Istri Kedua Tercinta

Istri Kedua Tercinta
Kecemasan


__ADS_3

Rendi mempererat pelukan istrinya, yang memeluknya tanpa berbicara dan malah sangat mempererat pelukannya. Ia mengusap punggung istrinya dengan lembut dan mencium pucuk kepala istrinya.


"Ayo Sayang! Agar kita bisa sampai secepatnya disana! " ajak Rendi menyentuh wajah istrinya yang kini mulai bersemangat lagi.


"Ayo, aku sudah rindu Ibu dengan Ayah! " seru Rara bersemangat menarik tangan suaminya.


Rendi tersenyum melihat istrinya tampak bahagia dengan rencana untuk pulang ke Indonesia. Meski belum pasti apa yang terjadi di Indonesia sana pada keluarga Rara terutama ibunya.


Rendi dan Rara kini sudah bersiap untuk kembali ke rumah Mark dan akan bersiap untuk melakukan perjalanan ke Indonesia.


Dalam perjalanan, Rara masih dengan senyum manisnya tidak sabar ingin segera kembali dan sampai di Indonesia. Karena kerinduannya pada ibu tercintanya sudah tidak terbendung lagi.


Rendi tersenyum melihat tingkah istrinya yang terlihat sangat bersemangat. Ia tahu jika istrinya memang selalu merindukan ibunya. Lain dengannya dirinya yang tidak pernah merasa seperti itu pada ibunya apalagi merindukannya.


Setelah kembali dari pantai, Rendi dan Rara bersiap dan memberitahu Dilla untuk ikut atau tidaknya ia kembali ke Indonesia. Dilla dengan sigap dan bahagianya menyetujuinya, jika ia ingin sekali ikut kembali ke Indonesia. Mengingat sudah lama juga ia tidak menghubungi keluarganya. Selama tinggal di Jerman dan Singapore.


Rendi dan anak istrinya beserta rombongan yang lainnya kini bersiap untuk kembali ke Indonesia. Hanya Mark dan Iyas yang tidak ikut ke Indonesia karena ada perusahaan yang harus mereka kelola jika harus ikut ke Indonesia. Mereka hanya mengantar keluarga Rendi sampai di bandara.


Di bandara mereka berpamitan.


"Sebelumnya thank's Bro, jika bukan karenamu mungkin aku tidak akan melihat anak dan istriku! Kau kirim nanti jika anakmu sudah menjadi seorang gadis, akan aku nikahkan dia untuk Rayn!" ucap Rendi memeluk Mark dan berpamitan padanya.


Mark hanya mengangguk dan tersenyum mendengar ucapan sahabatnya itu. Ia tidak berpikir akan hal itu. Tapi Mark akan memberikan apapun yang terbaik untuk putri tercintanya itu.


Rara tersenyum melihat Rendi yang tidak marah sama sekali pada Mark yang sempat membuatnya murka akan hal pernikahan yang Mark sebarkan. Ia menghampiri suaminya dan ikut berbicara pada Mark.


"Jika Naura sudah secantik bidadari, maka kirimlah dia ke Indonesia! Pintu rumah kami akan selalu terbuka apalagi cinta kami juga!" tambah Rara tersenyum memandang suaminya yang juga mengangguk akan ucapan istrinya.


"Baiklah ... semoga mereka bisa mendapatkan kebahagiaan mereka sendiri. Kita sebagai orang tua hanya mendukung dan mendo'akan mereka saja!" jawab Mark juga tersenyum tipis.


"Itu akan membuat tenang istrimu juga yang sangat menyayangi suamiku ini. Semoga dengan putrimu bersama putra kami bisa membuat kebahagiaan yang sangat indah kelak!" ucap Rara kembali.


Mark dan Rendi mengangguk dengan senyum tipis mereka dan berpisah setelah membicarakannya. Mark melihat Rendi beserta yang lainnya pergi menuju pesawat dan saling melambaikan tangan untuk kesekian kalinya.


Sementara Mark kembali, Rendy dan Rara kini sudah berada di dalam pesawat. Rara sedang duduk di samping Rendi dan juga dengan putra-putrinya yang berada di pangkuan Nesa dan Adam. Di dalam pesawat, Rendi duduk dengan Rara di sampingnya. Rendi tersenyum ketika mendapati istrinya yang bersandar di bahunya. Rendy juga membiarkan istrinya tertidur sejenak di dalam pesawat. Rendy mengedarkan pandangannya memperhatikan Ken dan Dila yang duduk di seberangnya setelah itu ia melihat kearah Adam dan Nessa yang kini sedang duduk bersama putra-putrinya.


