
Terlihat kelebatan bayangan putih yang bergerak cepat sekali menuruni puncak. Langkahnya amat ringan dan cepat sampai-sampai daun pohon yang dilewatinya sama sekali tidak bergerak.
Dia adalah Lin Tian. Pemuda ini bergegas kembali ke bawah begitu melihat kenyataan bahwa keadaan di balik bukit itu sama sekali berbeda dengan apa yang telah diperkirakan mereka sebelumnya.
Perjalanan turun ini jauh lebih cepat dibanding ketika pemuda itu mendaki. Jika saat mendaki dia membutuhkan waktu satu jam, kali ini hanya sekitar dua puluh menit saja dia sudah tiba di perkemahan.
Begitu sampai di perkemahan, pemuda ini segera membuka sedikit topengnya dan bersiul keras sekali. Tidak tanggung-tanggung, siulan ini dia bunyikan dengan nada tanda bahaya.
Begitu mendengar siulan keras ini, seketika semua orang, baik yang tidur maupun terjaga, atau yang masih segar dan sudah ngantuk berat, segera meloncat berdiri dan memegang senjata masing-masing. Kemudian bergegas menuju kearah sumber suara.
"Ada apa Lin Tian!?" tanya Zhang Qiaofeng yang masih terjaga sedari awal.
Lin Tian tak lekas menjawab, dia masih menunggu sampai semua orang berkumpul. Setelah beberapa menit pemuda itu masih tetap bungkam, pemimpin keluarga Tan segera membentak.
"Ada apa ini Hantu!! Apa kau hendak mempermainkan kami!?" bentak Tan Hui.
Lin Tian tak menanggapinya, melainkan segera mengerahkan tenaga dalam ke tenggorokan dan berkata lantang.
"Aku baru saja menyelidik ke atas pegunungan sana!!" ucapnya sembari menunjuk kearah puncak.
Kemudian kembali melanjutkan perkataannya, "Tapi di balik pegunungan itu, sama sekali tidak ada pasukan manusia gunung!! Yang ada hanyalah bekas-bekas kayu bakar yang sudah jadi abu!!"
"Kita telah dikelabuhi!! Pasukan manusia gunung sudah tahu akan kedatangan kita!!" pemuda itu mengakhiri penjelasannya.
Seketika ributlah orang-orang. Bingung dan juga terkejut, bahkan ada yang masih belum percaya benar akan perkataan Lin Tian. Salah satunya adalah Gui Leng yang segera membentak.
"Jangan membohong!! Apa bukti-"
"Kirim beberapa orang dan lihat sendiri!! Jika memang ucapanku tidak benar, aku berani penggal kepala!!" bentak pemuda ini tegas dan penuh percaya diri, sama sekali tidak terbayang ketakutan di balik ucapannya.
Mendengar ini Zhang Qiaofeng merasa gelisah sekali. Tapi dia mencoba menekan perasaannya dan berusaha mempercayai ucapan Lin Tian.
Sedangkan enam keluarga lain segera mengirim tiga orang yang diperintahkan untuk menyelidik ke balik pegunungan sesuai dengan apa yang dikatakan Lin Tian.
"Lin Tian, apa ucapanmu itu benar?" tanya Zhang Qiaofeng berbisik ketika Lin Tian sudah mendekat kearahnya.
"Benar Nona." jawab Lin Tian tanpa ragu.
"Kalau memang seperti itu berarti keadaan kita benar-benar gawat. Apalagi mengingat akan keluarga Liu yang tak kunjung sampai. Apa mungkin ada hubungannya dengan ini?" balas Lu Tuoli.
"Kita hanya bisa menunggu..." gumam Zhang Hongli sembari menatap kepergian orang-orang yang diperintah untuk menyelidik.
Begitu delapan belas orang itu sudah lenyap di balik gelapnya hutan, para pasukan menjadi khawatir sekali. Diam-diam dia mengiginkan bahwa ucapan Lin Tian tidak benar dan mereka akan segera menyerbu besok.
__ADS_1
Akan tetapi, ternyata Tuhan berkehendak lain. Begitu delapan belas orang itu kembali, mereka menampakkan ekspresi yang sangat tidak enak untuk dipandang. Melihat ini Chu Shen segera bertanya.
"Bagaimana? Lin Tian membohong bukan?" tanyanya dengan cepat, seolah sudah tidak sabar untuk mendengar jawabannya.
Mereka nampak saling pandang, kemudian salah seorang perwakilan keluarga Chu menjawab, "Tuan...ucapan Tuan Lin Tian benar dan tepat sekali. Di sana sudah tak nampak satu pun orang."
