
Prolog Rendi Anggara.
Suasana di pesta keluarga Anggara kini ricuh dengan para tamu membicarakan tentang gagalnya acara pertunangan putra utama keluarga Anggara.
Ada Ken dan Dilla yang juga hadir di pesta keluarga Anggara tersebut.
Mereka tampak terkejut dalam diamnya mendengar pengumuman pertunangan Rendi. Rara yang berlari dalam keadaan menangis menyaksikan suaminya yang akan bertunangan.
Dilla yang awalnya berjanji untuk pergi bersama Rara. Ia membatalkan janjinya karena Ken mengajak Dilla untuk pergi denganya.
Dengan alasan hutang Dilla masih belum lunas pada Ken. Daripada berkepanjangan Dilla memilih membayar hutang walau harus mengecewakan saudaranya.
Dilla yang berdiri di tengah-tengah para tamu bersama Ken.
Dilla terkejut di saat menyaksikan pernyataan nyonya besar tentang pertunangan putranya yang tak lain suami saudaranya Rara.
Ia ingin melangkah kedepan panggung ingin menanyakan apa yang terjadi di hentikan ole Ken.
Disaat Ken berselisih dengan Dilla akan perlakuanya.
Dilla dan Ken melihat seorang wanita yang mereka kenali menghampiri panggung dengan perlahan ia terlihat tidak percaya sehingga air matanya menetes.
"Rara ...?" Tanya Dilla terkejut.
Ia tahu apa yang terjadi dan pastinya perasaan saudaranya sakit bahkan lebih kecewa dari dia. Dilla yang melihat Rara berbalik dan pergi dengan uraian air mata pergi. Dilla mencoba untuk menyusul Rara yang pergi dalam keadaan menangis.
Dilla mengejarnya tapi tidak ia temukan Saudarinya saat ia sampai di gerbang Dilla terdiam memikirkan nasin saudarinya.
Ken yang terkejut juga dengan nona mudanya yang ternyata ikuthadir. Ia menghampiri Rendi yang masih terdiam terkejut.
"Aku tidak tahu kalau istriku akan hadir ke acara ini,Sayang," lirih Rendi.
__ADS_1
Ken kini berdiri di sampingnya saat Rendi melihat ke samping sudah ada Ken. Ia juga melihat ke arah ibunya yang mengisyaratkan tanda setuju pada Rendi.Ia mengangguk dan pergi dengan Ken meninggalkan pesta.
"Ken ...! Reriak Rendi mengisyaratkan Ken untuk pergi denganya.
Mereka berlari menuju gerbang depan berharap istrinya masih belum cukup jauh untuk di kejar olehnya.
Dengan wajah berurai air matanya. Rara yang pergi meninggalkan rumah besar. Ia berlari menelusuri jalanan. Ia juga membuka alas kakinya karena ia susah untuk berjalan apalagi berlari.
Rara menangis ia membayangkan bagaimana kehidupanya selanjutnya. Apalagi kini ia sedang mengandung akankah ia membuat keluarganya semakin bersedih kembali. Ia memikirkan bagaimana reaksi keluarganya yang sedih karenanya
Padahal Rara tidak pernah mau menyusahkan Ayah Ibunya.
Rara membayangkan lagi suaminya yang pasti meninggalkanya dengan wanita yang jauh lebih cantik.
Disaat membayangkan mantan suaminya yang dulu meninggalkanya karena ia membosankan.
Rara juga membyayangkan betapa menderitanya ia jika Rendi benar-benar meninggalkannya.
Rara yang berjalan memperlambat langkahnya. Karena kakinya banyak yang tergores bebatuan kerikil hingga kakinya terluka mengeluarkan bercak darah. Ia hanya meringis menangisi kehidupannya yang penuh luka. Bukan luka kakinya yang membuatnya menangis. Melainkan sakit di hatinya yang membuatnya menangis tanpa tertahan. Ia berjalan gontai air mata yang mengalir hati yang pedih kaki yang tergores ia menenteng sepatunya berjalan di pinggiran jalanan. Di waktu seperti ini tidak ada sebuah mobil satupun.
