap ke arah ayahnya yang teramat manja jika bersama ibunya.
Sementara Rendi dan Ken tampak dengan wajah sumringahnya dengan tubuh terbaring lelah dan penuh kemenangan di tempat dan waktu yang sedikit berbeda di malam yang dingin sunyi sepi di kediaman Rendi Anggara. Dengan pengamanannya yang ketat dan sepi bahkan mungkin seekor lalatpun tidak berani menghampiri menerjang ke amanan penjaga yang terjaga sepanjang waktu.
DI tengah malam Jason.
Di lain tempat di sebuah ruangan ada seorang Jason yang sedang dengan sibuknya ia membuka laptopnya bersamaan seorang pria muda yang berdiri di sampingnya dengan senyum penuh kemenangannya.
Setelah ia membuka laptopnya dan melihat setiap inci dari laptop yang ia dapatkan dari Anas yang kini berdiri di sampingnya dengan wajah tersenyum penuh ke licikan dari segala benaknya.
Saat ia mendapatkan semua informasi itu ia mendampakan setiap pujian dari tuannya yang selama ini ia ikuti mungkin bisa sampai seumur hidup karena baginya hanya Jason yang berjasa menghidupinya selama ini. Kini ia sudah bersumpah untuk selalu setia dan mengabdi pada Jason sepanjang waktu untuk seorang Jason.
Jason tersenyum penuh nemenangan dan ada wajah tersenyumnya saat memandangi laptopnya. Ia tampak puas mendapatkan apa yang Anas berikan padanya. Ia kembali berpikir dengan pandangan tanpa terhentinya memandangi laptopnya. Ia berpikir cara agar bisa mencapai keinginannya mendapatkan dan memiliki seorang yang saat ini ia pndangi wajahnya, walau hanya memandanginya beberapa gambar dari laptopnya yang Anas bawa sepulangnya dari kediaman Rendi.
__ADS_1
Sebuah poto yang bergambar Rara yang sedang memberi makan anaknya dengan wajah alaminya juga beserta Rara yang sedang duduk di sebuah taman walau hanya bagian samping yang terpoto. Yang sempat Anas ambil dari kediaman Rendi walau hanya sekilas dan bahkan tidak jelas potonya. Anas hanya menduga bahwa gadis yang ia poto ada hubungannya dengan tuan Rendi Anggara saat ini. Ia tidak mengabaikan setiap kesempatannya walau hanya singkat dua buah poto saja harus ia ambil dengan hati- hati dalam waktu yang berbeda. Namun Jason sudah haval dan membayangkan wajah manis gadis yang sempat ia lihat di hadapannya dan beradu tatap, walau hanya sebentar saat itu. Yang membuatnya merasa tergila- gila ingin memilikinya dengan senyum penuh ke inginan di wajahnya saat ini.