Pucatlah wajah semua orang yang ada di sana. Mereka sudah berpikiran yang buruk-buruk akan kabar ini. Secara tidak sadar, mereka mengait-ngaitkan kenyataan ini dengan ketidak hadiran keluarga Liu semenjak beberapa hari lalu.
"Ada apa ini? Kenapa jadi seperti ini?" gumam Jiang Shi gelisah.
Mereka terdiam dalam lamunan masing-masing. Sehingga keadaan yang ramai orang itu hanya ramai di mata saja, namun tidak ada satu pun suara seolah-olah di sana tidak satu pun manusia yang berdiri.
Semua tenggelam dalam rasa heran, kaget, dan terutama sekali gelisah. Hingga secara tiba-tiba, terdengar sebuah teriakan dari kejauhan. Suara ini mengandung pengerahan tenaga dalam sepenuhnya, namun terdengar serak dan dipaksakan.
"Tolooong!! Siapapun!! Tuan Xiao...Tuan Chu...Tolong!!" teriak suara misterius itu.
Mendengar namanya disebut-sebut, Xiao Li dan Chu Shen segera berlari kearah suara itu. Diikuti oleh kelima pemimpin keluarga lain, juga Lin Tian dan Zhang Hongli dan beberapa panglima tinggi.
"Tuan...!!!" seru Chu Shen sembari mendekati orang yang berteriak itu dan membantunya duduk.
Ternyata dia ini adalah seorang panglima keluarga Liu, terlihat dari baju perang dan lambang keluarga yang tergambar di dada bagian kiri. Tubuh pria itu penuh luka, bahkan tangan kanannya sudah buntung. Luka-luka parah yang sekali lihat saja tentu orang akan tahu jika dia sudah tidak bisa diselamatkan.
"C...cepat...di Utara...pasukan gunung menyerang kami...pergilah ke sana, sebelum mereka mendatangi kota kita..." ucap panglima itu terbata-bata dan dengan nafas memburu.
Mendengar penuturan ini, tahulah mereka bahwa dugaan mereka sebelumnya memang benar adanya. Bahwa menghilangnya pasukan manusia gunung itu ada kaitannya dengan ketidak hadiran keluarga Liu.
Kiranya pasukan bar-bar itu memotong perjalanan pasukan keluarga Liu agar mereka tidak sampai di tempat titik kumpul.
Maka segera mereka kembali ke perkemahan dan memerintahkan supaya semuanya cepat berkemas. Setelah empat puluh menit persiapan, pasukan besar ini langsung berangkat menuju Utara.
Diam-diam, Gui Leng yang sudah ahli dalam siasat perang menjadi heran sekali. Mengapa manusia gunung yang primitif itu bisa menajdi demikian pintar? Pikir pria tua ini bertanya-tanya.
Hal ini tidak mengherankan, karena jika yang memimpin pasukan gunung itu adalah dia sendiri, kemungkinan besar dia akan melakukan strategi yang sama. Karena keluarga Liu adalah keluarga terkuat setelah keluarga Chu, jadi jika mereka dihancurkan dulu, pertempuran akan menjadi jauh lebih mudah.
Yang mengherankan hatinya adalah, mengapa pasukan gunung bisa memiliki pemikiran yang secanggih dan secerdik itu? Bukankah mereka benar-benar terputus dari dunia luar? Selain itu, bukankah mereka sangat awam dengan perang karena memang diantara suku manusia gunung tidak pernah terjadi perang saudara? Jadi jika dipikir dengan nalar, seharusnya mereka tidak pernah berperang kecuali untuk melawan serbuan hewan buas.
"Pasti ada sesuatu di balik ini semua." pikir pria tua ini.
...****************...
Sudah satu jam lamanya mereka melakukan perjalanan kearah Utara. Dan saat ini sayup-sayup sudah terdengar suara berdencingan senjata dan terlihat pula cahaya terang benderang yang agaknya ditimbulkan dari obor-obor yang dibawa para pasukan itu.
"Ayo kesana cepat!! Keluarga Zhang, Jiang, dan Chen, menyerbu dari arah Timur. Sedangkan untuk keluarga Tan, Hu, dan Xiao, serbu dari arah Barat. Dan kami keluarga Chu akan menyerbu dari depan!!" teriak Chu Shen sang pemimpin seluruh pasukan.
__ADS_1
Tanpa diperintah dua kali, enam keluarga itu segera menuju posisi masing-masing. Kemudian dengan sekali bentakan keras dan penuh pengerahan tenaga dalam dari Chu Shen, serempak ribuan orang itu segera menyerbu.
