Istri Kedua Tercinta

Istri Kedua Tercinta
Jinak


__ADS_3

Di sebuah Hotel XX


Sisi yang menangis terbaring dalam pikiranya ia melayang sedih dal berkecamuk tak terarah.


"Kaka kenapa kamu tidak pernah memandangku sebagai wanitamu kenapa kamu menyayangiku tapi tidak mencintaiku"batin Sisi ia menangis sesegukan.


Mark yang terbangun karena hari sudah pagi,ia terbangun dan melihat ke arah Sisi yang membelakanginya.


Mark menarik selimut yang di kenakan Sisi untuk menutupi tubuhnya.


Sisi penuh tanda merah yang di lakukan Mark, semalam ia menggila seperti bergelut dalam sebuah arena ia melihat Sisi dan menarik Sisi kedalam pelukannya.


Mark melihat wajah Sisi yang penuh air mata dan menangis.


"Sebaiknya kamu jangan bermain ular berbisa di belakangku untuk tuanku ..." ancam Mark.


"Karena tuan tidak akan mau dengan sampah sepertimu,kamu beruntung karena di sayangi dia sebaiknya kamu sadar diri.Aku tak perduli kamu dengan pria manapun tapi kalau kau usik tuanku akan ku pastikan kau tidak akan mau mati," ancam Mark ia menjatuhkan tubuh Sisi kembali.


Mark berdiri dan pergi ke kamar mandi, kini ia akan bersiap untuk pergi ke perusahaan Rendi karena ia belum memberesken semua dokumen yang Rendi berikan padanya semalam.


Sisi yang tersungkur ia menangis menjadi-jadi, ia bahkan sampai menjerit seperti orang gila


Mark yang mendengar itu, ia memasakng senyum di wajahnya ia mandi di bawah sower dan melakukan aktivitas mandinya itu.


Diluar kamar tersebut sudah ada Iyas yang menunggu Mark keluar,ia tampak gelisah mondar mandir di pintu kamar.


"Gillaa Mark sampai murka begitu memang apa yang gadis itu lakukan sampai membuatnya murka," gumam Iyas.


Mark keluar dari kamar mandinya,ia melihat Sisi sudah terduduk di ranjangnya. Ia menatap Mark dengan tatapan tajam nya,dalam keadaan kusut ia bahkan tidak mengenakan sehelai benangpun juga selimut ia berdiri dan berkata.


"Aku akan menjauhi tuanmu itu tapi dengan satu syarat," ucap Sisi.


Mark tidak menjawabnya ia hanya menatap Sisi tanpa ekspresi. Mark menghampiri Sisi.ia menarik selimut untuk menutupi tubuh Sisi tapi Sisi menepisnya dan membuang selimut itu ia tetap menatap tajam Mark.


Mark yang melihat itu tetap diam.


"Kenapa kamu tidak menjawab dan pertanya syaratku," teriak Sisi.


Sisi memang berprilaku kekanakan, hingga Mark sudah haval dengan sifat keras kepala Sisi karena mereka hidup bersama sejak kecil begitupun dengan Rendi.


"Katakan," ucap Mark.


"Kau tidak boleh menyentuh wanita lain," ucap Sisi.


"Baik," jawab Mark singkat.


Mark mengenakan pakaian nya, ia melihat Sisi ke kamar mandi Mark memasang senyum di wajahnya ia tahu apa yang di rencanakan Sisi tapi ia mengikuti rencananya dengan begitu saja.


Sisi di bawah sower ia menangis dan tersenyum.


"Karena kamu membuatku menderita aku juga akan membuatmu menderita Mark sialan kau," batin Sisi.


Sisi keluar dengan Mark yang sudah tidak ada,ia geram dengan pria itu ia bahkan tak menghiraukanya sama sekali setelah apa yang ia lakukan pada Sisi.


Sisi melihat di atas meja sudah ada pakaian wanita yang sudah di sediakan oleh Mark untuknya, beserta sebuah kartu berwarna gold untuknya.


"Huh dia bahkan menganggapku semurahan itu ya,kamu pikir dengan ini akan selesai tidak kau akan mendapatkan semuanya dengan lebih kejam dariku Mark,kamu yang sangat menyebalkan aku tidak akan tinggal diam ... aku tidak akan mengganggu kakak tapi aku akan membuat hidupmu menderita," ucap Sisi.