"Semoga tidak ada apapun hal buruk yang terjadi di sana," ucap Rendy di dalam hati.


Setelah melakukan perjalanan menggunakan pesawat, akhirnya Rendy dan Rara beserta rombongannya kini sampai di Indonesia. Rendy dan Rara kini disambut oleh seorang sopir yang dikirim oleh keluarga Anggara. Mereka bergegas untuk kembali ke rumah utama Anggara. Sesampainya di rumah utama Rendy dan Rara disambut oleh para pembantunya dan juga pelayan. Ada juga Pak Jun yang yang menunggunya di depan pintu itu.


Pak Pak Jun mencoba untuk berbicara kepada tuannya. Rendy yang tahu maksud dari Pak Jun yang tidak langsung berbicara, dia memahaminya dan meminta Pak Jun untuk masuk ke ruang kerjanya.


Rara berjalan dan mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan utama di rumah besar itu, hanya ada para pelayan saja dan ia mencari seseorang yang sangat ia rindukan yaitu ibu mertuanya. Akan tetapi ibu mertuanya masih tidak ada di rumah. lalu Rara naik ke atas menuju kamarnya dan juga menghampiri para pelayan yang ada di ruang utama. ia berjalan dan bertanya kepada para pelayan.

__ADS_1


"Di mana Ibu?" Rara bertanya kepada salah satu pelayan yang menghampirinya.


"Nyonya besar, tengah pergi ke rumah sakit, Non," jawab Salah satu pelayan yang ditanya oleh Rara.


" Ke rumah sakit? Memang Siapa yang sakit ibu atau ayah? " tanya Rara mulai cemas.


"Saya tidak tahu Non, nyonya besar hanya pergi dengan terburu-buru bersama tuan besar Non, " jawab pelayan itu menundukkan kepalanya.


"Benarkah? Lalu kenapa Suamiku tidak memberitahuku akan hal itu? " tanya Rara mengerutkan dahinya dan juga memikirkan hal yang tidak-tidak apa yang terjadi pada ibu mertuanya.


Rara berjalan meninggalkan kamarnya dan menuruni tangga, menghampiri ruang kerja suaminya. Ia sangat penasaran akan hal apa yang Ibu mertuanya lakukan di rumah sakit. Ia berjalan dengan tergesa-gesa menghampiri suaminya yang kini sedang berbicara bersama dengan Pak Jun. Sesampainya Rara di pintu ruang kerja Rendy. Rara terdiam di depan pintu ruang kerja suaminya.


" Iya Tuan, Ibu Ani Permana sudah sakit selama satu minggu, ia dirawat di ruang UGD dan saat ini sedang dalam keadaan kritis, nyonya besar hampir tiap hari untuk datang ke rumah sakit di mana Ibu Ani dirawat. Tuan besar juga ikut menunggu di ruang UGD," ucap Pak Jun yang didengar oleh Rara di balik pintu ruangan kerja suaminya.


Rara tertegun, saat mendengar hal yang diucapkan oleh Pak Jun kepada suaminya. Ada getaran hebat di dalam hatinya dan juga ada ketakutan di dalam dirinya. Ia merasa lemas setelah mendengar siapa yang sakit dan ternyata ibunya. Ibu mertuanya datang ke rumah sakit untuk menunggu ibunya yang sedang sakit saat ini. Seluruh tubuh Rara terasa lemah bahkan untuk membuka pintu ruangan kerja suaminya pun ia tidak sanggup. Ia bersandar di dinding dekat ruang kerja suaminya. Rara terdiam bahkan tubuhnya sangat lemah saat mendengar ucapan Pak Jun yang membicarakan tentang ibunya yang sedang sakit. saking lemahnya tubuhnya Rara ia bahkan tidak sanggup untuk membuka ruang kerja suaminya. Ia terdiam dan bersandar di dinding samping pintu ruang kerja suaminya dengan pandangan tanpa arah dan memikirkan tentang ibunya yang kini sedang sakit.


Salah seorang pelayan menghampirinya dengan cemasnya bertanya kepada Rara.