"Seraaaanggg!!!" demikian Chu Shen berteriak keras memberi komando.
Maka terjadilah pertempuran yang seru dan luar biasa sekali. Ribuan pasukan gunung melawan ribuan pasukan gabungan dari ketujuh Keluarga Penguasa, ditambah keluarga Zhang yang juga tidak bisa dipandang remeh kekuatannya.
Pasukan keluarga Liu yang masih tersisa seratusan orang itu pun juga ikut membantu mati-matian.
Yang paling menonjol adalah sepak terjang si Pendekar Hantu Kabut dan Kakek Lengan Sakti. Mereka berdua bagaikan dua ekor naga yang sedang menari di angkasa lepas, berkelebat ke sana-sini merobohkan setiap lawan setiap kali kaki tangannya bergerak.
Hal ini tidak mengherankan, karena dua orang guru murid ini mainkan Ilmu Silat Ketenangan Batin tingkat lanjut yang hebat sekali. Walaupun tingkat Lin Tian belum sehebat gurunya, namun pemuda ini tak kalah mengerikan dibanding orang tua itu.
Tak lupa pula akan keberadaan dua orang gadis cantik bak bidadari yang kini sedang bertempur hebat bagai menari-nari. Dengan Ilmu Pedang Rajawali yang di dapat dari Lu Tuoli, mereka mengamuk hebat dan mampu merobohkan banyak orang.
Di pihak keluarga Hu, Hu Tao dan para tetuanya juga bertarung dahsyat sekali. Pemuda ini mainkan sepasang belati rantainya dengan amat lihai, sehingga jika orang memandang sepintas lalu, kelebatan sepasang belati itu bagai dua ekor naga yang saling bergulung-gulung.
Satu jam berlalu dan pihak manusia gunung makin terdesak. Setelah beberapa menit, pemimpin mereka melihat bahwasannya sudah tidak ada lagi kesempatan untuk menang. Maka dengan sekali lolongan panjang, pasukan manusia gunung ini mundur ke Utara.
"Kejar, bunuh sebanyak mungkin para pengacau ini!!" teriak Chu Shen lantang.
Ketujuh pasukan besar itu terus mengejar dan mendesak. Namun sayang mereka tidak mampu membersihkan semuanya, masih ada beberapa ratus orang gunung yang berhasil selamat.
"Hah...hah....kita menang!!" seru Chu Shen sembari mengangkat senjatanya tinggi-tinggi.
Seketika terdengar sorak-sorai pasukan yang menyambut seruan itu. Mereka bersorak gembira setelah berhasil menaklukkan pasukan gunung yang amat lihai dan berbahaya itu.
Karena mereka mundur ke Utara, kearah Pegunungan Tembok Surga, maka untuk sementara waktu ini ketujuh Keluarga Penguasa akan aman dari ancaman manusia gunung. Hal ini sudah dipikirkan masak-masak oleh Chu Shen, karena itulah dia tadi memberi perintah untuk mengurung mereka dari Timur dan Barat.
Walaupun meraih kemenangan, namun ada satu hal yang membuat mereka berduka sekali. Pasalnya, selain banyak sekali prajurit yang gugur, di sana gugur pula sesosok yang cukup dihormati dan disegani selama ini. Dia adalah pemimpin keluarga Liu, Liu Gan.
Liu Gan gugur sebagai seorang gagah dalam pertempuran itu. Lebih tepatnya dia gugur ketika berusaha menahan gempuran dari ribuan pasukan manusia gunung sebelum ketujuh pasukan itu datang.
Kakek ini bertarung di bagian paling depan dan tak henti-hentinya berteriak demi memberi semangat kepada anak buahnya. Begitu tujuh pasukan besar menyerbu, tepat pada saat itulah kepala Liu Gan terpenggal di pedang lawan.
"Sungguh sayang sekali.....dia seorang pahlawan sejati. Kuburkan dia dengan layak dan jika perlu, buatkan patung di wilayah keluarga Liu demi mengenang jasanya." ucap Chu Shen yang diangguki oleh sisa prajurit keluarga Liu.
Setelah fajar menyingsing, barulah mereka kembali ke kediaman masing-masing. Namun mereka semua tidak sadar, bahwa kemenangan di pertempuran ini bukanlah akhirnya. Di masa depan nanti, akan ada peristiwa besar yang membikin kacau seluruh daratan.
Sebuah peristiwa, yang seolah-olah menjadi hari kiamat bagi seluruh dunia persilatan!!
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
BERSAMBUNG
__ADS_1