Sisi keluar hotel kini ia


sudah mengenakan dres yang rapih tanpa memperlihatkan tubuhnya.


Prolog Rendi.


KEDIAMAN ANGGARA.


Rara melihat Rendi yang sedang berdiri melihatnya.ia berjalan dengan tanpa ekspresi pada suaminya itu ia berjalan sampai tidak mendengarkan apa yang di ucapkaan suaminya itu.


"Sayang kamu kembali syukurlah aku khawatir sekali? Tanya Rendi


"Apa kamu sudah makan Sayang?" Tanya Rendi kembali.


"Ayo aku gendong kamu pasti lelah ya?" Tanya Rendi.


"Sayang aku lapar dari siang tadi belum makan sama sekali"ucap Rendi yang sama sekali tak di hiraukan oleh istrinya.


Hingga sampai kamar Rara masih diam. Ia pergi ke kamar mandi dan ia keluar dengan dres tidur yang berwarna hitam transfaran. Kini Rara tampak semakin cantik dengan dres yang ia kenakan.Ia tampak membasahi rambutnya dan memakai farfum yang sering ia kenakan.


Rendi yang melihat istrinya dengan keluar mengenakan dres yang sexsi di kala ia sedang hamilpun malah membuat aura cantiknya semakin memanggil Rendi.


Rendi melihat istrinya yang masih terdiam.Tapi ia sangat tidak tahan dengan apa yang istrinya kenakan, hingga membuat Rendi geram dan ia melajukan langkahnya pada istrinya yang sedang duduk di tepi kasur.


Rara dengan memainkan handponenya dan tanpa menghiraukan suaminya itu.


Rendi memeluk istrinya ia mencium aroma yang ia rindukan sudah lama itu ia menutup matanya dan menghirup aroma tubuh istrinya.


Rendi mencium rambut dan turun ke leher istrinya dan ia memajukan kepalanya ke depan wajah istrinya tapi Rara memalingkan wajahnya Rendi melihat wajah istrinya yang tanpa ekspresi.


"Sayang kamu kenapa?" Tanya Rendi.

__ADS_1


"Kenapa kamu pergi dan datang ke hotel itu?" Tanya Rendi lagi.


"Apa ada yang ingin kamu temui disana?" Rendi masih bertanya.


"Atau kamu mau memukulku?"


pertanyaan Rendi tanpa kebersalahan ia bahkan mengeluarkan pertanyaan yang tidak semestinya.


"Rara sayang bicaralah jangan membuat aku semakin gila karna menginginkan tubuhmu," teriak Rendi


Rara yang terdiam ia sudah tidak tahan


dan berbicara pada suaminya.


"Ada apa denganmu kenapa kamu berubah dan juga siapa wanita itu kamu kenapa kamu mengatakan aku kamu padaku,apa karena aku hamil kamu sudah tidak mau lagi padaku?" lirih Rara kini ia menangis karena sudah tak terbendung lagi perasaannya dari tadi siang.


Rendi yang mendengar dan melihat istrinya menangis ia malah tersenyum dan memegang tangan istrinya.


"Sayang maksudmu apa ... aku bahkan tidak bisa tahan dengan tubuhmu ini bagaimana aku bisa dengan wanita lain.Tadi itu aku sedang mengalihkan keinginanku makanya aku tidak menggunakan kata-kata manis agar aku tidak ingin itu padamu," jelas Rendi.


"Lalu wanita itu?" Tanya Rara.


"Wanita ... dia yang tadi dia itu Sisi dia sudah ku anggap adiku dan juga ada banyak orang disana hah ," ucap Rendi.


"Lalu apa yang kamu inginkan?" Tanya Rara.


Rendi terdiam ia tidak menjawabnya


"Apaaaa? Teriak Rara.


"Aku ingin kamu aku sudah tidak tahan," jawab Rendi malu.


Rara yang mendengar itu ia tertawa dengan kelakuan suaminya itu sangat konyol.


"Itu alasaan yang tidak masuk akal," ucap Rara.


"Aku seriuss Sayang ," ucap Rendi berbisik pada istrinya.


"Lalu apa yang kamu tunggu," ucap Rara.


Rendi yang mendengar itu ia tersenyum dan sumringah bahagia, karena istrinya sudah tidak mendiaminya.


Rendi mencium bibir istrinya. Rara mengerutkan dahinya mendongakan kepalanya menatap suaminya tajam.


