
Setelah mereka berbincang bersama di ruang tamu, Rara dan Rendy kini duduk hanya berdua saja. Setelah melihat ketiga anaknya pergi ke atas kembali ke kamar mereka masing-masing.
Rendi bersandar di bahu istrinya dengan manja, ia memutar-mutar hijab yang dikenakan oleh istrinya dan sesekali ia mencium pipi cabi milik istrinya, yang semakin hari semakin berisi. Rendy bahkan sangat menyukai istrinya yang berpenampilan seperti itu.
"Sayang apakah kamu tahu jika Naura akan berkunjung ke Indonesia?" tanya Rara.
"Ya, Mark memberitahuku bahwa Naura membuat permintaan kepada ayahnya untuk pergi ke Indonesia berkunjung ke rumah," jawab Rendi.
"Tapi bukankah kita akan ke Bandung?" tanya Rara ragu.
"Memang Apa yang bisa dilakukan oleh Rayn dengan Naura? Lagi pula ada Ken di sini. Dia bisa memantau begitupun Adam yang beberapa hari lagi dia juga akan kembali," jawab Rendy.
Rara mengangguk memahami apa yang dikatakan oleh suaminya, mereka menikmati momen berdua di ruangan tamu dengan makanan di piring, begitupun Rara yang memakan buah strawberry sebagai camilan nya.
"Cake tadi itu buatan Siapa?" tanya Rendy.
"Buatan aku tapi dibantu oleh Dilla," jawab Rara.
"Apa khusus hanya untuk Putri mu yang memenangkan turnamen?" tanya Rendy kembali.
"Itu salah satunya, hanya saja aku memang sedang ingin memanjakan anak gadisku ini. Dia sangat manis dan baik saat aku melihat buku Dairy yang aku berikan untuknya, masih utuh, ahkan masih bersih. Aku merasa heran kepadanya yang sangat menjagbuku dairy itu," jelas Rara.
"Itu karena pemberian darimu sayang, anak gadis kita itu memang sangat menyayangimu begitupun aku," balas Rendy.
"Raisa juga menyayangi mami bukan hanya papa saja apalagi kakak!" ucap Raisa berjalan menghampiri kedua orang tuanya.
Rara dan Rendi menoleh kearah tangga. Keduanya melihat Raisa yang sudah cantik dan segar, setelah mandi sore. Rara tersenyum, egitu pun dengan Rendy bangga kepada Putri bungsunya itu, memang selalu mengerti keadaan.
__ADS_1
"Kamu sudah cantik Sayang? Sini duduk dengan mamah dan papa!" ajak Rara menepuk sofa di sampingnya.
Raisa tersenyum dan mengangguk ke arah ibunya dan kini ia duduk di bangku antara kedua orang tuanya. Dengan senyum kebanggaan dan bahagia selalu berada di pangkuan ibunya itu.
"Kamu selalu yang paling manja, entah kepada namahmu, papa ataupun sama kedua kakakmu," ucap Rendy gemas mencium pipi Raisa.
"Memangnya Raisa harus manja kepada siapa pa? Kalau bukan kepada kalian berdua atau kepada kedua Kakak kembarku itu, memang Raisa harus bermaja sama siapa?" tanya Raisa menjawab ayahnya.
Rendy mengerutkan dahinya, lalu ia bersitatap bersama dengan Rara yang juga mengerutkan dahinya, mendengar ucapan seorang gadis di usia Raisa yang usianya terbilang cukup muda untuk berbicara seperti itu. Namun Rara dan Rendy sudah mengetahui bahwa anak-anak mereka berdua itu memang kerja kecerdasannya lain dari anak yang lainnya.
Mereka kini berbincang dan bercanda dengan Putri bungsunya itu di ruang tamu, dengan sesekali Raisa menyuapi ayah dan ibunya itu dengan buah-buahan yang ada di meja. Di atas tangga, Amira tersenyum penuh kebahagiaan melihat kebersamaan kedua orang tuanya juga dengan saudaranya.
"Kehangatan ini yang tidak pernah aku ingin tinggalkan ataupun lewati. Tapi sepertinya mama sudah tahu kalau aku sudah dewasa begitupun dengan kakakku," gumam Amira.
"Maka dari itu pertahankan kebersamaan kita," balas Rayn datang menghampiri Amira dan merangkul bahu adiknya itu.