"Apa Anda baik-baik saja Nona?" tanya pelayan itu menyadarkan Rara yang kini sudah sadar akan hak suatu hal.


"Aku baik-baik saja! " jawab Rara.


Rara merasa lemah setelah mendengar siapa yang sakit. Apalagi ternyata ibu mertuanya datang ke rumah sakit untuk menunggu ibunya yang sedang sakit saat ini. Kini seluruh tubuh Rara terasa lemah, bahkan untuk membuka pintu ruangan kerja suaminya pun dia tidak sanggup.


Ia hanya terdiam dan berjalan menuruni tangga. Saat Rara sampai di ruang tamu.


Suaminya Rendy menghampirinya.


"Sayang, kamu mau ke mana? Apa kamu baik-baik saja?" tanya Rendi dengan lembut kepada istrinya yang kini masih memandang ke sembarang arah.


Rendy mengerutkan dahinya ketika melihat sikap istrinya yang tampak kebingungan. Rara bahkan tidak berbicara sama sekali, apalagi menjawab suaminya yang kini sedang bertanya padanya berulang kali. Yang ada di dalam pikiran Rara saat ini. Ia hanya ingin sesegera mungkin menghampiri ibunya yang kini sedang sakit dan ia ingin sekali memeluk ibunya yang sangat ia cintai itu.


"Sayang, kamu kenapa? Apa yang sedang kamu pikirkan? jangan buat aku cemas!" tanya Rendy kembali.


Rendi tampak khawatir kepada istrinya yang kini sedang kebingungan. Rara tertegun saat mendengar hal yang diucapkan oleh Pak Jun kepada suaminya. Ada getaran hebat di dalam hatinya dan juga ada ketakutan didalam dirinya saat ini.


Rendi melihat sikap istrinya yang tampak kebingungan. Bahkan Rara tidak berbicara sama sekali. Apalagi menjawab suaminya yang kini sedang bertanya padanya berulang kali. Yang ada di dalam pikirannya saat ini. Ia ingin sesegera mungkin menghampiri ibunya yang kini sedang sakit dan ia ingin sekali memeluk ibunya yang sangat ia cintai itu.


"Sayang, kamu kenapa? Apa yang sedang kamu pikirkan, jangan buat aku cemas!" tanya rendy kembali tanpa khawatir kepada istrinya yang kini sedang kebingungan.


Rara melihat ke arah suaminya yang berada dihadapannya, tanpa ia sadari, Rara memeluk suaminya dan menangis menjadi-jadi Rara memeluk erat suaminya dan menangis tersedu-sedu. Rendy yang tidak mengerti akan perasaan istrinya. Ia mengerutkan dahinya dan juga memeluk, mengusap punggung istrinya.


Rendi berpikir jika istrinya tahu akan keadaan ibunya. Ia mengusap pucuk kepala istrinya dengan lembut. Ia belum menyampaikan hal itu tapi, ia tidak tahu jika istrinya mengetahuinya sebelum ia memberitahunya.

__ADS_1


"Kamu kenapa Sayang? Apa yang terjadi katakanlah, berbicaralah jika memang itu membuatmu sedih katakanlah Sayang," tanya Rendy berulang kali kepada istrinya yang kini masih menangis tersedu-sedu.


"Sayang ibuku ternyata sedang sakit, kenapa kamu tidak bilang padaku?" ucap Rara mendongakan kepalanya di dada suaminya. Ia juga berbicara dengan menangis dan air mata mengalir.


Ia juga mempererat pelukannya pada suaminya.


"Kamu mendengarnya Sayang? Yah ... aku juga baru tahu dari Pak Jun!" jawab Rendy mengusap dada istrinya yang masih menangis.


"Aku ingin ketemu ibu, aku ingin bersamanya! Aku ingin menemuinya! Aku ingin mendampinginya. Ibu pasti sangat sakit karena aku tidak menemaninya di saat saat ia sedang terbaring di rumah sakit saat ini," ucap Rara tersedu-sedu.


Rendy mengusap punggung istrinya dengan lembut dan juga mencoba untuk menenangkan perasaan istrinya yang sedang khawatir.


"Kamu sabar ya Sayang, Sekarang kita berangkat ke rumah sakit untuk menemui ibu, "ucap Rendy menenangkan istrinya.


"Ayo! Aku udah sudah ingin bertemu Ibu," jawa Rara dengan tersedu-sedu mengusap pipinya yang basah karena air matanya.