"Kamu bau," ucap Rara menutup hidungnya.


Rendi tersenyum dan mengecup bibir istrinya dan terbangun dari tubuh istrinya.


"Aku mandi dulu ya sayang jangan di kenakan lagi ," ucap Rendi ia pergi ke kamar mandi untuk mandi.


Rara yang melihat suaminya ke kamar mandi ia tersenyum.


"Ternyata suamiku bersikap seolah ia tidak salah mungkin karena aku yang berpikiran buruk tentangnya," gumam Rara.


"Tapi aku ingin tahu dengan jelas nanti," ucap Rara.


Rendi yang sudah mandi ia melihat ke arah istrinya dan ternyata Rara sudah tertidur. Ia menghampiri istrinya hanya memakai celana pendek.Ia tersenyum dan menyelimuti istrinya.


"Maaf ya Sayang ... aku yang salah terlalu membiarkan kenakalan Sisi aku lupa bahwa kamu ada disana tadi. Aku takut kamu pergi hingga menjadi gila seperti ini. Lain kali aku akan memberitahu setiap aktivitasku padamu. Agar kamu tidak cemas lagi aku sangat mencintaimu sayang jangan menangis lagi ya," ucap Rendi mengecup kening istrinya.


Rendi dan Rara tertidur dengan berpelukan mereka tidur dengan nyenyak terlelap dalam mimpi yang indah.


Sepertiga malam Rara terbangun, ia melihat suaminya yang sempat ia benci karena sama dengan pria lainya. Tapi kini Rara tersenyum bahagia melihat wajah tampan suaminya yang damai di sisi Rara.


Rara bangun dan sembahyang dia menyiapkan sarapan dan kembali membangunkan suaminya untuk bersembahyang.


"Rend ayo bangun ini sudah subuh kamu mau aku masakan apa?" Tanya Rara.


Rendi yang mengerjapkan matanya ia melihat istrinya yang bagaikan bidadari,yang mengenakan dres putih rambut hitam terurai ia tersenyum padanya.


"Waaah surga benar-benar indah menyiapkan bidadari yang sangat cantik," ucap Rendi.


"Memang kamu ingin segera ke surga?" Tanya Rara.


"Tidak perlu ada istriku yang cantik aku tidak perlu bidadari lagi kau bidadariku," ucap Rendi mengecup bibir istrinya.


Rendi terbangun dan melakukan aktivitas mandi dan sembahyang. Setelah itu ia menghampiri istrinya yang sedang membuat sarapan Rendi memeluk istrinya ia menenggelamkan kepalanya di leher istrinya.


"Kamu mau makan apa Sayang?" Tanya Rara.


"Aku mau makan kamu," ucap Rendi .


"Hmmm aku serius Sayang," ucap Rara.


"Aku lebih serius," ucap Rendi manja.


Rendi mengecup bibir istrinya di dapur Rara mengalungkan tanganya di pundak suaminya mereka berciuman lama.


Rendi menaikan Rara ke tubuhnya yang kekar. Ia menggendong istrinya ke dalam kamar Rendi menurunkan istrinya pelan -pelan.

__ADS_1


"Ayo sarapan dulu nanti ada yang harus aku tanyakan padamu ," ucap Rara pada suaminya .


Rendi mengangguk mencoba melakukan aktivitasnya perlahan agar tidak mempengaruhi kandungannya.


"Dokter bilang tidak apa asalkan kita hati -hati," ucap Rara.


Rendi tersenyum mengangguk. Ia melakukannya dengan perlahan demi istrinya.


Rendi bagaikan badai yang tidak menemukan sarangnya. Ia tidak mau pergi jauh dari istrinya. Hingga matahari menyoroti mereka dan menghentikan aktivitasnya.


"Percayalah sayang hanya kamu yang aku cintai satu-satunya di hatiku," ucap Rendi tersenyum.


Betapa bahagianya Rara saat mendengar penuturan Rendi. Ia sudah tidak perlu bertanya apapun pada suaminya lagi yang terpenting sekarang adaalah Rara akan mempercayai suaminya dalam hal apapun itu termasuk cinta nya pada Rara.


Rendi kini sudah bersiap untuk pergi ke kantor. Ia sudah tahu bahwa istrinya sudah kembali membaik perasaanya tidak sekaku semalam. Ia bahkan kembli ceria saat Rara mengecup bibir Rendi.