Rayn mengangguk tersenyum tipis dan kini keduanya berjalan menuruni tangga dan ikut bergabung dengan kedua orang tuanya, beserta dengan adik kecilnya mereka bersama satu keluarga berkumpul kembali di ruang tamu.
Namun tiba-tiba bel berbunyi, hingga membuat Amira berdiri dan berjalan untuk membuka pintu dan melihat siapa yang datang, saat Rara dan Rendy begitupun dengan Rayn yang duduk di sofa bersama dengan dengan kedua orangtuanya, Amira berjalan menghampiri kedua orang tuanya yang diikuti dengan Dilla, Ken dan juga putrinya Zain datang berkunjung. Dengan senyum merekah dari Dilla.
Rara menyambut kedatangan saudarinya itu, dengan senyum dan tangan yang merekah merangkul saudaranya dan juga melihat Zein yang kini sudah duduk di samping Rayn.
"Apakah kalian sudah pada makan?" tanya Dilla.
"Tentu saja, istriku tidak akan pernah membiarkan keluarganya kelaparan," jawab Rendy acuh.
"Ya ... ya, aku sudah tahu kalian tidak akan sampai kelaparan. Selama ada istri tercinta mu yang selalu memasak untuk kalian! Tidak seperti aku yang mengandalkan pelayan untuk makan," ucap Dilla dengan kesalnya menjawab ucapan Rendy.
__ADS_1
"Sudah! Eh, kamu duduk sayang!Atau kamu mau makan?" potong Rara.
"Tidak, kami sudah makan kok. Hanya kata Ken ada yang perlu dibicarakan dengan suamimu. Jadi aku ikut saja ke sini, sekalian mau bertemu dengan Raisa gadis manis yang tante rindukan," jawab Dilla.
"Kalau begitu mari makan camilan dan buah-buahan yang manis ini!" ajak Rara.
Sementara Rendy dan Ken pergi ke ruang kerjanya. Rara berbincang dengan Dilla dengan Amira, Rayn dan Zein yang duduk di sofa, berseberangan dengan Rara dan Dilla.
"Apa yang kau mainkan Rayn?" Tanya Zein.
Bukan Rayn yang acuh, jika ia menjawab setiap pertanyaan gadis yang selalu mengikutinya setiap saat itu. Amira yang mendengar pertanyaan Zein, yang tidak dihiraukan oleh kakaknya itu. Ia tersenyum tipis dan menyodorkan piring yang berisi buah-buahan yang sudah dipotong-potong kecil, tepat di hadapan dapat Zein.
Zein tersenyum dan menyambut hidangan yang ada di hadapannya. Amira berharap Zein tidak menghiraukan Kakak laki-lakinya itu, yang memang selalu acuh kepada siapapun, termasuk kepada saudaranya.
Hanya kepada Amira dan Raisa begitupun dengan ibunya. Rayn akan sangat banyak berbicara, ketika hanya berdua saja dengan ibunya. Zein yang diberi piring buah-buahan oleh Amira, ia tersenyum dengan penuh rasa dan memakan buah-buahan tersebut. Tanpa harus bertanya atau menanggapi ucapan Rayn begitupun kedua orang tuanya bibi dan mamahnya.
Sementara Rayn sibuk dengan gamenya, Rara dan Dila berbincang kesana kemari tanpa dimengerti oleh anak-anak remaja, tentang pembahasan pembicaraan antara mereka berdua.
Amira melihat handphonenya lalu mengirimkan sebuah pesan kepada Aris, memberitahu kepada sahabatnya itu bahwa dirinya tidak akan bisa berangkat ke kampus besok. Amira akan membantu ibunya untuk menyiapkan apa saja yang mesti mereka bawa saat ke Bandung.
Namun saat Amira membuka handphone-nya Zein yang sangat penasaran dengan handphone Amira. Ia mendekati Amira dan melihat layar handphonenya Amira.
"Apa apaan ini? Kok kamu kontaknya cuman itu saja? Handphonenya juga sangat sederhana," tanya Zein mengerutkan dahinya.
Zein tidak mempercayai Amira yang bahkan hanya menggunakan paketan untuk handphonenya. Mengingat dirinya adalah seorang anak perusahaan bahkan sangat terkenal dengan kekuasaannya.
Rara dan Dilla yang mendengar ucapan Zein hanya tersenyum tipis, begitupun Rayn dan Amira hanya acuh menanggapi Zein yang masih menatap Amira penuh pertanyaan. Namun di mulutnya juga penuh dengan makanan.
__ADS_1