
Dalam perjalanan keluar dari hotel Daren. Rendi terdiam saat melihat para bos mafia menyambutnya di depan hotel. Mereka tersenyum ramah pada Rendi dan juga Ken. Salah satu dari mereka menghampiri Rendi dengan wibawa dan wajah tampannya. Ia tersenyum pada Rendi.
"Hai Tuan? Saya hanya mau berkata selamat atas kepemimpinanmu, jika ada hal yang memerlukan kami, kau cukup ucapkan satu kata maka kami akan ada untuk anda Tuan," tegas pria di hadapan Rendi dengan tegasnya ia menjabat tangan Rendi dengan paksa.
"Kau cukup jadi yang terkuat saja, aku akan membutuhkan siapapun yang paling kuat dan aku tidak suka penghianat," tegas Rendi acuh meninggalkan hotel tersebut setelah berpamitan pada mereka yang masih memandang Rendi dengan ke kaguman mereka melihat sosok Rendi yang terlihat cool dan keren di mata mereka apalagi mengingat cara kerja Rendi yang selalu terbilang bersih tanpa luka dan berkeringat sedikitpun.
Rendi memasuki mobil yang di sediakan Daren untuk menuju kediamannya dan menggunakan pesawat jet milik Daren untuk Rendi dan Ken menuju Singapore dengan kecepatan dan pasilitas di dalam pesawat yang terlihat mewah bagi siapapun yang duduk dan berada di dalamnya terlihat nyaman bagi siapapun yang duduk di dalam jet tersebut.
Rendi duduk di kursi penumpang dan juga Ken yang kini duduk di samping Rendi.
Dengan pandangan ke depan Ken melihat setiap sudut pasilitas di dalam jet tersebut.
Ken melihat Rendi yang sedang menutup kedua matanya dan bersender di kursi.
Ken membiarkan Rendi tertidur hingga sampai di Singapore nanti.
Di Singapore, Mark dan Iyas sedang berbincang mengingat Rendi yang sudah jelas mengingat Rendi masih baik-baik saja. Apalagi untuk secepatnya itu di media masa sudah ada berita bahwa Dirga mati mengenaskan. Mayatnya bahkan terdampar di pantai dalam keadaan tak bernyawa dan dengan kondisi yang mengerikan. Mark berpikir untuk menjemput Rendi dan Ken sesegera mungkin. Namun Adam mencegahnya. Karena menurut Adam akan ada baiknya bila tetap diam sesuai rencana Rendi dari awal. Karena Rendi sangat tidak menyukai hal yang tidak mematuhi setiap rencananya.
"Yaaa! Aku hanya tinggal menunggu dia membunuhku!" seru Mark dengan wajah datarnya berbicara seolah sedang bercanda tapi tidak membuat siapapun yang mendengarnya tersenyum.
Iyas menahan senyumnya ketika mendengar ucapan Mark yang terbilang konyol dengan wajah dan ekspresi datarnya. Hingga bagi siapapun yang melihatnya terasa konyol.
Mark dan yang lainnya memilih untuk terdiam dan berdiskusi di dalam ruangan Mark yang kini masih dengan wajah datarnya.Mengangguk setiap hal yang di jelaskan oleh Adam. Kini Mark mengingat sesuatu yang tampak heran baginya. Ia mengerutkan dahinya dan menoleh ke arah Adam yang masih dengan wajah dinginnya memainkan gamenya duduk di sofa yang terdapat di ruang kerja Mark.
__ADS_1
Di lantai atas, Rara tersenyum bahagia, ketika mendengar dan tersenyum melihat wajah suamijya yaang sanagt ia rindukan Rara menaiki tangga dan memasuki kamarnya dengan hati yang terlihat bahagia. Ia melihat putra putrinya berlari menghampirinya. Rara tersenyum dan merangkul mereka berdua di pangkuannya dengan tangan terbuka dan senyum bahagia.
"Kalian tidur bersama mama ya!" ucap Rara tersenyum dan mengecup pipi kedua anaknya yang kini sudah hampir 3 tahun.
Rayn dan Amira mengangguk, dengan senyum bahagianya. Rara memeluk erat putra putrinya dalam dekapannya. Ia tersenyum dalam tidurnya dengan kedua anaknya di dalam pelukannya malam ini.
