Istri Kedua Tercinta

Istri Kedua Tercinta
Dilla hamil


__ADS_3

Rendi yang kesal dengan kelakuan Lisa yang sudah pernah memfitnahnya. Ia menggunakan tisu basah untuk mengusap bibirnya.


"Wanita sialan lagi yang aku temui, " ucap Rendi kesal.


"Maaf Tuan, saya tidak sempat mencegahnya," ucap Ken.


"Apa kau sakit?" Tanya Rendi datar.


"Tidak Tuan," jawab Ken.


"Kalau begitu secepatnya bereskan dia aku tidak mau jika istriku mengetahuinya," tegas Rendi.


Ken mengerti ia membuka laptopnya dan membuka jejaring sosial yang mencangkup Lisa. Juga memutuskan setiap pengusaha yang Lisa dapatkan.


Dalam dua jam Lisa sudah di sibukan dengan pembatalan kontrak kerjanya di setiap Agensinya. Ia berteriak kesal dan prustasi.


"Sial, ternyata ancamannya sudah bukan ancaman bohong lagi. Kenapa bisa secepat ini bukankah dia hanya pengusaha kecil tidak untuk internasional," ucap lisa prustasi.


"Jika tahu seperti ini aku tidak akan mencoba menggodanya agar bisa menjadi koneksiku di sini aaaaah! " Teriak Lisa mengacak-acak rambutnya.


Sementara Lisa sedang sibuk dengan masalah koneksi yang tiba-tiba membatalkan usahanya.


Rendi tersenyum bahagia, saat melihat berita bahwa artis Lisa Amalia yang menjadi artis Elit. Yang menjual tubuhnya untuk naik ke atas selebritas sudah terpampang video adegan dimana Lisa sedang melayani banyak kolega-koleganya.


"Sudah ku bilang aku sudah bukan Rendi yang kalah hanya dengan satu pukulan saja," ucap Rendi tersenyum.


"Dia bahkan mengirim orang yang salah," ucap Rendi kembali.


Rendi keluar dari ruangannya.Ia melihat ke arah Nina yang sedang memainkan handponenya.


"Mana Ken?" Tanya Rendi.


"Di ruangannya Tuan," jawab Nina.


"Kamu bereskan dokumen-dokumen yang harus aku periksa dan berikan pada Ken. Beritahu padanya kirim yang prioritas ke rumah besar," pinta Rendi.


"Baik Tuan." Nina mengangguk.


"Sebaiknya bersikap seperti karyawan lain jangan menunjukan seperti ini." Tegas Rendi.


"Baik Pak," jawab Nina yang tak lain anak buahnya yang Rendi bawa dari Singapore khusus di jadikan sekertaris di perusahaannya.


Rendi bergegas pulang sekitar jam lima sore. Membawa mobil sendiri untuk pulang dengan senyum di wajahnya juga hati yang bergembira ingin berjumpa istrinya.


Kendaraan Rendi sudah terparkir di halaman rumah besar. Ia keluar dari mobilnya dan masuk ke rumahnya.


Sudah ada Dilla di meja makan bersama Rara. Mereka menggendong Rayn dan Amira dalam pangkuan masing-masing. Rendi menghampiri istrinya.


"Aslamualaikum Sayang," salam Rendi mencium pucuk kepala istrinya.


"Waalaikum salam, kamu pulang sore sekali Sayang," jawab Rara.


"Karena ada yang berpesan, harus pulang sore-sore tadi pagi," ucap Rendi.


Rara terdiam saat suaminya mendekatinya dan berbicara tentang pesannya tadi pagi.


"Aku ke atas dulu ya Sayang mandi," ucap Rendi .


Rendi pergi meninggalkan mereka menaiki tangga menuju kamarnya untuk berganti pakaian.


"Aku rasa ada bagusnya suamimu pulang larut," ucap Rara datar menyuapi Amira.


"Kenapa? Bukankah itu yang kamu mau. Tadi menceramahiku biar aku tidak membiarkan suamiku pulang larut sekarang kamu sendiri yang berharap begitu?" Tanya Dilla heran.


Rara terdiam dengan pikirannya sendiri. Sampai suaminya turunpun Rara masih asik dengan pikirannya sendiri. Saat Rendi mengambil Amira dari pelukannya.Rendi melihat perubahan mimik wajah datar istrinya.

__ADS_1


"Ada apa dengan istriku," batin Rendi.


Rendi bermain dengan Amira. Ia sesekali melirik ke arah Rara yang masih dengan pandangan tanpa arahnya.


"Sayang? Tanya Rendi.


"Hmmm," jawab Rara.


"Aku lapar," ucap Rendi.


Rara berdiri ia berbalik ke arah dapur menyiapkan makan untuk Rendi.


Rendi masih heran dengan sikap istrinya yang berubah tanpa sebab.


Dilla hanya sibuk bercanda dengan Rayn yang sudah bisa nendang-nendang Dilla tanpa memperhatikan Rara dan Rendi.


"Ayo makan Sayang!" Ajak Rendi tersenyum.


"Makan malam masih lama nanti saja kamu makan aja dulu tapi jangan banyak-banyak," jawab Rara.


Rendi mengangguk tersenyum.Ia memakan makanan yang di siapkan istrinya tapi pandangannya masih menatap istrinya yang mengambil Amira dari pangkuan Rendi.


Di meja makan hanya ada Rendi yang sedang makan. Rara dan Dilla membawa Rayn dan Amira ke ruang tamu.