Rendi mengangguk dan menuntun tangan istrinya nya. Keluar dari ruang utama dan keluar rumah Anggara. Mereka menaiki mobilnya yang kini sudah melaju menuju rumah sakit yang dikatakan Pak Jun kepada Rendy selama di ruang kerjanya.


Rara masih dengan khawatirnya dan juga gelisah duduk di kursi penumpang duduk di samping Rendy dengan meremas pakaiannya menghawatirkan ibunya yang kini sedang sakit. Rendy melihat kearah istrinya yang kini masih terdiam dan juga khawatir akan sesuatu yang terjadi pada ibunya ia memegang tangan istrinya yang meremas dan menghafalnya mengusapnya juga dengan kelembutan mencoba menenangkan istrinya agar tidak terlalu khawatir.


"Kamu tenang aja sayang! Semua akan baik-baik saja termasuk ibu, "ucap Rendy menenangkan istrinya dan memeluknya dengan.


Hanya membutuhkan waktu setengah jam untuk sampai di rumah sakit, di mana Ibu Rara dirawat. Rara bergegas keluar dari mobilnya dan turun bersamaan dengan suaminyanya. Mereka berjalan memasuki rumah sakit tersebut, dalam keadaan dan perasaan yang khawatir akan keadaan ibunya.


Rendy masih memegang tangan istrinya dengan kecemasannya pada istrinya yang kini sedang gundah dan merasa takut akan sesuatu hal yang terjadi pada ibunya. Mereka berdua berjalan menelusuri setiap ruangan, hingga diujung lorong Rumah Sakit ruangan tersebut, ada beberapa orang yang sedang duduk di ruang tunggu termasuk Tuan Anggara dan Ayah Rara.


Rendy dan Rara menghampiri ayah dan ayah mertuanya yang kini sedang duduk di ruang tunggu. Dengan perasaan yang yang tidak bisa diungkapkan antara Rara dan juga ayahnya. Antara anak dan ayah kini sedang berpelukan.


"Ayah ada apa dengan Ibu? Ibu sakit apa?" tanya Rara memeluk ayahnya melepas rasa rindu mereka berdua.


"Ibu kamu terjatuh di kamar mandi saat dia sedang insom, selama satu minggu yang lalu, entah apa yang dia pikirkan hingga membuatnya susah untuk tidur dan bahkan banyak berdiam. Ayah saja tidak tahu apa yang menyebabkan ibumu seperti itu? Hingga akhirnya ibumu terjatuh di kamar mandi dan sekarang dalam keadaan kritis karena kepalanya terbentur," jelas Ayah Rara Sendu.


"Kenapa ayah tidak memberitahuku? Harusnya Ayah menelponku agar aku bisa menemani Ibu! Kenapa Ibu sudah dirawat selama satu minggu, tapi ayah baru memberitahuku? Bahkan yang memberitahuku saja bukan Ayah tetapi orang lain! " ucap Rara menangis dan kesal kepada ayahnya yang tidak memberitahunya sejak awal.


"Maaf Nak, ayah tidak mau membuatmu merasa khawatir dan membuatmu menjadi tidak tenang," jawab Ayah Rara sedikit mersa bersalah.


"Aku bahkan sangat khawatir di tambah kesal, karena Ayah bahkan tidak mengatakan dari awal pada Rara!" ucap Rara dengan air mata yang sudah mengalir deras.


Rendi dan juga yang lainnya yang melihat adegan anak dan ayah. Mereka hanya bisa terdiam karena tidak dapat membantu dalam hal ini.


Rara berbalik dan mendekati pintu ruangan perawatan. Dimana ibunya berbaring, hanya beberapa orang yang di perbolehkan untuk masuk keruang rawat tersebut. Rara mencoba untuk masuk ke ruangan di mana ibunya dirawat saat ini. Saat ia memasuki ruangan tersebut, ia melihat ibunya yang berbaring di ranjang pasien, dengan alat bantu pernapasan dan juga impusan dan alat deteksi jantung yang bunyi pelan.


Dengan langkah perlahan dan juga perasaan yang sedih ia rasakan.Rara melangkah menghampiri ibunya yang terbaring lemah di atas ranjang pasien. Rara menangis dan air matanya tidak terbendung melihat ibunya yang selalu tersenyum dengan kebahagiaannya saat menyambutnya kembali.

__ADS_1


__ADS_2