Di lan4thai bawah, Dilla merenung segala pikirannya selama ini yang ia bendung tentang suaminya yang tiada kabar. Tapi ia tersenyum bahagia ketika mendengar tangis haru Rara mengetahui suaminya masih baik-baik saja walau dalam ledakan pesawat setragis itu. Dilla berpikir jika suaminyapun akan dengan selamat dalam keadaan baik-baik saja.
"Aku tidak berharap lebih, aku hanya ingin kau selamat dan tetap sehat karena bagiku keberadaan dirimu itu jauh lebih penting daripada keegoisanku yang selalu meminttga cintamu Ken, maka pulanglah! Aku tidak akan memintamu apalagi memaksamu untuk mengatakan cinta padaku, jika itu bukan maumu," gumam Dilla meneteskan air mata setelah mengingat keegoisannya. meminta hal yang Ken tidak oernah inginkan.
Sekian lamanya Dilla terdiam tanpa protes pada Mark ataupun yang lainnya. Ia tetap menahan setiap rasa ingin tahunya pada mereka tentang suaminya yang saat ini keberadaannya belum tentu. Tapi ia merasa bahagia ketika mendengar kabar jika Rendi baik-baik saja. Dilla terbaring di atas ranjangnya dan memejamkan kedua matanya, dengan hati penuh harap Dilla mengusap ranjang yang masih kosong di sapingnya. Biasanya suaminya selalu berada di sampingnya jika Dilla sudah merasa rindu dan ingin di temani dalam keadaan apapun termasuk hanya tidur saja. Tapi untuk kali ini Dilla benar-benar merasa kehilangan saat Ken tidak berada di sampingnya. Ia tertidur dalam kerinduan yang teramat dalam kepada suaminya yang kini dalam perjalanan.
Di tengah malam, saat semua sudah tertidur. Mark, Iyas dan Adam berdiri di depan rumahnya menunggu kedatangan seseorang yang teramat mereka rindukan. Sekitar satu jam menunggu sebuah mobil milik Mark sudah sampai dan berhenti di depan rumah Mark. Seseorang yang mereka harapkan kini sudah berada tepat di hadapan mereka. Rendi berdiri tepat di hadapan mereka. Seperti tidak mempercayai itu. Iyas berhamburan memeluk Rendi yang kini memasang wajah tidak sukanya.
"Aku sangat merindukanmu Bro," teriak Iyas senang memeluk Rendi yang masih meggmasang wajah kesalnya pada Iyas dan juga melihat Mark yang malah tersenyum melihatnya.
Iyas sekilat mungkin melepas pelukannya pada Rendi yang berbicara seperrti itu padanya. Iyas menjadi salah tingkah ketika melihat aura tidak suka Rendi menatap mereka.
"Masuklah, di luar terlalu dingin!" ajak Mark berbicara pada Rendi yang kini sudah berjalan mendahului mereka.
Ken hanya terlihat datar tanpa sebuah pembicaraan setelah Rendi berjalan lebih dulu di bandingkan yang lainnya.
"Bro? Kau tampak kurus sekarang?" teriak Iyas merangkul pundak Ken yang nampak diam dan melirik kearah Iyas yang perlahan melepas rangkulannya dengan senyum salahnya.
__ADS_1
"Sebaiknya jangan ada yang terbangun malam ini Dan jangan ganggu Tuan!" seru Ken berjalan meninggalkan Mark dan yang lainnya.
"Gila! aku baru tahu jika mmereka berdua sedang kompak, sangat mengerikan! Aku tidak berani berbicara lagi," ucap Iyas melihat Rendi dan Ken berjalan memasuki kamar mereka masing-masing.
"Tidak ada kejadian pembunuhan malam inipun, itu sudah sebuah anugrah," ucap Mark berjalan meniggalkan Iyas yang terdiam begitupun Adam ikut berjalan meninggalkan Iyas dan pergi menuju kamarnya.
Mark memasuki kamarnya, ia melihat putrinya tertidur dengan damai di sampingnya sudah ada photo istrinya dengan senyum manisnya.
Ia mendekati ranjangnya dan duduk di tepian ranjang. Ia tersenyum mengecup kening putri satu-satunya. Ia melihat photo istrinya dan menciumnya juga dengan lembut.
