
Hai Kak, kasih bintang 5 kak, jangan lupa like, komen yang banyak kak, favoritkan dan vote, Tip juga kak, Selamat membaca kak. Oh iya gabung group chat aku Kak ya, Emot senyum.
Naura tersenyum ketika melihat kekasihnya Rayn yang kini berdiri menyambut kedatangannya, Ia menghampiri keksihnya yang kini tersenyum padanya.
"Hmm, mamaku sudah pulang ya? Tapi bukannya ini ide kamu yah?" Rayn tersenyum menatap Naura.
"Hehe, sebenarnya aku hanya minta ijin agar menemani kamu disini sayang, tapi mama memintaku sekalian antar makanan buat kamu ! Kamu kan belum makan," balas Naura tersenyum dengan manja.
"Iyah, terimakasih Sayang," ucap Rayn merangkul pinggang Naura dengan lembut dan sempat untuk mencium bibir Naura. Namun Naura tahan dengan sebelah tangannya.
"Kamu masih sibuk Sayang?" tanya Naura.
"Hmmm, sudah beres kok," balas Rayn tersenyum memandangi Naura.
"Kata papa kamu sedang dalam masalah! Iyakah?" tanya Naura penasaran.
"Tidak ada yang tidak bisa suamimu ini hadapi Sayang!" balas Rayn.
"Waaah, hebat sekali suamiku ini!" seru Naura tersenyum.
"Tentu saja, kamu datang di saat yang tepat, saat aku membutuhkan kecupan bibirmu Sayang," balas Rayn mempererat pelukannya.
"Eheemm," batuk Ken membuyarkan keduanya yang tengah saling tatap satu sama lain.
"Iyah Paman?" Rayn membenarkan posisi berdirinya, begitupun Naura.
"Kita sudah bisa tenang Tuan Muda, karena sistim keamanan sudah terkunci kembali!" ucap Ken tanpa mengalihkan pandangannya.
"Hmm,"
"Apa Anda bergegas pulang Tuan?" tanya Ken.
__ADS_1
"Paman duluan saja! Aku akan pulang setelah makan!" tegas Rayn.
"Baik Tuan, ini ....,"
"Tidak perlu! Sudah ada ini," Rayn menunjukan bingkisan makanan yang di bawa Naura.
"Baik Tuan saya duluan!" Ken berpamitan terlebih dahulu.
"Tidak ada gangguan lagi!" Rayn menarik Naura dan kini berada di pelukannya.
"Apaan sih! Makan ayo, kamu nanti pingsan," Naura mendorong Rayn.
Melihat kekasihnya tersenyum, Naura menggelengkan kepalanya dan duduk di kursi depan monitor.
"Mama bilang jika sudah selesai cepetan pulang! Jangan malam-malam pulangnya gak baik!" Naura membuka makanan yang akan di makan Rayn.
"Mau pulang sekarang juga bisa!" Rayn tersenyum dan duduk di samping Naura yang kini mengernyitkan dahinya menatap kekasihnya.
"Baiklah Sayang!" balas Rayn tersenyum.
Rayn menarik Naura, gadis itu kini duduk di pangkuan Rayn. Naura tersenyum dan menatap lekat wajah kekasihnya sembari kedua tangannya memegang wajah kekasihnya.
"Sayang! Kamu beneran gak mau aku bantu?" suara manja Naura memajukan bibirnya.
"Hmmm, bantuanmu kamu salurkan pada bibirku aja," balas Rayn tersenyum.
"Iiiih, aku serius!"
"Akupun serius dengan ucapanku."
"Tapi ...."
__ADS_1
Sebelum Naura menyelesaikan protesnya, bibir merah ranumnya kini terbungkam oleh bibir Rayn dan memperdalam ciumannya. Naura tersenyum ketika mendapati ciuman lembut dari kekasihnya, seperti sebelumnya Rayn menciumnya dengan lembut membuat Naura merasakan setiap sentuhannya. Semakin mereka berdua hanyut dalam ciumannya, jemari Rayn menelusuri leher jenjang Naura, saat sampai di sebuah dua buah gundukan yang tampak sepadan dengan ukuran tubuhnya. Rayn terkejut ia melepas pautannya. Dan kini merasa salah tingkah ketika melihat Naura yang memejamkan kedua matanya.
"Eheeem, maaf Sayang!" lirih Rayn.
"Hmm, apa? Aku gak masalah kok," balas Naura.
"Tapi aku tidak mau menodai cinta kita hanya karena nafsu sesaatku," ucap Rayn.
"Nafsu sesaat? Memang kamu mau nafsu kaya gimana denganku?" tanya Naura tersenyum.
"Bukan nafsu tapi hasrat yang tulus dan suci yang akan aku sembahkan untukmu Sayang. Bukan nafsu yang hanya sepintas ingin mencoba merasakanny!" jelas Rayn dengan lembut menatap Naura.
"Kamu kok manis sekali Sayang!" Naura tersenyum mencium bibir Rayn.
Naura tidak memperhitungkan tentang dirinya yang jika di jeramahi kekasihnya itu, pasalnya dia berpikir di Singapura, hal menyerahkan diri dan kesucian disana bebas dan tanpa larangan apapun. Tapi ia sangat bahagia ketika Rayn lebih memilih menghargai dirinya di bandingkan hasratnya yang tanpa di ketahui semua orang tentang seorang pria jika berada berdua saja dengan kekasihnya.
"Yah, aku baru menyadari bahwa kamu sangat menghargaiku Sayang. Jika tidak sejak tidur satu kamar kamu dengan mudah melakukan apapun padaku. Tapi kamu tidak melakukannya," ucap Naura tersenyum.
"Karena aku mencintai Mamaku," balas Rayn tersenyum.
"Hah? Kok Mamamu sih?" protes Naura menatap tajam Rayn.
"Heem, karena kamu juga akan menjadi seperti Mamaku seorang wanita yang harus di hargai, aku tidak ingin jika seorang wanita mau kamu, adikku apalagi mamaku tak di hargai. Aku menyayangi kalian bukan hanya sekedar sayang tapi juga harus melindungi dan menghargai setiap lekuk tubuhmu," jelas Rayn.
Naura tersenyum mendengar penuturan kekasihnya itu. Bukan tanpa alasan Rayn mengatakan dan menjaga seorang wanita. Tapi Rendi selalu berulang kali, bahkan sedari kecil mengingatkan Rayn siapapun itu, jika seorang wanita maka kewajiban kita sebagai pria menjaga, menghargai, menyayangi dan mengutamakan wanita.
"Ayo makan Sayang!" ajak Naura.
"Aku sudah kenyang dengan bibirmu Sayang," balas Rayn tersenyum.
"Apa kita mau pulang?" Naura tersenyum semakin menyayangi kekasihnya.
__ADS_1
"Baiklah."