Dilla yang menyusul Rara tidak sempat ia mengejar saudaranya itu. Ia berdiam di gerbang rumah Anggara dan di susul oleh Ken.
Rendi yang terlebih dulu menyusul mengejar Rara dengan menggunakan mobilnya.
Ia mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi. Di saat ia mengalihkan pandangannya menyelusuri jalanan pada akhirnya melihat seseorang yang ia harapkan. Ia meminggirkan mobil dengan hati yang cemas ia turun dari mobilnya dan bergegas berjalan menghampiri istrinya memegang tangan Rara.
Rara yang tahu bahwa itu mobil Rendi Ia berhenti saat melihat suaminya keluar dari mobilnya. Ia berjalan menghampirinya memegang tanganya Rendi melihat Rara dan memeluknya.
"Maafkan aku Sayang ini tidak seperti yang kamu lihat," lirih Rendi.
"Kamu bahkan tidak menolak bertunangan denganya. Kamu bahkan lebih jahat dari Radit kamu bahkan ingin meninggalkkanku tanpa menceraikanku," teriak Rara histeris.
__ADS_1
"Tidak Sayang aku sama sekali tidak tahu kalau aku akan bertunangan. Percayalah padaku sayang hanya kamu satu-satunya istriku. Biar kamu istri keduaku tapi kamu yang pertama ada di hatiku. Kamu yang pertama aku cintai walau aku tahu kamu gadis gilla yang saangat cerewet," ucap Rendi.
"Kamu bahkan bilang aku wanita gilla dan cerewet," teriak Rara memukul Rendi.
"Percayalah sayang hanya kamu satu-satunya wanitaku yang aku cintai maafkan aku bila aku selalu membuatmu menangis tapi aku janji padamu aku tidak akan pernah membuatmu menangis lagi,apalagi keluarga kita akan lengkap dengan adanya anak kita," jelas Rendi.
Perkataan Rendi yang membuat Rara terkejut ada perasaan bahagia sedih dan tidak percaya akan hal yang suaminya ucapkan.
"Kamu tahu aku hamil bukankah aku belum memberitahu siapapun?" Tanya Rara terkejut.
"Hmm ibu yang kamu ceritakan padaku ia adalah mamahku yang selalu ingin kamu temui kamu bahkan sudah mengenal dia dan bahkan tinggal di rumah besar," jawab Rendi tersenyum.
"Jadi Tante itu mertuaku?" Gumam Rara terdiam.
"Uuuuuuh Astagfirullooh, aku bahkan menjelek-jelekan putranya di depan ibunya sendiri bagaimana ini?" Batin Rara.
"Sayang kamu kenapa apa kamu masih marah?" Tanya Rendi heran.
"Yaaah, aku marah karena kamu terlihat senang tadi di atas panggung lagipula kenapa ibumu itu mau menikahkanmu bukankah dia tahu kalau kamu sudah punya istri saat di rumah sakit," cetus Rara.
"Tidak semua hal Mamah mengetahuinya, Sayang maafkan aku," ucap Rendi.
Rara terdiam mencerna apa yang di ucapkan suaminya. Ia sendiri tahu sifat ibunya Rendi. Maka dari itu Rara tidak mau mempermasalahkan tentang ibunya lagi. Rara lebih memilih diam.
Rendi terdiam tersenyum saat melihat istrinya memajukan bibirnya dan mengembungkan pipinya. Jika Rara sudah merajuk begitu berarti Rara sudah membaik. Rendi melihat kaki telanjangnya istrinya. Ia terkejut dengan kelakuan istrinya itu. Rendi menggendong istrinya dan membawanya memasuki mobil dan menghidupkan mobilnya berggegas untuk kembali pulang ke Apartment mereka dalam keadaan sudah membaik.
Dilla dan Ken melihat adegan Rendi dan Rara yang sudah membaik dan kembali pulang. Mereka berdua mengusap dadanya juga menghela nafas lega .
"Untungnya tidak terjadi apa-apa kalau nggak. bisa-bisa aku harus begadang menemaninya menangis," ucap Dilla.
"Itu namanya bukan Sahabat setia," celetuk Ken.
__ADS_1
"Kamu apa yang kamu katakan?" Ucap Dilla tidak melanjutkan ucapanya.