"Kau tahu Sayang? Aku rasa posisimu di hatiku tidak akan pernah terganti, karena besarnya cintaku padamu! Akan aku beri putri kita kebahagiaan yang sesungguhnya ketika bahagiamu tidak pernah sampai," ucap Mark berbicara melihat pash photo istrinya yang tersenyum. Mark berbaring di samping putrinya dengan photo istrinya di dalam dekapannya. Ia tersenyum bahagia ketika mengingat senyum manja istrinya yang sangat ia rindukan.
"Aku mengutamakan kesetiaan termasuk dalam sebuah cinta, aku juga tidak akan berpaling darimu yang sudah berada di hatiku," ucap Mark berbicara memandang atas langit-langit kamar yang putih dan terbayang wajah istrinya yang tersenyum padanya.
Mark tertidur dengan putrinya di sampingnya dan juga pas photo di dekapannya dalam tidur malam ini bagi hatinya yang bahagia karena sahabatnya Rendi kini kembali dalam keadaan baik-baik saja.
Rendi berjalan memasuki sebuah kamar yang di tunjukan pelayan keberadaan istri dan anak-anaknya yang sedang tertidur saling mendekap. Rendi berjalan perlahan dan tersenyum melihat wajah istri dan anak-anaknya yang tertidur dalam senyum yang terlihat bahagia.
Ia mendekati mereka dan duduk disamping Rara dan anak-anaknya. Ia tertidur dan mendekap tubuh putra-putrinya dan juga istrinya dalam dekapannya. Kedua anaknya kini berada di tengah-tengah Rendi dan Rara yang juga ikut tersenyum dalam kebahagiaan malam ini yang Rendi tunggu.
"Aku tidak tahu, jika kerinduanku sedalam ini akan mengakibatkan air matamu jatuh sayang, maafkan kebodohanku ini aku sangat mencintaimu, hingga tidak ingin dunia tahu jika kau istriku. Tapi setelah semua itu terjadi aku baru sadar jika perlu muka publik tahu jika kau adalah wanita tercintaku, untuk mencegah dan ada banyak orang juga yang akan mengenalmu dan juga menolongmu."
Rendi berbicara di dalam hatinya menatap wajah damai istri dan anak-anaknya. Ia ikut tertidur di ranjang yang sama bersama istri dan putra-putrinya. Memeluk dan mendekap mereka dengan kerinduan yang teramat dalam baginya. Senyum di wajahnya dan juga mata terpejam melepas kerinduannya setelah hampir satu bulan mereka terpisah.
__ADS_1
Rara semakin damai dalam tidurnya ketika sebuah tangna mendekapnya dengan lembut. Entah apa yang ia mimpikan. Hingga tangan Rendi ia sentuh dan mendekapnya dengan lembut juga. Rendi tersenyum melihat tingkah istrinya yang juga tersenyum dengan mata terpejam. Rendi tertidur di malam yang bahagia baginya dan juga hari yang sangat melelahkan baginya ketika harus menghadapi hari yang tegang baginya untuk belakangan ini. Tapi untuk kali ini, ia sudah tidak perlu khawatir lagi ketika mengingat posisi dirinya saat ini sebagai ketua mafia seluruh kalangan mafia. Ia juga tidak pernah berpikir jika dirinya akan berdiri di atas podium dengan lantang dan berbicara seacuh itu. Hingga membuat semua orang mengaguminya dan juga segan.
Bagi Rendi, hanya kakeknya yang dulu begitu berwibawa memerintahkan anak buahnya yang begitu setia untum melakukan hal apapun hanya dengan menggunakan segala strateginya. Rendi melihat cara kerja kakeknya di saat usianya sudah labil. Begitupun kedudukan kakeknya saat ini sangat sensitip, sebagai ketua mafia yang terlalu pintar di mata para mafia lainnya. Hingga terjadi sebuah pengkhianatan dan juga menjadikan kakeknya mati tanpa sebuah pertolongan dari yang lainnya. Dari sanalah tercipta seorang yang begitu pintar dan cerdas dengan segala strategi berperangnya dalam dunia bisnis ataupun dunia mafianya.