Ada Ken yang sedang berdiri di depan pintu,ia sudah kembali dari tugasnya dan langsung menemui tuanya karena apa yang ia dapat dari informasi Mark bahwa Rendi bertengkar dengan istrinya.


Ken sangat khawatir karena Rara yang sedang hamil dan Rendi yang akhir-akhir ini tidak terkendali emosinya.


Tapi di saat ia sampai ternyata tidak seperti yang ia duga bahwa tuan dan nona nya baik -baik saja bahkan mereka sangat mesra.


"Kalian sangat manis aku harus cepat bertemu gadis itu," batin Ken.


"Kamu kembali," ucap Rendi.


"Ya tuan saya bergegas," ucap Ken.


"Tidak perlu khawatir tidak ada yang tidak bisa aku tangani," ucap Rendi.


Rara yang mendengar itu tidak paham. Ia hanya sedang memakai sepatu platnya dan akan bergegas pergi ke Cafe. Ia mengikuti suaminya yang berjalan di depanya. Rara sekarang untuk mempercepat jalanya Rara semakin lamban. Ia di ikuti Ken dari belakang Rendi yang berbalik menggandeng tangan istrinya


"Apa dia sudah semakin berat?" Tanya Rendi.


"Yaa rasanya aku malas bergerak"jawab Rara.


"Kalau begitu kamu tidak perlu ke Cafee tinggalah di rumah ," ucap Rendi.


"Tidak aku bosan Sayang," ucap Rara.


Rendi menuju kantornya dan dia masuk ternyata sudah ada Mark dan Iyas juga Sisi disana .


Rendi berlaku seolah tidak terjadi apa-apa ia menyapa Sisi dan tersenyum .


"Kaka kamu mau minum jus?" Tanya Sisi.


"Baiklah ," jawab Rendi.


Sisi tersenyum bahagia ia pergi keluar membeli jus yang kakanya inginkan.


Rendi yang melihat Sisi keluar ia menatap Mark dan bertanya.


"Kamu membereskanya?" Tanya Rendi.


"Huh dia dengan senang hati menyelesaikanya," ucap Iyas menyenderkan kepalanya.


"Pastikan tidak menyakitinya," ucap Rendi.


"Ya," jawab Mark.


Rendi dan Mark juga iyas dan ken mendiskusikan perencanaan perusahaan yang sedang mereka kelola mereka membahasnya dengan serius.


Sisi yang berjalan menuju Cafe store yang sudah ada Rara disana ia masuk dan duduk di samping Rara .


"Apa kamu masih sama?" ucap Sisi pada Rara yang sedang minum susu coklat.


"Tentu," ucap Rara.


"Kamu bahkan tidak tau diri ," ucap Sisi.


"Aku rasa ada seorang anak kecil yang di beri makan dan di sayangi tapi tidak menahan diri hingga menjadi ular besar untuk mematuk tuannya sendiri," ucap Rara.


"Huh aku sudah tidak butuh lelakimu lagi aku lebih tidak ingin kehilangan dia dari pada memilikinya," ucap Sisi.


"Apa aku harus percaya?" Tanya Rara tersenyum.


"Tidak perlu aku hanya akan memastikan dia bahagia tapi jika tidak aku akan tetap menghisapnya sampai habis," ucap Sisi meninggalkan Rara.


Rara yang melihatnya tersenyum.


"Sepertinya dia sudah jinak tidak seperti pertama kali ia seperti penuh racun," gumam Rara meminum susunya.


Di balik kaca mengarah ke Cafe store Rendi melihat dimana Rara yang sedang berbicara dengan Sisi,yang tampak kesal tapi tidak dengan istrinya Rendi tersenyum dan melihat Sisi pergi keluar dari Cafe membawa bingkisan dari sana.


"Dia sudah jinak tidak perlu khawatir jika demikian aku akan memastikan ia semakin jinak," ucap Mark menghampiri Rendi yang sedang berdiri di jendela.


Ken dan iyas yang sedang duduk di sofa melihat ke arah Rendi dan Mark.


Ken masih sibuk dengan laptopnya yang ia bawa dari luar kota karena ia harus bergegas kembali ke kantor, takut terjadi peristiwa yang tidak di inginkan ia kembali bahkan belum sempat memberi kabar kekasihnya Dilla.

__ADS_1


__ADS_2