"Ada apa dengan istriku ini kenapa aku merasa dia agak dingin padaku,atau perasaan aku saja," Gumam Rendi.


Ken yang baru masuk ke rumah besar ia terkejut saat melihat ada istrinya di ruang tamu. Ia mengendap-endap menghampiri Rendi di meja makan.


Rendi yang melihat kelakuan Ken. Ia memasang tatapan membunuh saat Ken terkejut melihat Rendi.


"Hehe Tuan, kenapa Dilla ada di sini?" Bisik Ken.


"Apa kau ingin Dillamu tidak mendengarkanku?" Ucap Rendi dingin.


Ken duduk di kursi samping Rendi.


"Itu karena kamu selalu sok keren" timbal Rendi tersenyum tertahan.


Ken malah mengangguk padahal ia tidak paham. Ia hanyut dalam pikirannya sendiri sampai Rendi mengerutkan dahinya.


Rendi berdiri ia berjalan ke arah Rara dan anak-anaknya juga ada ibunya dan Dilla.


"Sayang aku ke ruang kerja dulu ya," ucap Rendi.


"Hmmm," jawaban Rara masih sesingkat mungkin.


Rendi terdiam dengan sikap istrinya. Ia berlalu meninggalkan keluarganya dan masuk ke ruang kerjanya.


Ken masih dalam pikirannya sendiri sampai tidak sadar bahwa yang duduk di sampingnya kini sudah bukan Rendi lagi.


"Apa benar dia selingkuh ya Tuan?" Tanya Ken, sibuk dengan pikirannya dengan wajah tanpa ekspresinya.


"Siapa yang selingkuh?" Tanya Dilla.


Ken terkejut mendengar suara istrinya,ia membulatkan kedua matanya.


"Dilla kenapa kamu bukankah,lalu mana Rendi?" Ucapan Ken terbata dan beralih.


"Siapa yang selingkuh?" Tekan Dilla.


"Tidak ada,oh ya kamu mau bicara denganku?" Ucap Ken tersenyum terpaksa.


"Justru aku mau memberitahumu sana pergi bersama tuanmu aku tidak mau melihatmu apalagi mencium baumu itu membuatku mual saja," cetus Dilla.


"Tapi,,," ucapan Ken terhenti saat melihat tatapan tidak suka Dilla.

__ADS_1


"Baiklah, aku pergi nanti kalau sudah selesai bermainnya kita pulang bareng," ucap Ken.


"Iya," jawab Dilla.


Ken berlalu meninggalkan istrinya yang duduk melihatnya masuk ke ruang kerja Rendi.


Dilla berjalan menghampiri Rara setelah mengusap mulutnya dengan tisu.


"Kamu kenapa sayang sakit?" Tanya Rara.


"Tidak aku hanya mual saja bertemu Ken," cetus Dilla.


"Kok seperti itu kamu minum obat ya," ucap Rara.


"Iiiih, aku gak mau aku udah minum obat tapi obatnya bau," ucap Dilla merengek.


"Hahaha Sayang, kenapa kamu jadi kaya anak kecil gini sih?" Tawa Rara.


"Aku bukan anak kecil tapi aku memang gak mau," teriak Dilla.


"Loh,iya iya aku minta maaf ko kamu jadi sensi gini sih aku kan cuma bercanda," ucap Rara.


"Tapi aku memang bukan anak kecil Rara," teriak Dilla merengek.


Rayn yang sedang di pangkuannya menendang-nendang paha Dilla.


"Aaaaah kalian ini baby Rayn juga kenapa nendang tante siih? Rengek Dilla.


"Hahaha, kenapa kamu semakin lucu Sayang," tawa Rara.


Dilla yang di tertawakan ia mengembungkan pipinya merajuk duduk di sofa meninggalkan Rara yang sedang menertawainya.


Ibu Ratih menghampiri Dilla sambil tersenyum geleng kepala dengan tingkah Rara yang selalu menjahili Dilla juga Dilla yang ke kanakan.


"Dilla apa kamu masih mual?" Tanya ibu Ratih.


"Tidak lagi nyonya aku akan mual saat melihat dan mencium aroma Ken saja," rengek Dilla manja.


"Apa kamu sedang hamil?" Tanya ibu Ratih kembali.


Rara yang mendengar kata hamil ia berbalik dan menghampiri Dilla dan mertuanya.


"Benarkah Sayang kamu hamil?" Tanya Rara sedikit keras.


"Iiih, aku gak tahu tapi aku memang belum periksa lagi setelah hasil yang selalu gak pernah bagus," ucap Dilla.


"Ayo periksa!" Ajak Rara.


"Kenapa sekarang kan malam Rara," ucap Dilla.


"Memang kenapa? Dokter bisa datang kesini kalau kita tidak mau ke rumah sakit," ucap Rara tersenyum.


"Hah." Dilla terdiam dengan ucapan Rara.


"Mah, Rara telepon Dokternya ya?" Ucap Rara.


"Tentu Sayang biar tahu," jawab ibu Ratih tersenyum.


"Saya akan panggil Dokter Marine Nyonya," ucap Pak Jun.


"Oh iya Pak Jun cepat ya!" Teriak Rara bahagia.


"Yang periksa aku kenapa kamu yang senang." Dilla merajuk.


"Hehe Sayang, jangan marah terus nanti kamu cepet tua loh," ucap Rara tersenyum.

__ADS_1


Rara tampak yang paling bahagia jika Dilla benar hamil. Entah kenapa dia sangat bahagia hanya mendengar Dilla mau periksa saja.


__ADS_2